Hot Issues..
Waspada
“Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga” (Rm. 11:22).
Saya setiap hari melewati jalan Kranggan—jalan dekat pasar di kawaan utara kodya Jogja. Suatu pagi di Senin yang indah dan sejuk seperi “biasa” saya melalui arah dari utara ke selatan. Yang mengherankan, ada satu mobil dan beberapa motor dari arah berlawanan dengan saya diberhentikan oleh polisi. Ternyata mereka dianyatakan melanggar rambu dan ditilang. Sebelumnya saya juga melalui jalan yang sama dan tidak pernah ditilang. Ternyata, di tempat itu ada rambu lalin yang menetapkan aturan baru.
Polisi yang bertugas mengingatkan pada para pelanggar, “Setiap pengendara harus waspada. Jangan asal mengemudikan kendaraan agar segera sampai tujuan. Setiap saat waspada termasuk perhatikan rambu-rambu!”
Hidup kita pun dapat seperti hal tersebut. Kita sebagai pengendara dan tubuh kita tumpangan yang mengantar kita ke tempat yang Tuhan inginkan. Dalam perjalanan hidup ini setiap hari malaikat surgawi selalu memasang rambu-rambu kehidupan yang yang harus kita lalui. Dalam hal ini, kita jangan berkata, “Biasa orang lewat sini.” Ketika kita tidak waspada, jangan heran kita tertangkap sebagai pelanggar. Bila ini terjadi maka yang ada pada kita bukanlah penggenapan janji Tuhan yang luar biasa namun sanksi dari-Nya!
Pernyataan berkat atau kutuk ada di tangan kita memang benar, melalui surat Roma tersebut di atas kita bisa menyimpulkan sesungghnya bukan Tuhan tidak menyediakan berkat atau bahkan kemurahan, Tuhan sangat berkemurahan. Kita tinggal memilihnya. Jika kita memilih berkat, mari kita jaga hidup kita dengan kewaspadaan. (ap)
Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu manjaga kehidupanku dengan kewaspadaan agar berkat yang Kaujanjikan menjadi kenyataan.
Memperjuangkan yang Prinsip
“Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu” (2 Tim.3:14).
Selain menimba ilmu, komunitas pelajar dan mahasiswa Minang di Yogyakarta ternyata memiliki semangat untuk mengembangkan budaya daerah mereka. Upaya ini dilakukan dengan berbagai cara seperti mengikuti pertunjukan seni yang sering diadakan. Tujuan mereka jelas, yaitu mempertahankan dan mengembangkan budaya tanah leluhur. “Budaya Minang memegang teguh prinsip bahwa generasi muda dianggap belum memiliki ilmu yang cukup, sehingga harus belajar merantau di negeri orang sebagai sarana penempaan. Inilah yang kemudian menjadi semangat bagi mereka untuk menyerap pengalaman demi pengalaman yang diperoleh selama di perantauan sebagai dasar mengembangkan budaya.
Ketika berada di perantauan, umat Tuhan selalu diajar untuk mempertahankan nilai-nilai budaya mereka sebagai orang percaya. Melalui kebudayaan yang penuh dengan pengajaran tentang nilai kehidupan itu, mereka sedang belajar melakukan fiman Tuhan. Jadi, keberadaan firman Tuhan mengatasi kebudayaan. Oleh sebab itu, di mana pun berada, mereka senantiasa memegang ajaran budayanya. Tentu hal ini bukan perkara mudah. Berbagai risiko dan tantangan berat harus dihadapi. Bahkan terkadang mereka harus bertaruh nyawa. Namun, Tuhan membuktikan bagi orang yang berani menerima risiko menjalani kehidupan sebagai orang beriman, ada perlindungan dan penyertaan yang Tuhan selalu sediakan.
Seyogianya kita juga belajar untuk tetap mengingat, melakukan, dan memelihara kebenaran dengan setia sekalipun banyak orang kerap menentang dan menolaknya. (ndd)
Tuhan, malam ini aku berterima kasih atas kepercayaan yang Engkau beri sehingga aku punya kesempatan untuk mewarnai kehidupan ini dengan kuasa firman-Mu.
DM Tech: Jangan Pakai Produk Bajakan!
Oleh Robby Repi
Print Email
“Kami mendukung industri rekaman lagu rohani menghadapi pembajakan. Bukan dengan cara berhadapan dengan pembajak melainkan dengan cara mendidik konsumen lagu-lagu rohani. Mereka ini umumnya orang-orang yang rajin ke gereja, lalu pulangnya membeli CD bajakan yang dijual di konter depan gereja. Kalau mereka tahu mengapa harga jual CD asli lebih tinggi dari pada CD bajakan maka diharapkan mereka akan berhenti membeli CD bajakan dan beralih membeli CD asli,” kata Sony Tan, CEO DMTech.
“Kalau industri rekaman lagu rohani gulung tikar akibat pembajakan maka banyak pihak yang akan rugi. Diantaranya gereja dan jemaat. Karena itu segala pihak harus berperan memasyarakatkan gerakan mendukung pelayanan lagu rohani tanpa CD bajakan,” jelasnya.
Biaya produksi sebuah album lagu ternyata mencakup banyak hal antara lain royalti untuk pencipta lagu, arranger, pemusik, penyanyi, sewa studio, disain dan biaya kemasan, biaya produksi CD, pajak, promosi dan distribusi. Total biaya produksi satu album bisa mencapai enam puluh jutaan di luar biaya promosi. Pembajak sendiri tidak mengeluarkan biaya ini sama sekali. Tidak heran kalau harga jual CD bajakan bisa jauh lebih murah dengan keuntungan yang jauh lebih tinggi.
PEMEGANG DUA SERTIFIKASI INTERNASIONAL
Pada tahun 2004 DMTech berhasil mendapatkan sertifikat sebagai pabrik anti-pembajakan (Anti Piracy Certified Plant). Sertifikasi ini meyakinkan pelanggan bahwa master pelanggan tidak akan dibajak atau disalahgunakan. Selain itu sertifikasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk pelanggan sudah memenuhi ketentuan hak cipta sehingga pelanggan terhindar dari tuntutan pelanggaran hak cipta di kemudian hari.
Masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep hak cipta secara benar. Contohnya software gratis yang bisa didownload dari internet. Karena gratis maka pengguna merasa berhak memperbanyak dan mendistribusikannya. Padahal kalau pengguna membaca End User License Agreement (EULA) maka jelas tertulis bahwa software tersebut gratis hanya untuk pemakaian sendiri (individual use only), tidak boleh diperbanyak dan didistribusi.
Untuk menyosialisasikan pemahaman tentang hal ini, DMTech sering mengadakan seminar dan pelatihan untuk publik termasuk untuk pelanggan, mahasiswa, aparat pemerintah, dan para penulis buku. “Tugas kami membantu penulis buku dan pelanggan kami agar semua CD yang mereka produksi tidak melanggar hak cipta. Itulah kelebihan kami,” jelas sang CEO. Tugas mulia ini akhirnya mendapat pengakuan dan penghargaan dari International Recording Media Association (IRMA).
Pada tanggal 23 Desember 2003 DMTech tercatat sebagai perusahaan CD pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 untuk sistem manajemen mutu. Sampai saat ini, DMTech merupakan satu-satunya perusahaan CD di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional tersebut. Dengan sertifikasi ini perusahaan terus dipacu meningkatkan mutu produk, pelayanan dan perlindungan hak cipta yang pada akhirnya akan memberikan manfaat dan kenikmatan kepada konsumen. (Rob)
Pdt. Hana Sebadja, S.Th. - Yang Terus Berpacaran dengan TUHAN
Oleh Alex Japalatu
Print Email
Pdt. Hana Sebadja 2006 ini genap berusia 77 tahun. Secara lengkap, perjalanan pelayanannya terekam dalam buku Aku & Keluargaku Melayani Tuhan terbitan Penerbit ANDI Yogyakarta. Dan Selasa (4/7), di GBI Gajah Mada, Jl.Gajah Mada 84-86 Semarang, kepada Alex Japalatu dan Sonny Eli Zaluchu, Tante Hana bercerita tentang setengah abad perjalanan itu.
Kapan memutuskan untuk melayani?
Sejak kecil saya suka ke Sekolah Minggu. Waktu pindah ke Kebumen rumah kami sering dipakai untuk kebaktian. Tahun 1942 Jepang masuk, semua sekolah ditutup. Saya belum selesai SD. Trus, toko papa dirampok habis sehingga kami harus pindah ke rumah paman di Solo. Saya senang musik, lalu ikut les di gereja. Waktu itu ada pelayanan pemberantasan buta huruf buat anak-anak. Diam-diam saya ceritakan firman Tuhan. Akhirnya anak-anak yang nakalnya minta ampun itu berubah. Suatu hari ada ibu-ibu datang bawa lemper dan pisang goreng. Mereka bilang “Terima kasih karena anak-anak kami berubah”. Waktu itu saya baru belasan, tetapi saya seperti punya beban untuk melayani. Lalu, kami pindah ke Semarang. Setelah tamat HBS (SMA zaman Belanda,red) di Semarang, pendeta bertanya apakah saya tidak tergerak untuk masuk sekolah teologia. Saya berdoa dan merasa Tuhan menggerakkan hati saya. Lalu, saya masuk STT Jakarta tahun 1951.
Bagaimana Tante memberi arti perjalanan pelayanan 50 tahun itu? Puji Tuhan. Dia yang menyanggupkan saya. Terus terang, selama ini saya tidak ingat sudah 50 tahun melayani. Kalau Pak Jimmy (Oentoro) tidak mengingatkan waktu ketemu di LA (Amerika, red) “Ini kan sudah 50 tahun, kita celebrate,” kata dia, saya ndak ingat. Bagi saya perjalanan 50 tahun itu rasanya… ya, jalan biasa saja. Tetapi setelah ada celebration ini, lalu hamba-hamba Tuhan memberikan kesan, malah hancur hati saya. Saya bilang Lord, semua ini is your grace (berkaca-kaca). Ini anugerah karena saya ndak merasa melakukan sesuatu. Beberapa hamba Tuhan tanpa saya sadari seperti Pak (Timotius) Arifin, bertobat dan sekarang menjadi hamba Tuhan. Sekarang saya menyadari bahwa bukan saya, tapi Tuhan yang setia, mau memakai saya untuk melayani Dia selama 50 tahun ini. Kalau ditanya apa arti semua ini, saya tidak tahu. Ini panggilan Tuhan.
Bagaimana Tante dapat diterima oleh berbagai denominasi gereja?
Latarbelakang saya dari Pentakosta, tetapi kemudian bekerja di GKI. Hal ini menguntungkan saya. Ini membuat saya bisa melayani di gereja aliran Pentakosta sampai GKI, HKBP, GPIB, GKJ, GKT. Satu GKI misalnya, meng-usulkan mau ngundang saya. Beberapa dari mereka bilang, jangan, dia dari Pentakosta. Tetapi yang lain akan bilang dia sekarang bekerja di GKI. Jadi saya (dapat) “masuk” ke GKI. Kalau Pentakosta mengundang, dia kan dari GKI, tetapi (mereka bilang) asalnya Pentakosta. Jadi Pentakosta ngundang saya juga, he-he-he. Latar belakang Pentakosta, melayani di GKI, sekolah di STT. Saya percaya ada rencana Tuhan di situ. Saya yakin Tuhan hadir dalam semua denominasi gereja.
Persekutuan Doa Immanuel sangat fenomenal. Bagaimana bisa sebesar itu?
Persekutuan itu dimulai dengan 6 orang tahun 1976. Setiap hari Sabtu bersama beberapa saudara kami melakukan kunjungan ke rumah-rumah di pinggiran kota Semarang dan bezoek orang sakit. Agar pelayanan kami diurapi Roh Kudus, kami berkumpul setiap hari Kamis untuk berdoa bersama. Akhirnya Oom (Sebadja) usul, daripada kami berkeliling lebih baik mereka diminta ke Gajah Mada. Setelah pelayanan itu kami buka untuk umum hasilnya luar biasa. Banyak mukjizat terjadi. Ruang praktik Oom kami rombak supaya bisa tampung banyak orang. Kalau ibadah, pengunjungnya sampai duduk di luar. Satu kali saya heran, kok orang-orang belum pulang padahal sudah selesai? Eh, ternyata banjir. Airnya hampir sampai lutut. Mereka mengikuti ibadah sambil bawa payung. Bayangkan, betapa setianya mereka. Ada suasana yang luar biasa. Jemaat gereja-gereja lain ke sini semua. Karena peristiwa itu, setiap Kamis semua gereja di Semarang akhirnya punya kebaktian supaya jemaatnya tidak ke sini. Kemudian, yang ke sini jiwa-jiwa yang belum percaya. Dari PD Immanuel ini lahir GBI Bethany “Gajah Mada” yang diprakarsai Pak Alex (Tanuseputra), (Timotius) Arifin, dan Niko (Njotorahardjo). Itu tahun 1989.
Banyak mukjizat terjadi melalui PD Immanuel. Ada orang akan nonton film, lagi antri tiket, (dekat GBI Gajah Mada dulu ada bioskop,red), dengar orang nyanyi-nyanyi, tidak jadi antri tiket, malah ke sini. Satu keluarga sudah duduk dalam bioskop, nonton film, tapi dengar puji-pujian mereka keluar dan ke sini. Mereka akhirnya terima Yesus. Seorang ibu beragama lain menderita kanker, ikut kebaktian. Saya ndak kenal dia. Dia terima roti dalam Perjamuan Kudus. Setelah itu dia ke WC dan penyakitnya keluar semua. Dia bersaksi, tadi waktu saya terima roti, di depan, saya melihat orang berjubah, putih. Puji Tuhan, (PD) Immanuel sampai sekarang masih jalan. Sudah 30 tahun. Kamis, 22 Juni 2006 yang lalu kami mengadakan perayaan 30 tahun Immanuel. Semua dapat gift. Banyak jemaat terpaksa berdiri karena tidak kebagian kursi.
Persekutuan ini membuat seorang hamba Tuhan terkenal sangat anti dengan kami. Saya dengar dia mau mengadakan satu seminar menentang bahasa roh dan Karismatik. Waktu itu, nggak tahu kenapa, saya bisa telepon Pak Alex (Tanuseputra), (Timotius) Arifin, Niko (Njotoraharjo), Pak Gondo (J.H.Gondowijoyo) dari Yogya dan beberapa lagi. Kita sepakat untuk mengadakan pertemuan di Tawangmangu. Pertemuan itu luar biasa. Jadi, hamba-hamba Tuhan dari berbagai daerah datang. Saya ndak punya acara apa-apa. Cuma kumpul. (Dalam buku Aku & Keluarga Melayani Tuhan ditulis, lebih dari 100 hamba Tuhan dari kelompok Karismatik se-Jawa, hadir, red)
Dari sinilah kemudian tumbuh gereja-gereja Karismatik di Jakarta, Bandung, dan Surabaya seperti Sungai Yordan, Bethany. Sepulang dari Tawangmangu, mereka mulai dengan gereja-gereja itu. Dan pertemuan itu hanya sekali. Tidak ada kelanjutan.
Pertemuan Tawangmangu salah satu cikal-bakal gerakan Karismatik. Apa yang memunculkan kegerakan ini?
Yang ada dalam pikiran saya adalah karena seorang hamba Tuhan yang ingin meng-counter gerakan Karismatik. Saya pikir gimana ini? Lalu saya mendapat ide kita harus kumpul. Jadi waktu itu tidak ada yang khusus. Lalu ngomong-ngomong. Tapi semua itu pekerjaan Tuhan. Jadi bangkit. Ndak pake program apa-apa tapi banyak yang datang. Coba ini segini banyaknya orang, dari segala kota. Coba lihat ini (sambil menunjuk foto-foto). Karena saya tahu, setiap orang percaya pada Roh Kudus.
Zaman Tante, perempuan keturunan Tionghoa belum lazim menjadi pendeta. Memang dulu belum ada, apalagi yang sekolah di STT. Sekarang pelayan perempuan banyak sekali. Bagus sekali sekarang. Saya, wanita Tionghoa pertama yang sekolah di STT. Waktu itu sudah ada dari Ambon, Manado. Angkatan saya mungkin hanya tiga atau empat wanita.
Mukjizat terjadi dalam keluarga Tante seperti operasi kista dan peristiwa Pringsurat!?
Saya punya teman, istri dokter gigi juga yang menjalani operasi kista dan diambil indung telurnya. Dia tidak punya anak. Karena saya juga mengalami hal serupa, banyak yang ngomong, saya bakal tidak punya anak. Tapi Tuhan ajaib. Saya bisa melahirkan anak laki-laki dan perempuan. Saya bersyukur semua anak kami menjadi hamba Tuhan dan semua melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Hari-hari ini Tante masih melakukan apa saja?
Masih khotbah. Biasanya Minggu. Kalau dulu saya masih sering keluar kota. Belakangan ini sudah berkurang. Doa masih setiap hari, tapi tidak seperti masih muda dulu, tiga jam sekaligus. Sekarang dibagi, tetapi waktunya lebih banyak.
Banyak hamba Tuhan menyebut Tante sebagai ibu rohani?
Saya cuma, ya bersyukur kepada Tuhan. Karena anugerah-Nya saya boleh menjadi berkat bagi mereka semua. Berbulan-bulan mereka mempersiapkan acara itu (peringatan 50 tahun pelayanan, red). Rabu untuk hamba-hamba Tuhan, teman-teman dekat, dan aktivis. Kamis untuk umum. Ide ini dari Jimmy (Oentoro).
Ada istilah bapa rohani, pembapaan. Dalam pandangan Tante, yang dimaksud bapa-ibu rohani itu seperti apa?
Bagi saya pribadi, yang terpenting sebagai hamba Tuhan adalah hubungan kita yang intim dengan Tuhan. Sebab kita bisa aktif melakukan segala sesuatu, kalau ndak ada hubungan yang intim dengan Tuhan, tidak ada artinya. Orang luar juga bisa lakukan itu. Saya selalu ingat “Tanpa Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa”. Jadi, doa saya selalu, “Tuhan, aku seperti carang yang lekat pada Pokok Anggur, sehingga aku bisa berbuah-buah, dan nama Bapa yang dipermuliakan”. Apalagi setelah saya 10 bulan di Amerika dalam keadaan “padang gurun”. Saya lebih lagi belajar, untuk lebih melekat kepada Tuhan. Saya membaca banyak buku karena waktu saya banyak. Kalau di sini saya agak sibuk, entah konseling, kebaktian, atau pekerjaan rumah tangga.
Ternyata hamba-hamba Tuhan yang punya nama besar juga mengalami masa-masa “padang gurun”. Tapi justru di situ mereka dibentuk dan dikuatkan. Seperti John Osteen. Dia punya jemaat ribuan. Istrinya melahirkan anak yang cacat mental. Mereka berdoa, berdoa, baca firman. Suatu hari John Osteen khotbah. Khotbahnya begitu meyakinkan dan kuat. Majelis pikir, “Anakmu gitu kamu kok kotbahnya gitu”. Majelis ndak setuju. Tiga kali berkotbah, dia diusir. Dia keluar dengan 90 orang anggota, padahal di gereja itu ada kurang-lebih 5000 jemaat. Dia mengadakan kebaktian di gudang yang sebenarnya tidak layak pakai, tetapi dia tekun. Bukan satu-dua tahun, tetapi 13 tahun. Sekarang dia punya gereja yang hampir terbesar di Amerika. Anggotanya “cuma” 42 ribu. Jadi, Tuhan itu luar biasa.
Suatu hari dia sakit. Tidak bisa khotbah. Dia tidak bisa minta pengganti. Sudah telat. Anaknya, Joel Osteen belum pernah khotbah terpaksa dia khotbah. “Aku terus pegangan mimbar supaya tidak jatuh. I do not know what I have said,” katanya. Pokoknya dia jalan saja. Selesai khotbah, majelis maju dan ngomong. Mereka bilang, kalau nanti ayahmu ndak ada dan kamu yang khotbah, gereja ini akan kehilangan jemaat. Tanpa tedeng aling-aling, ngomong begitu. Tetapi setiap pagi Joel berdiri di depan kaca dan berkata, “Joel, engkau akan bisa khotbah, engkau punya Yesus di dalammu.” Jadi, harus ada pembentukan dan punya hubungan intim dengan Tuhan.
Bagaimana sikap Tante saat mengalami situasi “padang gurun”?
Saya membaca, justru dalam situasi itu Tuhan ingin kita lebih dekat kepada-Nya. Kita mencari Dia. Di situ Tuhan mengungkapkan hal-hal yang indah. Kita masih di dunia, yang masih dikuasai setan (1Yoh. 5:19). Jadi kalau Tuhan ijinkan semua itu terjadi, maksudnya supaya kita lebih bertumbuh secara rohani. Sebab kalau semua berjalan baik, justru kita lupa pada Tuhan. Dan, waktu hari Rabu itu, banyak kesan yang disampaikan. Saya betul-betul bersyukur kepada orang-orang itu.
Saya ingat Jimmy, Billy Sundoro, sekarang jadi pengkhotbah. Dulu mere-ka mulai dengan persekutuan anak-anak SMA. Kecil-kecilan. Lalu besar dan pakai gedung Gajah Mada. Mereka seringkali manggil saya karena paling dekat dan paling gampang. Saya ingat saat naik mobil, Jimmy bilang nanti pingin khotbah. Kalau ndak salah, Billy bilang, “Lha kalau kamu khotbah nanti semuanya nangis.” Lha, kenapa? Sangking elek’e, he-he-he. Saya tidak bisa lupa itu. Tapi sekarang Jimmy dan Billy khotbahnya luar biasa. Bambang Budijanto (penasehat PESAT,red) juga, luar biasa.
Pengalaman Tante, apa rahasia utama yang dapat kita temukan dalam doa?
Saya selalu tekankan, berdoa itu seperti kita pacaran dengan Tuhan. Orang pacaran itu kan ingin dekat terus , tidak perlu ngomong. Saya ingat kalau ada orang pacaran, duduk di luar malam-malam, lihat bintang-bintang begitu bagus, bunga-bunga begitu segar padahal sudah layu, rumput itu segar padahal sudah kuning. Karena dalam kasih mereka punya penglihatan. Saya sering kasih contoh orang pacaran. Datang pacarnya, “Aduh sayang aku lapar.” “Wah, aku sudah masak enak buat kamu,” jawab pacarnya. Selesai makan, “Aduh enak sekali, sekarang haus.” Dikasih jus. Sudah makan dan minum nikmat sekali, “Sudah ya, sayang. Pulang.” Kalau sekali-dua kali mungkin pacarnya pikir dia sibuk. Tapi kalau berulang kali demikian, perempuan bisa mikir, ini tidak pacaran dengan aku, tetapi dengan masakan dan jus buatanku.
Yang paling berkesan dalam pelayanan?
Banyak, tetapi peristiwa Pringsurat itu indah sekali. Oom nabrak anak. Seminggu sebelumnya ada orang nabrak anak, mata dicungkil. Anak itu kami bawa ke RS di Magelang. Bapaknya ikut. Lalu Oom bilang, “Ayo aku antar lagi ke Pringsurat.” Eh, bapaknya malah bilang “Maaf ya Pak, anak saya bikin repot Bapak”. Bayangkan, padahal kita nabrak. Sampai di Pringsurat ibunya bilang, “Pak ini payungnya yang dipake mayungin anak saya”. Banyak yang tidak percaya bahwa Oom kembali lagi ke Pringsurat. Setelah itu Oom bilang, “Aku sudah nabrak, tapi mereka baik sekali. Aku bisa balas apa? Uang? Tapi seberapa? Ayo, kita beritakan Injil. Maka setiap Sabtu, kami berdua ke Pringsurat. Sampai sekarang mereka punya SMP dan gereja. Jemaatnya 300 orang, dan sudah 4 hamba Tuhan dari sana.
Oom dan Tante semakin berumur. Bagaimana soal tongkat estafet di GBI Gajah Mada?
Jimmy (Oentoro) juga usul soal pengalihan tongkat estafet ke Natanael. I am glad. Tapi saya tetap ikut serta melayani di bidang saya, misalnya dalam bidang konseling pada orang-orang yang lanjut usia.
Apa impian Tante yang belum kesampaian?
Rumah mukjizat dan penuaian jiwa-jiwa. Karena dulu Oom dapat visi tentang ini. Impian kami masih hal ini. Kalau ada mukjizat, pasti tuaian terjadi.
Arianto Wibowo - Pendeta? Kalau Panggilan Mengapa Tidak?
Oleh Rumintar S
Print Email
Maka berangkatlah ia ke gereja mengikuti misa. “Waktu saya kecil sebenarnya Tuhan sudah memperkenalkan diri-Nya pada saya. Saya iseng-iseng ikut doa, pas acara misa. Saya ingat betul waktu itu ada perjamuan kudus. Saya berdoa pada Yesus, untuk pertama kalinya. Setelah doa, ada satu sukacita yang luar biasa saya rasakan. Sepertinya semua beban saya terangkat.”
Menurutnya yang kala itu masih bocah berusia 10 tahun, ia sadar betul bahwa Tuhan itu memang ada. Ari tak perlu banyak bukti untuk tahu keberadaan Tuhan. Tapi hal itu tak serta membuatnya percaya dan menjadi pengikut Kristus. Jalannya masihlah panjang sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengikut Yesus.
PERTOBATAN DAN KOMIT KOMSEL
Pemeran utama sinetron terpanjang, Tersanjung, mengawali karir di dunia seni lewat sebuah pertunjukan operet tahun 1986. Sejak tahun itulah namanya meroket dan bersinar. Maka tak salah kalau ia mendapat banyak penghargaan karenanya. Sebut saja “Bintang Sinetron Pria Berbinar 2001” dari Tabloid Buletin Sinetron atau “Bintang Pria Paling Tampan”, “Bintang Pria Paling Jantan”, “Bintang Pria Paling Disukai hasil Survey Frontier”, Majalah Cakram 2001.
Selanjutnya berbagai pekerjaan seni pun “melamarnya”. Mulai dari peragawan, foto model, film, sinetron bahkan ia sempat tergabung dalam sebuah group vokal, Cool Colors yang sempat membuat satu album.
Tak perlu menunggu lama kehidupan glamour dan kelimpahan materi pun direguknya. Setelah semua harta dunia di perolehnya, pria kelahiran 26 Desember 1970 ini justru merasakan sesuatu yang kurang dalam diri dan hidupnya.
“Saya hidup di dunia entertainment, kecenderungan yang dikejar sebagai manusia adalah karir. Kalau karir bagus apalagi tujuannya kalau bukan berpenghasilan besar. Tuhan pun kasih itu ke saya, ya nama, harta dan bahkan bisa jadi ikon. Penghasilan pun sudah sangat mencukupi, boleh dibilang tak ada yang kurang,” jelas adik ipar Katon Bagaskara ini panjang lebar.
Tak cukup hanya di situ, menurutnya Tuhan pun masih memberikannya lebih lagi seperti berbagai penghargaan bergengsi. Singkatnya semua keinginannya dulu sebelum ia menjadi selebriti telah dicapainya. Namun setelah semua itu tercapai suami Inge Nugraha ini hanya berujar, “Hanya seperti inikah rasanya?” Baginya ada sesuatu yang masih saja kurang dan dicarinya.
“Setelah semua keinginan tercapai, saya baru sadar bahwa manusia seringkali mengejar hal yang salah. Karena saya pernah ada di zona seperti itu, saya ingin menyadarkan orang lain termasuk teman-teman saya agar jangan hanya mengejar materi,” papar bungsu dari dua bersaudara ini.
Alasannya sederhana saja, banyak manusia yang mengejar keinginannya seumur hidup dan belum tentu mendapatkannya. “Kalau sudah begini, berarti banyak orang yang hanya menghabiskan waktunya seumur hidup untuk mengejar keinginan. Dan bukan tak mungkin segala cara dihalalkan demi keinginannya. Dan ini salah besar!”
Selain itu pria yang mempunyai motto Smile a lot it costs nothing and is beyond price ini juga mengakui selain arti hidup, Tuhan juga memberikannya selamat dari kecelakaan yang cukup fatal. “Saya menyadari harus bertobat setelah tiga kali kecelakaan. Mobilnya hancur total dan sebenarnya saya tak mungkin selamat, tapi ajaib saya selamat. Kalau dipikir nggak mungkin!”
Kini setelah menjadi pengikut Kristus, buah pertobatannya ia tunjukkan dengan sebuah komitmen untuk aktif dalam kelompok sel atau komsel. Itulah wujud pertobatan dan kasihnya pada Tuhan Sang Penyelamat. “Komsel sudah berjalan 4 tahun dan untuk ini saya komit sampai saya berani tidak menerima pekerjaan hari komsel tersebut. Tujuannya nggak muluk-muluk. Saya ingin kenal Tuhan lebih dekat lagi, ini semua hasil kerja Roh Kudus,” katanya singkat.
Bukan hanya aktif di komsel tapi juga dalam kesehariannya. Bukan pula dengan kata-kata. Ia berprinsip action speaks louder than words. Ia memang tak langsung bicara secara frontal tentang Yesus yang mengubah hidupnya, “Lewat perbuatan saja, biar mereka pada bisa melihat. Perbuatan lebih nyata dari kata-kata. Tapi kalau ditanya mendalam saya pasti cerita dan intinya tidak memaksa, karena Tuhan pun tidak mau kita memaksa.” Dari semua yang dilakukannya misalnya kesaksian, ia hanya berharap hal tersebut dapat memberi dampak yang baik bagi banyak orang.
MAKIN SUKSES
Menyoal popularitas yang diburu banyak bintang, Ari sama sekali tak takut pamornya turun karena ketaatannya pada Tuhan. Hal terpenting baginya adalah melakukan pekerjaan yang ada dengan sebaik mungkin. Soal turun pamor ia siap dengan semua yang sudah menjadi risiko pekerjaannya. “Kalau memang sudah selesai, saya sudah siap dan bukan masalah besar. Saya juga sudah mempersiapkan secara mental dan materi,” ulasnya ringan.
Aktor yang masih menunggu waktu untuk kembali syuting lantaran mengurus pernikahan dan bulan madunya, punya cara sendiri menanggapi gosip seputar dirinya. Ia menjelaskan dengan santun bahwa apa pun yang dilakukannya pasti selalu mengundang pro dan kontra. Dan tak ada yang dapat mengendalikan mulut orang.
Menapaki sukses di dunia seni peran sama sekali tak membuatnya berkeinginan untuk menggunakan aji mumpung. Bahkan ketika ditanya mengenai keikutsertaannya dalam group vokal Cool Colors, ia berujar, “Saya memang serius nyanyi sekaligus menyadari bahwa menyanyi bukanlah main job. Saya hanya berusaha mengembangkan talenta. Dan bukan aji mumpung, karena saya tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun dengan alasan itu.”
Pertobatan membuatnya makin dekat dengan firman dan tahu mana yang baik dan benar dan mana yang kelihatannya baik dan asal benar. Berbekal firman, ia pun meninggalkan dunia malam yang sudah lama diakrabinya. Dan dalam proses itulah imannya diuji.
Kasihnya pada Tuhan lagi-lagi diuji saat ia benar-benar berusaha menaati firman Tuhan. Salah satunya ketika ia memutuskan untuk berhenti main sinetron laga yang notabene menjadi sumber penghasilan terbesarnya kala itu. “Setelah terima Tuhan akhirnya berhenti main laga, ini kan terkait penghasilan tapi saya harus berhenti main laga. Di laga saya sama dengan mempromosikan kekerasan sedangkan Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh.”
Ia pun bergumul untuk membayar pajak dan persepuluhan. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukannya lagi-lagi itu karena firman Tuhan yang mengajarkannya. “Bayar pajak dan persepuluhan sebenarnya merugikan secara penghasilan, tapi saya lihat Tuhan tetap mencukupi kebutuhan saya. Saya melangkah dengan iman seperti Petrus yang disuruh berjalan di atas air. Karena iman, ia mampu melakukannya .”
Seolah tak berhenti sampai di situ. Kembali imannya diuji di dunia hiburan. Pernah seseorang berkata kalau ia pindah agama dan militan ia tak akan “laku” lagi. Menanggapi pernyataan demikian, bak seorang pendeta ia menjawab, “Bagi saya Tuhan tetap nomor satu. ‘Laku’ atau tidak semua ada di tangan Tuhan. Dan keputusan tersebut saya jalankan, hasilnya, bukannya sombong ternyata makin sukses.”
Kesuksesannya tentu membuat bintang bergaya hidup sehat ini makin dikenal luas. Akibatnya keberadaannya selalu ingin diketahui. Bahkan tak sedikit orang yang ingin melihatnya dari dekat akhirnya mencari-cari di mana Ari beribadah dan bersaksi. “Bagi saya itu tidak masalah. Minimal setelah mereka pulang, mereka membawa Kristus dalam hatinya.”
Dengan imannya yang makin kuat ia tak berani banyak komentar ditanya apakah ia akan menjadi pendeta satu hari kelak. “Saya berani mengklaim saya aktor, tapi saya berusaha jadi orang Kristen yang baik juga. Bukan berarti harus jadi pendeta untuk menunjukkan kita taat. Tapi kalau memang panggilannya ke sana, mengapa tidak? Semua itu juga tergantung kesiapan saya. Karena itu tidak mudah,” katanya disusul sebuah senyuman.
KELUARGA BARU
Misa 3 April 2005 di Melbourne, Australia, menjadi momen yang berarti dan tak terlupakan bagi Ari dan Inge. Peristiwa religius tersebut membuat keduanya mengikrarkan janji sehidup semati dalam janji pernikahan suci yang berlangsung beberapa waktu lalu.
Maka wajarlah saat ditanya mengenai obsesi dalam hidupnya, tak berapa lama sebelum ia melangsungkan pernikahannya, “Yang lain nggak ada selain membentuk keluarga bahagia. Keluarga yang sehat secara jasmani dan rohani.”
Ditanya apa yang membuatnya jatuh hati pada gadis berparas manis itu, ia tak menapik selain faktor outternya yang memang indah, sisi inner beautynya pun memang terpancar. “Dia cinta Tuhan dan pintar. Ia juga sangat rendah hati. Dan chemistrynya juga ada,” ujarnya menutup percakapan yang tak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan saat Bahana hendak wawancara mentor rohaninya, Pdt. Hosea Budhi Kurniawan, yang juga penulis buku Terobosan Hidup. (Rum)
Pdm. Thomas Goenawan - Terima Kasih, Bang Paul!
Oleh Niken Maria Simarmata
Print Email
NEKAT MERANTAU
Sering kudengar dari teman-teman bahwa Jakarta, kota terbesar di Indonesia itu banyak peluang. Asal mau kerja, nggak bakal kelaparan. Ah, dari hasil kerjaku aku mau mengumpulkan uang biar bisa menyelesaikan sekolah.
Tahun 1984 aku ke Jakarta diantar ibu. Orangtuaku memang menitipkan aku pada pada Kel. W.L. Siagian teman bapak di Medan. Tugas utamaku menjaga rumahnya yang kosong dan memotong rumput.
Rumah Pak Siagian dekat sekali dengan sekolah. Tiap pagi murid-murid itu melewatinya, begitu juga saat mereka bubar sekolah. Biasanya aku langsung ‘ngacir’ ke dalam, berhenti sejenak memotong rumput atau pekerjaan lain yang terlihat oleh mereka. Ada perasaan malu. Aku memandangi mereka dari kejauhan, oh senangnya sekolah! Tuhan, doaku saat itu, suatu saat nanti aku bisa menyelesaikan sekolahku, kabulkanlah permohonanku.
Setahun kemudian keluarga Siagian pindah ke Jakarta tugasku bertambah, masak dan mencuci. Mereka memperlakukanku dengan baik. Setelah satu setengah tahun bekerja, aku ingin keluar dan mencari pekerjaan baru. Dalam bayanganku, ngamen. Sepertinya bisa lebih ‘bebas’ dan suaraku, banyak yang bilang lumayan bagus.
BERTEMU BANG PAUL
Aku banyak kenal dengan saudara-saudara majikanku. Salah satunya adalah bang Paul Marpaung yang masih kuliah di semester akhir. Kami sering ngobrol. Akrab. Makanya aku tak sungkan mengutarakan niatku keluar dari rumah itu. Bang Paul tersentak dengan keinginanku. Aku tak mengira ia sangat memberi perhatian besar padaku. Hatinya berat melepaskanku begitu saja. Ia sangat takut kalau hidupku tak tentu arah, menggelandang. Bang Paul menahanku. Ia lantas mengurus KTP Jakarta yang sangat berharga bagiku dengan mencantumkan namaku dalam Kartu Keluarganya. Dan, Bang Paul juga membuatkan SIM untukku. Semua biaya itu ditanggungnya. Setidaknya, dengan SIM yang kumiliki itu aku bisa bekerja sebagai supir. Setelah Bang Paul ‘membekaliku’ ia pun melepaskan dengan harapan aku punya masa depan lebih baik.
Tuhan menjawab doaku, beberapa tahun kemudian,1989 aku masuk sekolah malam dengan biaya sendiri. Ijasah SMA ditanganku !
Bang Paul, peristiwa 21 tahun itu selalu terpateri dalam hidupku. Aku selalu mengingat kebaikanmu. Sayang aku kehilangan kontak dengan orang yang telah berjasa itu. Ku berharap lewat majalah Bahana ini, Bang Paul membaca dan menghubungiku…
Begitu banyak berkat melimpah dalam hidupku. Peristiwa demi peristiwa menerpaku dan memperlihatkan kuasa Allah yang tak pernah berhenti. Banyak yang tak pernah terlintas dalam pikiranku, diberikan Tuhan bagiku. Selain bekerja di Hosana Record, aku memiliki beberapa album rohani. Bahkan kedua anakku Priska dan Jeremy melayani Tuhan melalui pujian dan telah pula punya album rohani.
Ir. Paul Marpaung, di mana dirimu? Aku ingin mengucapkan berjuta terima kasih. Bang Paul, engkau telah dipakai Tuhan. Perhatianmu saat itu sangat berharga bagi hidupku.
(Niken)
Preman Itu Bertobat
Oleh GS Purwanto
Print Email
Sebagai kepala keamanan ia mengutip uang jasa dari para penambang dan sopir truk yang datang mengangkut pasir. “Untuk jasa keamanan. Supaya jalan mereka lancar-lancar saja. Pergi selamat, pulang juga selamat,” kata Ismanto tentang tugasnya.
Berbagai pekerjaan telah Ismanto jalani. Ada yang halal, ada yang tidak. Tukang kayu, tukang gali pasir, sampai debt collector. “Badan saya besar, dan punya nyali. Saya juga pernah diajak untuk ngrampok orang yang baru ambil uang 1,5 milyar di bank. Tapi saya tidak berani,” ujar Ismanto.
Rumus tukang tagih, kalau secara halus tidak berhasil, ya dengan ancaman. Kalau ancaman belum mempan, pakai kekerasan. “Saya ini punya dua anak, tapi tidak punya pekerjaan tetap. Terpaksa kalau ada yang nawarin nagih utang atau nagih kredit motor yang nunggak, saya jalani,” kata Ismanto.
MABUK DAN JUDI
Ikat kepala Ismanto berwarna biru langit, melambai-lambai ditiup angin. Kata orang-orang, ikat kepala Ismanto ada “isi”nya. Ikat kepala itu berisi daya linuwih biar kebal dibacok senjata tajam. Berani taruhan, kata orang-orang, Ismanto tak mempan dibacok. Kesukaannya berjudi dan minum minuman keras kian menebalkan kepremanannya. Begitu dapat duit, langsung dihamburkan di meja judi atau mabuk-mabukan. Duit habis, cari lagi, nagih lagi. Begitulah Ismanto. Ia gampang dimanfaatkan karena keterbatasan pengetahuan dan kegemarannya berjudi dan minum mabuk.
Setelah sadar dari mabuknya, Ismanto mengaku sangat stres melihat istri dan anak-anaknya. Hatinya seperti teriris-iris. Harga dirinya sebagai kepala keluarga jatuh. Saat ia tidak kuat lagi menahan beban. Ia mabuk lagi.
DICARI POLISI
Seperti suatu petang di Bulan Februari lalu. Seharian berkeliling nagih, tak satu pun yang berhasil. Ismanto stres. Di sakunya tersisa Rp10 ribu. Ia beli minuman dan mabuk. Sesampai di rumah, istrinya ngomel nggak karuan. Hati Ismanto panas. Ia marah dan memukul istrinya.
Kekerasan yang dilakukan Ismanto berujung kantor polisi. Ia dikejar-kejar polisi. Bahkan mau ditembak. Tapi Ismanto berhasil lolos dan bersembunyi di gunung selama tiga hari. Betapa, tiga hari itu menjadi siksaan berat. Tidak ada makan, dan hujan terus-menerus turun. Hatinya yang rindu ingin bertemu anak-anak memaksa Ismanto turun.
Tak tahu apa yang harus diperbuat. Mau menyerahkan diri ke polisi, belum berani. Mestinya dia dipenjara, tetapi sang istri menarik laporannya. Ia masih menerima Ismanto apa adanya, meski sudah diperlakukan dengan buruk. Kata Ismanto, ia berkirim surat melalui anak pertamanya, apakah sang istri masih mau menerima dirinya? “Istri saya bilang, katanya mau menerima diri saya asal tidak mengulangi perlakuan buruk itu,” kata Ismanto. Kamisah yang telah berbagi suka-duka bersamanya sejak tahun 1991 itu menerima Ismanto kembali. Kata Ismanto istrinya benar-benar punya “ati segoro”. Hati seluas samudra yang bersedia mengampuni.
Setelah semua urusan selesai , mereka serumah lagi. Rumah sederhana yang dibangun Ismanto, sedikit demi sedikit dari usahanya bersama istri yang berjualan kerajinan di pasar. Rumah itu berada sekitar 150 meter dari tempuran Sungai Opak dan Oyo.
LULUH-LANTAK
Sabtu subuh 27 Mei 2006 itu, ketika pagi masih dingin, ketika Ismanto, Kamisah, Dadan Renggalen dan Rengga Dwi Wijaya dua anak mereka belum bangun dari tidur, gemuruh tembok-tembok runtuh dan teriakan minta tolong menguar. Ismanto terlempar kesana-kemari tanpa tahu penyebabnya. Yang dia rasakan, tanah tempat berpijak bergerak bergelombang. Gempa 5,9 SR itu menghancurkan rumah mereka, kurang dari satu menit.
Pikirnya rumah mereka saja yang runtuh. Ternyata seluruh kampung rata dengan tanah. Hampir tak ada bata yang utuh, kata Ismanto. Tetapi puji Tuhan, Ismanto bersama istri dan kedua anaknya keluar dari reruntuhan tanpa luka yang serius. Tiga warga di dusun itu meninggal.
Ismanto tercengang ketika koran dan televisi memberitakan episentrum gempa terletak di tempuran Kali Opak dan Oyo. Berarti tempat tinggal Ismanto berada persis di pusaran gempa. Sekali itu dalam hidup Ismanto, otot-ototnya lemas. Kalau mereka masih selamat, betapa Tuhan masih berbelaskasih kepada mereka. “Saya nangis, Mas. Kami persis di pusat gempa, tetapi masih selamat. Kalau Tuhan tidak berkenan, kami sudah mati semua,” ujar Ismanto berkaca-kaca.
MEMBACA PRATANDA
Ismanto belajar membaca pratanda. Apa maksud Tuhan membiarkan mereka selamat? “Saya bukan umat yang taat, tetapi saya yakin Tuhan punya maksud baik dengan menimpakan bencana ini. Itu berarti masih ada kesempatan bagi kami, terutama saya, untuk memperbaiki hidup,” ujar Ismanto.
Ismanto sejenak menoleh ke belakang. Ia ingin menanggalkan manusia lama dalam dirinya. “Saya kejam terhadap keluarga. Saya mohon ampun. Saya mau bertobat. Saya tidak akan minum lagi. Saya tidak akan berjudi lagi. Saya ingin memperbaiki hidup saya,” janji Ismanto.
(Seperti dituturkan Ismanto kepada GS Purwanto)
Pauwna Wijaya - Sembuh dari Kanker
Oleh Niken Maria Simarmata
Print Email
“Pak Michael langsung mengajak saya periksa ke Singapura. Saya orang yang sangat takut dokter dan naik pesawat karena takut ketinggian. Tapi bos saya terus mendorong saya untuk periksa. Hasil CT Scan, saya terkena kanker stadium tinggi. Kata dokter, ginjal kiri saya harus dibuang. Saya benar-benar takut dan bingung, Di situlah saya ingat Tuhan”.
Sebelum operasi, Pauwna pulang ke Indonesia lebih dahulu menyiapkan segalanya. Banyak hal yang terjadi ketika pulang. Situasi di rumah berubah. Pauwna dan istrinya stres berat. Mereka terguncang. Hal ini terlihat jelas di mata anak-anak. Anak sulung mereka pernah bertanya, Kenapa Papa dan Mama murung? “Hati saya makin terpukul mendengar perkataan anak saya itu. Saya bilang pada istri untuk tidak cerita masalah ke saudara-saudara. Terus terang, saya khawatir, mereka akan menyarankan saya pergi ke dukun. Keputusan saya waktu itu adalah berserah penuh pada Tuhan Yesus,” kata bapak dari Vania Carissa Wijaya dan Vanessa Callista Wijaya.
Dunia begitu kelam. Pauwna seolah berada dalam lorong gelap yang menakutkan. Pendarahan luar biasa terjadi pada 17 April 2005 dari jam 12.00-22.00. Darah berceceran di lantai kamar mandi. Kadang keluar gumpalan darah yang cukup besar.
Dari saluran air seni darah terus keluar. Saking sakitnya Pauwna lari bolak-balik dari kamar mandi ke kamar tidur. Keringat dingin tmembasahi kaos yang dipakainya. Pernah dalam sehari ganti kaos sebanyak 20 kali. “Anak saya bingung, kenapa Papa lari-lari? Saya bilang Papa lagi olah raga. Padahal saat itu saya sedang menahan sakit yang amat sangat”.
PENDARAHAN BERHENTI
Ia menjerit pada Tuhan. Pauwna memohon, beri saya kesempatan ya Tuhan, beri saya kesempatan. Ampunilah saya…Kalau Tuhan berkenan, sembuhkanlah saya malam ini. Tubuh Pauwna lemah. Beberapa saat kemudian sesuatu terjadi. Ajaib! Rasa sakit sirna. Darah berhenti berganti cairan bening. Pauwna melihat semua itu seperti mimpi, mukjizat!
Galau. Pikiran Pauwna tak menentu. Kesedihan dan ketakutan di hatinya berkecamuk. Jiwanya menjerit. Ada beban berat yang tak mampu ditanggungnya. Ia sadar anak-anaknya masih sangat kecil untuk tahu yang sebenarnya. Ia seperti berada di antara hidup dan mati. Kecil, tak berdaya.
Pauwna teringat peristiwa demi peristiwa dalam hidupnya. Selama ini ia telah banyak melukai Tuhan. “Saya kurang ajar sama Tuhan. Istri saya adalah orang yang takut Tuhan. Rajin sekali ke gereja. Tapi saya memberi pengaruh buruk padanya dan juga anak-anak kami. Setiap kali mereka membangunkan saya untuk pergi ke gereja, saya malas bangun. Saya tawar, entar sore aja. Tapi saat sore hari, semua sudah siap ke gereja, saya tuh bisa alihkan jadi jalan-jalan ke mal. Batal kebaktian. Dari minggu ke minggu ada saja alasan untuk bolos ke gereja. Seminggu, sebulan sampai setahun. Saya telah melakukan kesalahan besar. Menjadi kepala keluarga yang sangat tidak baik”.
OPERASI GINJAL KIRI
Sebagian darah ditampung di kantung plastik dan dibawa ke Singapura untuk ditunjukkan dokter yang akan menangani operasi ginjalnya. Dokter kaget, Pauwna mengalami pendarahan berat, tapi kondisi tubuhnya masih baik bahkan bisa pergi ke Singapura. 21 April 2005 Pauwna menjalani operasi yang berjalan dengan baik selama 4,5 jam dan rawat inap 20 hari ditemani istri. Selesai masalah? Tidak. Pauwna menghadapi masalah baru. Kanker itu ternyata sudah menjalar ke paru-paru dengan empat noktah. Dokter berkata, Pauwna memasuki kanker stadium 4. Harapan untuk hidup sangat tipis. Meski terguncang kembali, Pauwna lebih tenang. Ia percaya bahwa Tuhan sedang bekerja bagi hidupnya. Ia terus menenangkan istrinya untuk tetap bersandar dan yakin akan pertolongan Tuhan.
Dalam hati Pauwna berjanji akan sungguh-sungguh menjadi murid Tuhan. Ia bertobat. Meninggalkan cara hidup yang salah. Tidak saja mencukupi kebutuhan jasmani keluarga yang selama ini ia penuhi, tapi ia juga mau menjadi imam dalam keluarga. Membawa istri dan anak-anaknya untuk lebih dekat kepada Tuhan. Begitu juga terhadap keluarga besarnya. Selama ini yang dilakukannya adalah mengenalkan Yesus pada orangtua dan adik, tapi ia sendiri tidak bisa jadi teladan. “Saya sering antar mama dan papa ke gereja, tapi saya sendiri tidak ikut kebaktian. Ngantar terus pulang”
MENJALANI KEMOTERAPI
Pria kelahiran Sukabumi 17 Oktober 1959 itu bolak-balik ke Singapura untuk kemoterapi sebanyak 9 kali sejak Mei sampai September 2005. Mukjizat terjadi, baru dua kali kemo, 4 noktah di paru hilang. Dokter heran, ini sesuatu yang luar biasa, sangat luar biasa. Biasanya kanker di paru-paru sulit hilang. Selama menjalani kemoterapi, Pauwna sulit makan dan kerap muntah-muntah. Badan panas dingin. Perut mual-mual tak karuan. Rambut rontok hingga kepala Pauwna botak. Selama lima jam dikemo Pauwna merasa seperti bertarung antara hidup dan mati.
SUKACITA MELIMPAH
Sukacita Pauwna tak terbendung. Ia ingin berceritera kepada banyak orang tentang kuasa Tuhan dan kebaikan-Nya. Dorongan untuk berdoa bagi orang-orang yang sakit sangat kuat di hati Pauwna. Ia merasakan betapa susah dan ketakutannya orang-orang yang mengalami seperti dirinya. Pauwna juga ingin mengatakan bahwa hidup dan mati seseorang itu betulbetul dalam tangan Tuhan. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi ia hidup. Dan pertanyaan yang muncul, ke manakah manusia setelah mati? Pauwna yakin, jalan keselamatan hanya di dalam nama Yesus. Pauwna ingin menyampaikan pada orang lain tentang Yesus yang ia percayai.
“Di rumah sakit, saya bertemu suami istri, si bapak namanya Adenan menderita kanker stadium tinggi. Wajahnya benar-benar murung. Saya ngobrol tentang kebaikan dan kuasa Tuhan. Mendorongnya untuk berserah pada Tuhan. Saya bilang, saya punya Yesus dan ingin berbagi kepada bapak-ibu untuk berdoa dalam nama Yesus. Pak Adenan mengangguk karena memang susah bicara.” Ia menangis. Saya pun menangis karena heran bisa berdoa bagi orang lain. Itulah pertama kali saya mendoakan orang lain,” tutur suami Melinda Stephanie Halim.
Sesampai di Jakarta, Pauwna mengajak beberapa teman, majelis dan pendeta di Gereja Kristus Kelapa Gading mengunjungi dan melayani Pak Adenan. “Pak Adenan berkata mulai saat itu ia akan berdoa di dalam nama Yesus. Meskipun akhirnya Pak Adenan meninggal, kami bersukacita karena ia sudah di tangan Yesus,” kata Pauwna yang sering bersaksi di gereja-gereja mengenai pertolongan Tuhan.
Beberapa bulan lalu, Pauwna kembali ngecek paru-parunya. Bersih! Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa yang terjadi dalam diri Pauwna adalah sebuah mukjizat.
Pauwna tak hanya sembuh secara fisik. Pikiran dan cara pandang yang salah juga telah ‘sembuh’. “Berdoa, ke gereja bersama keluarga adalah hal yang sangat membahagiakan. Kami mau menyembah Tuhan Yesus dan mengutamakan Dia sepanjang hidup kami”.
(Niken)
Sari Simorangkir - Batal Jadi Penyanyi Sekuler
Oleh Rumintar S
Print Email
Sampai akhirnya ia bergabung dengan group vokal VOG, di mana semua anggotanya punya visi yang sama, “Kita mau memberkati generasi muda dengan lagu-lagu positif walaupun tidak menampilkan nama Tuhan secara langsung. Intinya kita ingin penginjilan. Entah mengapa, seiring waktu, ternyata agak tersendat di sekuler. Kita dikontrak untuk 6 album tapi yang terealisasi hanya satu.” Tapi pemilik album bertitle 3131 ini tak berkecil hati. Ia tetap dapat menikmati berbagai pelayanan yang Tuhan percayakan padanya dalam bidang tarik suara karena bernyanyi adalah nafas hidupnya.
(Rum)
Mery Kasiman - Dari Kecil Suka Piano
Oleh Rumintar S
Print Email
Menyoal permainan jari lentiknya di atas tuts piano jemaat GKI Pondok Indah ini hanya berujar, “Aku suka banget piano, karena suaranya indah. Selain itu aku dari kecil memang sudah belajar piano. Dan benar-benar interest waktu SMA.” Karena kecintaannya pada piano itulah cewek kelahiran 29 November 1982 ini rela berhenti kuliah dari UPH untuk mendalami musik di Institut Musik Daya. (Rum)
Billy Glenn - Kacang Lupa Kulitnya
Oleh Rumintar S
Print Email
Model yang masih wara-wiri di catwalk ini tengah menikmati hubungannya dengan Tuhan yang sempat dilupakannya. “Dari dulu, bahkan sejak kecil saya memang selalu mengandalkan Tuhan mulai dari ikut model sampai sinetron dan film. Tapi belakangan justru saya melupakan kebaikan Tuhan.”
(Rum)
Deedee - Memilih Bidang Akademis Ketimbang Artis
Oleh Rumintar S
Print Email
Itu sebabnya di masa mendatang harapan dan cita-citanya adalah bekerja sesuai bidang akademisnya. Kendati sekarang menyibukkan diri dengan berbagai kursus, ia sebenarnya tengah mematangkan rencana masa depannya. “Saya lebih fokus sekolah aja. Rencana kuliah sih pasti, tapi belum tahu kuliah di mana. Yang pasti saya pilih jurusan design grafis,” ujar dara yang hobi melukis ini.
(Rum)
“Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga” (Rm. 11:22).
Saya setiap hari melewati jalan Kranggan—jalan dekat pasar di kawaan utara kodya Jogja. Suatu pagi di Senin yang indah dan sejuk seperi “biasa” saya melalui arah dari utara ke selatan. Yang mengherankan, ada satu mobil dan beberapa motor dari arah berlawanan dengan saya diberhentikan oleh polisi. Ternyata mereka dianyatakan melanggar rambu dan ditilang. Sebelumnya saya juga melalui jalan yang sama dan tidak pernah ditilang. Ternyata, di tempat itu ada rambu lalin yang menetapkan aturan baru.
Polisi yang bertugas mengingatkan pada para pelanggar, “Setiap pengendara harus waspada. Jangan asal mengemudikan kendaraan agar segera sampai tujuan. Setiap saat waspada termasuk perhatikan rambu-rambu!”
Hidup kita pun dapat seperti hal tersebut. Kita sebagai pengendara dan tubuh kita tumpangan yang mengantar kita ke tempat yang Tuhan inginkan. Dalam perjalanan hidup ini setiap hari malaikat surgawi selalu memasang rambu-rambu kehidupan yang yang harus kita lalui. Dalam hal ini, kita jangan berkata, “Biasa orang lewat sini.” Ketika kita tidak waspada, jangan heran kita tertangkap sebagai pelanggar. Bila ini terjadi maka yang ada pada kita bukanlah penggenapan janji Tuhan yang luar biasa namun sanksi dari-Nya!
Pernyataan berkat atau kutuk ada di tangan kita memang benar, melalui surat Roma tersebut di atas kita bisa menyimpulkan sesungghnya bukan Tuhan tidak menyediakan berkat atau bahkan kemurahan, Tuhan sangat berkemurahan. Kita tinggal memilihnya. Jika kita memilih berkat, mari kita jaga hidup kita dengan kewaspadaan. (ap)
Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu manjaga kehidupanku dengan kewaspadaan agar berkat yang Kaujanjikan menjadi kenyataan.
Memperjuangkan yang Prinsip
“Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu” (2 Tim.3:14).
Selain menimba ilmu, komunitas pelajar dan mahasiswa Minang di Yogyakarta ternyata memiliki semangat untuk mengembangkan budaya daerah mereka. Upaya ini dilakukan dengan berbagai cara seperti mengikuti pertunjukan seni yang sering diadakan. Tujuan mereka jelas, yaitu mempertahankan dan mengembangkan budaya tanah leluhur. “Budaya Minang memegang teguh prinsip bahwa generasi muda dianggap belum memiliki ilmu yang cukup, sehingga harus belajar merantau di negeri orang sebagai sarana penempaan. Inilah yang kemudian menjadi semangat bagi mereka untuk menyerap pengalaman demi pengalaman yang diperoleh selama di perantauan sebagai dasar mengembangkan budaya.
Ketika berada di perantauan, umat Tuhan selalu diajar untuk mempertahankan nilai-nilai budaya mereka sebagai orang percaya. Melalui kebudayaan yang penuh dengan pengajaran tentang nilai kehidupan itu, mereka sedang belajar melakukan fiman Tuhan. Jadi, keberadaan firman Tuhan mengatasi kebudayaan. Oleh sebab itu, di mana pun berada, mereka senantiasa memegang ajaran budayanya. Tentu hal ini bukan perkara mudah. Berbagai risiko dan tantangan berat harus dihadapi. Bahkan terkadang mereka harus bertaruh nyawa. Namun, Tuhan membuktikan bagi orang yang berani menerima risiko menjalani kehidupan sebagai orang beriman, ada perlindungan dan penyertaan yang Tuhan selalu sediakan.
Seyogianya kita juga belajar untuk tetap mengingat, melakukan, dan memelihara kebenaran dengan setia sekalipun banyak orang kerap menentang dan menolaknya. (ndd)
Tuhan, malam ini aku berterima kasih atas kepercayaan yang Engkau beri sehingga aku punya kesempatan untuk mewarnai kehidupan ini dengan kuasa firman-Mu.
DM Tech: Jangan Pakai Produk Bajakan!
Oleh Robby Repi
Print Email
“Kami mendukung industri rekaman lagu rohani menghadapi pembajakan. Bukan dengan cara berhadapan dengan pembajak melainkan dengan cara mendidik konsumen lagu-lagu rohani. Mereka ini umumnya orang-orang yang rajin ke gereja, lalu pulangnya membeli CD bajakan yang dijual di konter depan gereja. Kalau mereka tahu mengapa harga jual CD asli lebih tinggi dari pada CD bajakan maka diharapkan mereka akan berhenti membeli CD bajakan dan beralih membeli CD asli,” kata Sony Tan, CEO DMTech.
“Kalau industri rekaman lagu rohani gulung tikar akibat pembajakan maka banyak pihak yang akan rugi. Diantaranya gereja dan jemaat. Karena itu segala pihak harus berperan memasyarakatkan gerakan mendukung pelayanan lagu rohani tanpa CD bajakan,” jelasnya.
Biaya produksi sebuah album lagu ternyata mencakup banyak hal antara lain royalti untuk pencipta lagu, arranger, pemusik, penyanyi, sewa studio, disain dan biaya kemasan, biaya produksi CD, pajak, promosi dan distribusi. Total biaya produksi satu album bisa mencapai enam puluh jutaan di luar biaya promosi. Pembajak sendiri tidak mengeluarkan biaya ini sama sekali. Tidak heran kalau harga jual CD bajakan bisa jauh lebih murah dengan keuntungan yang jauh lebih tinggi.
PEMEGANG DUA SERTIFIKASI INTERNASIONAL
Pada tahun 2004 DMTech berhasil mendapatkan sertifikat sebagai pabrik anti-pembajakan (Anti Piracy Certified Plant). Sertifikasi ini meyakinkan pelanggan bahwa master pelanggan tidak akan dibajak atau disalahgunakan. Selain itu sertifikasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk pelanggan sudah memenuhi ketentuan hak cipta sehingga pelanggan terhindar dari tuntutan pelanggaran hak cipta di kemudian hari.
Masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep hak cipta secara benar. Contohnya software gratis yang bisa didownload dari internet. Karena gratis maka pengguna merasa berhak memperbanyak dan mendistribusikannya. Padahal kalau pengguna membaca End User License Agreement (EULA) maka jelas tertulis bahwa software tersebut gratis hanya untuk pemakaian sendiri (individual use only), tidak boleh diperbanyak dan didistribusi.
Untuk menyosialisasikan pemahaman tentang hal ini, DMTech sering mengadakan seminar dan pelatihan untuk publik termasuk untuk pelanggan, mahasiswa, aparat pemerintah, dan para penulis buku. “Tugas kami membantu penulis buku dan pelanggan kami agar semua CD yang mereka produksi tidak melanggar hak cipta. Itulah kelebihan kami,” jelas sang CEO. Tugas mulia ini akhirnya mendapat pengakuan dan penghargaan dari International Recording Media Association (IRMA).
Pada tanggal 23 Desember 2003 DMTech tercatat sebagai perusahaan CD pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 untuk sistem manajemen mutu. Sampai saat ini, DMTech merupakan satu-satunya perusahaan CD di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional tersebut. Dengan sertifikasi ini perusahaan terus dipacu meningkatkan mutu produk, pelayanan dan perlindungan hak cipta yang pada akhirnya akan memberikan manfaat dan kenikmatan kepada konsumen. (Rob)
Pdt. Hana Sebadja, S.Th. - Yang Terus Berpacaran dengan TUHAN
Oleh Alex Japalatu
Print Email
Pdt. Hana Sebadja 2006 ini genap berusia 77 tahun. Secara lengkap, perjalanan pelayanannya terekam dalam buku Aku & Keluargaku Melayani Tuhan terbitan Penerbit ANDI Yogyakarta. Dan Selasa (4/7), di GBI Gajah Mada, Jl.Gajah Mada 84-86 Semarang, kepada Alex Japalatu dan Sonny Eli Zaluchu, Tante Hana bercerita tentang setengah abad perjalanan itu.
Kapan memutuskan untuk melayani?
Sejak kecil saya suka ke Sekolah Minggu. Waktu pindah ke Kebumen rumah kami sering dipakai untuk kebaktian. Tahun 1942 Jepang masuk, semua sekolah ditutup. Saya belum selesai SD. Trus, toko papa dirampok habis sehingga kami harus pindah ke rumah paman di Solo. Saya senang musik, lalu ikut les di gereja. Waktu itu ada pelayanan pemberantasan buta huruf buat anak-anak. Diam-diam saya ceritakan firman Tuhan. Akhirnya anak-anak yang nakalnya minta ampun itu berubah. Suatu hari ada ibu-ibu datang bawa lemper dan pisang goreng. Mereka bilang “Terima kasih karena anak-anak kami berubah”. Waktu itu saya baru belasan, tetapi saya seperti punya beban untuk melayani. Lalu, kami pindah ke Semarang. Setelah tamat HBS (SMA zaman Belanda,red) di Semarang, pendeta bertanya apakah saya tidak tergerak untuk masuk sekolah teologia. Saya berdoa dan merasa Tuhan menggerakkan hati saya. Lalu, saya masuk STT Jakarta tahun 1951.
Bagaimana Tante memberi arti perjalanan pelayanan 50 tahun itu? Puji Tuhan. Dia yang menyanggupkan saya. Terus terang, selama ini saya tidak ingat sudah 50 tahun melayani. Kalau Pak Jimmy (Oentoro) tidak mengingatkan waktu ketemu di LA (Amerika, red) “Ini kan sudah 50 tahun, kita celebrate,” kata dia, saya ndak ingat. Bagi saya perjalanan 50 tahun itu rasanya… ya, jalan biasa saja. Tetapi setelah ada celebration ini, lalu hamba-hamba Tuhan memberikan kesan, malah hancur hati saya. Saya bilang Lord, semua ini is your grace (berkaca-kaca). Ini anugerah karena saya ndak merasa melakukan sesuatu. Beberapa hamba Tuhan tanpa saya sadari seperti Pak (Timotius) Arifin, bertobat dan sekarang menjadi hamba Tuhan. Sekarang saya menyadari bahwa bukan saya, tapi Tuhan yang setia, mau memakai saya untuk melayani Dia selama 50 tahun ini. Kalau ditanya apa arti semua ini, saya tidak tahu. Ini panggilan Tuhan.
Bagaimana Tante dapat diterima oleh berbagai denominasi gereja?
Latarbelakang saya dari Pentakosta, tetapi kemudian bekerja di GKI. Hal ini menguntungkan saya. Ini membuat saya bisa melayani di gereja aliran Pentakosta sampai GKI, HKBP, GPIB, GKJ, GKT. Satu GKI misalnya, meng-usulkan mau ngundang saya. Beberapa dari mereka bilang, jangan, dia dari Pentakosta. Tetapi yang lain akan bilang dia sekarang bekerja di GKI. Jadi saya (dapat) “masuk” ke GKI. Kalau Pentakosta mengundang, dia kan dari GKI, tetapi (mereka bilang) asalnya Pentakosta. Jadi Pentakosta ngundang saya juga, he-he-he. Latar belakang Pentakosta, melayani di GKI, sekolah di STT. Saya percaya ada rencana Tuhan di situ. Saya yakin Tuhan hadir dalam semua denominasi gereja.
Persekutuan Doa Immanuel sangat fenomenal. Bagaimana bisa sebesar itu?
Persekutuan itu dimulai dengan 6 orang tahun 1976. Setiap hari Sabtu bersama beberapa saudara kami melakukan kunjungan ke rumah-rumah di pinggiran kota Semarang dan bezoek orang sakit. Agar pelayanan kami diurapi Roh Kudus, kami berkumpul setiap hari Kamis untuk berdoa bersama. Akhirnya Oom (Sebadja) usul, daripada kami berkeliling lebih baik mereka diminta ke Gajah Mada. Setelah pelayanan itu kami buka untuk umum hasilnya luar biasa. Banyak mukjizat terjadi. Ruang praktik Oom kami rombak supaya bisa tampung banyak orang. Kalau ibadah, pengunjungnya sampai duduk di luar. Satu kali saya heran, kok orang-orang belum pulang padahal sudah selesai? Eh, ternyata banjir. Airnya hampir sampai lutut. Mereka mengikuti ibadah sambil bawa payung. Bayangkan, betapa setianya mereka. Ada suasana yang luar biasa. Jemaat gereja-gereja lain ke sini semua. Karena peristiwa itu, setiap Kamis semua gereja di Semarang akhirnya punya kebaktian supaya jemaatnya tidak ke sini. Kemudian, yang ke sini jiwa-jiwa yang belum percaya. Dari PD Immanuel ini lahir GBI Bethany “Gajah Mada” yang diprakarsai Pak Alex (Tanuseputra), (Timotius) Arifin, dan Niko (Njotorahardjo). Itu tahun 1989.
Banyak mukjizat terjadi melalui PD Immanuel. Ada orang akan nonton film, lagi antri tiket, (dekat GBI Gajah Mada dulu ada bioskop,red), dengar orang nyanyi-nyanyi, tidak jadi antri tiket, malah ke sini. Satu keluarga sudah duduk dalam bioskop, nonton film, tapi dengar puji-pujian mereka keluar dan ke sini. Mereka akhirnya terima Yesus. Seorang ibu beragama lain menderita kanker, ikut kebaktian. Saya ndak kenal dia. Dia terima roti dalam Perjamuan Kudus. Setelah itu dia ke WC dan penyakitnya keluar semua. Dia bersaksi, tadi waktu saya terima roti, di depan, saya melihat orang berjubah, putih. Puji Tuhan, (PD) Immanuel sampai sekarang masih jalan. Sudah 30 tahun. Kamis, 22 Juni 2006 yang lalu kami mengadakan perayaan 30 tahun Immanuel. Semua dapat gift. Banyak jemaat terpaksa berdiri karena tidak kebagian kursi.
Persekutuan ini membuat seorang hamba Tuhan terkenal sangat anti dengan kami. Saya dengar dia mau mengadakan satu seminar menentang bahasa roh dan Karismatik. Waktu itu, nggak tahu kenapa, saya bisa telepon Pak Alex (Tanuseputra), (Timotius) Arifin, Niko (Njotoraharjo), Pak Gondo (J.H.Gondowijoyo) dari Yogya dan beberapa lagi. Kita sepakat untuk mengadakan pertemuan di Tawangmangu. Pertemuan itu luar biasa. Jadi, hamba-hamba Tuhan dari berbagai daerah datang. Saya ndak punya acara apa-apa. Cuma kumpul. (Dalam buku Aku & Keluarga Melayani Tuhan ditulis, lebih dari 100 hamba Tuhan dari kelompok Karismatik se-Jawa, hadir, red)
Dari sinilah kemudian tumbuh gereja-gereja Karismatik di Jakarta, Bandung, dan Surabaya seperti Sungai Yordan, Bethany. Sepulang dari Tawangmangu, mereka mulai dengan gereja-gereja itu. Dan pertemuan itu hanya sekali. Tidak ada kelanjutan.
Pertemuan Tawangmangu salah satu cikal-bakal gerakan Karismatik. Apa yang memunculkan kegerakan ini?
Yang ada dalam pikiran saya adalah karena seorang hamba Tuhan yang ingin meng-counter gerakan Karismatik. Saya pikir gimana ini? Lalu saya mendapat ide kita harus kumpul. Jadi waktu itu tidak ada yang khusus. Lalu ngomong-ngomong. Tapi semua itu pekerjaan Tuhan. Jadi bangkit. Ndak pake program apa-apa tapi banyak yang datang. Coba ini segini banyaknya orang, dari segala kota. Coba lihat ini (sambil menunjuk foto-foto). Karena saya tahu, setiap orang percaya pada Roh Kudus.
Zaman Tante, perempuan keturunan Tionghoa belum lazim menjadi pendeta. Memang dulu belum ada, apalagi yang sekolah di STT. Sekarang pelayan perempuan banyak sekali. Bagus sekali sekarang. Saya, wanita Tionghoa pertama yang sekolah di STT. Waktu itu sudah ada dari Ambon, Manado. Angkatan saya mungkin hanya tiga atau empat wanita.
Mukjizat terjadi dalam keluarga Tante seperti operasi kista dan peristiwa Pringsurat!?
Saya punya teman, istri dokter gigi juga yang menjalani operasi kista dan diambil indung telurnya. Dia tidak punya anak. Karena saya juga mengalami hal serupa, banyak yang ngomong, saya bakal tidak punya anak. Tapi Tuhan ajaib. Saya bisa melahirkan anak laki-laki dan perempuan. Saya bersyukur semua anak kami menjadi hamba Tuhan dan semua melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Hari-hari ini Tante masih melakukan apa saja?
Masih khotbah. Biasanya Minggu. Kalau dulu saya masih sering keluar kota. Belakangan ini sudah berkurang. Doa masih setiap hari, tapi tidak seperti masih muda dulu, tiga jam sekaligus. Sekarang dibagi, tetapi waktunya lebih banyak.
Banyak hamba Tuhan menyebut Tante sebagai ibu rohani?
Saya cuma, ya bersyukur kepada Tuhan. Karena anugerah-Nya saya boleh menjadi berkat bagi mereka semua. Berbulan-bulan mereka mempersiapkan acara itu (peringatan 50 tahun pelayanan, red). Rabu untuk hamba-hamba Tuhan, teman-teman dekat, dan aktivis. Kamis untuk umum. Ide ini dari Jimmy (Oentoro).
Ada istilah bapa rohani, pembapaan. Dalam pandangan Tante, yang dimaksud bapa-ibu rohani itu seperti apa?
Bagi saya pribadi, yang terpenting sebagai hamba Tuhan adalah hubungan kita yang intim dengan Tuhan. Sebab kita bisa aktif melakukan segala sesuatu, kalau ndak ada hubungan yang intim dengan Tuhan, tidak ada artinya. Orang luar juga bisa lakukan itu. Saya selalu ingat “Tanpa Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa”. Jadi, doa saya selalu, “Tuhan, aku seperti carang yang lekat pada Pokok Anggur, sehingga aku bisa berbuah-buah, dan nama Bapa yang dipermuliakan”. Apalagi setelah saya 10 bulan di Amerika dalam keadaan “padang gurun”. Saya lebih lagi belajar, untuk lebih melekat kepada Tuhan. Saya membaca banyak buku karena waktu saya banyak. Kalau di sini saya agak sibuk, entah konseling, kebaktian, atau pekerjaan rumah tangga.
Ternyata hamba-hamba Tuhan yang punya nama besar juga mengalami masa-masa “padang gurun”. Tapi justru di situ mereka dibentuk dan dikuatkan. Seperti John Osteen. Dia punya jemaat ribuan. Istrinya melahirkan anak yang cacat mental. Mereka berdoa, berdoa, baca firman. Suatu hari John Osteen khotbah. Khotbahnya begitu meyakinkan dan kuat. Majelis pikir, “Anakmu gitu kamu kok kotbahnya gitu”. Majelis ndak setuju. Tiga kali berkotbah, dia diusir. Dia keluar dengan 90 orang anggota, padahal di gereja itu ada kurang-lebih 5000 jemaat. Dia mengadakan kebaktian di gudang yang sebenarnya tidak layak pakai, tetapi dia tekun. Bukan satu-dua tahun, tetapi 13 tahun. Sekarang dia punya gereja yang hampir terbesar di Amerika. Anggotanya “cuma” 42 ribu. Jadi, Tuhan itu luar biasa.
Suatu hari dia sakit. Tidak bisa khotbah. Dia tidak bisa minta pengganti. Sudah telat. Anaknya, Joel Osteen belum pernah khotbah terpaksa dia khotbah. “Aku terus pegangan mimbar supaya tidak jatuh. I do not know what I have said,” katanya. Pokoknya dia jalan saja. Selesai khotbah, majelis maju dan ngomong. Mereka bilang, kalau nanti ayahmu ndak ada dan kamu yang khotbah, gereja ini akan kehilangan jemaat. Tanpa tedeng aling-aling, ngomong begitu. Tetapi setiap pagi Joel berdiri di depan kaca dan berkata, “Joel, engkau akan bisa khotbah, engkau punya Yesus di dalammu.” Jadi, harus ada pembentukan dan punya hubungan intim dengan Tuhan.
Bagaimana sikap Tante saat mengalami situasi “padang gurun”?
Saya membaca, justru dalam situasi itu Tuhan ingin kita lebih dekat kepada-Nya. Kita mencari Dia. Di situ Tuhan mengungkapkan hal-hal yang indah. Kita masih di dunia, yang masih dikuasai setan (1Yoh. 5:19). Jadi kalau Tuhan ijinkan semua itu terjadi, maksudnya supaya kita lebih bertumbuh secara rohani. Sebab kalau semua berjalan baik, justru kita lupa pada Tuhan. Dan, waktu hari Rabu itu, banyak kesan yang disampaikan. Saya betul-betul bersyukur kepada orang-orang itu.
Saya ingat Jimmy, Billy Sundoro, sekarang jadi pengkhotbah. Dulu mere-ka mulai dengan persekutuan anak-anak SMA. Kecil-kecilan. Lalu besar dan pakai gedung Gajah Mada. Mereka seringkali manggil saya karena paling dekat dan paling gampang. Saya ingat saat naik mobil, Jimmy bilang nanti pingin khotbah. Kalau ndak salah, Billy bilang, “Lha kalau kamu khotbah nanti semuanya nangis.” Lha, kenapa? Sangking elek’e, he-he-he. Saya tidak bisa lupa itu. Tapi sekarang Jimmy dan Billy khotbahnya luar biasa. Bambang Budijanto (penasehat PESAT,red) juga, luar biasa.
Pengalaman Tante, apa rahasia utama yang dapat kita temukan dalam doa?
Saya selalu tekankan, berdoa itu seperti kita pacaran dengan Tuhan. Orang pacaran itu kan ingin dekat terus , tidak perlu ngomong. Saya ingat kalau ada orang pacaran, duduk di luar malam-malam, lihat bintang-bintang begitu bagus, bunga-bunga begitu segar padahal sudah layu, rumput itu segar padahal sudah kuning. Karena dalam kasih mereka punya penglihatan. Saya sering kasih contoh orang pacaran. Datang pacarnya, “Aduh sayang aku lapar.” “Wah, aku sudah masak enak buat kamu,” jawab pacarnya. Selesai makan, “Aduh enak sekali, sekarang haus.” Dikasih jus. Sudah makan dan minum nikmat sekali, “Sudah ya, sayang. Pulang.” Kalau sekali-dua kali mungkin pacarnya pikir dia sibuk. Tapi kalau berulang kali demikian, perempuan bisa mikir, ini tidak pacaran dengan aku, tetapi dengan masakan dan jus buatanku.
Yang paling berkesan dalam pelayanan?
Banyak, tetapi peristiwa Pringsurat itu indah sekali. Oom nabrak anak. Seminggu sebelumnya ada orang nabrak anak, mata dicungkil. Anak itu kami bawa ke RS di Magelang. Bapaknya ikut. Lalu Oom bilang, “Ayo aku antar lagi ke Pringsurat.” Eh, bapaknya malah bilang “Maaf ya Pak, anak saya bikin repot Bapak”. Bayangkan, padahal kita nabrak. Sampai di Pringsurat ibunya bilang, “Pak ini payungnya yang dipake mayungin anak saya”. Banyak yang tidak percaya bahwa Oom kembali lagi ke Pringsurat. Setelah itu Oom bilang, “Aku sudah nabrak, tapi mereka baik sekali. Aku bisa balas apa? Uang? Tapi seberapa? Ayo, kita beritakan Injil. Maka setiap Sabtu, kami berdua ke Pringsurat. Sampai sekarang mereka punya SMP dan gereja. Jemaatnya 300 orang, dan sudah 4 hamba Tuhan dari sana.
Oom dan Tante semakin berumur. Bagaimana soal tongkat estafet di GBI Gajah Mada?
Jimmy (Oentoro) juga usul soal pengalihan tongkat estafet ke Natanael. I am glad. Tapi saya tetap ikut serta melayani di bidang saya, misalnya dalam bidang konseling pada orang-orang yang lanjut usia.
Apa impian Tante yang belum kesampaian?
Rumah mukjizat dan penuaian jiwa-jiwa. Karena dulu Oom dapat visi tentang ini. Impian kami masih hal ini. Kalau ada mukjizat, pasti tuaian terjadi.
Arianto Wibowo - Pendeta? Kalau Panggilan Mengapa Tidak?
Oleh Rumintar S
Print Email
Maka berangkatlah ia ke gereja mengikuti misa. “Waktu saya kecil sebenarnya Tuhan sudah memperkenalkan diri-Nya pada saya. Saya iseng-iseng ikut doa, pas acara misa. Saya ingat betul waktu itu ada perjamuan kudus. Saya berdoa pada Yesus, untuk pertama kalinya. Setelah doa, ada satu sukacita yang luar biasa saya rasakan. Sepertinya semua beban saya terangkat.”
Menurutnya yang kala itu masih bocah berusia 10 tahun, ia sadar betul bahwa Tuhan itu memang ada. Ari tak perlu banyak bukti untuk tahu keberadaan Tuhan. Tapi hal itu tak serta membuatnya percaya dan menjadi pengikut Kristus. Jalannya masihlah panjang sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengikut Yesus.
PERTOBATAN DAN KOMIT KOMSEL
Pemeran utama sinetron terpanjang, Tersanjung, mengawali karir di dunia seni lewat sebuah pertunjukan operet tahun 1986. Sejak tahun itulah namanya meroket dan bersinar. Maka tak salah kalau ia mendapat banyak penghargaan karenanya. Sebut saja “Bintang Sinetron Pria Berbinar 2001” dari Tabloid Buletin Sinetron atau “Bintang Pria Paling Tampan”, “Bintang Pria Paling Jantan”, “Bintang Pria Paling Disukai hasil Survey Frontier”, Majalah Cakram 2001.
Selanjutnya berbagai pekerjaan seni pun “melamarnya”. Mulai dari peragawan, foto model, film, sinetron bahkan ia sempat tergabung dalam sebuah group vokal, Cool Colors yang sempat membuat satu album.
Tak perlu menunggu lama kehidupan glamour dan kelimpahan materi pun direguknya. Setelah semua harta dunia di perolehnya, pria kelahiran 26 Desember 1970 ini justru merasakan sesuatu yang kurang dalam diri dan hidupnya.
“Saya hidup di dunia entertainment, kecenderungan yang dikejar sebagai manusia adalah karir. Kalau karir bagus apalagi tujuannya kalau bukan berpenghasilan besar. Tuhan pun kasih itu ke saya, ya nama, harta dan bahkan bisa jadi ikon. Penghasilan pun sudah sangat mencukupi, boleh dibilang tak ada yang kurang,” jelas adik ipar Katon Bagaskara ini panjang lebar.
Tak cukup hanya di situ, menurutnya Tuhan pun masih memberikannya lebih lagi seperti berbagai penghargaan bergengsi. Singkatnya semua keinginannya dulu sebelum ia menjadi selebriti telah dicapainya. Namun setelah semua itu tercapai suami Inge Nugraha ini hanya berujar, “Hanya seperti inikah rasanya?” Baginya ada sesuatu yang masih saja kurang dan dicarinya.
“Setelah semua keinginan tercapai, saya baru sadar bahwa manusia seringkali mengejar hal yang salah. Karena saya pernah ada di zona seperti itu, saya ingin menyadarkan orang lain termasuk teman-teman saya agar jangan hanya mengejar materi,” papar bungsu dari dua bersaudara ini.
Alasannya sederhana saja, banyak manusia yang mengejar keinginannya seumur hidup dan belum tentu mendapatkannya. “Kalau sudah begini, berarti banyak orang yang hanya menghabiskan waktunya seumur hidup untuk mengejar keinginan. Dan bukan tak mungkin segala cara dihalalkan demi keinginannya. Dan ini salah besar!”
Selain itu pria yang mempunyai motto Smile a lot it costs nothing and is beyond price ini juga mengakui selain arti hidup, Tuhan juga memberikannya selamat dari kecelakaan yang cukup fatal. “Saya menyadari harus bertobat setelah tiga kali kecelakaan. Mobilnya hancur total dan sebenarnya saya tak mungkin selamat, tapi ajaib saya selamat. Kalau dipikir nggak mungkin!”
Kini setelah menjadi pengikut Kristus, buah pertobatannya ia tunjukkan dengan sebuah komitmen untuk aktif dalam kelompok sel atau komsel. Itulah wujud pertobatan dan kasihnya pada Tuhan Sang Penyelamat. “Komsel sudah berjalan 4 tahun dan untuk ini saya komit sampai saya berani tidak menerima pekerjaan hari komsel tersebut. Tujuannya nggak muluk-muluk. Saya ingin kenal Tuhan lebih dekat lagi, ini semua hasil kerja Roh Kudus,” katanya singkat.
Bukan hanya aktif di komsel tapi juga dalam kesehariannya. Bukan pula dengan kata-kata. Ia berprinsip action speaks louder than words. Ia memang tak langsung bicara secara frontal tentang Yesus yang mengubah hidupnya, “Lewat perbuatan saja, biar mereka pada bisa melihat. Perbuatan lebih nyata dari kata-kata. Tapi kalau ditanya mendalam saya pasti cerita dan intinya tidak memaksa, karena Tuhan pun tidak mau kita memaksa.” Dari semua yang dilakukannya misalnya kesaksian, ia hanya berharap hal tersebut dapat memberi dampak yang baik bagi banyak orang.
MAKIN SUKSES
Menyoal popularitas yang diburu banyak bintang, Ari sama sekali tak takut pamornya turun karena ketaatannya pada Tuhan. Hal terpenting baginya adalah melakukan pekerjaan yang ada dengan sebaik mungkin. Soal turun pamor ia siap dengan semua yang sudah menjadi risiko pekerjaannya. “Kalau memang sudah selesai, saya sudah siap dan bukan masalah besar. Saya juga sudah mempersiapkan secara mental dan materi,” ulasnya ringan.
Aktor yang masih menunggu waktu untuk kembali syuting lantaran mengurus pernikahan dan bulan madunya, punya cara sendiri menanggapi gosip seputar dirinya. Ia menjelaskan dengan santun bahwa apa pun yang dilakukannya pasti selalu mengundang pro dan kontra. Dan tak ada yang dapat mengendalikan mulut orang.
Menapaki sukses di dunia seni peran sama sekali tak membuatnya berkeinginan untuk menggunakan aji mumpung. Bahkan ketika ditanya mengenai keikutsertaannya dalam group vokal Cool Colors, ia berujar, “Saya memang serius nyanyi sekaligus menyadari bahwa menyanyi bukanlah main job. Saya hanya berusaha mengembangkan talenta. Dan bukan aji mumpung, karena saya tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun dengan alasan itu.”
Pertobatan membuatnya makin dekat dengan firman dan tahu mana yang baik dan benar dan mana yang kelihatannya baik dan asal benar. Berbekal firman, ia pun meninggalkan dunia malam yang sudah lama diakrabinya. Dan dalam proses itulah imannya diuji.
Kasihnya pada Tuhan lagi-lagi diuji saat ia benar-benar berusaha menaati firman Tuhan. Salah satunya ketika ia memutuskan untuk berhenti main sinetron laga yang notabene menjadi sumber penghasilan terbesarnya kala itu. “Setelah terima Tuhan akhirnya berhenti main laga, ini kan terkait penghasilan tapi saya harus berhenti main laga. Di laga saya sama dengan mempromosikan kekerasan sedangkan Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi musuh.”
Ia pun bergumul untuk membayar pajak dan persepuluhan. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukannya lagi-lagi itu karena firman Tuhan yang mengajarkannya. “Bayar pajak dan persepuluhan sebenarnya merugikan secara penghasilan, tapi saya lihat Tuhan tetap mencukupi kebutuhan saya. Saya melangkah dengan iman seperti Petrus yang disuruh berjalan di atas air. Karena iman, ia mampu melakukannya .”
Seolah tak berhenti sampai di situ. Kembali imannya diuji di dunia hiburan. Pernah seseorang berkata kalau ia pindah agama dan militan ia tak akan “laku” lagi. Menanggapi pernyataan demikian, bak seorang pendeta ia menjawab, “Bagi saya Tuhan tetap nomor satu. ‘Laku’ atau tidak semua ada di tangan Tuhan. Dan keputusan tersebut saya jalankan, hasilnya, bukannya sombong ternyata makin sukses.”
Kesuksesannya tentu membuat bintang bergaya hidup sehat ini makin dikenal luas. Akibatnya keberadaannya selalu ingin diketahui. Bahkan tak sedikit orang yang ingin melihatnya dari dekat akhirnya mencari-cari di mana Ari beribadah dan bersaksi. “Bagi saya itu tidak masalah. Minimal setelah mereka pulang, mereka membawa Kristus dalam hatinya.”
Dengan imannya yang makin kuat ia tak berani banyak komentar ditanya apakah ia akan menjadi pendeta satu hari kelak. “Saya berani mengklaim saya aktor, tapi saya berusaha jadi orang Kristen yang baik juga. Bukan berarti harus jadi pendeta untuk menunjukkan kita taat. Tapi kalau memang panggilannya ke sana, mengapa tidak? Semua itu juga tergantung kesiapan saya. Karena itu tidak mudah,” katanya disusul sebuah senyuman.
KELUARGA BARU
Misa 3 April 2005 di Melbourne, Australia, menjadi momen yang berarti dan tak terlupakan bagi Ari dan Inge. Peristiwa religius tersebut membuat keduanya mengikrarkan janji sehidup semati dalam janji pernikahan suci yang berlangsung beberapa waktu lalu.
Maka wajarlah saat ditanya mengenai obsesi dalam hidupnya, tak berapa lama sebelum ia melangsungkan pernikahannya, “Yang lain nggak ada selain membentuk keluarga bahagia. Keluarga yang sehat secara jasmani dan rohani.”
Ditanya apa yang membuatnya jatuh hati pada gadis berparas manis itu, ia tak menapik selain faktor outternya yang memang indah, sisi inner beautynya pun memang terpancar. “Dia cinta Tuhan dan pintar. Ia juga sangat rendah hati. Dan chemistrynya juga ada,” ujarnya menutup percakapan yang tak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan saat Bahana hendak wawancara mentor rohaninya, Pdt. Hosea Budhi Kurniawan, yang juga penulis buku Terobosan Hidup. (Rum)
Pdm. Thomas Goenawan - Terima Kasih, Bang Paul!
Oleh Niken Maria Simarmata
Print Email
NEKAT MERANTAU
Sering kudengar dari teman-teman bahwa Jakarta, kota terbesar di Indonesia itu banyak peluang. Asal mau kerja, nggak bakal kelaparan. Ah, dari hasil kerjaku aku mau mengumpulkan uang biar bisa menyelesaikan sekolah.
Tahun 1984 aku ke Jakarta diantar ibu. Orangtuaku memang menitipkan aku pada pada Kel. W.L. Siagian teman bapak di Medan. Tugas utamaku menjaga rumahnya yang kosong dan memotong rumput.
Rumah Pak Siagian dekat sekali dengan sekolah. Tiap pagi murid-murid itu melewatinya, begitu juga saat mereka bubar sekolah. Biasanya aku langsung ‘ngacir’ ke dalam, berhenti sejenak memotong rumput atau pekerjaan lain yang terlihat oleh mereka. Ada perasaan malu. Aku memandangi mereka dari kejauhan, oh senangnya sekolah! Tuhan, doaku saat itu, suatu saat nanti aku bisa menyelesaikan sekolahku, kabulkanlah permohonanku.
Setahun kemudian keluarga Siagian pindah ke Jakarta tugasku bertambah, masak dan mencuci. Mereka memperlakukanku dengan baik. Setelah satu setengah tahun bekerja, aku ingin keluar dan mencari pekerjaan baru. Dalam bayanganku, ngamen. Sepertinya bisa lebih ‘bebas’ dan suaraku, banyak yang bilang lumayan bagus.
BERTEMU BANG PAUL
Aku banyak kenal dengan saudara-saudara majikanku. Salah satunya adalah bang Paul Marpaung yang masih kuliah di semester akhir. Kami sering ngobrol. Akrab. Makanya aku tak sungkan mengutarakan niatku keluar dari rumah itu. Bang Paul tersentak dengan keinginanku. Aku tak mengira ia sangat memberi perhatian besar padaku. Hatinya berat melepaskanku begitu saja. Ia sangat takut kalau hidupku tak tentu arah, menggelandang. Bang Paul menahanku. Ia lantas mengurus KTP Jakarta yang sangat berharga bagiku dengan mencantumkan namaku dalam Kartu Keluarganya. Dan, Bang Paul juga membuatkan SIM untukku. Semua biaya itu ditanggungnya. Setidaknya, dengan SIM yang kumiliki itu aku bisa bekerja sebagai supir. Setelah Bang Paul ‘membekaliku’ ia pun melepaskan dengan harapan aku punya masa depan lebih baik.
Tuhan menjawab doaku, beberapa tahun kemudian,1989 aku masuk sekolah malam dengan biaya sendiri. Ijasah SMA ditanganku !
Bang Paul, peristiwa 21 tahun itu selalu terpateri dalam hidupku. Aku selalu mengingat kebaikanmu. Sayang aku kehilangan kontak dengan orang yang telah berjasa itu. Ku berharap lewat majalah Bahana ini, Bang Paul membaca dan menghubungiku…
Begitu banyak berkat melimpah dalam hidupku. Peristiwa demi peristiwa menerpaku dan memperlihatkan kuasa Allah yang tak pernah berhenti. Banyak yang tak pernah terlintas dalam pikiranku, diberikan Tuhan bagiku. Selain bekerja di Hosana Record, aku memiliki beberapa album rohani. Bahkan kedua anakku Priska dan Jeremy melayani Tuhan melalui pujian dan telah pula punya album rohani.
Ir. Paul Marpaung, di mana dirimu? Aku ingin mengucapkan berjuta terima kasih. Bang Paul, engkau telah dipakai Tuhan. Perhatianmu saat itu sangat berharga bagi hidupku.
(Niken)
Preman Itu Bertobat
Oleh GS Purwanto
Print Email
Sebagai kepala keamanan ia mengutip uang jasa dari para penambang dan sopir truk yang datang mengangkut pasir. “Untuk jasa keamanan. Supaya jalan mereka lancar-lancar saja. Pergi selamat, pulang juga selamat,” kata Ismanto tentang tugasnya.
Berbagai pekerjaan telah Ismanto jalani. Ada yang halal, ada yang tidak. Tukang kayu, tukang gali pasir, sampai debt collector. “Badan saya besar, dan punya nyali. Saya juga pernah diajak untuk ngrampok orang yang baru ambil uang 1,5 milyar di bank. Tapi saya tidak berani,” ujar Ismanto.
Rumus tukang tagih, kalau secara halus tidak berhasil, ya dengan ancaman. Kalau ancaman belum mempan, pakai kekerasan. “Saya ini punya dua anak, tapi tidak punya pekerjaan tetap. Terpaksa kalau ada yang nawarin nagih utang atau nagih kredit motor yang nunggak, saya jalani,” kata Ismanto.
MABUK DAN JUDI
Ikat kepala Ismanto berwarna biru langit, melambai-lambai ditiup angin. Kata orang-orang, ikat kepala Ismanto ada “isi”nya. Ikat kepala itu berisi daya linuwih biar kebal dibacok senjata tajam. Berani taruhan, kata orang-orang, Ismanto tak mempan dibacok. Kesukaannya berjudi dan minum minuman keras kian menebalkan kepremanannya. Begitu dapat duit, langsung dihamburkan di meja judi atau mabuk-mabukan. Duit habis, cari lagi, nagih lagi. Begitulah Ismanto. Ia gampang dimanfaatkan karena keterbatasan pengetahuan dan kegemarannya berjudi dan minum mabuk.
Setelah sadar dari mabuknya, Ismanto mengaku sangat stres melihat istri dan anak-anaknya. Hatinya seperti teriris-iris. Harga dirinya sebagai kepala keluarga jatuh. Saat ia tidak kuat lagi menahan beban. Ia mabuk lagi.
DICARI POLISI
Seperti suatu petang di Bulan Februari lalu. Seharian berkeliling nagih, tak satu pun yang berhasil. Ismanto stres. Di sakunya tersisa Rp10 ribu. Ia beli minuman dan mabuk. Sesampai di rumah, istrinya ngomel nggak karuan. Hati Ismanto panas. Ia marah dan memukul istrinya.
Kekerasan yang dilakukan Ismanto berujung kantor polisi. Ia dikejar-kejar polisi. Bahkan mau ditembak. Tapi Ismanto berhasil lolos dan bersembunyi di gunung selama tiga hari. Betapa, tiga hari itu menjadi siksaan berat. Tidak ada makan, dan hujan terus-menerus turun. Hatinya yang rindu ingin bertemu anak-anak memaksa Ismanto turun.
Tak tahu apa yang harus diperbuat. Mau menyerahkan diri ke polisi, belum berani. Mestinya dia dipenjara, tetapi sang istri menarik laporannya. Ia masih menerima Ismanto apa adanya, meski sudah diperlakukan dengan buruk. Kata Ismanto, ia berkirim surat melalui anak pertamanya, apakah sang istri masih mau menerima dirinya? “Istri saya bilang, katanya mau menerima diri saya asal tidak mengulangi perlakuan buruk itu,” kata Ismanto. Kamisah yang telah berbagi suka-duka bersamanya sejak tahun 1991 itu menerima Ismanto kembali. Kata Ismanto istrinya benar-benar punya “ati segoro”. Hati seluas samudra yang bersedia mengampuni.
Setelah semua urusan selesai , mereka serumah lagi. Rumah sederhana yang dibangun Ismanto, sedikit demi sedikit dari usahanya bersama istri yang berjualan kerajinan di pasar. Rumah itu berada sekitar 150 meter dari tempuran Sungai Opak dan Oyo.
LULUH-LANTAK
Sabtu subuh 27 Mei 2006 itu, ketika pagi masih dingin, ketika Ismanto, Kamisah, Dadan Renggalen dan Rengga Dwi Wijaya dua anak mereka belum bangun dari tidur, gemuruh tembok-tembok runtuh dan teriakan minta tolong menguar. Ismanto terlempar kesana-kemari tanpa tahu penyebabnya. Yang dia rasakan, tanah tempat berpijak bergerak bergelombang. Gempa 5,9 SR itu menghancurkan rumah mereka, kurang dari satu menit.
Pikirnya rumah mereka saja yang runtuh. Ternyata seluruh kampung rata dengan tanah. Hampir tak ada bata yang utuh, kata Ismanto. Tetapi puji Tuhan, Ismanto bersama istri dan kedua anaknya keluar dari reruntuhan tanpa luka yang serius. Tiga warga di dusun itu meninggal.
Ismanto tercengang ketika koran dan televisi memberitakan episentrum gempa terletak di tempuran Kali Opak dan Oyo. Berarti tempat tinggal Ismanto berada persis di pusaran gempa. Sekali itu dalam hidup Ismanto, otot-ototnya lemas. Kalau mereka masih selamat, betapa Tuhan masih berbelaskasih kepada mereka. “Saya nangis, Mas. Kami persis di pusat gempa, tetapi masih selamat. Kalau Tuhan tidak berkenan, kami sudah mati semua,” ujar Ismanto berkaca-kaca.
MEMBACA PRATANDA
Ismanto belajar membaca pratanda. Apa maksud Tuhan membiarkan mereka selamat? “Saya bukan umat yang taat, tetapi saya yakin Tuhan punya maksud baik dengan menimpakan bencana ini. Itu berarti masih ada kesempatan bagi kami, terutama saya, untuk memperbaiki hidup,” ujar Ismanto.
Ismanto sejenak menoleh ke belakang. Ia ingin menanggalkan manusia lama dalam dirinya. “Saya kejam terhadap keluarga. Saya mohon ampun. Saya mau bertobat. Saya tidak akan minum lagi. Saya tidak akan berjudi lagi. Saya ingin memperbaiki hidup saya,” janji Ismanto.
(Seperti dituturkan Ismanto kepada GS Purwanto)
Pauwna Wijaya - Sembuh dari Kanker
Oleh Niken Maria Simarmata
Print Email
“Pak Michael langsung mengajak saya periksa ke Singapura. Saya orang yang sangat takut dokter dan naik pesawat karena takut ketinggian. Tapi bos saya terus mendorong saya untuk periksa. Hasil CT Scan, saya terkena kanker stadium tinggi. Kata dokter, ginjal kiri saya harus dibuang. Saya benar-benar takut dan bingung, Di situlah saya ingat Tuhan”.
Sebelum operasi, Pauwna pulang ke Indonesia lebih dahulu menyiapkan segalanya. Banyak hal yang terjadi ketika pulang. Situasi di rumah berubah. Pauwna dan istrinya stres berat. Mereka terguncang. Hal ini terlihat jelas di mata anak-anak. Anak sulung mereka pernah bertanya, Kenapa Papa dan Mama murung? “Hati saya makin terpukul mendengar perkataan anak saya itu. Saya bilang pada istri untuk tidak cerita masalah ke saudara-saudara. Terus terang, saya khawatir, mereka akan menyarankan saya pergi ke dukun. Keputusan saya waktu itu adalah berserah penuh pada Tuhan Yesus,” kata bapak dari Vania Carissa Wijaya dan Vanessa Callista Wijaya.
Dunia begitu kelam. Pauwna seolah berada dalam lorong gelap yang menakutkan. Pendarahan luar biasa terjadi pada 17 April 2005 dari jam 12.00-22.00. Darah berceceran di lantai kamar mandi. Kadang keluar gumpalan darah yang cukup besar.
Dari saluran air seni darah terus keluar. Saking sakitnya Pauwna lari bolak-balik dari kamar mandi ke kamar tidur. Keringat dingin tmembasahi kaos yang dipakainya. Pernah dalam sehari ganti kaos sebanyak 20 kali. “Anak saya bingung, kenapa Papa lari-lari? Saya bilang Papa lagi olah raga. Padahal saat itu saya sedang menahan sakit yang amat sangat”.
PENDARAHAN BERHENTI
Ia menjerit pada Tuhan. Pauwna memohon, beri saya kesempatan ya Tuhan, beri saya kesempatan. Ampunilah saya…Kalau Tuhan berkenan, sembuhkanlah saya malam ini. Tubuh Pauwna lemah. Beberapa saat kemudian sesuatu terjadi. Ajaib! Rasa sakit sirna. Darah berhenti berganti cairan bening. Pauwna melihat semua itu seperti mimpi, mukjizat!
Galau. Pikiran Pauwna tak menentu. Kesedihan dan ketakutan di hatinya berkecamuk. Jiwanya menjerit. Ada beban berat yang tak mampu ditanggungnya. Ia sadar anak-anaknya masih sangat kecil untuk tahu yang sebenarnya. Ia seperti berada di antara hidup dan mati. Kecil, tak berdaya.
Pauwna teringat peristiwa demi peristiwa dalam hidupnya. Selama ini ia telah banyak melukai Tuhan. “Saya kurang ajar sama Tuhan. Istri saya adalah orang yang takut Tuhan. Rajin sekali ke gereja. Tapi saya memberi pengaruh buruk padanya dan juga anak-anak kami. Setiap kali mereka membangunkan saya untuk pergi ke gereja, saya malas bangun. Saya tawar, entar sore aja. Tapi saat sore hari, semua sudah siap ke gereja, saya tuh bisa alihkan jadi jalan-jalan ke mal. Batal kebaktian. Dari minggu ke minggu ada saja alasan untuk bolos ke gereja. Seminggu, sebulan sampai setahun. Saya telah melakukan kesalahan besar. Menjadi kepala keluarga yang sangat tidak baik”.
OPERASI GINJAL KIRI
Sebagian darah ditampung di kantung plastik dan dibawa ke Singapura untuk ditunjukkan dokter yang akan menangani operasi ginjalnya. Dokter kaget, Pauwna mengalami pendarahan berat, tapi kondisi tubuhnya masih baik bahkan bisa pergi ke Singapura. 21 April 2005 Pauwna menjalani operasi yang berjalan dengan baik selama 4,5 jam dan rawat inap 20 hari ditemani istri. Selesai masalah? Tidak. Pauwna menghadapi masalah baru. Kanker itu ternyata sudah menjalar ke paru-paru dengan empat noktah. Dokter berkata, Pauwna memasuki kanker stadium 4. Harapan untuk hidup sangat tipis. Meski terguncang kembali, Pauwna lebih tenang. Ia percaya bahwa Tuhan sedang bekerja bagi hidupnya. Ia terus menenangkan istrinya untuk tetap bersandar dan yakin akan pertolongan Tuhan.
Dalam hati Pauwna berjanji akan sungguh-sungguh menjadi murid Tuhan. Ia bertobat. Meninggalkan cara hidup yang salah. Tidak saja mencukupi kebutuhan jasmani keluarga yang selama ini ia penuhi, tapi ia juga mau menjadi imam dalam keluarga. Membawa istri dan anak-anaknya untuk lebih dekat kepada Tuhan. Begitu juga terhadap keluarga besarnya. Selama ini yang dilakukannya adalah mengenalkan Yesus pada orangtua dan adik, tapi ia sendiri tidak bisa jadi teladan. “Saya sering antar mama dan papa ke gereja, tapi saya sendiri tidak ikut kebaktian. Ngantar terus pulang”
MENJALANI KEMOTERAPI
Pria kelahiran Sukabumi 17 Oktober 1959 itu bolak-balik ke Singapura untuk kemoterapi sebanyak 9 kali sejak Mei sampai September 2005. Mukjizat terjadi, baru dua kali kemo, 4 noktah di paru hilang. Dokter heran, ini sesuatu yang luar biasa, sangat luar biasa. Biasanya kanker di paru-paru sulit hilang. Selama menjalani kemoterapi, Pauwna sulit makan dan kerap muntah-muntah. Badan panas dingin. Perut mual-mual tak karuan. Rambut rontok hingga kepala Pauwna botak. Selama lima jam dikemo Pauwna merasa seperti bertarung antara hidup dan mati.
SUKACITA MELIMPAH
Sukacita Pauwna tak terbendung. Ia ingin berceritera kepada banyak orang tentang kuasa Tuhan dan kebaikan-Nya. Dorongan untuk berdoa bagi orang-orang yang sakit sangat kuat di hati Pauwna. Ia merasakan betapa susah dan ketakutannya orang-orang yang mengalami seperti dirinya. Pauwna juga ingin mengatakan bahwa hidup dan mati seseorang itu betulbetul dalam tangan Tuhan. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi ia hidup. Dan pertanyaan yang muncul, ke manakah manusia setelah mati? Pauwna yakin, jalan keselamatan hanya di dalam nama Yesus. Pauwna ingin menyampaikan pada orang lain tentang Yesus yang ia percayai.
“Di rumah sakit, saya bertemu suami istri, si bapak namanya Adenan menderita kanker stadium tinggi. Wajahnya benar-benar murung. Saya ngobrol tentang kebaikan dan kuasa Tuhan. Mendorongnya untuk berserah pada Tuhan. Saya bilang, saya punya Yesus dan ingin berbagi kepada bapak-ibu untuk berdoa dalam nama Yesus. Pak Adenan mengangguk karena memang susah bicara.” Ia menangis. Saya pun menangis karena heran bisa berdoa bagi orang lain. Itulah pertama kali saya mendoakan orang lain,” tutur suami Melinda Stephanie Halim.
Sesampai di Jakarta, Pauwna mengajak beberapa teman, majelis dan pendeta di Gereja Kristus Kelapa Gading mengunjungi dan melayani Pak Adenan. “Pak Adenan berkata mulai saat itu ia akan berdoa di dalam nama Yesus. Meskipun akhirnya Pak Adenan meninggal, kami bersukacita karena ia sudah di tangan Yesus,” kata Pauwna yang sering bersaksi di gereja-gereja mengenai pertolongan Tuhan.
Beberapa bulan lalu, Pauwna kembali ngecek paru-parunya. Bersih! Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa yang terjadi dalam diri Pauwna adalah sebuah mukjizat.
Pauwna tak hanya sembuh secara fisik. Pikiran dan cara pandang yang salah juga telah ‘sembuh’. “Berdoa, ke gereja bersama keluarga adalah hal yang sangat membahagiakan. Kami mau menyembah Tuhan Yesus dan mengutamakan Dia sepanjang hidup kami”.
(Niken)
Sari Simorangkir - Batal Jadi Penyanyi Sekuler
Oleh Rumintar S
Print Email
Sampai akhirnya ia bergabung dengan group vokal VOG, di mana semua anggotanya punya visi yang sama, “Kita mau memberkati generasi muda dengan lagu-lagu positif walaupun tidak menampilkan nama Tuhan secara langsung. Intinya kita ingin penginjilan. Entah mengapa, seiring waktu, ternyata agak tersendat di sekuler. Kita dikontrak untuk 6 album tapi yang terealisasi hanya satu.” Tapi pemilik album bertitle 3131 ini tak berkecil hati. Ia tetap dapat menikmati berbagai pelayanan yang Tuhan percayakan padanya dalam bidang tarik suara karena bernyanyi adalah nafas hidupnya.
(Rum)
Mery Kasiman - Dari Kecil Suka Piano
Oleh Rumintar S
Print Email
Menyoal permainan jari lentiknya di atas tuts piano jemaat GKI Pondok Indah ini hanya berujar, “Aku suka banget piano, karena suaranya indah. Selain itu aku dari kecil memang sudah belajar piano. Dan benar-benar interest waktu SMA.” Karena kecintaannya pada piano itulah cewek kelahiran 29 November 1982 ini rela berhenti kuliah dari UPH untuk mendalami musik di Institut Musik Daya. (Rum)
Billy Glenn - Kacang Lupa Kulitnya
Oleh Rumintar S
Print Email
Model yang masih wara-wiri di catwalk ini tengah menikmati hubungannya dengan Tuhan yang sempat dilupakannya. “Dari dulu, bahkan sejak kecil saya memang selalu mengandalkan Tuhan mulai dari ikut model sampai sinetron dan film. Tapi belakangan justru saya melupakan kebaikan Tuhan.”
(Rum)
Deedee - Memilih Bidang Akademis Ketimbang Artis
Oleh Rumintar S
Print Email
Itu sebabnya di masa mendatang harapan dan cita-citanya adalah bekerja sesuai bidang akademisnya. Kendati sekarang menyibukkan diri dengan berbagai kursus, ia sebenarnya tengah mematangkan rencana masa depannya. “Saya lebih fokus sekolah aja. Rencana kuliah sih pasti, tapi belum tahu kuliah di mana. Yang pasti saya pilih jurusan design grafis,” ujar dara yang hobi melukis ini.
(Rum)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home