Monday, May 28, 2007

Awas Obat Berbahan Sampah


Liputan6.com, Jakarta: Tak ada yang istimewa dengan aktivitas para
pemulung sampah dan limbah rumah sakit di tempat pembuangan sampah di
salah satu rumah sakit di Jakarta, belum lama ini. Benda-benda dipungut
antara lain plastik, selang infus, botol obat, dan tak jarang sejumlah pil
atau obat-obatan lain yang sudah dianggap sampah oleh rumah sakit.
Namun, jangan anggap enteng aksi mereka. Sampah-sampah itu ternyata
mengundang munculnya sindikat pemalsu obat. Sampah itu disulap menjadi
obat-obatan. Namanya juga sampah, tentu obat-obatan yang dihasilkan palsu
adanya. Dunia medis pun kini tercoreng karenanya.
Jumat silam, misalnya, personel Kepolisian Daerah Bali menangkap Mustaji
sedang berjualan obat bekas. Dari tersangka disita lebih dari 220 jenis
obat daftar G. Mustaji mengaku, obat-obat bekas itu dibeli dari para
pemulung yang memungut sampah di rumah sakit. Yang lebih seram, obat-obat
itu ia jual keliling dari rumah ke rumah dengan harga murah.
Lain Bali, lain pula Jakarta. Personel Kepolisian Resor Jakarta Pusat
beberapa waktu silam membongkar sindikat pemalsu obat. Para pelaku
ternyata sangat piawai memalsukan obat-obat penting. Mulai dari cairan
infus hingga obat tekanan darah tinggi maupun serangan jantung.
Obat-obatan berkelas sampah yang berhasil disita polisi jumlahnya mencapai
ribuan butir dan dari berbagai merek serta jenis obat. Mulai dari cairan
infus, antibiotik injeksi, vaksin hepatitis B, hingga obat-obatan keras
untuk penyakit tekanan darah tinggi, jantung, dan lain-lain.
Awalnya, polisi menangkap Muhtar alias Tatang yang tinggal kawasan
Kayumanis, Jakarta Timur. Di rumah kontrakannya, polisi mendapati 21 jenis
obat kedaluwarsa yang sudah disulap menjadi layaknya obat sungguhan.
Jejaring sindikat obat palsu Tatang ternyata tidak hanya beroperasi di
Jakarta. Alat suntik dan obat-obatan palsu produksi Tatang ternyata
diperjualbelikan hingga ke Jawa Tengah serta Jawa Timur. Polisi
mencurigai, obat palsu van Tatang juga beredar ke berbagai pelosok daerah
lainnya di Tanah Air.
Bagaimana mereka memalsukan obat-obat sampah? Ada tiga modus, yakni
mengganti tanggal kedaluwarsa, mengganti label kemasan, dan memasukkan
cairan asal ke dalam botol-botol infus atau injeksi. Bila dilihat
sepintas, obat palsu buatan Muhtar dan kawan-kawan nyaris sempurna
menyerupai yang asli. Tapi, namanya juga sampah tentu tak bisa menjadi
obat.
Pemalsuan obat dengan modus memanfaatkan obat bekas dan kedaluwarsa juga
terbongkar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Awal Maret silam, lebih dari
80 ribu obat kedaluwarsa berbagai jenis seperti antibiotik, obat asma,
hingga obat stroke diamankan polisi sebelum jatuh ke pasaran. Di kota
minyak itu, sindikat obat kedaluwarsa ternyata bekerja pada salah satu
rumah sakit di Balikpapan.
Obat-obatan palsu apa pun bentuknya tentu berbahaya, terutama untuk jenis
obat-obatan vital seperti obat jantung, stroke atau berbagai jenis vaksin.
Badan Kesehatan Dunia atau WHO melansir lebih dari 200 ribu pasien
meninggal gara-gara mengonsumsi obat palsu setiap tahunnya.
Setelah Tatang tertangkap, kini masih ada puluhan pemain obat palsu lain
yang masih beroperasi di Jakarta. Baik pemain obat palsu yang mendaur
ulang sampah rumah sakit, maupun sindikat obat palsu pemalsu berbagai
merek obat terkenal.
Sumber Sigi, seorang pemain obat palsu punya cerita yang menguatkan
kenyataan itu. Menurut Macho, sebut saja demikian, peredaran obat-obat
palsu sudah merambah ke kota-kota besar lainnya, seperti Surabaya dan
Medan. Obat-obat tersebut didistribusikan melalui pasar-pasar atau
toko-toko obat yang ada di Jakarta. "Selain itu ada sales-sales lepas PBF
atau bekas distributor yang masih aktif atau tidak dan selalu berhubungan
dengan orang di pasar obat," kata Macho.
Seperti apa sebenarnya jaringan dan cara kerja para pelaku obat palsu?
Lika-liku jaringan mereka dimulai dari tempat sampah dan limbah sejumlah
rumah sakit besar di Jakarta. Lalu, para pemulung menjual segala jenis
obat, botol, suntikan, maupun botol infus kepada pengepul.
Dari tangan pengepul, pebisnis obat palsu mengemas serta mengisi ulang
limbah-limbah itu menjadi layaknya obat sungguhan. Ada juga obat-obatan
kedaluwarsa yang dijual begitu saja di sebuah pasar obat terkenal di Ibu
Kota. Diduga, obat-obat kedaluwarsa tersebut biasa dijual kepada para
pemain obat palsu.
Lantas bagaimana prosesnya? Obat kedaluwarsa, misalnya, dihapus tanggal
batas pemakaiannya lalu disablon ulang menjadi seolah masih layak
konsumsi. Sedangkan untuk jenis obat-obatan cair atau injeksi palsu,
biasanya dibuat dengan cara mengganti label atau kemasannya. Ini bertujuan
untuk mengelabui konsumen atau pasien seolah-olah obat injeksi bermutu
tinggi karena mereknya terkenal.
Cara ketiga adalah mendaur ulang sampah-sampah rumah sakit menjadi obat
palsu. Umpamanya, botol infus atau cairan suntikan kosong diisi dengan air
atau mengganti isi serbuk injeksi dari yang murah menjadi mahal.
Ibarat virus, penyebaran obat palsu sudah sampai pada stadium gawat.
Peredaran maupun jenisnya menyebar ke mana-mana. Tengoklah kedai-kedai
obat keperkasaan yang banyak dijumpai di jalanan Ibu Kota. Di sana, satu
butir sachet pil keperkasaan dijual antara Rp 25 ribu hingga Rp 30
ribu. Tidak lebih dari seperlima harga pil sama yang diproduksi farmasi
resmi. Meski pembelinya tahu obat-obatan ini palsu, toh, tetap saja laku
keras.
Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), selama lima tahun
terakhir, jumlah obat palsu yang dirazia mencapai 80 merek obat. Jenisnya
pil dan kapsul. Mulai dari obat tanpa resep yang biasa dijual
warung-warung hingga obat-obatan etikal atau obat yang diresepkan dokter.
Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) bahkan menaksir,
jumlah obat palsu yang beredar bisa berlipat-lipat temuan Badan POM.
"Kalau obat sampah jumlahnya kecil. Dari investigasi kita terakhir,
kebanyakan generik diganti kemasan bermerek," jelas Marius Widjajarta,
Ketua YPKKI.
Perang melawan obat palsu memang bukan perkara mudah. Kalangan pabrikan
justru sepertinya cuek dengan kenyataan itu. Maklum, jika mengakui ada
salah satu obatnya yang dipalsu justru merugikan bisnis mereka.
Belakangan, gema perang melawan obat palsu banyak digalakkan para pabrikan
farmasi asing yang tergabung dalam IPMG. Menurut Parulian Simanjuntak,
Manager Eksekutif IPMG, obat-obatan yang dipalsukan biasanya yang laku
keras di pasaran dan harga jualnya tinggi.
Serangkaian operasi memang digelar Badan POM dan aparat lainnya. Namun,
obat palsu tetap saja beredar. Obat palsu diproduksi secara serampangan,
jauh dari standar cara pembuatan obat yang baik atau CPOB. Husniah R.
Thamrin, Ketua Badan POM, pelaku pembuat obat palsu harus dihukum
seberat-beratnya. "Karena risikonya menyebabkan kematian," kata Husniah.
Bagaimana sesungguhnya membedakan obat abal-abal dengan yang asli? Jika
secara fisik susah, cara paling jitu adalah dengan mengujinya ke
laboratorium. Tim Sigi memperoleh obat-obat yang menurut informasi dari
pedagang serta apoteker palsu. Obat-obat yang didapat itu kemudian dibawa
ke Badan POM. Setelah diuji, ternyata benar, obat-obat tersebut terbukti
kadarnya jauh di bawah standar agar berkhasiat. Orang farmasi menyebutnya
obat substandar alias tiruan atau palsu.
Apa boleh buat, memang. Ketimbang salah pilih obat, sampai saat ini memang
tak ada pilihan lain kecuali membeli obat di tempat resmi dan tentu atas
resep dokter.(BOG/ Tim Sigi)

Many thanks & regards

0 Comments:

Post a Comment

<< Home