Monday, May 28, 2007

APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN?



Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?


Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Kisah Nyata.

Seberapa besarkah peran keberuntungan dalam keberhasilan seseorang?

Saya berpendapat peran-nya
Besar sekali

Sungguhpun begitu, besarnya dampak keberuntungan dalam keberhasilan seseorang akan sangat ditentukan kepada kualitas kesiapan seseorang untuk menerima keberuntungan tersebut.

Sederetan panjang keberuntungan yang diterima oleh orang yang tidak siap, tidak akan berperan dalam keberhasilan seseorang itu, mengapa? karena orang yang demikian hanya beruntung bukan yang mengupayakan keberuntungan.

Keberuntungan hanya akan berperan dalam keberhasilan seseorang bila seseorang itu, membuktikan keberaniannya untuk melakukan yang masih dalam urutan-urutan "meskipun", dia memutuskan untuk tetap bekerja keras untuk membuktikan bahwa ia bernasib baik.

Sak bejo-bejane wong lali
isih luwih bejo wong sing eling lan waspodo
(nasehat yang sering digunakan dalam budaya Jawa)

Se-untung-untungnya seseorang yang lupa, tetap lebih untung orang yang ingat
(Mario Teguh MTST)

Bagi seseorang yang lebih mengandalkan keberuntungan, akan mudah membuat orang itu lupa - lupa untuk usaha - lupa untuk bekerja keras dan lupa bahwa keberhasilan itu harus dibangun bukan sekedar mengandalkan keberuntungan.

Sementara bagi yang tetap ingat, dia akan tetap bekerja keras, berupaya sungguh-sungguh dan menjadikan dirinya lebih siap menerima keberuntungan - karena - baginya hadirnya keberuntungan itu adalah jawaban dari Yang Maha Kuasa atas harapan-harapan yang telah diperjuangkan.

Dan karena harapan adalah do'a dalam tindakan,
maka bila semua-nya mudah tidak ada hasil yang bisa disebut keberhasilan.
(Mario Teguh)

Dengan-nya menjadi jelas bahwa besarnya peran keberuntungan bagi keberhasilan seseorang sangat bergantung kepada kualitas pribadi yang diijinkan untuk mendapatkan keberuntungan itu.


0 Comments:

Post a Comment

<< Home