Renungan Oktober Ceria !!?
Untuk mencapai keberhasilan hidup optimal, harus seperti alien dari entah-berentah mencari alamat seekor kuman di belantara metropolitan Jakarta. Ia harus pakai sejumlah peta dengan skala bertingkat-tingkat. Pertama, dalam peta semesta raya dengan skala yang hanya dapat menampilkan titik-titik amat kecil untuk gugus-gugus galaksi, harus bisa setepatnya memilih titik galaksi kita, Bimasakti.
Terus,dalam peta Bimasakti yang skalanya masih sangat besar sebab harus memuat sekitar 200 miliar bintang, harus bisa setepatnya menetapkan mana bintang yang adalah Matahari. Terus, dalam peta Tatasurya yang terdiri dari 60-an satelit dan 9 planet yang terus bergerak cepat, harus dibidik yang mana Bumi. Terus, di peta bumi yang berpusar cepat, bidik Indonesia. Dan seterusnya. Dan terus rumit, sebab si kuman pun bergerak terus ke mana-mana, sehingga tetap butuh keterlatihan menggunakan peta dengan skala prioritas.
Bagi manusia, prioritas pertama tak boleh lain haruslah Pencipta yang Pengarah kebahagiaan sejati hidupnya sendiri. Dengan begitu manusia memperoleh keselamatan menuju sukses kekal, dan masih pula ditambahkan-Nya semua yang untuk bahagia serta sukses optimal di dunia (Mat. 6:33). Termasuk dalam tambahan itu: talenta serta pelbagai karunia-Nya yang akan kita gunakan dalam sebagian besar waktu kita dan yang dengan itulah Tuhan kian dipermuliakan dunia, juga kemampuan membaca secara benar semua peta yang silih-berganti harus terus kita hadapi sepanjang hayat.
Seperti kata filsuf Jose Ortega Y. Gasset, tak seperti binatang yang dengan nalurinya sudah jelas semua arah tindaknya, manusia terlahir sudah harus langsung menjalani hidupnya tanpa lebih dulu tahu arahnya. Harus belajar terus, dan dengan kemungkinan tak akan pernah tahu tujuan yang benar hingga akhir hidupnya. Padahal makin dini pengejaran dimulai, dan makin cepat laju kejarannya, makin optimal sukses yang direngkuh. Itulah mengapa kita butuh arahan langsung dari Pencipta kita.
Tak saja harus tahu jelas destination dan time-utilization, di zaman ini perlu ekstra waspada terhadap godaan yang melencengkan arah. Godaan terlalu banyak dan serba dahsyat. Termasuk godaan melahap semua informasi yang deras menerjang, yang kita kira akan bikin kita banyak pengetahuan (mumpuni), padahal sukses optimal direbut oleh orang yang banyak tahu tentang sedikit hal dan bukan sedikit tahu tentang banyak hal. Untuk bisa melesat lebih cepat ke titik sasaran tepat, kita harus membidik. Untuk membidik, kita harus memicingkan mata sebelah, membutakan diri terhadap banyak pengetahuan bidang lain, demi bidang yang kita tekuni. Ambeg paramartha!
5 Pertanyaan Terbesar tentang Kehidupan
Oleh Alex Japalatu
Print Email
Ketika Tuhan ada di pusat kehidupan Anda, Anda menyembah. Ketika ia tidak di sana, Anda kuatir. Kekuatiran adalah lampu peringatan bahwa Tuhan telah digeser ke pinggir. Begitu Anda menempatkan-Nya di pusat lagi, Anda akan memiliki damai sejahtera lagi.
2 APA YANG AKAN MENJADI KARAKTER HIDUPKU?
Ini adalah pertanyaan tentang pemuridan. Akan menjadi orang seperti apa Anda? Tuhan jauh lebih tertarik pada siapa Anda itu daripada apa yang Anda lakukan. Buatlah daftar sebuah kualitas karakter yang ingin Anda latih dan kembangkan dalam hidup Anda. Anda bisa memulai dengan buah Roh atau ucapan bahagia (khotbah di bukit).
3APA YANG AKAN MENJADI SUMBANGAN HIDUP ANDA?
Ini adalah pertanyaan tentang pelayanan. Dengan mengetahui kombinasi karunia rohani, hati, kemampuan, kepribadian, dan pengalaman (shape), apa yang akan menjadi peran terbaik Anda dalam keluarga Tuhan?
Meskipun Anda dibentuk untuk melayani sesama, Anda harus memilih siapa yang bisa paling Anda tolong berdasarkan shape Anda. Tuhan Yesus pun tidak memenuhi kebutuhan setiap orang saat di bumi, sebelum disalibkan.
4 APA YANG AKAN MENJADI KOMUNIKASI HIDUP ANDA?
Ini adalah pertanyaan tentang misi Anda kepada orang-orang belum percaya. Jika Anda adalah orang tua, sebagian dari misi Anda adalah membesarkan anak-anak mengenal Kristus, menolong mereka memahami tujuan-Nya bagi hidup mereka, dan mengirim mereka pada misi mereka di dunia. Anda bisa memasukkan pernyataan Yosua dalam pernyataan Anda: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”
Hidup Anda harus mendukung dan memvalidasi pesan yang Anda komunikasikan. Itulah mengapa Alkitab berkata, “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus…”
5 APA YANG AKAN MENJADI KOMUNITAS HIDUP ANDA?
Ini adalah pertanyaan tentang persekutuan. Bagaimana Anda akan menunjukkan komitmen Anda kepada orang-orang percaya dan hubungan dengan keluarga Tuhan? Di mana Anda akan menerapkan perintah “satu sama lain” dengan orang-orang Kristen lain? Kepada keluarga gereja mana Anda akan diikutsertakan sebagai anggota yang berfungsi? Semakin Anda dewasa, semakin Anda akan mengasihi tubuh Kristus dan ingin berkorban baginya.
Sementara mempertimbangkan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, masukkan ayat-ayat Alkitab mana saja yang akan berbicara kepadamu tentang setiap tujuan ini. Mungkin akan memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk membentuk pernyataan tujuan hidup Anda seperti yang Anda inginkan. Doakan, pikirkan, bicarakan dengan teman-teman dekat, dan renungkan Kitab Suci.(Lex)
Pdt. Prof. DR(HC). Abraham Conrad Supit: Mencari Kerajaan Allah Dulu
Oleh Robby Repi
Print Email
Setiap hari dimulainya dengan doa. Setelah itu ia akan menyantap sarapan pagi. Sarapan ini juga yang menjadi bekalnya menjalani puasa hingga malam. Aktivitas berpuasa ini dijalaninya setiap hari sejak bertobat Desember 1988.
Sebelumnya pengusaha sukses ini larut dalam dunia bisnis. Tetapi kesuksesan yang diraih tidak dibarengi dengan sukses keluarga. Keluarga yang dibangun oleh anak ke-7 dari 8 bersaudara ini terpuruk dan tercerai-berai. Begitu kenal Tuhan dan bertobat, ia menyerahkan hidup dan masa depannya kepada Tuhan Yesus. Tidak hanya itu, ia pun dipanggil Tuhan untuk terjun dalam dunia pelayanan. Pada 15 Maret 1992 bertempat di Tanah Abang II, Jakarta Pusat, ia mendirikan GBI REM yang tumbuh hingga saat ini.
Sidang jemaat yang berdiri tersebut mengemban visi Victorious Family atau keluarga berkemenangan. Suatu visi dari Tuhan yang bertolak belakang dengan kondisi keluarganya. “Saya konsekuen dengan visi itu meskipun belum menjadi kenyataan,” katanya.
Perlahan tapi pasti anggota keluarganya terhimpun kembali. Keteladanan sang ayah yang berubah 100 persen mendorong anak-anaknya bukan hanya menerima Yesus sebagai juruselamat tapi menerima panggilan Tuhan, mengikuti jejak sang ayah menjadi hamba Tuhan.
SUPER SIBUK!
Memasuki siang hari kesibukan semakin menghujani Pak Supit. Mulai dari pelayanan kotbah hingga renovasi gedung gereja terutama di GBI REM Apartemen Robinson, Jakarta Utara. Meskipun sebagian besar sudah didelegasikan kepada Pdt. Joshua Supit, puteranya yang tengah menjabat kordinator pelaksana harian gembala sidang, toh beberapa putusan penting tetap menunggu pengarahannya.
Kesibukan penerima gelar doktor dari Evangelical Christian University of America, Monroe-Lousiana, USA tahun 1992 ini semakin menjadi pada hari Sabtu, Minggu dan Senin. Pada Sabtu pukul 05.00 ia harus memimpin ibadah Saturday Morning Prayer (SMP). Disambung kemudian shooting program pelayanan televisi.
Pelayanan televisi dari Rektor Institut Teologi & Kepemimpinan REM ini ditayangkan Trans TV pada setiap hari minggu kedua dan kelima pada pukul 06.00 dengan nama program Pelita. Sedangkan progam lainnya di Family Channel (Kabel Vision) dengan tajuk Today’s Church setiap sabtu pukul 08.30, 14.30 dan 24.00. Usai itu pertemuan forum jemaat, forum pengerja dan baptisan air menunggu.
Pada hari minggu, hari “sabat” umat Kristen, ia harus berdiri paling kurang 4 kali di depan jemaat sambil melayani perjamuan kudus. Pelayanan tersebut dilakukannya bergiliran di 11 cabang GBI REM di Jakarta dan Tangerang. Setelah itu malamnya ia harus siaran live di Radio Pelita Kasih (RPK FM) dari pukul 23.00 hingga 24.00. Tidak jarang karena banyaknya pendengar yang bertanya ia harus memperpanjang waktu siar hingga memasuki Senin dini hari!
Usai di RPK ia harus hadir pada Celebration of Monday (CoM). CoM dan SMP dimulai pukul 05.00 pagi dan berakhir pukul 07.30. Siangnya ia berkumpul dengan keluarga.
Sejak ditinggal isteri tercinta, Pdm. Elsye Supit-Cramer (alm) Juli 2006, rutinitas bersama keluarga rajin diikuti. Selain mendekatkan diri, acara ini memberinya kesempatan memberikan siraman rohani kepada anak, menantu dan cucu yang aktif mendorong pelayanannya.
Menjalani hari-hari yang sibuk tidak membuat aktivis angkatan 66 ini lelah. Panggilan mendahulukan Kerajaan Allah lebih dahulu membuatnya bersemangat. “Selama hidup, saya berusaha memberikan yang terbaik terutama dalam penggembalaan,” jelasnya sambil tersenyum.
Mengatur Prioritas Hidup Sesuai Maksud Allah
Oleh Eva Yunita
Print Email
Rasa-rasa-nya, kita selalu diburu waktu karena ada banyak hal yang harus dilakukan, ada banyak tugas yang harus dikerjakan, dan ada banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan. Belum lagi kalau berbicara tentang kemaksimalan hidup, kita punya sederet PR panjang yang harus dipecahkan. Ini semua membutuhkan pemikiran, tenaga, uang, dan tentu saja, lagi-lagi waktu!
CHAOS!! Kacau balau. Kita kalang kabut menyelesaikan segala sesuatu. Stres pun menjadi santapan dan menu harian. Pikiran kita begitu sibuk, tak pernah istirahat. Dan sebagai orang percaya, kita kehilangan harta yang paling berharga, yaitu kualitas kontemplasi kita dengan Tuhan.
MENGUNGKAP RAHASIA PARA TOKOH ALKITAB DALAM MENGATUR WAKTU
Aktivitas pelayanan yang sangat padat, tidak membuat Paulus kehilangan akal untuk mengatur waktu. Dia tahu kapan harus bekerja (Kis. 18:2). Pelayanan bukan alasan meninggalkan tanggung jawab pekerjaannya. Bahkan ia menyewa rumah selama dua tahun dengan uang hasil kerja kerasnya (Kis. 28:30). Meski tidak dijelaskan secara rinci bagaimana cara Paulus mengatur waktu, tapi tergambar jelas prioritas hidupnya, yaitu Tuhan di tempat yang terutama.
Yusuf mendapatkan visi menjadi raja ketika berusia 17 tahun dan naik takhta di usia 30 tahun. Pun demikian, ia tidak kehilangan prioritas hidup, pula tidak kehilangan kontemplasi dengan Tuhan. Tanggung jawab sebagai penguasa Mesir dikerjakan dengan baik. Tanggung jawab sebagai ayah pun dilaksanakan nyaris tanpa cacat. Keluarganya terurus dengan baik, terbukti Yusuf tidak berpaling ke wanita lain seperti yang lazim di zaman itu (Kej. 41:45) dan keluarganya pun adem ayem saja.
Daniel juga sama. Padatnya jadwal dan tanggung jawab sebagai penasihat raja tidak membuat Daniel lupa prioritas hidup. Tiga kali sehari ia berdoa. Ini adalah sebuah kebiasaan yang rutin ia lakukan (Dan. 6:11). Pun begitu, Daniel bukan hanya jago urusan berdoa. Ia orang yang cerdas, menguasai berbagai pengertian tentang ilmu, dan fasih belajar bahasa asing. Ini membuktikan secara tersirat bahwa Daniel mengatur waktu dan mendisiplin diri sedemikian rupa sehingga ia di atas rata-rata, bahkan sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang pintar di kerajaan tersebut.
Betul ketiga tokoh ini mengalami kairosnya Tuhan. Tapi, toh hidup mereka dirajut dari waktu-waktu chronos (waktu sehari-hari). Kuncinya adalah kemenangan mereka dalam menentukan prioritas. Inilah yang membuat mereka mampu mengalokasikan waktu, tenaga, fokus, uang dan juga talenta yang terbaik untuk hal yang utama. Inilah yang membuat mereka bisa menggenapi panggilan Allah tepat waktu.
FINDING WISDOM IN SILENCE
Kesalahan sekaligus kelalaian terbesar kita adalah menempatkan Tuhan di urutan yang kesekian. Padahal menomorduakan Dia sama artinya dengan mengacaubalaukan prioritas hidup. Kesibukan sudah lama membuat kita kehilangan keintiman dengan Tuhan. Inilah cikal bakal kegagalan menentukan prioritas. Dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita. Wisdom is found in silence. Wisdom inilah yang akan menolong kita, bukan hanya mampu mengatur prioritas hidup, tapi juga menjadi bijak dalam mengelola waktu sehingga kita dapat menggenapi visi, misi dan tujuan ilahi. Ingatlah! The main thing is to keep the main thing, the main thing. Hal terutama dalam hidup adalah mempertahankan hal terutama tetap di tempat yang terutama!
Tips untuk Menetapkan Skala Prioritas
Oleh bahana
Print Email
Fokuskanlah segala talenta, uang dan waktu kita pada hal yang mendesak dan penting. Kesalahan memilah masalah membuat kita mengalami kebocoran waktu.
2. Estimate the length of time
to accomplish them
Perkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap hal di dalam poin 1. Hal ini untuk menghindari kita berlama-lama dalam mengerjakan sesuatu hal yang kita sukai.
3. Allow time for unexpected
and sudden things
Alokasikan waktu untuk hal-hal yang mendadak dan tidak terduga. Kita harus selalu siap sedia untuk hal-hal seperti ini. Dengan begitu, kita tidak akan kehilangan akal dan tetap tenang ketika masalah pelik dan tak terduga mengguncang.
4. Decide your priority every day
Putuskanlah prioritas kehidupan Anda setiap hari. Inilah kunci untuk menjaga pikiran Anda tetap terfokus pada hal yang utama.
TIPS BIJAK MENGATUR WAKTU
1. The main priority: GOD!
Tuhan adalah harga mati! Bahkan, Dia bukanlah pilihan dalam penggunaan waktu kita. Memasukkan-Nya dalam pilihan membuat kita terjebak untuk memberi waktu ala kadarnya. Dia layak mendapatkan yang terbaik, termasuk dalam hal waktu. Usahakanlah memulai hari dengan bertemu Tuhan terlebih dahulu. Menetapkan Tuhan di tempat teratas akan membuat kita lebih tenang dalam menjalani hari-hari kita.
2. Immediately do what
you can do today
Kalau kita bisa mengerjakannya sekarang, mengapa harus menunggu esok hari? Alkitab berkata kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Jadi, janganlah menumpuk kesusahan hari ini untuk diselesaikan esok. Hal ini akan membuat kita mengalami stres dan tekanan yang tidak perlu.
3. Motivate your self
to obey the schedule
Banyak orang membuat jadwal harian tapi enggan memotivasi diri untuk menaatinya. Jadwal, sebagus apa pun, tanpa niat untuk menaatinya, akan membuat waktu kita terbuang percuma. Motivasi dan disiplinkan terus diri Anda untuk menaati apa yang sudah Anda rencanakan.
4. Evaluate your progress
continually
Berusahalah untuk memelihara perspektif positif tentang waktu-waktu Anda. Kesuksesan hanyalah dirajut dari kualitas waktu terbaik. Evaluasi waktu-waktu yang tidak efektif dan ubahlah cara pandang Anda.
TIPS TIDAK MENUNDA PEKERJAAN
1. Tanamkan dalam pikiran bahwa menunda itu dosa
Ingatlah! Segalanya dimulai dari pikiran. Tanpa mengubah pola pikir, sangat sulit untuk mengubah kebiasaan. Kesalahan menggunakan waktu disebabkan karena pikiran sudah terlalu lama bergaul karib dengan semangat “menunda”. Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menjatuhkan talak tiga terhadap “semangat menunda” dan belajar menanamkan dalam pikiran bahwa menunda itu dosa!
2. Buatlah jadwal dan taatilah itu
Jadwal membantu kita untuk mengatur waktu dengan baik. Buatlah jadwal harian, mingguan dan bulanan. Susunlah berdasarkan prioritasnya. Berusahalah menaati apa yang sudah Anda jadwalkan, kecuali ada hal-hal tak terduga yang mendesak. Realistislah dalam mengatur jadwal. Bagaimanapun, Anda bukanlah budak waktu, tapi Anda adalah pengelola waktu. Jadi, bersikaplah sebagai seorang pengelola yang baik, bukan budak yang baik.
3. Buanglah kemalasan!
Sejauh ini kemalasan adalah pembunuh waktu yang paling kejam. Merangkul erat kemalasan sama saja dengan merangkul kemiskinan, kemelaratan, dan kebodohan. Kalau tak satu pun hal baik dari kemalasan, mengapa kita masih saja sayang untuk membuangnya dari hidup kita?
Bahwa Hidup Mesti Lebih Berarti
Oleh Alex Japalatu
Print Email
Tetapi kapasitas manusia tidak akan mampu melakukan segala yang diinginkannya sekaligus. Karena itu, kita harus memilih untuk melakukan yang terpenting dan prinsipil terlebih dulu. Jangan sampai waktu kita banyak tersita melakukan hal-hal yang tidak penting, sementara ada banyak hal prinsipil tidak kita kerjakan. Karena itu kita perlu membuat skala prioritas.
Hukum Paretto mengatakan bahwa 80% waktu kita cuma menghasilkan 20% dari apa yang kita capai. Sedangkan 80% pencapaian kita cuma dihasilkan dari 20% waktu kita. Jadi, sebagian besar waktu kita itu tidak produktif. Bukankah sangat bagus dan lebih maksimal hasilnya seandainya kita mengalokasikan 80% waktu kita yang kurang maksimal itu untuk mencapai hasil lebih?
MENDESAK DAN PENTING
Agar waktu kita tidak dihabiskan dengan melakukan hal yang tidak penting, untuk membedakan hal yang prinsipil dan tidak prinsipil dikerjakan, Character specialist Jakoep Ezra memberi panduan melalui skala prioritas, menurut “keterdesakan” (urgent) dan “kepentingan”nya (important).
Sesuatu disebut prioritas, kata Jakoep, kalau hal itu mendesak dan penting sekaligus. Misalnya, seorang lelaki yang sudah menikah, mendesak dan penting bagi dia untuk bekerja. Manalah dia bisa menghidupi keluarganya tanpa bekerja? Seorang dokter, mendesak dan penting baginya menolong ibu yang sulit melahirkan. “Hal-hal yang mendesak dan penting harus segera dilaksanakan. Tidak boleh ditunda,” kata Jakoep kepada Robby Repi dari Bahana.
Jika hanya “mendesak” namun “tidak penting”, ia harus dilakukan tapi tidak mesti segera. Janjian ketemu teman lama di cafe Z misalnya, tetapi deadline tinggal hitungan jam. Mendesak bagi kita menyelesaikan tugas-tugas, baru setelah itu bertemu teman. Atau kita ingin buku Harry Potter terbaru, padahal harus membeli pulsa untuk menelepon kolega dan mitra bisnis. Mendesak bagi kita, menghubungi kolega dan mitra bisnis karena berpengaruh terhadap pendapatan. “Penting” tapi “tidak mendesak”, untuk hal yang bisa ditunda. Kita menginginkan sepasang sepatu model terkini, tetapi gigi kita yang berlubang harus segera ditambal. Kita lebih membutuhkan biaya ke dokter gigi.
“Tidak mendesak” juga “tidak penting”, untuk hal yang dapat diabaikan. Diajak teman kluyuran, main-main ke mall, JJS, atau hal-hal yang membuang-buang waktu.
Ironisnya, kata Jakoep, kita kerap melakukan kegiatan-kegiatan yang penting tapi tidak mendesak, bahkan yang tidak penting dan tidak mendesak. “Contohnya kita nonton TV secara berlebihan, ngopi, ngerumpi, gosip, nyantai. Buang-buang waktu itu, karena tidak urgent dan tidak important,” ujarnya.
TUHAN PRIORITAS UTAMA
Bila diminta mengurutkan prioritas dalam kehidupan, secara spontan, sederhana, normatif, orang Kristen akan mengurutkannya begini: Tuhan, Pribadi, Keluarga, Pekerjaan/karier, Kehidupan sosial. Di urutan pertama adalah Tuhan. Artinya Tuhan yang terpenting. Lalu setelah itu baru hal-hal lainnya, kemudian mungkin aktualisasi diri, hobi, berbagi untuk sesama, dan seterusnya.
“Prioritas ini benar,” kata Pdt. Dr. Robert Lesnussa kepada Heru Guntoro dari Bahana. Menurut Robert tujuan hidup orang Kristen adalah tinggal dalam kebahagian sejati bersama Allah. “Untuk mewujudkannya, kita memprioritaskan Tuhan dalam segala lini kehidupan. Kalau Tuhan kita prioritaskan, pintu berkat akan terbuka bagi kita,” kata Pdt. Robert. Maka demi prioritas ini kita pertaruhkan segala yang kita punyai: Tenaga, pikiran, waktu, kebisaan, demi kemuliaan Tuhan.
Tetapi mengapa harus Tuhan yang menjadi prioritas? Karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita. Penginjil Matius mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.” Dan setelah itu barulah kita, “mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri”, (Mat. 22: 37-39) . Ayat ini menguatkan kita bahwa dalam diri setiap orang Kristen, Tuhan menempati prioritas utama. Setelah itu barulah kita melakukan hal-hal yang lain. Inilah prioritas kita sebagai orang Kristen.
Bagi orang biasa, seorang karyawan kantoran misalnya, sebagian besar waktunya telah dialokasikan untuk bekerja dari jam 08.00-17.00. Belum lagi kalau lembur. Baru setelah itu mereka pulang ke rumah—bila itu orang Jakarta bisa jadi sampai rumah jam 20.00, atau bahkan jam 21.00. Sisa waktunya dia gunakan untuk keluarga. Setelah itu baru “sisanya” untuk Tuhan. Jadi, riilnya dari sisi alokasi waktu saja urutannya sudah berubah: Pekerjaan, pribadi, keluarga, kehidupan sosial, baru kemudian Tuhan. Apakah Tuhan tidak lagi menjadi prioritas dalam hidupnya?
SALIBLAH KEDAGINGAN
Menurut Jakoep, menempatkan Tuhan sebagai prioritas dalam hidup berarti menempatkan Dia dalam semua segi kehidupan manusia. Seseorang yang bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan segala kecakapan yang dia miliki, dia memprioritaskan Tuhan, kata Jakoep. Seorang ibu rumah tangga yang tulus mengurus anak dan suami, yang tanpa pamrih menyiapkan segala keperluan mereka, telah memprioritaskan Tuhan dalam hidupnya. Seorang hamba Tuhan yang penuh hikmat berkotbah dan menyelamatkan banyak jiwa, memprioritaskan Tuhan.
Yesus sendiri sadar menyembuhkan orang pada hari sabat melanggar hukum Taurat. Dia tidak melakukan prioritas? Sabar dulu. Bagi Yesus hari Minggu jangan diagungkan, karena prioritas Dia adalah melakukan pekerjaan Bapa. “Kalau kita mengurutkan Tuhan, keluarga, pekerjaan, jadi taurat lagi kita,” kata Jakoep.
Atau ambil contoh, sedang bekerja kemudian datang kabar isteri atau anak kita sakit. “Kita kembali ke rumah kan? Itu prioritas, walaupun kita melanggar pekerjaan. Atau pada Sabtu-Minggu, hari untuk keluarga, dan ada orang mau beli produk kita dalam jumlah banyak. Apa akan kita biarkan? Tidak berhikmat namanya itu,” tegas Jakoep.
Maka pengasuh rubrik Karakter Majalah Bahana itu mengatakan, segala hal yang dilakukan sesuai kebenaran Tuhan adalah menempatkan Tuhan dalam prioritas utama. “Bukan Tuhan nomor satu, keluarga nomor dua, pekerjaan nomor tiga, dan seterusnya. Tapi Tuhan ada di dalam semuanya. Kalau pagi berdoa apa dijamin siang dia berdoa? Tapi kalau dikatakan lakukan segala sesuatu (dalam nama Tuhan), maka doa bukan konsep lipat tangan tutup mata. Sambil bekerja roh kita punya hubungan intim dengan Bapa,” kata Jakoep.
Prioritas dalam hidup menurut Jakoep adalah apa yang “harus”, bukan apa yang “ingin” kita lakukan. Tetapi untuk sampai ke sana, ada harga yang mesti dibayar. “Saliblah kedagingan kita,” kata Jakoep. Karena sesuatu yang “harus” belum tentu sesuatu yang “ingin” kita lakukan. “Ini hal yang berat karena kedagingan adalah hal yang sesuai kemauan kita. Jalan-jalan, nonton, pacaran adalah hal-hal yang seturut keinginan kita. Tetapi bekerja, berdoa, menolong, memberi, adalah suatu keharusan,” Jakoep memberi contoh.
Sebenarnya orang bebas memilih, hendak ia apakan hidupnya. Terserah, mau prioritas apa yang hendak ia terakan, suka-suka dia. Anak-anak Tuhan pun diberi kebebasan yang sama. Tetapi sebuah pertanyaan mesti dijawab, “untuk apa kita diciptakan”?
Menurut executive mediator beberapa perusahaan terkemuka di Indonesia itu, Tuhan ada dalam setiap pikiran, gerak dan perkataan kita. Dari situ, kita akan mengerti hal yang urgent dan important. “Prioritas tidak bicara urutan. Prioritas bicara tentang kemampuan beradaptasi dengan perubahan bersama dengan Tuhan.”
Bagi anak-anak Tuhan, prioritas adalah, melibatkan Dia dalam segala segi kehidupan. Karena bersama Tuhan, hidup menjadi lebih berarti.
(Rob/Her)
The Power Of Acceptance
Oleh Xavier Quentin Pranata
Print Email
“Katakan saja, Sayang,” ujar suara di ujung telepon. “Engkau kan anak kesayangan kami.”
“Saya memiliki teman yang ingin saya ajak tinggal di rumah,” jawab putranya.
“Ajak saja. Toh rumah kita cukup besar,” jawab ayahnya.
“Tetapi ada satu hal yang ingin saya katakan Pa,” ujar anaknya, “teman saya itu cacat. Di medan perang dia menginjak ranjau darat sehingga kehilangan sebelah tangan dan sebelah kaki….”
Hening. Sunyi. Sepi. Suara di ujung sana tampak seperti kuburan. “Papa masih di situ?” tanya suara itu lagi.
“Papa bisa bantu mencarikan tempat untuknya,” akhirnya keluar juga ucapan papanya di ujung sana.
“Tapi Pa, saya ingin mengajaknya tinggal serumah dengan kita. Bukan mencarikan tempat baginya….”
“Nak, engkau tidak tahu bagaimana repotnya mengurus orang cacat. Lebih baik engkau pulang sendiri saja dan nggak usah membawa temanmu itu. Dia pasti bisa menemukan hidupnya sendiri….”
Anaknya menutup telepon umumnya. Anak itu tidak pulang ke rumah. Beberapa waktu kemudian polisi San Fransisko menelpon ke rumah dan mengatakan bahwa pemuda itu mengalami kecelakaan jatuh dari lantai atas apartemennya. Diduga anak itu bunuh diri. Ayahnya segera saja datang ke tempat itu dan begitu kagetnya ketika melihat bahwa anaknya ternyata kehilangan sebelah tangan dan sebelah kakinya.
Itulah dampak buruk penolakan. Prajurit muda yang baru pulang dari medan laga tentu sangat rindu untuk bertemu dengan keluarga yang dia kasihi dan mengasihinya. Prajurit itu mengasihi keluarganya. Namun, apakah keluarganya mau mengasihinya tanpa syarat? Ternyata tidak!
Belajar dari kasus tragis prajurit di atas, kita bisa mulai melakukan ziarah batin menyusuri lorong-lorong gelap relung hati kita yang paling dalam. Kita mulai dengan diri sendiri. Apakah kita memang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan? Pertanyaan Yesus kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” bisa kita tanyakan juga kepada diri kita sendiri. Apakah kita bisa mengasihi
Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kita?
Kedua, apakah kita bisa mengasihi sesama? Kasih kepada sesama diuji pertama kali justru di dalam keluarga. Kasih kita kepada sesama juga menjadi cermin kasih kita kepada Tuhan. Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika kita tidak bisa mengasihi sesama, apalagi keluarga, yang jelas-jelas ada di depan hidung kita?
Ketiga, apakah kita bisa mengasihi diri kita sendiri apa adanya? Banyak orang yang tidak bisa menerima dirinya apa adanya. Akibatnya, mereka melakukan bedah plastik untuk membuat matanya lebih lebar, hidungnya lebih mancung, bibirnya lebih sensual, pinggangnya lebih ramping dan sebagainya dan seterusnya. Kalangan rohaniawan Kristen biasanya bisa menerima orang yang melakukan operasi plastik karena kecelakaan, tetapi bukan untuk ‘memperbaiki diri’. Ciptaan Tuhan itu sempurna.
Marilah kita mengasihi Tuhan, sesama dan diri sendiri! Hanya dengan mengasihi tanpa syaratlah kita bisa mewujudkan “damai di surga, damai di bumi”.
Penulis, pengajar tinggal di Surabaya
Yang Tidak Diingat
Oleh Andar Ismail
Print Email
Memento mori! Demikianlah bunyi sebuah peribahasa Latin. Artinya: Ingatlah, Anda akan mati.
Apakah perlunya kita diingatkan bahwa kita akan meninggal dunia? Bukankah kita sudah tahu? Benar. Kita sudah tahu.
Tetapi dalam kenyataan kita sering pura-pura tidak tahu. Atau lebih tepat: tidak mau tahu. Buktinya kita tidak mau berpikir atau berbicara tentang kematian. Sengaja kita menghindarkan dari perenungan atau pembahasan tentang kematian. Kita tidak mau dekat-dekat dengan urusan tentang orang mati.
Siapa di antara kita yang merasa nyaman duduk berjam-jam lamanya di tengah kuburan? Apalagi kalau hari sudah gelap. Mana ada orang yang sengaja pasang iklan: “Dicari rumah yang terletak di sebelah atau di depan kuburan”? Perusahaan real estate menawarkan perumahan dengan lokasi pemandangan menghadap ini itu dengan sebutan Lake View, Mountain View, River View atau lainnya. Mana ada perumahan yang berlabel Cemetery View.
Kita juga tidak senang berlama-lama di kamar jenazah. Kita merasa seram dan ngeri berlama-lama memandangi wajah jenazah yang pucat dan kaku. Biasanya kita cepat-cepat buang muka dan berlalu.
Siapa pula yang merasa senang jika seandainya tetangga kita menitipkan sebuah peti jenazah, meski peti itu kosong dan baru sekalipun. Kita membeli funitur ini itu untuk jadi pajangan di rumah. Tetapi apakah kita akan meletakkan sebuah peti jenazah sebagai furnitur hiasan di kamar makan atau tidur kita?
Pokoknya kita mau menjauhkan diri sejauh mungkin dari segala sesuatu yang menyangkut kematian. Kita tahu bahwa kita akan mati, namun kita tidak mau tahu bahwa kita akan mati. Kita berlagak tidak tahu.
Namun dengan sikap berpura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu, sebenarnya kita sedang membohongi dan membodohi diri sendiri. Dengan bersikap demikian kematian bukan jadi tidak ada, melainkan cuma disembunyikan untuk sementara waktu. Sebuah kenyataan ada bukan untuk ditutupi, melainkan untuk dihadapi.
Oleh sebab itu kita diingatkan: Memento mori! Ingat Anda akan mati! Apakah peringatan itu bermaksud untuk menakut-nakuti? Bukan! Apakah untuk mengancam atau mengintimidasi? Juga bukan!
Lihat bagaimana pemazmur mengemas atau merumuskan memento mori. Tulisnya, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm. 90:12). Memento mori dikemasnya sebagai sebuah permohonan. Ia memohon kepada Tuhan untuk belajar “menghitung hari”. Ungkapan “menghitung hari” berarti menyadari bahwa hari-hari kita terdiri dari sebuah jumlah yang terbatas. Oleh sebab itu pemazmur memohon agar ia mampu bersikap bijak dengan hari-hari yang terbatas itu. Ia memohon agar ia belajar menjalani hidup ini secara bijak.
Itulah sikap pemazmur terhadap kematian. Ia tidak menjauhkan diri dan juga tidak mendekatkan diri pada kematian. Yang diperbuatnya adalah menghadapi kematian dengan cara menjalani hidup secara bijak. Ia ingin belajar secara bijak dan kelak mengakhiri hidup ini secara bijak pula.
Doa pemazmur itu mengilhami Sebastian Bach ketika menulis kantata “Actus Tragius”. Di situ terdapat kalimat “Ach, Herr, lehre, uns bedenken, das wir sterben müssen, auf dass wir klug werden.” Artinya: “O, Tuhan, ajarkan kami ingat bahwa kami akan mati, supaya dengan begitu kami penuh pertimbangan.”
Konon setibanya di pintu surga ada orang yang langsung protes kepada malaikat. Katanya, “Mengapa begini mendadak? Mengapa tidak ada pemberitahuan lebih dulu bahwa aku akan meninggal?” Dengan tenang malaikat menjawab, “Sudah berkali-kali! Tiga puluh tahun lalu berat Anda di atas normal. Dua puluh tahun lalu tekanan darah Anda jadi tinggi. Sepuluh tahun lalu rambut Anda memutih. Bukankah semua itu pemberitahuan jauh hari di muka?”
Penulis adalah Pengarang buku-buku renungan “Seri Selamat”
Spiritualitas; Inti Religi
Oleh Mudji Sutrisno, SJ
Print Email
Namun lingkaran penghayatan hidup dengan semangat kerohanian seperti ini menjadi terpecah. Waktu dan ruang tidak dipersepsi lagi sebagai lingkaran, tetapi sebagai garis lurus di mana teologi spiritual yang mempercayai waktu sudah ditebus dan dihadiri oleh Yang Ilahi, dipersepsi menjadi keterpecahan.
Akibatnya, kerohanian altar dipisah dari pasar ramai. Akibatnya lagi terjadi penghayatan hidup terpecah, antara suci sekali di ruang doa, namun lain dalam aksi di pasar ramai kehidupan. Inikah yang menjawab sebagian kecil pertanyaan “Mengapa bangsa yang formal dan resmi khusuk beribadah namun sekaligus korupsi di hidup sehari-hari?”
Syukurlah revolusi kesadaran terhadap keberagaman melalui spiritualitas, mencapai pencerahan bahwa formalisasi, birokratisasi, pelembagaan agama, “hanyalah” eksteriorisasi atau ciri fisik luar saja. Sementara penajaman dan penyadaran diri akan spiritualitas merupakan yang batin, yang interior, dari setiap religi.
Bahkan ikhtiar dicoba terus untuk dialog antar religi hingga menemukan sebuah penghayatan kerohanian : “tetap hening kontemplatif dalam kerja keras kehidupan pasar sehari-hari!” Even being contemplative in actions in everyday life : Hayatilah untuk tetap kontemplasi dalam laku sehari-hari!
Namun laku penghayatan spiritualitas seperti itu tidak segampang mengatakannya. Justru pada titik-titik kesulitan inilah kerendahan hati untuk dialog hati dan spiritualitas antar religi menemukan ruangnya, yaitu sebuah pekerjaan rumah bersama menghadapi krisis nilai, krisis retak tsunami dasar hidup. Bagaimana bisa saling menajamkan awareness agar di awal hari dalam ruang hening nurani, kita sadari motivasi kita hari ini dalam bersesama, dan malam hari kesadaran itu kita kilas balikkan sebagai cermin atas tindakan atau laku kita.
Spiritualitas; Inti Religi
Oleh Mudji Sutrisno, SJ
Print Email
Barang siapa menanam motif sebagai biji padi dalam gabah maka ia akan menuai padi-padi sebagai buahnya. Asalkan dipupuk, dirawat, dan disirami. Inilah kebijaksanaan hidup dalam kebudayaan agraris. Dalam bahasa kebijaksanaan hidup diungkap lebih dialogis lagi “memetik buah laku hidupnya” (Jawa : ngunduh wohing pakerti).
Apakah askese atau matiraga untuk menumbuhkan kepekaan menjadi sarana agar spiritualitas altar tetap dihayati di pasar dengan cara “negatif” : melepaskan ketidakteraturan kelekatan (attachments) agar terjadi detachments, hingga spiritualitas diluas-rentangkan dengan “mengontrol kelekatan” manusia? Ataukah jalan positif dengan menyadari dalam awareness terhadap kehidupan sebagaimana adanya, dirayakan dengan transformasi, kebencian menjadi cinta, amarah menjadi kesabaran, serta energi-energi eros seksualitas menjadi love.
Apakah spiritualitas perayaan hidup yang menjadi inti setiap religi mampu menjawab kekerasan teror, ketidakadil-an, kemiskinan, dan penghancuran alam serta tega pembunuhan sesama atas nama ideologi, kepentingan kuasa, dan keserakahan ekonomi yang mau melahap seluruhnya atas nama sistem dan struktur?
Pertanyaan-pertanyaan kritis ini menantang untuk dijawab dalam kotak-kotak tafsir spiritualitas sosial, kerohanian yang terlibat, dan seterusnya dan seterusnya.
Penulis adalah Rohaniwan, Budayawan, pengajar STF Driyarkara dan Pasca Sarjana Filsafat Universitas Indonesia
Generasi yang Tunduk Kepada Pemerintah
Oleh Pdt. Purim Marbun
Print Email
INDIKATOR KETUNDUKAN
Dalam kaitan ini, kata “generasi” dihubungkan dengan kehidupan generasi muda dalam tatanan hidup bergereja dan pelayanan. Harus dipahami bahwa generasi muda merupakan kelompok usia yang cukup signifikan keberadaannya di gereja karena jumlah mereka besar jika dilihat dari kategori usia. Hal kedua yang menyebabkan keberadaan mereka signifikan adalah potensi, fungsi, dan peran yang besar dalam pergerakan gerejawi.
Membahas generasi yang tunduk kepada pemimpin, pastilah kita mengaitkannya dengan teladan tokoh-tokoh Alkitab. Jika kita membaca Alkitab, secara khusus Filipi 2:19-30, kita mendapatkan sosok hamba Tuhan yang sungguh-sungguh tunduk kepada pemimpin. Pribadi tersebut adalah Timotius. Alkitab memberikan uraian tentang pola hidup serta perilaku Timotius di hadapan Paulus. Kriteria ketundukan ditunjukkan dengan indikator-indikator sebagai berikut:
1 Sehati dan sepikir
Rasul Paulus menyebut Timotius sebagai pribadi yang sehati dan sepikir. Pola hidup yang sehati dan sepikir ditandai dengan sikap setuju kepada pemimpin. Kesetujuan itu bukan karena rasa takut, melainkan apa yang direncanakan dan dikerjakannya itu benar atau sesuai dengan prosedur yang berlaku dalam pelayanan.
2 Kesungguhan hati dalam berkarya
Timotius melakukan tugas dan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Maksudnya, setiap kegiatan dilakukan dengan hati yang sungguh-sungguh, gigih dan setia. Dalam mengerjakan tugas dan pekerjaan ia tidak tergantung kehadiran fisik pemimpin.
3 Mengutamakan kepentingan pelayanan
Dalam bekerja dan melayani, pemimpin lebih mengutamakan kepentingan orang banyak, bukan kepentingan pribadi.
4 Pribadi yang dipercayai
Tanda keempat yang mencirikan bahwa kita adalah generasi yang tunduk kepada pemimpin adalah jika kita menjadi pribadi yang dipercaya. Dalam segala hal dan segala perkara hendaknya kita dapat dipercaya. Mulai dari hal-hal kecil sampai besar kita harus jadikan diri kita dipercaya.
Menemukan generasi yang tunduk kepada pemimpin di zaman ini tidak mudah. Kemajuan teknologi dan pengetahuan sering kali membuat generasi sekarang menganggap diri lebih dari pemimpinnya.
Sebagai anak-anak Tuhan, mari kita tunduk dan taat kepada pemimpin karena mereka ditempatkan Tuhan di antara kita untuk membimbing dan menuntun.
Penulis adalah Ketua Departemen Pemuda dan Anak BPS GBI dan Gembala Sidang GBI Taman Anggrek, Jakarta Barat
Managing Priorities in Life - Mengelola Prioritas dalam Hidup
Oleh Jakoep Ezra
Print Email
Untuk mencapai hasil terbaik, kita harus dapat mengatur waktu. Ada hal-hal yang menjadi prioritas dan ada yang perlu ditunda atau diabaikan.
Banyak hal kurang berguna yang menyita waktu. Akibatnya, kita sering hidup dalam tekanan. Dikejar-kejar target pekerjaan, sulit membagi waktu dan perhatian bagi keluarga atau kesehatan terabaikan. Ternyata kuncinya hanya satu, yaitu bagaimana mengelola prioritas dalam hidup kita.
Prioritas mempengaruhi pola berpikir dan tindakan. Dengan menentukan skala prioritas, kita dapat memisahkan hal-hal yang penting dan mendesak. Atau yang penting namun tidak mendesak dan hal-hal yang dapat ditunda atau bahkan diabaikan.
1. Menentukan skala prioritas
Ada cerita tentang dua orang putri. Sang raja sangat mengasihi kedua putrinya ini. Suatu ketika raja bertanya, seperti apakah mereka menggambarkan kasih sayangnya. Putri tertua menjawab, “Bagaikan emas”. Raja merasa senang. Kemudian Putri bungsu berkata, “Kasih sayang ayahanda bagaikan garam”. Raja tersinggung dan merasa terhina. Putri bungsu diusir dari kerajaan.
Sejak itu garam lenyap di seluruh negeri. Rakyat gempar dan lambat laun menjadi lemah karena tidak punya selera makan. Akhirnya sang raja menyadari kekeliruannya dan memanggil putri bungsunya kembali.
Bagi seseorang, emas itu penting. Bagi yang lain garam lebih penting. Bagi seorang penyair, duduk merenung adalah hal yang utama. Sedangkan petani bekerja di ladang lebih penting.
2. Belajar memanfaatkan kesempatan
Dibutuhkan latihan agar kita terampil menggunakan kesempatan dalam mengerjakan tugas-tugas. Kita dapat mengatur prioritas dengan memilah-milah hal-hal yang sifatnya penting dan mendesak. Ada yang perlu diberi tenggat waktu, mungkin ada kegiatan yang dapat dilaksanakan bersamaan sekaligus, atau dapat diselipkan di sela-sela waktu yang ada.
3. Gunakan ’reminder’ untuk mengingatkan
Agenda, organizer, handphone, sekretaris atau orang-orang, dapat digunakan sebagai pengingat jadwal. Membiasakan diri menerapkan prioritas membuat kita bijaksana dan efektif dalam mengelola waktu.
MENGAPA KITA SULIT MENGATUR WAKTU?
1 Tidak punya sasaran yang jelas
Untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu tertawa, ada waktu menangis. Ada waktu menanam, ada waktu menuai. Ada waktu bekerja dan ada waktu beristirahat.
Tanpa tujuan jelas dan tingkatan urgensinya, kita sulit mengatur pembagian waktu. Kita bisa saja kebablasan menghabiskan waktu produktif dengan duduk berjam-jam di depan TV. Atau larut dengan pekerjaan hingga melalaikan kesehatan dan kepentingan keluarga.
2 Suka menunda-nunda
Sikap suka menunda merupakan penyakit dan kebiasaan buruk yang sering menjerat. Banyak sebab yang membuat kita menunda-nunda pekerjaan. Kita merasa menunda itu menyenangkan. Berusaha menikmati momen yang terbatas untuk santai sambil membayangkan selalu ada waktu tersedia.
Akhirnya kita melalaikan waktu-waktu kritis yang seharusnya produktif. Padahal semakin kita santai, semakin buyar konsentrasi dan fokus kita pada pekerjaan.
3 Mudah dipengaruhi situasi
Ada orang yang sulit membagi waktu. Ia tidak fokus pada tugas dan pekerjaan. Sebaliknya mudah terpengaruh oleh situasi dan sibuk dengan urusan orang lain. Ikut nimbrung sana-sini dan menjadi seksi sibuk di mana-mana. Akhirnya kelabakan karena kesulitan membagi waktu.
Diasuh oleh: Jakoep Ezra, Penulis adalah Master Trainer Power Character, Hotline: 021-70975770
powercharacter@asia.com
Terus,dalam peta Bimasakti yang skalanya masih sangat besar sebab harus memuat sekitar 200 miliar bintang, harus bisa setepatnya menetapkan mana bintang yang adalah Matahari. Terus, dalam peta Tatasurya yang terdiri dari 60-an satelit dan 9 planet yang terus bergerak cepat, harus dibidik yang mana Bumi. Terus, di peta bumi yang berpusar cepat, bidik Indonesia. Dan seterusnya. Dan terus rumit, sebab si kuman pun bergerak terus ke mana-mana, sehingga tetap butuh keterlatihan menggunakan peta dengan skala prioritas.
Bagi manusia, prioritas pertama tak boleh lain haruslah Pencipta yang Pengarah kebahagiaan sejati hidupnya sendiri. Dengan begitu manusia memperoleh keselamatan menuju sukses kekal, dan masih pula ditambahkan-Nya semua yang untuk bahagia serta sukses optimal di dunia (Mat. 6:33). Termasuk dalam tambahan itu: talenta serta pelbagai karunia-Nya yang akan kita gunakan dalam sebagian besar waktu kita dan yang dengan itulah Tuhan kian dipermuliakan dunia, juga kemampuan membaca secara benar semua peta yang silih-berganti harus terus kita hadapi sepanjang hayat.
Seperti kata filsuf Jose Ortega Y. Gasset, tak seperti binatang yang dengan nalurinya sudah jelas semua arah tindaknya, manusia terlahir sudah harus langsung menjalani hidupnya tanpa lebih dulu tahu arahnya. Harus belajar terus, dan dengan kemungkinan tak akan pernah tahu tujuan yang benar hingga akhir hidupnya. Padahal makin dini pengejaran dimulai, dan makin cepat laju kejarannya, makin optimal sukses yang direngkuh. Itulah mengapa kita butuh arahan langsung dari Pencipta kita.
Tak saja harus tahu jelas destination dan time-utilization, di zaman ini perlu ekstra waspada terhadap godaan yang melencengkan arah. Godaan terlalu banyak dan serba dahsyat. Termasuk godaan melahap semua informasi yang deras menerjang, yang kita kira akan bikin kita banyak pengetahuan (mumpuni), padahal sukses optimal direbut oleh orang yang banyak tahu tentang sedikit hal dan bukan sedikit tahu tentang banyak hal. Untuk bisa melesat lebih cepat ke titik sasaran tepat, kita harus membidik. Untuk membidik, kita harus memicingkan mata sebelah, membutakan diri terhadap banyak pengetahuan bidang lain, demi bidang yang kita tekuni. Ambeg paramartha!
5 Pertanyaan Terbesar tentang Kehidupan
Oleh Alex Japalatu
Print Email
Ketika Tuhan ada di pusat kehidupan Anda, Anda menyembah. Ketika ia tidak di sana, Anda kuatir. Kekuatiran adalah lampu peringatan bahwa Tuhan telah digeser ke pinggir. Begitu Anda menempatkan-Nya di pusat lagi, Anda akan memiliki damai sejahtera lagi.
2 APA YANG AKAN MENJADI KARAKTER HIDUPKU?
Ini adalah pertanyaan tentang pemuridan. Akan menjadi orang seperti apa Anda? Tuhan jauh lebih tertarik pada siapa Anda itu daripada apa yang Anda lakukan. Buatlah daftar sebuah kualitas karakter yang ingin Anda latih dan kembangkan dalam hidup Anda. Anda bisa memulai dengan buah Roh atau ucapan bahagia (khotbah di bukit).
3APA YANG AKAN MENJADI SUMBANGAN HIDUP ANDA?
Ini adalah pertanyaan tentang pelayanan. Dengan mengetahui kombinasi karunia rohani, hati, kemampuan, kepribadian, dan pengalaman (shape), apa yang akan menjadi peran terbaik Anda dalam keluarga Tuhan?
Meskipun Anda dibentuk untuk melayani sesama, Anda harus memilih siapa yang bisa paling Anda tolong berdasarkan shape Anda. Tuhan Yesus pun tidak memenuhi kebutuhan setiap orang saat di bumi, sebelum disalibkan.
4 APA YANG AKAN MENJADI KOMUNIKASI HIDUP ANDA?
Ini adalah pertanyaan tentang misi Anda kepada orang-orang belum percaya. Jika Anda adalah orang tua, sebagian dari misi Anda adalah membesarkan anak-anak mengenal Kristus, menolong mereka memahami tujuan-Nya bagi hidup mereka, dan mengirim mereka pada misi mereka di dunia. Anda bisa memasukkan pernyataan Yosua dalam pernyataan Anda: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”
Hidup Anda harus mendukung dan memvalidasi pesan yang Anda komunikasikan. Itulah mengapa Alkitab berkata, “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus…”
5 APA YANG AKAN MENJADI KOMUNITAS HIDUP ANDA?
Ini adalah pertanyaan tentang persekutuan. Bagaimana Anda akan menunjukkan komitmen Anda kepada orang-orang percaya dan hubungan dengan keluarga Tuhan? Di mana Anda akan menerapkan perintah “satu sama lain” dengan orang-orang Kristen lain? Kepada keluarga gereja mana Anda akan diikutsertakan sebagai anggota yang berfungsi? Semakin Anda dewasa, semakin Anda akan mengasihi tubuh Kristus dan ingin berkorban baginya.
Sementara mempertimbangkan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, masukkan ayat-ayat Alkitab mana saja yang akan berbicara kepadamu tentang setiap tujuan ini. Mungkin akan memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk membentuk pernyataan tujuan hidup Anda seperti yang Anda inginkan. Doakan, pikirkan, bicarakan dengan teman-teman dekat, dan renungkan Kitab Suci.(Lex)
Pdt. Prof. DR(HC). Abraham Conrad Supit: Mencari Kerajaan Allah Dulu
Oleh Robby Repi
Print Email
Setiap hari dimulainya dengan doa. Setelah itu ia akan menyantap sarapan pagi. Sarapan ini juga yang menjadi bekalnya menjalani puasa hingga malam. Aktivitas berpuasa ini dijalaninya setiap hari sejak bertobat Desember 1988.
Sebelumnya pengusaha sukses ini larut dalam dunia bisnis. Tetapi kesuksesan yang diraih tidak dibarengi dengan sukses keluarga. Keluarga yang dibangun oleh anak ke-7 dari 8 bersaudara ini terpuruk dan tercerai-berai. Begitu kenal Tuhan dan bertobat, ia menyerahkan hidup dan masa depannya kepada Tuhan Yesus. Tidak hanya itu, ia pun dipanggil Tuhan untuk terjun dalam dunia pelayanan. Pada 15 Maret 1992 bertempat di Tanah Abang II, Jakarta Pusat, ia mendirikan GBI REM yang tumbuh hingga saat ini.
Sidang jemaat yang berdiri tersebut mengemban visi Victorious Family atau keluarga berkemenangan. Suatu visi dari Tuhan yang bertolak belakang dengan kondisi keluarganya. “Saya konsekuen dengan visi itu meskipun belum menjadi kenyataan,” katanya.
Perlahan tapi pasti anggota keluarganya terhimpun kembali. Keteladanan sang ayah yang berubah 100 persen mendorong anak-anaknya bukan hanya menerima Yesus sebagai juruselamat tapi menerima panggilan Tuhan, mengikuti jejak sang ayah menjadi hamba Tuhan.
SUPER SIBUK!
Memasuki siang hari kesibukan semakin menghujani Pak Supit. Mulai dari pelayanan kotbah hingga renovasi gedung gereja terutama di GBI REM Apartemen Robinson, Jakarta Utara. Meskipun sebagian besar sudah didelegasikan kepada Pdt. Joshua Supit, puteranya yang tengah menjabat kordinator pelaksana harian gembala sidang, toh beberapa putusan penting tetap menunggu pengarahannya.
Kesibukan penerima gelar doktor dari Evangelical Christian University of America, Monroe-Lousiana, USA tahun 1992 ini semakin menjadi pada hari Sabtu, Minggu dan Senin. Pada Sabtu pukul 05.00 ia harus memimpin ibadah Saturday Morning Prayer (SMP). Disambung kemudian shooting program pelayanan televisi.
Pelayanan televisi dari Rektor Institut Teologi & Kepemimpinan REM ini ditayangkan Trans TV pada setiap hari minggu kedua dan kelima pada pukul 06.00 dengan nama program Pelita. Sedangkan progam lainnya di Family Channel (Kabel Vision) dengan tajuk Today’s Church setiap sabtu pukul 08.30, 14.30 dan 24.00. Usai itu pertemuan forum jemaat, forum pengerja dan baptisan air menunggu.
Pada hari minggu, hari “sabat” umat Kristen, ia harus berdiri paling kurang 4 kali di depan jemaat sambil melayani perjamuan kudus. Pelayanan tersebut dilakukannya bergiliran di 11 cabang GBI REM di Jakarta dan Tangerang. Setelah itu malamnya ia harus siaran live di Radio Pelita Kasih (RPK FM) dari pukul 23.00 hingga 24.00. Tidak jarang karena banyaknya pendengar yang bertanya ia harus memperpanjang waktu siar hingga memasuki Senin dini hari!
Usai di RPK ia harus hadir pada Celebration of Monday (CoM). CoM dan SMP dimulai pukul 05.00 pagi dan berakhir pukul 07.30. Siangnya ia berkumpul dengan keluarga.
Sejak ditinggal isteri tercinta, Pdm. Elsye Supit-Cramer (alm) Juli 2006, rutinitas bersama keluarga rajin diikuti. Selain mendekatkan diri, acara ini memberinya kesempatan memberikan siraman rohani kepada anak, menantu dan cucu yang aktif mendorong pelayanannya.
Menjalani hari-hari yang sibuk tidak membuat aktivis angkatan 66 ini lelah. Panggilan mendahulukan Kerajaan Allah lebih dahulu membuatnya bersemangat. “Selama hidup, saya berusaha memberikan yang terbaik terutama dalam penggembalaan,” jelasnya sambil tersenyum.
Mengatur Prioritas Hidup Sesuai Maksud Allah
Oleh Eva Yunita
Print Email
Rasa-rasa-nya, kita selalu diburu waktu karena ada banyak hal yang harus dilakukan, ada banyak tugas yang harus dikerjakan, dan ada banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan. Belum lagi kalau berbicara tentang kemaksimalan hidup, kita punya sederet PR panjang yang harus dipecahkan. Ini semua membutuhkan pemikiran, tenaga, uang, dan tentu saja, lagi-lagi waktu!
CHAOS!! Kacau balau. Kita kalang kabut menyelesaikan segala sesuatu. Stres pun menjadi santapan dan menu harian. Pikiran kita begitu sibuk, tak pernah istirahat. Dan sebagai orang percaya, kita kehilangan harta yang paling berharga, yaitu kualitas kontemplasi kita dengan Tuhan.
MENGUNGKAP RAHASIA PARA TOKOH ALKITAB DALAM MENGATUR WAKTU
Aktivitas pelayanan yang sangat padat, tidak membuat Paulus kehilangan akal untuk mengatur waktu. Dia tahu kapan harus bekerja (Kis. 18:2). Pelayanan bukan alasan meninggalkan tanggung jawab pekerjaannya. Bahkan ia menyewa rumah selama dua tahun dengan uang hasil kerja kerasnya (Kis. 28:30). Meski tidak dijelaskan secara rinci bagaimana cara Paulus mengatur waktu, tapi tergambar jelas prioritas hidupnya, yaitu Tuhan di tempat yang terutama.
Yusuf mendapatkan visi menjadi raja ketika berusia 17 tahun dan naik takhta di usia 30 tahun. Pun demikian, ia tidak kehilangan prioritas hidup, pula tidak kehilangan kontemplasi dengan Tuhan. Tanggung jawab sebagai penguasa Mesir dikerjakan dengan baik. Tanggung jawab sebagai ayah pun dilaksanakan nyaris tanpa cacat. Keluarganya terurus dengan baik, terbukti Yusuf tidak berpaling ke wanita lain seperti yang lazim di zaman itu (Kej. 41:45) dan keluarganya pun adem ayem saja.
Daniel juga sama. Padatnya jadwal dan tanggung jawab sebagai penasihat raja tidak membuat Daniel lupa prioritas hidup. Tiga kali sehari ia berdoa. Ini adalah sebuah kebiasaan yang rutin ia lakukan (Dan. 6:11). Pun begitu, Daniel bukan hanya jago urusan berdoa. Ia orang yang cerdas, menguasai berbagai pengertian tentang ilmu, dan fasih belajar bahasa asing. Ini membuktikan secara tersirat bahwa Daniel mengatur waktu dan mendisiplin diri sedemikian rupa sehingga ia di atas rata-rata, bahkan sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang pintar di kerajaan tersebut.
Betul ketiga tokoh ini mengalami kairosnya Tuhan. Tapi, toh hidup mereka dirajut dari waktu-waktu chronos (waktu sehari-hari). Kuncinya adalah kemenangan mereka dalam menentukan prioritas. Inilah yang membuat mereka mampu mengalokasikan waktu, tenaga, fokus, uang dan juga talenta yang terbaik untuk hal yang utama. Inilah yang membuat mereka bisa menggenapi panggilan Allah tepat waktu.
FINDING WISDOM IN SILENCE
Kesalahan sekaligus kelalaian terbesar kita adalah menempatkan Tuhan di urutan yang kesekian. Padahal menomorduakan Dia sama artinya dengan mengacaubalaukan prioritas hidup. Kesibukan sudah lama membuat kita kehilangan keintiman dengan Tuhan. Inilah cikal bakal kegagalan menentukan prioritas. Dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita. Wisdom is found in silence. Wisdom inilah yang akan menolong kita, bukan hanya mampu mengatur prioritas hidup, tapi juga menjadi bijak dalam mengelola waktu sehingga kita dapat menggenapi visi, misi dan tujuan ilahi. Ingatlah! The main thing is to keep the main thing, the main thing. Hal terutama dalam hidup adalah mempertahankan hal terutama tetap di tempat yang terutama!
Tips untuk Menetapkan Skala Prioritas
Oleh bahana
Print Email
Fokuskanlah segala talenta, uang dan waktu kita pada hal yang mendesak dan penting. Kesalahan memilah masalah membuat kita mengalami kebocoran waktu.
2. Estimate the length of time
to accomplish them
Perkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap hal di dalam poin 1. Hal ini untuk menghindari kita berlama-lama dalam mengerjakan sesuatu hal yang kita sukai.
3. Allow time for unexpected
and sudden things
Alokasikan waktu untuk hal-hal yang mendadak dan tidak terduga. Kita harus selalu siap sedia untuk hal-hal seperti ini. Dengan begitu, kita tidak akan kehilangan akal dan tetap tenang ketika masalah pelik dan tak terduga mengguncang.
4. Decide your priority every day
Putuskanlah prioritas kehidupan Anda setiap hari. Inilah kunci untuk menjaga pikiran Anda tetap terfokus pada hal yang utama.
TIPS BIJAK MENGATUR WAKTU
1. The main priority: GOD!
Tuhan adalah harga mati! Bahkan, Dia bukanlah pilihan dalam penggunaan waktu kita. Memasukkan-Nya dalam pilihan membuat kita terjebak untuk memberi waktu ala kadarnya. Dia layak mendapatkan yang terbaik, termasuk dalam hal waktu. Usahakanlah memulai hari dengan bertemu Tuhan terlebih dahulu. Menetapkan Tuhan di tempat teratas akan membuat kita lebih tenang dalam menjalani hari-hari kita.
2. Immediately do what
you can do today
Kalau kita bisa mengerjakannya sekarang, mengapa harus menunggu esok hari? Alkitab berkata kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Jadi, janganlah menumpuk kesusahan hari ini untuk diselesaikan esok. Hal ini akan membuat kita mengalami stres dan tekanan yang tidak perlu.
3. Motivate your self
to obey the schedule
Banyak orang membuat jadwal harian tapi enggan memotivasi diri untuk menaatinya. Jadwal, sebagus apa pun, tanpa niat untuk menaatinya, akan membuat waktu kita terbuang percuma. Motivasi dan disiplinkan terus diri Anda untuk menaati apa yang sudah Anda rencanakan.
4. Evaluate your progress
continually
Berusahalah untuk memelihara perspektif positif tentang waktu-waktu Anda. Kesuksesan hanyalah dirajut dari kualitas waktu terbaik. Evaluasi waktu-waktu yang tidak efektif dan ubahlah cara pandang Anda.
TIPS TIDAK MENUNDA PEKERJAAN
1. Tanamkan dalam pikiran bahwa menunda itu dosa
Ingatlah! Segalanya dimulai dari pikiran. Tanpa mengubah pola pikir, sangat sulit untuk mengubah kebiasaan. Kesalahan menggunakan waktu disebabkan karena pikiran sudah terlalu lama bergaul karib dengan semangat “menunda”. Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menjatuhkan talak tiga terhadap “semangat menunda” dan belajar menanamkan dalam pikiran bahwa menunda itu dosa!
2. Buatlah jadwal dan taatilah itu
Jadwal membantu kita untuk mengatur waktu dengan baik. Buatlah jadwal harian, mingguan dan bulanan. Susunlah berdasarkan prioritasnya. Berusahalah menaati apa yang sudah Anda jadwalkan, kecuali ada hal-hal tak terduga yang mendesak. Realistislah dalam mengatur jadwal. Bagaimanapun, Anda bukanlah budak waktu, tapi Anda adalah pengelola waktu. Jadi, bersikaplah sebagai seorang pengelola yang baik, bukan budak yang baik.
3. Buanglah kemalasan!
Sejauh ini kemalasan adalah pembunuh waktu yang paling kejam. Merangkul erat kemalasan sama saja dengan merangkul kemiskinan, kemelaratan, dan kebodohan. Kalau tak satu pun hal baik dari kemalasan, mengapa kita masih saja sayang untuk membuangnya dari hidup kita?
Bahwa Hidup Mesti Lebih Berarti
Oleh Alex Japalatu
Print Email
Tetapi kapasitas manusia tidak akan mampu melakukan segala yang diinginkannya sekaligus. Karena itu, kita harus memilih untuk melakukan yang terpenting dan prinsipil terlebih dulu. Jangan sampai waktu kita banyak tersita melakukan hal-hal yang tidak penting, sementara ada banyak hal prinsipil tidak kita kerjakan. Karena itu kita perlu membuat skala prioritas.
Hukum Paretto mengatakan bahwa 80% waktu kita cuma menghasilkan 20% dari apa yang kita capai. Sedangkan 80% pencapaian kita cuma dihasilkan dari 20% waktu kita. Jadi, sebagian besar waktu kita itu tidak produktif. Bukankah sangat bagus dan lebih maksimal hasilnya seandainya kita mengalokasikan 80% waktu kita yang kurang maksimal itu untuk mencapai hasil lebih?
MENDESAK DAN PENTING
Agar waktu kita tidak dihabiskan dengan melakukan hal yang tidak penting, untuk membedakan hal yang prinsipil dan tidak prinsipil dikerjakan, Character specialist Jakoep Ezra memberi panduan melalui skala prioritas, menurut “keterdesakan” (urgent) dan “kepentingan”nya (important).
Sesuatu disebut prioritas, kata Jakoep, kalau hal itu mendesak dan penting sekaligus. Misalnya, seorang lelaki yang sudah menikah, mendesak dan penting bagi dia untuk bekerja. Manalah dia bisa menghidupi keluarganya tanpa bekerja? Seorang dokter, mendesak dan penting baginya menolong ibu yang sulit melahirkan. “Hal-hal yang mendesak dan penting harus segera dilaksanakan. Tidak boleh ditunda,” kata Jakoep kepada Robby Repi dari Bahana.
Jika hanya “mendesak” namun “tidak penting”, ia harus dilakukan tapi tidak mesti segera. Janjian ketemu teman lama di cafe Z misalnya, tetapi deadline tinggal hitungan jam. Mendesak bagi kita menyelesaikan tugas-tugas, baru setelah itu bertemu teman. Atau kita ingin buku Harry Potter terbaru, padahal harus membeli pulsa untuk menelepon kolega dan mitra bisnis. Mendesak bagi kita, menghubungi kolega dan mitra bisnis karena berpengaruh terhadap pendapatan. “Penting” tapi “tidak mendesak”, untuk hal yang bisa ditunda. Kita menginginkan sepasang sepatu model terkini, tetapi gigi kita yang berlubang harus segera ditambal. Kita lebih membutuhkan biaya ke dokter gigi.
“Tidak mendesak” juga “tidak penting”, untuk hal yang dapat diabaikan. Diajak teman kluyuran, main-main ke mall, JJS, atau hal-hal yang membuang-buang waktu.
Ironisnya, kata Jakoep, kita kerap melakukan kegiatan-kegiatan yang penting tapi tidak mendesak, bahkan yang tidak penting dan tidak mendesak. “Contohnya kita nonton TV secara berlebihan, ngopi, ngerumpi, gosip, nyantai. Buang-buang waktu itu, karena tidak urgent dan tidak important,” ujarnya.
TUHAN PRIORITAS UTAMA
Bila diminta mengurutkan prioritas dalam kehidupan, secara spontan, sederhana, normatif, orang Kristen akan mengurutkannya begini: Tuhan, Pribadi, Keluarga, Pekerjaan/karier, Kehidupan sosial. Di urutan pertama adalah Tuhan. Artinya Tuhan yang terpenting. Lalu setelah itu baru hal-hal lainnya, kemudian mungkin aktualisasi diri, hobi, berbagi untuk sesama, dan seterusnya.
“Prioritas ini benar,” kata Pdt. Dr. Robert Lesnussa kepada Heru Guntoro dari Bahana. Menurut Robert tujuan hidup orang Kristen adalah tinggal dalam kebahagian sejati bersama Allah. “Untuk mewujudkannya, kita memprioritaskan Tuhan dalam segala lini kehidupan. Kalau Tuhan kita prioritaskan, pintu berkat akan terbuka bagi kita,” kata Pdt. Robert. Maka demi prioritas ini kita pertaruhkan segala yang kita punyai: Tenaga, pikiran, waktu, kebisaan, demi kemuliaan Tuhan.
Tetapi mengapa harus Tuhan yang menjadi prioritas? Karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita. Penginjil Matius mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.” Dan setelah itu barulah kita, “mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri”, (Mat. 22: 37-39) . Ayat ini menguatkan kita bahwa dalam diri setiap orang Kristen, Tuhan menempati prioritas utama. Setelah itu barulah kita melakukan hal-hal yang lain. Inilah prioritas kita sebagai orang Kristen.
Bagi orang biasa, seorang karyawan kantoran misalnya, sebagian besar waktunya telah dialokasikan untuk bekerja dari jam 08.00-17.00. Belum lagi kalau lembur. Baru setelah itu mereka pulang ke rumah—bila itu orang Jakarta bisa jadi sampai rumah jam 20.00, atau bahkan jam 21.00. Sisa waktunya dia gunakan untuk keluarga. Setelah itu baru “sisanya” untuk Tuhan. Jadi, riilnya dari sisi alokasi waktu saja urutannya sudah berubah: Pekerjaan, pribadi, keluarga, kehidupan sosial, baru kemudian Tuhan. Apakah Tuhan tidak lagi menjadi prioritas dalam hidupnya?
SALIBLAH KEDAGINGAN
Menurut Jakoep, menempatkan Tuhan sebagai prioritas dalam hidup berarti menempatkan Dia dalam semua segi kehidupan manusia. Seseorang yang bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan segala kecakapan yang dia miliki, dia memprioritaskan Tuhan, kata Jakoep. Seorang ibu rumah tangga yang tulus mengurus anak dan suami, yang tanpa pamrih menyiapkan segala keperluan mereka, telah memprioritaskan Tuhan dalam hidupnya. Seorang hamba Tuhan yang penuh hikmat berkotbah dan menyelamatkan banyak jiwa, memprioritaskan Tuhan.
Yesus sendiri sadar menyembuhkan orang pada hari sabat melanggar hukum Taurat. Dia tidak melakukan prioritas? Sabar dulu. Bagi Yesus hari Minggu jangan diagungkan, karena prioritas Dia adalah melakukan pekerjaan Bapa. “Kalau kita mengurutkan Tuhan, keluarga, pekerjaan, jadi taurat lagi kita,” kata Jakoep.
Atau ambil contoh, sedang bekerja kemudian datang kabar isteri atau anak kita sakit. “Kita kembali ke rumah kan? Itu prioritas, walaupun kita melanggar pekerjaan. Atau pada Sabtu-Minggu, hari untuk keluarga, dan ada orang mau beli produk kita dalam jumlah banyak. Apa akan kita biarkan? Tidak berhikmat namanya itu,” tegas Jakoep.
Maka pengasuh rubrik Karakter Majalah Bahana itu mengatakan, segala hal yang dilakukan sesuai kebenaran Tuhan adalah menempatkan Tuhan dalam prioritas utama. “Bukan Tuhan nomor satu, keluarga nomor dua, pekerjaan nomor tiga, dan seterusnya. Tapi Tuhan ada di dalam semuanya. Kalau pagi berdoa apa dijamin siang dia berdoa? Tapi kalau dikatakan lakukan segala sesuatu (dalam nama Tuhan), maka doa bukan konsep lipat tangan tutup mata. Sambil bekerja roh kita punya hubungan intim dengan Bapa,” kata Jakoep.
Prioritas dalam hidup menurut Jakoep adalah apa yang “harus”, bukan apa yang “ingin” kita lakukan. Tetapi untuk sampai ke sana, ada harga yang mesti dibayar. “Saliblah kedagingan kita,” kata Jakoep. Karena sesuatu yang “harus” belum tentu sesuatu yang “ingin” kita lakukan. “Ini hal yang berat karena kedagingan adalah hal yang sesuai kemauan kita. Jalan-jalan, nonton, pacaran adalah hal-hal yang seturut keinginan kita. Tetapi bekerja, berdoa, menolong, memberi, adalah suatu keharusan,” Jakoep memberi contoh.
Sebenarnya orang bebas memilih, hendak ia apakan hidupnya. Terserah, mau prioritas apa yang hendak ia terakan, suka-suka dia. Anak-anak Tuhan pun diberi kebebasan yang sama. Tetapi sebuah pertanyaan mesti dijawab, “untuk apa kita diciptakan”?
Menurut executive mediator beberapa perusahaan terkemuka di Indonesia itu, Tuhan ada dalam setiap pikiran, gerak dan perkataan kita. Dari situ, kita akan mengerti hal yang urgent dan important. “Prioritas tidak bicara urutan. Prioritas bicara tentang kemampuan beradaptasi dengan perubahan bersama dengan Tuhan.”
Bagi anak-anak Tuhan, prioritas adalah, melibatkan Dia dalam segala segi kehidupan. Karena bersama Tuhan, hidup menjadi lebih berarti.
(Rob/Her)
The Power Of Acceptance
Oleh Xavier Quentin Pranata
Print Email
“Katakan saja, Sayang,” ujar suara di ujung telepon. “Engkau kan anak kesayangan kami.”
“Saya memiliki teman yang ingin saya ajak tinggal di rumah,” jawab putranya.
“Ajak saja. Toh rumah kita cukup besar,” jawab ayahnya.
“Tetapi ada satu hal yang ingin saya katakan Pa,” ujar anaknya, “teman saya itu cacat. Di medan perang dia menginjak ranjau darat sehingga kehilangan sebelah tangan dan sebelah kaki….”
Hening. Sunyi. Sepi. Suara di ujung sana tampak seperti kuburan. “Papa masih di situ?” tanya suara itu lagi.
“Papa bisa bantu mencarikan tempat untuknya,” akhirnya keluar juga ucapan papanya di ujung sana.
“Tapi Pa, saya ingin mengajaknya tinggal serumah dengan kita. Bukan mencarikan tempat baginya….”
“Nak, engkau tidak tahu bagaimana repotnya mengurus orang cacat. Lebih baik engkau pulang sendiri saja dan nggak usah membawa temanmu itu. Dia pasti bisa menemukan hidupnya sendiri….”
Anaknya menutup telepon umumnya. Anak itu tidak pulang ke rumah. Beberapa waktu kemudian polisi San Fransisko menelpon ke rumah dan mengatakan bahwa pemuda itu mengalami kecelakaan jatuh dari lantai atas apartemennya. Diduga anak itu bunuh diri. Ayahnya segera saja datang ke tempat itu dan begitu kagetnya ketika melihat bahwa anaknya ternyata kehilangan sebelah tangan dan sebelah kakinya.
Itulah dampak buruk penolakan. Prajurit muda yang baru pulang dari medan laga tentu sangat rindu untuk bertemu dengan keluarga yang dia kasihi dan mengasihinya. Prajurit itu mengasihi keluarganya. Namun, apakah keluarganya mau mengasihinya tanpa syarat? Ternyata tidak!
Belajar dari kasus tragis prajurit di atas, kita bisa mulai melakukan ziarah batin menyusuri lorong-lorong gelap relung hati kita yang paling dalam. Kita mulai dengan diri sendiri. Apakah kita memang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan? Pertanyaan Yesus kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” bisa kita tanyakan juga kepada diri kita sendiri. Apakah kita bisa mengasihi
Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kita?
Kedua, apakah kita bisa mengasihi sesama? Kasih kepada sesama diuji pertama kali justru di dalam keluarga. Kasih kita kepada sesama juga menjadi cermin kasih kita kepada Tuhan. Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan jika kita tidak bisa mengasihi sesama, apalagi keluarga, yang jelas-jelas ada di depan hidung kita?
Ketiga, apakah kita bisa mengasihi diri kita sendiri apa adanya? Banyak orang yang tidak bisa menerima dirinya apa adanya. Akibatnya, mereka melakukan bedah plastik untuk membuat matanya lebih lebar, hidungnya lebih mancung, bibirnya lebih sensual, pinggangnya lebih ramping dan sebagainya dan seterusnya. Kalangan rohaniawan Kristen biasanya bisa menerima orang yang melakukan operasi plastik karena kecelakaan, tetapi bukan untuk ‘memperbaiki diri’. Ciptaan Tuhan itu sempurna.
Marilah kita mengasihi Tuhan, sesama dan diri sendiri! Hanya dengan mengasihi tanpa syaratlah kita bisa mewujudkan “damai di surga, damai di bumi”.
Penulis, pengajar tinggal di Surabaya
Yang Tidak Diingat
Oleh Andar Ismail
Print Email
Memento mori! Demikianlah bunyi sebuah peribahasa Latin. Artinya: Ingatlah, Anda akan mati.
Apakah perlunya kita diingatkan bahwa kita akan meninggal dunia? Bukankah kita sudah tahu? Benar. Kita sudah tahu.
Tetapi dalam kenyataan kita sering pura-pura tidak tahu. Atau lebih tepat: tidak mau tahu. Buktinya kita tidak mau berpikir atau berbicara tentang kematian. Sengaja kita menghindarkan dari perenungan atau pembahasan tentang kematian. Kita tidak mau dekat-dekat dengan urusan tentang orang mati.
Siapa di antara kita yang merasa nyaman duduk berjam-jam lamanya di tengah kuburan? Apalagi kalau hari sudah gelap. Mana ada orang yang sengaja pasang iklan: “Dicari rumah yang terletak di sebelah atau di depan kuburan”? Perusahaan real estate menawarkan perumahan dengan lokasi pemandangan menghadap ini itu dengan sebutan Lake View, Mountain View, River View atau lainnya. Mana ada perumahan yang berlabel Cemetery View.
Kita juga tidak senang berlama-lama di kamar jenazah. Kita merasa seram dan ngeri berlama-lama memandangi wajah jenazah yang pucat dan kaku. Biasanya kita cepat-cepat buang muka dan berlalu.
Siapa pula yang merasa senang jika seandainya tetangga kita menitipkan sebuah peti jenazah, meski peti itu kosong dan baru sekalipun. Kita membeli funitur ini itu untuk jadi pajangan di rumah. Tetapi apakah kita akan meletakkan sebuah peti jenazah sebagai furnitur hiasan di kamar makan atau tidur kita?
Pokoknya kita mau menjauhkan diri sejauh mungkin dari segala sesuatu yang menyangkut kematian. Kita tahu bahwa kita akan mati, namun kita tidak mau tahu bahwa kita akan mati. Kita berlagak tidak tahu.
Namun dengan sikap berpura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu, sebenarnya kita sedang membohongi dan membodohi diri sendiri. Dengan bersikap demikian kematian bukan jadi tidak ada, melainkan cuma disembunyikan untuk sementara waktu. Sebuah kenyataan ada bukan untuk ditutupi, melainkan untuk dihadapi.
Oleh sebab itu kita diingatkan: Memento mori! Ingat Anda akan mati! Apakah peringatan itu bermaksud untuk menakut-nakuti? Bukan! Apakah untuk mengancam atau mengintimidasi? Juga bukan!
Lihat bagaimana pemazmur mengemas atau merumuskan memento mori. Tulisnya, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm. 90:12). Memento mori dikemasnya sebagai sebuah permohonan. Ia memohon kepada Tuhan untuk belajar “menghitung hari”. Ungkapan “menghitung hari” berarti menyadari bahwa hari-hari kita terdiri dari sebuah jumlah yang terbatas. Oleh sebab itu pemazmur memohon agar ia mampu bersikap bijak dengan hari-hari yang terbatas itu. Ia memohon agar ia belajar menjalani hidup ini secara bijak.
Itulah sikap pemazmur terhadap kematian. Ia tidak menjauhkan diri dan juga tidak mendekatkan diri pada kematian. Yang diperbuatnya adalah menghadapi kematian dengan cara menjalani hidup secara bijak. Ia ingin belajar secara bijak dan kelak mengakhiri hidup ini secara bijak pula.
Doa pemazmur itu mengilhami Sebastian Bach ketika menulis kantata “Actus Tragius”. Di situ terdapat kalimat “Ach, Herr, lehre, uns bedenken, das wir sterben müssen, auf dass wir klug werden.” Artinya: “O, Tuhan, ajarkan kami ingat bahwa kami akan mati, supaya dengan begitu kami penuh pertimbangan.”
Konon setibanya di pintu surga ada orang yang langsung protes kepada malaikat. Katanya, “Mengapa begini mendadak? Mengapa tidak ada pemberitahuan lebih dulu bahwa aku akan meninggal?” Dengan tenang malaikat menjawab, “Sudah berkali-kali! Tiga puluh tahun lalu berat Anda di atas normal. Dua puluh tahun lalu tekanan darah Anda jadi tinggi. Sepuluh tahun lalu rambut Anda memutih. Bukankah semua itu pemberitahuan jauh hari di muka?”
Penulis adalah Pengarang buku-buku renungan “Seri Selamat”
Spiritualitas; Inti Religi
Oleh Mudji Sutrisno, SJ
Print Email
Namun lingkaran penghayatan hidup dengan semangat kerohanian seperti ini menjadi terpecah. Waktu dan ruang tidak dipersepsi lagi sebagai lingkaran, tetapi sebagai garis lurus di mana teologi spiritual yang mempercayai waktu sudah ditebus dan dihadiri oleh Yang Ilahi, dipersepsi menjadi keterpecahan.
Akibatnya, kerohanian altar dipisah dari pasar ramai. Akibatnya lagi terjadi penghayatan hidup terpecah, antara suci sekali di ruang doa, namun lain dalam aksi di pasar ramai kehidupan. Inikah yang menjawab sebagian kecil pertanyaan “Mengapa bangsa yang formal dan resmi khusuk beribadah namun sekaligus korupsi di hidup sehari-hari?”
Syukurlah revolusi kesadaran terhadap keberagaman melalui spiritualitas, mencapai pencerahan bahwa formalisasi, birokratisasi, pelembagaan agama, “hanyalah” eksteriorisasi atau ciri fisik luar saja. Sementara penajaman dan penyadaran diri akan spiritualitas merupakan yang batin, yang interior, dari setiap religi.
Bahkan ikhtiar dicoba terus untuk dialog antar religi hingga menemukan sebuah penghayatan kerohanian : “tetap hening kontemplatif dalam kerja keras kehidupan pasar sehari-hari!” Even being contemplative in actions in everyday life : Hayatilah untuk tetap kontemplasi dalam laku sehari-hari!
Namun laku penghayatan spiritualitas seperti itu tidak segampang mengatakannya. Justru pada titik-titik kesulitan inilah kerendahan hati untuk dialog hati dan spiritualitas antar religi menemukan ruangnya, yaitu sebuah pekerjaan rumah bersama menghadapi krisis nilai, krisis retak tsunami dasar hidup. Bagaimana bisa saling menajamkan awareness agar di awal hari dalam ruang hening nurani, kita sadari motivasi kita hari ini dalam bersesama, dan malam hari kesadaran itu kita kilas balikkan sebagai cermin atas tindakan atau laku kita.
Spiritualitas; Inti Religi
Oleh Mudji Sutrisno, SJ
Print Email
Barang siapa menanam motif sebagai biji padi dalam gabah maka ia akan menuai padi-padi sebagai buahnya. Asalkan dipupuk, dirawat, dan disirami. Inilah kebijaksanaan hidup dalam kebudayaan agraris. Dalam bahasa kebijaksanaan hidup diungkap lebih dialogis lagi “memetik buah laku hidupnya” (Jawa : ngunduh wohing pakerti).
Apakah askese atau matiraga untuk menumbuhkan kepekaan menjadi sarana agar spiritualitas altar tetap dihayati di pasar dengan cara “negatif” : melepaskan ketidakteraturan kelekatan (attachments) agar terjadi detachments, hingga spiritualitas diluas-rentangkan dengan “mengontrol kelekatan” manusia? Ataukah jalan positif dengan menyadari dalam awareness terhadap kehidupan sebagaimana adanya, dirayakan dengan transformasi, kebencian menjadi cinta, amarah menjadi kesabaran, serta energi-energi eros seksualitas menjadi love.
Apakah spiritualitas perayaan hidup yang menjadi inti setiap religi mampu menjawab kekerasan teror, ketidakadil-an, kemiskinan, dan penghancuran alam serta tega pembunuhan sesama atas nama ideologi, kepentingan kuasa, dan keserakahan ekonomi yang mau melahap seluruhnya atas nama sistem dan struktur?
Pertanyaan-pertanyaan kritis ini menantang untuk dijawab dalam kotak-kotak tafsir spiritualitas sosial, kerohanian yang terlibat, dan seterusnya dan seterusnya.
Penulis adalah Rohaniwan, Budayawan, pengajar STF Driyarkara dan Pasca Sarjana Filsafat Universitas Indonesia
Generasi yang Tunduk Kepada Pemerintah
Oleh Pdt. Purim Marbun
Print Email
INDIKATOR KETUNDUKAN
Dalam kaitan ini, kata “generasi” dihubungkan dengan kehidupan generasi muda dalam tatanan hidup bergereja dan pelayanan. Harus dipahami bahwa generasi muda merupakan kelompok usia yang cukup signifikan keberadaannya di gereja karena jumlah mereka besar jika dilihat dari kategori usia. Hal kedua yang menyebabkan keberadaan mereka signifikan adalah potensi, fungsi, dan peran yang besar dalam pergerakan gerejawi.
Membahas generasi yang tunduk kepada pemimpin, pastilah kita mengaitkannya dengan teladan tokoh-tokoh Alkitab. Jika kita membaca Alkitab, secara khusus Filipi 2:19-30, kita mendapatkan sosok hamba Tuhan yang sungguh-sungguh tunduk kepada pemimpin. Pribadi tersebut adalah Timotius. Alkitab memberikan uraian tentang pola hidup serta perilaku Timotius di hadapan Paulus. Kriteria ketundukan ditunjukkan dengan indikator-indikator sebagai berikut:
1 Sehati dan sepikir
Rasul Paulus menyebut Timotius sebagai pribadi yang sehati dan sepikir. Pola hidup yang sehati dan sepikir ditandai dengan sikap setuju kepada pemimpin. Kesetujuan itu bukan karena rasa takut, melainkan apa yang direncanakan dan dikerjakannya itu benar atau sesuai dengan prosedur yang berlaku dalam pelayanan.
2 Kesungguhan hati dalam berkarya
Timotius melakukan tugas dan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Maksudnya, setiap kegiatan dilakukan dengan hati yang sungguh-sungguh, gigih dan setia. Dalam mengerjakan tugas dan pekerjaan ia tidak tergantung kehadiran fisik pemimpin.
3 Mengutamakan kepentingan pelayanan
Dalam bekerja dan melayani, pemimpin lebih mengutamakan kepentingan orang banyak, bukan kepentingan pribadi.
4 Pribadi yang dipercayai
Tanda keempat yang mencirikan bahwa kita adalah generasi yang tunduk kepada pemimpin adalah jika kita menjadi pribadi yang dipercaya. Dalam segala hal dan segala perkara hendaknya kita dapat dipercaya. Mulai dari hal-hal kecil sampai besar kita harus jadikan diri kita dipercaya.
Menemukan generasi yang tunduk kepada pemimpin di zaman ini tidak mudah. Kemajuan teknologi dan pengetahuan sering kali membuat generasi sekarang menganggap diri lebih dari pemimpinnya.
Sebagai anak-anak Tuhan, mari kita tunduk dan taat kepada pemimpin karena mereka ditempatkan Tuhan di antara kita untuk membimbing dan menuntun.
Penulis adalah Ketua Departemen Pemuda dan Anak BPS GBI dan Gembala Sidang GBI Taman Anggrek, Jakarta Barat
Managing Priorities in Life - Mengelola Prioritas dalam Hidup
Oleh Jakoep Ezra
Print Email
Untuk mencapai hasil terbaik, kita harus dapat mengatur waktu. Ada hal-hal yang menjadi prioritas dan ada yang perlu ditunda atau diabaikan.
Banyak hal kurang berguna yang menyita waktu. Akibatnya, kita sering hidup dalam tekanan. Dikejar-kejar target pekerjaan, sulit membagi waktu dan perhatian bagi keluarga atau kesehatan terabaikan. Ternyata kuncinya hanya satu, yaitu bagaimana mengelola prioritas dalam hidup kita.
Prioritas mempengaruhi pola berpikir dan tindakan. Dengan menentukan skala prioritas, kita dapat memisahkan hal-hal yang penting dan mendesak. Atau yang penting namun tidak mendesak dan hal-hal yang dapat ditunda atau bahkan diabaikan.
1. Menentukan skala prioritas
Ada cerita tentang dua orang putri. Sang raja sangat mengasihi kedua putrinya ini. Suatu ketika raja bertanya, seperti apakah mereka menggambarkan kasih sayangnya. Putri tertua menjawab, “Bagaikan emas”. Raja merasa senang. Kemudian Putri bungsu berkata, “Kasih sayang ayahanda bagaikan garam”. Raja tersinggung dan merasa terhina. Putri bungsu diusir dari kerajaan.
Sejak itu garam lenyap di seluruh negeri. Rakyat gempar dan lambat laun menjadi lemah karena tidak punya selera makan. Akhirnya sang raja menyadari kekeliruannya dan memanggil putri bungsunya kembali.
Bagi seseorang, emas itu penting. Bagi yang lain garam lebih penting. Bagi seorang penyair, duduk merenung adalah hal yang utama. Sedangkan petani bekerja di ladang lebih penting.
2. Belajar memanfaatkan kesempatan
Dibutuhkan latihan agar kita terampil menggunakan kesempatan dalam mengerjakan tugas-tugas. Kita dapat mengatur prioritas dengan memilah-milah hal-hal yang sifatnya penting dan mendesak. Ada yang perlu diberi tenggat waktu, mungkin ada kegiatan yang dapat dilaksanakan bersamaan sekaligus, atau dapat diselipkan di sela-sela waktu yang ada.
3. Gunakan ’reminder’ untuk mengingatkan
Agenda, organizer, handphone, sekretaris atau orang-orang, dapat digunakan sebagai pengingat jadwal. Membiasakan diri menerapkan prioritas membuat kita bijaksana dan efektif dalam mengelola waktu.
MENGAPA KITA SULIT MENGATUR WAKTU?
1 Tidak punya sasaran yang jelas
Untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu tertawa, ada waktu menangis. Ada waktu menanam, ada waktu menuai. Ada waktu bekerja dan ada waktu beristirahat.
Tanpa tujuan jelas dan tingkatan urgensinya, kita sulit mengatur pembagian waktu. Kita bisa saja kebablasan menghabiskan waktu produktif dengan duduk berjam-jam di depan TV. Atau larut dengan pekerjaan hingga melalaikan kesehatan dan kepentingan keluarga.
2 Suka menunda-nunda
Sikap suka menunda merupakan penyakit dan kebiasaan buruk yang sering menjerat. Banyak sebab yang membuat kita menunda-nunda pekerjaan. Kita merasa menunda itu menyenangkan. Berusaha menikmati momen yang terbatas untuk santai sambil membayangkan selalu ada waktu tersedia.
Akhirnya kita melalaikan waktu-waktu kritis yang seharusnya produktif. Padahal semakin kita santai, semakin buyar konsentrasi dan fokus kita pada pekerjaan.
3 Mudah dipengaruhi situasi
Ada orang yang sulit membagi waktu. Ia tidak fokus pada tugas dan pekerjaan. Sebaliknya mudah terpengaruh oleh situasi dan sibuk dengan urusan orang lain. Ikut nimbrung sana-sini dan menjadi seksi sibuk di mana-mana. Akhirnya kelabakan karena kesulitan membagi waktu.
Diasuh oleh: Jakoep Ezra, Penulis adalah Master Trainer Power Character, Hotline: 021-70975770
powercharacter@asia.com

0 Comments:
Post a Comment
<< Home