Monday, October 09, 2006

Artikel Sore Oktober !!!

Apa itu karunia berbahasa lidah?




Pertanyaan: "Apa itu karunia berbahasa lidah? Apakah karunia bahasa lidah berlaku untuk zaman sekarang? Bagaimana dengan berdoa dalam bahasa lidah?"



Jawaban: Bahasa lidah pertama kali terjadi pada Hari Pentakosta dalam Kisah Rasul 2:1-4. Para rasul keluar dan membagikan Injil dengan orang banyak dan berbicara kepada mereka dalam bahasa mereka masing-masing, “kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah!” (Kisah Rasul 2:11). Kata Bahasa Yunani yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “lidah” secara harafiah berarti “bahasa” sebagaimana diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Karena itu, karunia berbahasa lidah adalah karunia untuk berbicara dalam bahasa yang si pembicara tidak kuasai supaya orang yang mengerti bahasa tsb dapat dilayani. Dalam 1 Korinuts 12-14 di mana Paulus mendiskusikan karunia-karunia yang ajaib, dia berkomentar bahwa “Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?” Menurut Rasul Paulus, dan sesuai dengan bahasa lidah dalam kitab Kisah Rasul, bahasa lidah berguna bagi orang yang mendengar berita dari Tuhan dalam bahasa mereka sendiri, namun tidak ada artinya bagi orang lain, kecuali kalau dijelaskan/diterjemahkan.

Orang yang memiliki karunia untuk menafsirkan bahasa lidah (1 Korintus 12:30) dapat mengerti apa yang dikatakan orang dalam bahasa lidah sekalipun dia tidak mengerti bahasa itu sendiri. Penafsir bahasa lidah kemudian akan menjelaskan berita yang disampaikan dalam bahasa lidah itu kepada orang-orang lain sehingga semua orang bisa mengerti. “Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya” (1 Korintus 14:13). Konklusi Paulus mengenai bahasa lidah yang tidak ditafsirkan sangat kuat. “Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” (1 Korintus 14:19).

Apakah karunia berbahasa lidah berlaku untuk zaman sekarang? 1 Korintus 13:8 mengatakan bahwa karunia bahasa lidah sudah berakhir, walaupun berakhirnya itu dihubungkan dengan datangnya
“yang sempurna” dalam 1 Korintus 13:10. Sebagian orang melihat berkurangnya nubuat dan berhentinya bahasa lidah sebagai bukti bahwa bahasa lidah akan berakhir sebelum “yang sempurna” itu datang. Walaupun ini mungkin, namun hal ini tidak jelas dalam ayat ini. Sebagian orang menunjuk pada ayat-ayat seperti Yesaya 28:11 dan Yoel 2:28-29 sebagai bukti bahwa bahasa lidah adalah tanda dari datangnya penghakiman Tuhan. 1 Korintus 14:22 menjelaskan bahwa bahasa lidah adalah “tanda bagi yang tidak percaya.” Menurut jalan pikiran ini, karunia bahasa lidah adalah peringatan bagi orang-orang Yahudi bahwa Allah akan menghakimi Israel karena penolakan mereka terhadap Mesias. Karena itu waktu Tuhan betul-betul menghakimi Israel (dengan hancurnya Yerusalem pada tahun 70 AD di tangan Roma), karunia bahasa lidah tidak lagi diperlukan. Walapun pandangan ini mungkin, terpenuhinya maksud utama dari bahasa lidah tidak berarti bahasa lidah harus berakhir. Alkitab tidak pernah secara konklusif menyatakan bahwa karunia berbahasa lidah telah berakhir.

Pada saat yang sama, kalau karunia bahasa lidah masih aktif dalam gereja zaman ini, karunia itu harus dilakukan sesuai dengan Kitab Suci. Bahasa lidah harusnya merupakan bahasa yang sebenarnya dan bisa dimengerti (1 Korintus 14:10). Bahasa lidah dimaksudkan untuk mengkomunikasikan Firman Tuhan dengan orang dari bahasa yang berbeda (Kisah Rasul 2:6-12). Bahasa lidah harus sesuai dengan perintah yang Tuhan berikan melalui Rasul Paulus, “Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah” (1 Korintus 14:27-28). Bahasa lidah juga harus tunduk kepada 1 Korintus 14:33, “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1 Korintus 14:33).

Sudah tentu Allah dapat memberi orang karunia berbahasa lidah untuk memampukan orang tsb berkomunikasi dengan orang yang berbahasa lain. Roh Kudus memiliki kedaulatan dalam membagikan karunia-karunia Roh (1 Korintus 12:11). Bayangkan saja bagaimana produktifnya para missionari kalau mereka tidak perlu ke sekolah bahasa dan dapat secara langsung berbicara kepada orang-orang dalam bahasa-bahasa mereka sendiri. Namun nampaknya Tuhan tidak bekerja seperti ini. Bahasa lidah tidak terjadi pada hari ini dengan cara yang sama dalam Perjanjian Baru sekalipun kalau terjadi itu akan sangat berguna. Kebanyakan orang-orang percaya yang mengaku berbahasa lidah tidak melakukannya sesuai dengan pengajaran Kitab Suci sebagaimana disebutkan di atas. Hal ini menghasilkan kesimpulan bahwa bahasa lidah sudah berakhir atau paling tidak jarang terjadi dalam gereja zaman sekarang.

Mereka yang percaya pada bahasa lidah sebagai “bahasa doa” untuk membangun diri sendiri mendapatkan pandangan itu dari 1 Korintus 14:4 dan/atau 14:28, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat” (1 Korintus 14:4). Dalam pasal 14, Paulus menekankan pentingnya bahasa lidah ditafsirkan (diterjemahkan), lihat 14:5-12. Apa yang Paulus katakan dalam ayat 4 adalah “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat” (1 Korintus 14:4). Dalam Perjanjian Baru tidak diberikan instruksi untuk “berdoa dalam bahasa lidah.” Perjanjian Baru sama sekali tidak memberikan instruksi yang spesifik mengenai “berdoa dalam bahasa lidah,” atau secara khusus menggambarkan seseorang “berdoa dengan bahasa lidah.” Selanjutnya jika “berdoa dalam bahasa lidah” adalah untuk membangun diri sendiri, bukankah itu tidak adil untuk mereka yang tidak punya karunia itu dan karenanya tidak dapat membangun diri mereka? 1 Korintus 12:29-30 jelas mengindikasikan bahwa tidak semua orang memiliki karunia berbahasa lidah.

Apakah karunia berbuat mujizat berlaku untuk zaman sekarang?




Pertanyaan: "Apakah karunia berbuat mujizat berlaku untuk zaman sekarang?"



Jawaban: Pertama-tama penting untuk menyadari bahwa ini bukan mempertanyakan apakah Tuhan masih melakukan mujizat pada zaman sekarang. Adalah suatu kebodohan dan tidak Alkitabiah untuk mengatakan bahwa Allah tidak lagi menyembuhkan orang, berbicara kepada orang-orang dan melakukan mujizat dan tanda-tanda ajaib pada zaman sekarang. Pertanyaannya adalah apakah karunia berbuat mujizat yang digambarkan dalam 1 Korintus pasal 12-14 masih aktif dalam gereja pada zaman sekarang. Ini bukan mempertanyakan apakah Roh Kudus ”dapat” memberi seseorang karunia untuk berbuat mujizat. Pertanyaannya adalah, apakah pada zaman sekarang Roh Kudus masih memberikan karunia untuk berbuat mujizat. Lebih dari semua itu, kita mengakui bahwa Roh Kudus bebas untuk membagi-bagikan karunia sesuai dengan apa yang diinginkanNya (1 Korintus 12:7-11).

Dalam kitab Kisah Rasul dan Surat-surat, sebagian besar mujizat dilakukan oleh para rasul dan pembantu-pembantu dekat mereka. 2 Korintus12:12 memberi kita alasan mengapa demikian, “Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa.” Jika setiap orang percaya dalam Kristus diberikan kemampuan untuk melakukan tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa, maka tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa tidak dapat menjadi tanda pengenal seorang rasul. Kisah Rasul 2:22 memberitahu kita bahwa Yesus ”diakreditasikan” oleh ”tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa.” Demikian pula para rasul ”ditandai” sebagai utusan-utusan yang benar-benar dari Allah melalui mujizat-mujizat yang mereka lakukan. Kisah Rasul 14:3 mengatakan bahwa berita Injil ”dikonfirmasikan” oleh mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas.

1 Korintus pasa 12-14 pada pokoknya membicarakan topik karunia-karunia Roh. Dari teks ini kelihatannya bahwa orang-orang Kristen “biasa” kadang-kadang diberi karunia berbuat mujizat (12:8-10; 28-30). Kita tidak diberitahu berapa umum hal ini. Dari apa yang kita pelajari di atas, bahwa para rasul ”ditandai” dengan mujizat dan tanda-tanda ajaib, kelihatannya karunia berbuat mujizat diberikan pada orang-orang Kristen ”biasa” sebagai suatu kekecualian dan bukan kebiasaan. Selain para rasul dan pembantu-pembantu dekat mereka, dalam Perjanjian Baru tidak dikatakan orang-orang lain memiliki karunia berbuat mujizat.

Penting untuk diingat bahwa gereja mula-mula tidak memiliki Alkitab yang lengkap sebagaimana kita miliki hari ini (2 Timotius 3:16-17). Karena itu karunia bernubuat, pengetahuan dan kebijaksanaan, dll dibutuhkan agar supaya orang-orang Kristen mula-mula mengetahui apa yang Allah ingin mereka lakukan. Karunia bernubuat memampukan orang-orang percaya mengkomunikasikan kebenaran dan wahyu baru dari Tuhan. Sekarang setelah wahyu Allah lengkap dalam Alkitab, karunia yang bersifat ”pewahyuan” tidak lagi dibutuhkan, paling tidak dalam kapasitas seperti dalam Perjanjian Baru.

Allah secara ajaib menyembuhkan orang setiap hari. Allah masih berbicara kepada kita pada zaman sekarang, baik dengna suara yang kedengaran, maupun dalam pikiran kita, atau melalui kesan dan perasaan yang kita dapatkan. Allah masih melakukan tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa yang mengherankan, dan kadang-kadang melakukan mujizat-mujizat itu melalui orang Kristen. Namun demikian, apa yang dilakukan tidak selalu berarti itu adalah karunia melakukan mujizat. Tujuan utama dari karunia berbuat mujizat adalah untuk membuktikan bahwa Injil itu benar adanya dan bahwa para rasul adalah benar-benar utusan-utusan Allah. Alkitab tidak secara langsung mengatakan bahwa karunia mujizat sudah berhenti, namun memberikan dasar untuk memahami bahwa karunia itu mungkin tidak lagi dibutuhkan.


Karunia-karunia Roh Kudus
(The Gifts Of The Holy Spirit)

Topik tentang Karunia Roh Kudus merupakan salah satu topik Alkitab yang sulit. Karena itulah tidak heran jikalau banyak pengertian atau interpretasi yang keliru tentang topik ini terlebih di kalangan denominasi. Dalam belajar setiap topik Alkitab janganlah kita terlebih dahulu memihak pendapat seseorang. Hal itu akan mengakibatkan kita menutup pintu pikiran kita untuk menerima pendapat yang lain. Bukan berarti tidak boleh kita membaca dan memegang pendapat atau ide orang lain, silakan tetapi pendapat tersebut mestinya harmonis dengan Firman Tuhan. Sebab itu himbauan saya agar kita mempunyai hati yang terbuka dan belajar bersama lewat tulisan ini.
Berbicara tentang karunia-karunia Roh, saya akan membahas beberapa hal di bawah ini:
1. Jenis-jenis karunia Roh dan artinya.
2. Tujuan mengapa karunia-karunia Roh itu diberikan.
3. Bagaimana cara untuk memperoleh karunia-karunia Roh itu.
4. Durasi (jangka waktu berlakunya karunia Roh itu).


Jenis-jenis Karunia Roh Kudus dan Artinya

Berdasarkan 1 Korintus 12:7-11, kita dapat mengetahui adanya sembilan jenis karunia Roh Kudus yaitu:
1. Berkata-kata dengan hikmat.
Kata hikmat adalah Sofias dalam bahasa Yunani yang berarti hikmat atau kecerdasan. Hikmat yang demikian inilah yang diminta Salomo dari Allah sehingga dia mampu untuk menyelesaikan perkara dua orang perempuan sundal yang memperebutkan seorang anak (1Raja-raja 3:16-28). Yesus menubuatkan tentang penderitaan dan penganiayaan yang akan menimpa murid-muridNya sehingga Dia berkata Apabila kamu diperhadapkan kepada pemimpin-pemimpin jangan kuatir sebab Roh Kudus yang akan mengatakan perkataan-perkataan yang akan kamu ucapkan (Matius 10:28). Pada masa infansi gereja itu tentu hikmat atau kecerdasan untuk mengarahkan gereja itu sangat dibutuhkan terlebih apabila dilihat dari sisi para penolak-penolak kekristenan yaitu orang-orang Yahudi dan kafir. Tanpa mendapat hikmat dari Allah maka para rasul tidak akan dapat memberikan solusi pada masalah yang dihadapi oleh Jemaat abad pertama yaitu adanya sikap pandang rupa dalam memberikan kebajikan kepada janda-janda dengan melalaikan janda-janda keturunan Gerika (Kisah rasul 6).

2. Berkata-kata dengan Pengetahuan.
Kata pengetahuan dalam hal ini berasal dari kata Gnoseos (bahasa Yunani) yang dapat berarti pengetahuan atau mengingat-ingat. Roh Kudus memberikan kemampuan bagi orang percaya untuk mengingat perkara-perkara yang telah dikatakan oleh Yesus pada saat bersama-sama dengan mereka. Hal itu sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Yesus yang akan dilakukan Roh Kudus apabila Roh Kudus turun (Yohanes 14:26) “...... ialah akan mengajarkan kepadamu segala perkara itu dan akan mengingatkan kamu segala sesuatu yang Aku sudah katakan kepadamu.” Allah tidak ingin agar FirmanNya itu dilupakan begitu saja melainkan Dia menginginkan agar firmanNya itu tetap disimpan didalam hati setiap orang yang percaya (Kolose 3:16-17).

3. Karunia untuk Menyembuhkan.
Dalam Kisah Rasul 3, Lukas menuliskan penyembuhan seorang timpang yang dilakukan Petrus dan Yohanes pada pintu gerbang Bait Allah yang bernama Pintu Elok. Dalam ayat 6 Petrus berkata agar didalam nama Yesus orang tersebut dapat berjalan. Selanjutnya didalam ayat 7 dikatakan seketika (segera) itu juga dia berjalan dan tidak hanya itu saja melainkan dia juga meloncat sebagai tanda bahwa dia sembuh total. Petrus tidak harus teriak-teriak didalam nama Yesus lalu kelumpuhan itu berangsur-angsur pulih seperti yang dilakukan semua orang-orang yang mengatakan dirinya dapat melakukan penyembuhan. Karunia penyembuhan bukan semata-mata bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Karena jikalau demikian Paulus selayaknya telah menyembuhkan Teropimus yang ditinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus (2 Timotius 4:20). Mengapa dia tidak menyembuhkan padahal dia dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit? Karena karunia penyembuhan itu bukan menjadi tanda kepada orang percaya melainkan kepada orang yang tidak percaya.

4. Karunia Iman.
Karunia iman ini ditujukan kepada cara bagaimana seseorang itu percaya yaitu dengan mendengarkan firman Allah (Roma10:17) tentunya firman yang disampaikan langsung oleh Roh Kudus terhadap seseorang. Dalam tulisannya Paulus berkata “Roh Kudus berkata” (1 Timotius 4:1 ; Ibrani 3:7). Ini berarti bahwa adakalanya Roh Kudus berbicara langsung terhadap seseorang Kristen yang menjadikan iman orang itu semakin bertambah.

5. Karunia Mengadakan Mujizat.
Dalam teks ini kata mujizat berasal dari kata Yunani yaitu Dunaneon yang berarti kuasa atau kekuatan. Kata dunaneon ini biasanya ditujukan kepada ledakan yang maha dasyat tetapi juga ditujukan kepada suatu tindakan yang maha menakjubkan karena bersifat diluar kekuatan normal (supranatural). Kekuatan yang demikian hanya dimiliki oleh Allah. Nikodemus percaya kepada Sabda Kristus sesudah dia melihat mujizat (Yohanes 3:1, 2). Simon tukang sihir juga percaya kepada Pilipus sesudah dia melihat mujizat (Kisah Rasul 8:13).

6. Karunia bernubuat.
Dalam teks ini kata bernubuat adalah Propheteia yang berarti; 1. Menyatakan hal-hal yang pasti akan terjadi pada hari yang akan datang. 2. Ditujukan untuk mengajar. Dalam teks ini arti bernubuat cenderung ditujukan kepada tindakan seseorang yang mengajarkan firman Allah sesuai dengan apa yang dinyatakan Roh Kudus kepadanya. Hal itu dengan jelas digambarkan Paulus dalam 1 Korintus 4:4, 29-31.

7. Karunia untuk Membedakan Roh.
Karunia seperti ini ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk membedakan pengajaran. Dalam 1 Yohanes 4:1, 2 Yohanes menasehatkan orang Kristen abad pertama untuk menguji roh (pengajaran), tentu mereka harus mendapat karunia Roh agar dapat melakukannya.

8. Karunia Bahasa Roh.
Ditujukan kepada kemampuan seseorang berbicara dalam bahasa asing yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. Hal itu dikaruniakan Roh Kudus kepada orang-orang tertentu agar pemberitaan injil itu tidak terkendala hanya karena bahasa. Contoh yang tepat untuk ini terdapat pada Kisah Rasul 2:1-8.

9. Karunia untuk mengartikan Bahasa Roh.
Ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk mengartikan maksud firman Allah yang disampaikan oleh seseorang yang mendapatkan karunia bahasa Roh dan bukan berarti menterjemahkan.

Tujuan Karunia Roh Kudus

Karunia-Karunia Roh Kudus diberikan oleh Roh Kudus dengan tujuan tertentu, dan tujuan itu dapat dibagi dalam tiga bagian besar yaitu:
1. Bertujuan untuk meneguhkan Sidang Jemaat (1 Korintus 14:2). Paulus berkata dalam Roma 10:17 bahwa iman itu timbul oleh sebab mendengar Firman Allah yang dilakukan Allah dengan memberikan karunia Roh Kudus yaitu bernubuat (mengajar) firman Allah. Sebagai hasil pengajaran itu Sidang Jemaat akan semakin teguh didalam iman. Sebaliknya jikalau Roh Kudus tidak memberikan karunia bernubuat kepada seseorang dari anggota jemaat, maka pengajaranpun tidak ada dan sebagai akibatnya iman atau keyakinan Jemaat itupun jadi rapuh dan mengarah kepada gaya hidup duniawi serta mengikuti ajaran-ajaran yang kontradiksi dengan firman Allah.

2. Bertujuan untuk meneguhkan individu.
Allah sangat peduli terhadap perorangan maupun kelompok. Untuk meneguhkan iman seseorang itu Roh Kudus mengaruniakan:
Iman - tentu melalui perkataan yang dikatakan langsung oleh Roh Kudus itu kepada yang bersangkutan. Paulus mendengar Roh Kudus berbicara kepadanya secara langsung, 1 Timotius 4:1, “.... Roh Kudus berkata dengan jelasnya ....” Hal ini tentu akan menjadi nilai plus bagi seseorang yang mengalami hal yang demikian yang kemudian akan menjadikan imannya semakin kuat.

3. Untuk meneguhkan firman Allah.
Objek pemberitaan firman Allah yang memerlukan karunia Roh ini adalah orang-orang yang tidak percaya. Jikalau mereka sudah melihat sesuatu yang menakjubkan diluar dari kemampuan manusia (kekuatan supranatural) maka umumnya mereka akan percaya. Nikodemus percaya kepada Yesus Kristus sesudah melihat mujizat yang dilakukan oleh Yesus (Yohanes 3:1, 2). Dalam Markus 16:15-20 Yesus menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan Injil. Yesus mengetahui bahwa pemberitaan itu akan kurang mendapat respon apabila tidak disertai tanda-tanda ajaib, Itulah sebabnya dalam ayat 20 dikatakan bahwa tanda-tanda ajaib itu meneguhkan pemberitaan mereka. Hasil yang pertama dari pemberitaan yang disertai dengan mujizat terdapat dalam Kisah Rasul 2:1-41, yaitu dibaptiskannya kira-kira 3000 orang yang percaya setelah mereka melihat mujizat Allah.

Cara Untuk Menerima Karunia Roh Kudus

Dalam Alkitab Perjanjian Baru kita mendapat informasi bahwa ada dua cara untuk menerima karunia-karunia Roh itu. Yang pertama adalah melalui baptisan Roh Kudus. Sebelum kenaikanNya ke surga, Yesus telah berpesan kepada rasul-rasul itu agar tidak meninggalkan Yerusalem karena mereka akan menerima janji Allah, dimana Yohanes membaptiskan dengan air tetapi mereka akan dibaptis dengan Roh Kudus (Lukas 4:48; Matius 3:11; Kisah Rasul 1:4, 5). Selanjutnya dalam Kisah Rasul pasal dua dinyatakan bahwa pada hari raya Pentakosta yang pertama sesudah kebangkitan Kristus, rasul-rasul dipenuhi dengan Roh Kudus yang memenuhi tempat mereka berhimpun yang turun menyerupai lidah api. Sebagai hasilnya rasul-rasul penuh dengan Roh Kudus (baptisan Roh Kudus) dan mendapat salah satu karunia Roh yaitu berkata-kata dalam bahasa lain. Hal yang sama juga dialami oleh keluarga Kornelius. Ketika Petrus menyampaikan Firman Allah, Roh Kudus turun ke atas sekalian orang yang mendengar (Kornelius dan kaum keluarganya) (Kisah Rasul 10:24), persis seperti yang terjadi pada Kisah Rasul 2:1-4. "Dapatkah seorang menegahkan air itu daripada membaptiskan orang yang sudah menerima Roh Kudus sama seperti kami ini?" (Kisah Rasul 10:47). Sebagai konsekuensi kejadian tersebut, keluarga Kornelius berbicara di dalam berbagai-bagai bahasa sehingga orang-orang yang datang dengan Petrus-pun heran dan berkata bahwa Allah-pun mencurahkan RohNya kepada orang kafir yang juga adalah penggenapan nubuatannya di dalam Yoel 2:28-30.

Kemudian cara yang ke-dua adalah dengan penumpangan tangan rasul. Orang-orang yang mendapat tumpangan tangan rasul akan mendapat karunia Roh Kudus. Tentu penumpangan itu bukan atas kemauan rasul itu sendiri melainkan Roh Kudus, “Tetapi sekaliannya itu dikerjakan oleh Roh yang Satu itu juga dengan membahagi-bahagi kepada masing-masing, sebagaimana kehendak-Nya” (1 Korintus 12:11).
Contohnya: (1) Kisah Rasul 6:1-5, salah satu dari tujuh saudara yang dipilih itu melakukan tanda-tanda mujizat di Samaria sebagai konsekuensi tumpangan tangan rasul. (2) Kisah Rasul 19:1-7, orang Kristen di Efesus mendapat tumpangan tangan dari Paulus dan mereka bernubuat dan berkata-kata dalam berbagai bahasa.
Orang-orang yang mendapat tumpangan tangan rasul tidak dapat menumpangkan tangan ke atas orang lain sehingga orang tersebut mendapat karunia Roh. Hal itu menjadi penyebab sehingga Petrus dan Yohanes harus turun ke Samaria untuk menumpangkan tangan ke atas orang-orang yang telah dibaptis pada waktu mendengarkan khotbah Pilipus yaitu salah seorang diantara tujuh orang yang mendapat tumpangan tangan dari rasul pada Kisah Rasul 6. Sesudah semua rasul dan orang-orang yang mendapat tumpangan tangan dari rasul meninggal, maka karunia-karunia Roh berhenti.

Jangka waktu (durasi) berlakunya Karunia Roh Kudus

Satu hal yang perlu kita ingat bila kita berbicara tentang masa berlakunya karunia-karunia Roh Kudus yaitu bahwa Allah selalu merencanakan pekerjaanNya dengan teratur. Maksudnya ialah bahwa dalam pekerjaanNya Dia telah menetapkan; (1) Kapan pekerjaan itu dimulai; (2) Bagaimana memulai; (3) Apa yang dibutuhkan (diperlukan) untuk memulai dan menindak-lanjuti; (4) Berapa dan apa harga yang harus dibayar; (5) Berapa-lama pekerjaan itu akan berlangsung. Semua hal-hal di atas dapat dikaji dengan jelas dan nyata di dalam penciptaan alam semesta, dimulai pada hari pertama dan berakhir pada hari ke-enam, selanjutnya kesinambungan kehidupan di dalam alam semesta terjadi secara alami. Contoh yang lain adalah dalam pemberian hukum. Pada mulanya Allah memberikan hukumNya kepada kepala-kepala keluarga yang dikenal dengan zaman Bapa-bapa (zaman Patriakh). Zaman (periode) ini berakhir pada zaman Yakub (hukum tersebut mengikat non Yahudi ketika Allah memberikan hukum Taurat bagi orang Yahudi melalui Musa) di gunung Sinai. Hukum inilah yang dilakukan oleh Kornelius (Kisah Rasul 10) sehingga doa dan amal serta rasa takutnya kepada Allah diperkenankan Allah. Dalam hal ini pada waktu Allah memberikan hukumNya kepada bangsa Israel (Yahudi) maka non Yahudi diikat oleh hukum yang diberikan pada zaman Bapa-bapa, tetapi ini hanya untuk periode tertentu, yang kita tahu bahwa kedua hukum itu berakhir pada waktu Yesus disalibkan (Efesus 2:15, 16) dan kemudian lahirlah hukum yang baru yaitu hukum Kristus (Galatia 3:27, 28; 1 Korintus 9:28, “.... aku takluk dibawah hukum Kristus ....”).

Hukum Taurat sudah berakhir dan tidak lagi mengikat manusia, dimulai pada hari Pentakosta yang pertama sesudah kebangkitan Kristus (hukum Taurat itu hanya bersifat sementara, Galatia 3:23-25). Jikalau hukum Taurat itu masih mengikat dan dapat menyelamatkan manusia, mengapa Paulus yang dahulu disebut Saul meninggalkan ritual-ritual yang diperintahkan di dalam hukum Taurat dan dibaptiskan untuk jalan keampunan dosa yang tidak pernah diperintahkan didalam hukum Taurat? Karena periode hukum Taurat dan prinsip yang diberikan pada zaman Bapa-bapa sudah berakhir maka siapa saja yang mencoba untuk mendapatkan (mencari) keselamatan melalui salah satu hukum tersebut tidak mendapat bagian di dalam pengorbanan Kristus (Galatia 4:4, 5; Kisah Rasul 17:30).

Rasul-rasul dan Sidang jemaat bertangung-jawab untuk memberitakan Injil itu yang merupakan kuasa Allah untuk menyelamatkan manusia (Efesus 3:10; Kisah Rasul 8:3, 4; Roma 1:16). Yesus mengetahui batas kemampuan murid-muridNya dalam mengemban misi ini, yaitu kemampuan untuk mengingat segala perkataan yang dikatakan Yesus dan juga ketidak-yakinan orang-orang yang mendengarkan pengajaran Injil itu. Untuk mengantisipasi hal ini Yesus berjanji bahwa Bapa akan mengutus Roh Kudus untuk mengajarkan dan mengingatkan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Yesus kepada mereka (Yohanes 14:26), tentu dengan memberikan karunia-karunia Roh. Tetapi sistim itu hanya bersifat temporer (sementara). Paulus berkata di dalam 1 Korintus 13:8-10 bahwa:

1. Kasih tiada berkesudahan tetapi nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti dan pengetahuan akan lenyap.

2. Tiga jenis karunia Roh di atas merupakan wakil dari enam karunia Roh lainnya yang di dalam istilah Theologia disebut Sinokdoke. Hal itu berarti jikalau satu saja berakhir dari karunia Roh itu, maka yang lainpun ikut berakhir.

3. Paulus menyatakan alasan mengapa karunia-karunia Roh itu berlaku - yaitu karena pengetahuan mereka tidak lengkap dan nubuat (pengajaran) mereka tidak sempurna. Paulus mengatakan ke dua hal di atas tidak sempurna adalah karena ditujukan kepada mtode untuk mendapatkan pengetahuan dan untuk usaha menyampaikan pengajaran - dimana mereka tergantung dengan ilham atau karunia Roh Kudus itu. Sekalipun mereka berhasrat untuk memberitakan tetapi jikalau mereka tidak mendapat ilham, maka mereka tidak berbuat apa-apa, “.... Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:11). Dan di dalam 1 Korintus 14:1-31 dengan jelas Paulus mengatakan kepada kita bahwa karunia itu diberikan kepada seseorang tentu sesuai dengan keinginan dan kualitas kehidupan rohani seseorang.

4. Paulus mengatakan waktu berakhirnya karunia Roh itu yaitu apabila yang sempurna itu tiba. Kata sempurna di dalam teksnya di dalam bahasa Yunani yaitu to teleion - yaitu sebuah kata benda yang berjenis kelamin netral. Alkitab berada di dalam jenis kelamin yang sama, jadi kemungkinannya adalah apabila kitab itu sudah sempurna atau sudah lengkap dan tertulis yang dapat dipakai sebagai kanon pengajaran dan prilaku (aksi) maka karunia-karunia Roh Kudus itu tidak lagi berlaku. Barang siapa yang mengaku bahwa dia mendapat salah satu karunia Roh itu, maka dia hanya berupaya untuk menipu orang (2 Tesalonika 2:8, pengajar palsu datang dengan tanda-tanda mujizat palsu), yang harus berteriak-teriak sampai parau agar orang lumpuh bisa perlahan-lahan berdiri lalu lumpuh lagi yang sangat berbeda dengan mujizat Allah lewat Petrus hambaNya (Kisah Rasul 3:1-8). Petrus hanya berbicara serta menegakkan dia berdiri dan yang lumpuh itupun berdirilah dan meloncat-loncat pada saat Petrus berkata berdiri dan tidak lumpuh lagi serta mengikut Petrus dan Yohanes. Kesimpulan

Sebelum bayi berjalan dengan kedua kakinya, dia merangkak dengan bantuan ke-dua tangannya. Tetapi apabila dia sehat dan bertumbuh dengan baik jadilah dia balita. Dia tidak mempergunakan tangannya lagi untuk merangkak melainkan dengan gagahnya dia berlari kian kemari dengan kedua kakinya. Roh Kudus menjadi pembimbing bagi orang Kristen pada abad pertama pada masa infansi gereja itu dengan cara melengkapi gereja itu dengan berbagai-bagai karunia sesuai dengan yang Dia inginkan. Walau demikian Roh Kudus dalam waktu yang bersamaan juga mengilhami orang-orang tertentu untuk menuliskan firman Allah yang selanjutnya akan dipakaiNya sebagai sarana untuk membimbing orang Kristen. Karunia- karunia Roh Kudus hanya bersifat temporer dan bukan untuk selama-lamanya, yang berakhir ketika firman Allah itu sudah tertulis dengan sempurnanya dan orang -orang yang mendapat tumpangan rasul itu meninggal.

Pustaka acuan:
1. Barclay M. Newman Jr., Kamus Yunani-Indonesia, P.T. BPK. Gunung Mulia
2. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi II 1991, Balai Pustaka.
3. Kurt Aland, Matthew Black, The Greek New Testament, edisi III, 1983, United Bible Sociaties


Baptisan Roh Kudus
(Kisah Rasul 1:5; Matius 3:11)
(The Baptism Of The Holy Spirit - Acts 1:5; Matthew 3:11)

Baptisan Roh Kudus adalah merupakan subjek yang sering diperdebatkan karena banyak orang yang salah mengerti sebab mereka belum bisa mempraktekkan 2 Timotius 2:15 b, ayat ini dalam bahasa Inggrisnya adalah Rightly Dividing The Word Of Truth yang artinya menempatkan firman itu dengan tepat, hal ini berhubungan dengan periode Alkitab. Jadi terjemahan bahasa Indonesia khusus untuk 2 Timotius 2:15 b kurang tepat, baik edisi pertama maupun edisi kedua. Bagi kita orang Kristen sangat penting untuk mengetahui periode-periode Alkitab agar dapat menafsirkan firman Tuhan dengan tepat. Kalau kita mengerti periode-periode Alkitab dan mempergunakan hal itu dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab khususnya baptisan Roh Kudus, maka kita tidak akan mengalami kesulitan, sebab ada sekte sekarang ini yang percaya bahwa baptisan Roh Kudus itu masih berlaku sampai sekarang, padahal firman Tuhan tidak berkata seperti itu.

Kalau kita ingin mempelajari baptisan Roh Kudus, kita harus lebih dulu menyimak Yoel 2:28-32, karena ini adalah merupakan latar belakang baptisan Roh Kudus. Jadi praktek nubuatan Yoel 2:28-32 yang mengatakan anak laki-laki dan perempuan akan bernubuat, orang-orang yang tua akan mendapat mimpi, teruna-teruna akan mendapat penglihatan terdapat dalam Kisah Rasul 8:4-25; 19:6, 7; 2:1-13.
Baptisan Roh Kudus bukanlah kepada semua orang yang percaya tetapi Roh Kudus yang tinggal melalui firman adalah untuk semua orang yang percaya (Kisah Rasul 2:38).

Baptisan Roh Kudus Kepada Rasul-rasul

Marilah kita simak Kisah 1:2-11: “Hingga kepada hari Ia dinaikkan, yaitu lepas daripada Ia memberi hukum kepada rasul-rasul yang sudah dipilih-Nya itu dengan kuasa Rohulkudus. Maka kepada mereka itu juga Ia menyatakan diri-Nya kemudian daripada sengsara-Nya pula dengan beberapa kenyataan bahwa Ia hidup, yaitu tatkala Ia kelihatan kepada mereka itu selang empat puluh hari lamanya, dan memberitakan dari hal kerajaan Allah.

Tatkala Yesus berhimpun dengan rasul-rasul, maka dipesankan-Nya kepada mereka itu jangan meninggalkan Yeruzalem, melainkan menantikan Perjanjian Bapa "yang kamu mendengar daripada-Ku itu, karena Yahya membaptiskan orang dengan air, tetapi kamu ini akan dibaptiskan dengan Rohulkudus di dalam sedikit hari lagi." Maka mereka itu yang sudah berhimpun bertanya kepada-Nya, katanya, "Ya Tuhan, pada masa inikah Tuhan membangunkan pula kerajaan bagi bani Israel?" Maka sabda Yesus kepada mereka itu, "Bahwa tiadalah perlu bagi kamu mengetahui masa atau ketika, yang ditetapkan oleh Bapa menurut kuasa-Nya sendiri. Tetapi kamu akan beroleh kuasa kelak apabila Rohulkudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi bagi-Ku, baik di Yeruzalem, baik di seluruh tanah Yudea atau di Samaria, sehingga sampai ke ujung bumi."

Setelah sudah Ia bersabda demikian, maka terangkatlah Ia sedang mereka itu memandang Dia, dan suatu awan meraibkan Dia daripada penglihatan mereka itu. Maka sedang mereka itu lagi menatap Dia ketika naik ke langit itu, tiba-tiba terdirilah dua orang dekat mereka itu berpakaian putih, yang berkata, "Hai kamu orang Galilea, apakah sebabnya kamu berdiri menatap ke langit? Adapun Yesus yang dinaikkan ke surga dari hadapan kamu itu, begitu juga akan turun pula seperti kamu lihat Ia pergi ke surga itu.”

Ada beberapa pertanyaan yang perlu kita pertimbangkan dari ayat-ayat di atas sehingga kita dapat mengetahui dengan sederhana siapakah yang menerima baptisan Roh Kudus itu.

1. Siapakah yang menyaksikan Yesus terangkat ke surga? Para rasul (Kisah rasul 1:2-11).
2. Kepada siapakah Yesus membicarakan kerajaan Allah selama 40 hari 40 malam? Kepada Rasul-rasul (Kisah Rasul 2:2-4).
3. Kepada siapakah Yesus berpesan agar tidak meninggalkan Yerusalem? Kepada rasul-rasul (Kisah Rasul 1:2-4; Lukas 24:49).
4. Untuk apa Yesus berpesan kepada Rasul-rasul agar tidak meninggalkan Yerusalem? Untuk menantikan janji Bapa (Kisah Rasul 1:4; Lukas 24:49).
5. Apakah yang dimaksudkan dengan janji Bapa itu?
Baptisan Roh Kudus (Kisah Rasul 1:5) atau kekuasaan dari tempat tinggi (Lukas 24:49).

Dari pertanyaan-pertanyaan serta jawaban-jawaban di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa baptisan Roh Kudus dijanjikan kepada rasul-rasul dengan kata lain rasul-rasul-lah yang menerima baptisan Roh Kudus di Kisah Rasul 2:1-13, bukan setiap orang percaya.

Ayat lain yang menguatkan bahwa para rasul-lah yang menerima baptisan Roh Kudus adalah Kisah 1:8: “Tetapi kamu akan beroleh kuasa kelak apabila Rohulkudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi bagi-Ku, baik di Yeruzalem, baik di seluruh tanah Yudea atau di Samaria, sehingga sampai ke ujung bumi." Kata “kamu” yaitu orang ke dua jamak dalam ayat 8 ini ditujukan kepada para rasul, karena kepada para rasul-lah Yesus menjanjikan bahwa para rasul akan menerima kuasa. Kapan kuasa itu akan diterima para rasul? kalau Roh Kudus sudah turun ke atas mereka (Kisah Rasul 1:8) dan kamu akan menjadi saksiku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Kepada siapakah ditujukan kata kamu akan menjadi saksiKu? kepada para rasul (Matius 28:16-20; Lukas 24:48, 49).

Jadi dengan jelas kita sudah mengetahui bahwa baptisan Roh Kudus dijanjikan kepada rasul-rasul. Maka jikalau ada ajaran yang mengatakan bahwa sekarang ini masih berlaku baptisan Roh Kudus itu adalah ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab karena para rasul-lah yang menerima baptisan Roh Kudus dalam Kisah Rasul pasal 2 ini. Memang kita membaca dalam kitab Matius 3:11 Yohanes pembaptis berkata, “Ia yang lebih besar dari padaku (yaitu Yesus) akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” Perlu kita ketahui bahwa kata kamu disitu adalah ditujukan kepada umum tidak spesifik. Karena kalau kita katakan kata kamu disitu ditujukan kepada orang Israel apakah hanya orang Israel yang akan menerima baptisan api? Kita tahu bahwa baptisn api akan diterima oleh orang-orang yang akan masuk neraka (bandingkan Lukas 3:16, 17). Dan juga kita perlu menyadari bahwa Matius 3:11 adalah pemberitahuan saja tetapi Kisah pasal 2:1-4 adalah wujud dari Matius 3:11. Tuhan membaptiskan para rasul dengan baptisan Roh Kudus adalah untuk tujuan tertentu.

Tujuan Baptisan Roh Kudus Kepada Rasul-rasul

Dan Flournoy menjelaskan bahwa, dari sejumlah pernyataan Yesus, tujuan baptisan Roh Kudus terhadap rasul-rasul adalah; (1) Roh Kudus akan tinggal bersama dan di dalam mereka (Yohanes 14:17); (2) Roh Kudus akan mengajarkan kepada mereka segala hal (Yohanes 14:26); (3) Roh Kudus akan mengingatkan mereka segala sesuatu yang telah Yesus ajarkan kepada mereka (Yohanes 14:26); (4) Roh Kudus akan memberi kesaksian tentang Yesus (Yohanes 15:26); (5) Roh Kudus akan membimbing para rasul ke dalam semua kebenaran dan menyatakan kepada mereka hal-hal yang akan datang (Yohanes 16:23); (6) Roh Kudus akan memuliakan Yesus dan memberikan firmanNya kepada rasul-rasul.

Dengan kata lain, Roh Kudus akan datang kepada mereka untuk memberi kuasa supaya dapat melakukan apa yang telah diamanatkan Yesus kepada mereka. Mereka diberi amanat untuk “duduk di atas dua belas tahta menghakimi dua belas suku Israel” (Israel Allah, Galatia 6:16) selama periode regenerasi sementara Anak Manusia duduk di tahtaNya (Matius 19:28). Mereka diamanatkan untuk menyatakan, meneguhkan dan mencatat Injil Kristus untuk sepanjang masa.

Melalui baptisan Roh Kudus, maka rasul-rasul menerima karunia-karunia yang ajaib untuk meneguhkan firman yang mereka beritakan. Segera sebelum kenaikanNya ke surga, Yesus berjanji kepada rasul-rasul bahwa tanda-tanda akan menyertai pemberitaan mereka (Markus 16:17, 18). Sepuluh hari kemudian mereka dibaptiskan dengan (dalam) Roh Kudus “dan mulai berkata-kata dalam berbagai-bagai bahasa, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kisah Rasul 2:4). Mulai dari hari raya Pentakosta, rasul-rasul,
“.... pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Markus 16:20). “Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda” (Kisah Rasul 2:43).

Selanjutnya, rasul-rasul diberikan kuasa untuk menumpangkan tangan ke atas orang lain supaya mendapatkan karunia-karunia rohani (Kisah Rasul 8:12-18; Roma 1:11).

Baptisan Roh Kudus Kepada Kornelius dan Keluarganya

Lalu bagaimana dengan peristiwa Kornelius dalam Kisah Rasul 10:44-46: “Sedang Petrus lagi mengatakan perkataan itu, turunlah Rohulkudus ke atas sekalian orang yang mendengar perkataan itu. Maka segala orang beriman yang menurut adat bersunat, seberapa banyak yang datang menyertai Petrus, tercengang-cenganglah, sebab ke atas orang kafir juga dicurahkan anugerah Rohulkudus itu. Karena didengarnya mereka itu berkata-kata dengan berbagai-bagai bahasa serta memegahkan Allah....”

Apakah ini baptisan Roh Kudus? Tentu saja Ya, karena Petrus melaporkannya kepada saudara-saudara yang bersunat di Yerusalem (Kisah Rasul 11:1-18), tetapi khususnya di ayat 15-18: “Tatkala aku mulai bertutur-tutur, turunlah Rohulkudus ke atas mereka itu sama juga seperti ke atas kita pada mulanya. Maka teringatlah aku akan sabda Tuhan seperti yang disabdakan-Nya: Sungguhpun Yahya membaptiskan dengan air, tetapi kamu ini akan dibaptiskan dengan Rohulkudus. Sebab itu jikalau Allah sudah mengaruniakan kepada mereka itu sama karunia seperti kepada kita tatkala kita percaya akan Tuhan Yesus Kristus, apalah aku ini, dapatkah aku menahan Allah?" Setelah didengarnya demikian, maka diamlah mereka itu, lalu memuliakan Allah, serta berkata, "Jikalau begitu, kepada orang kafir pun Allah mengaruniakan jalan tobat yang menuju kepada hidup." Baptisan Roh Kudus kepada Kornelius untuk menunjukkan bahwa Allah telah menerima orang kafir untuk diselamatkan.

Dua peristiwa inilah yang menunjukkan kepada kita bagaimana nubuatan Yoel 2:38 digenapi dalam kitab Kisah Rasul 2 dan Kisah Rasul 10, yaitu baptisan Roh Kudus diterima oleh para rasul-rasul dan seisi rumah Kornelius.

Kesimpulan:

Baptisan Roh Kudus bukanlah untuk semua orang seperti yang diajarkan oleh orang-orang yang kurang memahami Alkitab, melainkan hanya kepada rasul-rasul dan seisi rumah Kornelius sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan oleh Yoel 2:38: “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.”

Pustaka acuan:
1. David Brown, Houston College Of The Bible Lectureship Pentocostalism, Gospel Linght Publishing Company, p. 181, 182.
2. The Timeless Trinity For The Ceaseless Century, Roy H. Lanier, SR., p. 315-327.
3. The Restorer (January 1995), 1021 Via Del Rey Mesquite Texas 75150, p. 22, 23.
4. Foy E. Wallace, Jr., The Mission and Medicim Of The Holy Spirit, Foy Wallace Jr. Publications, p. 93-105.






KEKUATAN MISTERIUS DI DALAM HIDUPKU

Di tahun 1929 Frank Morris berlayar dengan sebuah kapal menuju ke Swiss. Dia sudah lama menantikan perjalanan ini. Tetapi perjalanan itu kemudian menjadi suatu pengalaman yang memalukan. Seorang pramugara yang ditugaskan untuk menjaga dia, mengunci Frank di kabinnya setiap malam. Setelah makan pagi yang cepat, Frank boleh berlatih sedikit, tetapi ia merasa layaknya orang bodoh karena dituntun berkeliling geladak, seperti seekor binatang yang dikekang. Kemudian pramugara itu mendudukan Frank di satu kursi penghangat di geladak. Bilamana ia bertemu dengan penumpang yang ramah yang mengajak dia untuk berjalan-jalan, pramugara tersebut menolak, dengan alasan dia harus mengawasinya. Frank adalah seorang dewasa, dengan keingintahuan yang normal dan keinginan orang dewasa. Tetapi dia juga seorang buta. Pramugara itu menganggap Frank tidak bisa menjaga dirinya sendiri.

Frank diperlakukan seperti sebuah bingkisan yang harus dibawa kemana-mana. Tetapi di Swiss, hidup Frank berubah dramatis. Selama di sana dia belajar tentang anjing yang dilatih untuk menuntun orang buta. Dia membawa seekor anjing gembala Jerman yang diberi nama Buddy kembali ke Amerika Serikat, lalu Frank mendirikan "Seeing Eye", yang sekarang merupakan sebuah organisasi dunia. Sekarang, dengan Buddy disisinya, Frank dapat pergi ke mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Dia merasa bebas pada akhirnya. Dalam satu percobaan dengan sekelompok wartawan di jalan-jalan yang sibuk di kota New York, Buddy menuntun tuannya dengan cekatan dari satu jalur ke jalur lain pada saat mobil-mobil berdesing lalu-lalang. Karena Frank mempercayai Buddy, dia melaluinya dengan tenang. Wartawan yang bisa melihat justru memiliki lebih banyak kesulitan; salah satu dari mereka malah naik taksi untuk menyeberang ke sisi jalan yang lain.

Di beberapa halaman berikut, kita akan mempelajari mengenai Roh Kudus, Penuntun yang selalu menginginkan agar kita menempatkan hidup kita dalam tangan-Nya. Semua kita adalah orang cacat dengan kemanusiawian yang sama, kebutaan yang sama terhadap apa yang sebenarnya sangat penting. Kehidupan dengan cepat melalui kita dalam langkah yang kacau yang menyebabkan kita kadang-kadang mendapatkan hidup kita hanya terbatas bertahan daripada menuju ke arah tertentu. Masih saja kita ragu-ragu untuk mempercayakan hidup kita seutuhnya ke Penuntun ini. Tetapi penemuan yang menanti kita masing-masing adalah ini: Kita akan menemukan kebebasan yang sejati dan kekuatan dengan bergantung pada Roh Kudus yang menuntun kita melalui kehidupan.

1. PERWAKILAN KRISTUS DI DUNIA INI

Ketika Kristus akan naik ke surga, Ia menjanjikan kepada murid-muridNya sebuah hadiah yang tidak ternilai.

"Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, PENGHIBUR itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.... Tetapi apabila ia datang, yaitu ROH KEBENARAN, IA AKAN MEMIMPIN KAMU ke dalam seluruh kebenaran.... IA AKAN MEMULIAKAN AKU, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari padaKu." - Yohanes 16:7, 13, 14. (Kecuali disebutkan secara khusus, seluruh ayat Alkitab di Panduan DISCOVER ini diambil dari Alkitab berbahasa Indonesian Terjemahyan Baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia).

Dalam rencana ilahi, Yesus harus kembali ke surga sebagai wakil kita di takhta Tuhan dan hadir untuk kita di hadapan Allah (Ibrani 9:24). Ketika Tuhan kita yang tersalib mewakili kita di surga, kita juga memiliki Roh Kudus sebagai PENGHIBUR dan PENUNTUN selama di dunia ini.

Dialah wakil langsung dari Yesus. Ketika Yesus di dunia Ia melayani dalam batas tubuh seorang manusia, dan tidak dapat hadir di mana saja. Tetapi Roh Kudus tidak memiliki batas; Dia dapat melayani sebagai Penghibur dan Penuntun pribadi bagi individu yang tidak terhitung di banyak tempat pada waktu yang sama. Kristus memenuhi kebutuhan kita melalui Roh Kudus.

2. SIAPAKAH ROH KUDUS ITU ?

Kebanyakan dari kita dapat mengenal Tuhan Allah Bapa apabila kita membayangkan bagaikan orangtua yang paling memperhatikan, paling memelihara yang kita pernah tahu. Dan kita dapat menggambarkan Yesus Anak Allah, karena Ia pernah hidup di tengah-tengah kita sebagai seorang manusia. Tetapi Roh Kudus lebih sulit digambarkan dan dikenal. Kita tidak memiliki manusia sebagai pembandingnya. Tetapi Alkitab, memberi kita keterangan terperinci mengenai Roh Kudus: Sebuah Pribadi. Yesus menggambarkan Roh Kudus sebagai seseorang, anggota Keallahan, bersama-sama dengan Allah Bapa dan Allah Anak.

"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." - Matius 28:19.

Roh tersebut memiliki ciri-ciri pribadi: sebuah pikiran (Roma 8:27); kebijaksanaan (1 Korintus 2:10); perasaan kasih terhadap kita (Roma 15:30); perasaan sedih bila kita berdosa (Efesus 4:30); kemampuan untuk mengajar kita (Nehemia 9:20); dan kuasa untuk menuntun kita. Keikutsertaannya dalam penciptaan. Roh Kudus berpartisipasi dalam membentuk dunia kita bersama Bapa dan Anak.

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi... dan ROH ALLAH melayang-layang di atas permukaan air." - Kejadian 1:1, 2.

3. KEGIATAN ROH KUDUS

1. Mengubah hati manusia. Dalam pertemuannya dengan Nikodemus, Yesus menekankan peran Roh Kudus dalam mengubah hati manusia: "..Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak DILAHIRKAN dari air dan ROH, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Yohanes 3:5). "Dilahirkan dari Roh" berarti Roh memberikan kepada kita kehidupan baru. Itu artinya lebih dari hanya merubah sedikit tingkah laku kita. Roh mengubah kita dari dalam keluar, memenuhi janji "Kamu akan Kuberikan hati yang baru" (Yehezkiel 36:26).

2. Membuat kita berhati-hati untuk berlaku salah dan memberikan kita keinginan untuk menjadi suci: "Dan kalau Ia datang, IA AKAN MENGINSAFKAN dunia akan DOSA, KEBENARAN dan penghakiman." (Yohanes 16:8). Ketika anda mendengar cerita dramatis tentang seseorang yang berbalik dari kehidupan tanpa moral kepada Tuhan Allah dan menjadi pasangan yang setia dan orangtua yang memelihara, ingatlah bahwa setiap langkah menuju keseluruhan adalah dari hasil dorongan Roh Kudus.

3. Menuntun kita dalam kehidupan kekristenan kita. Kristus berbicara kepada kita secara langsung melalui "suara kecil" dari Roh. Apakah kita berbelok ke kanan atau ke kiri, telinga anda akan mendengar sebuah suara di belakangmu berkata, "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya." (Yesaya 30:21). Melalui transmisi satelit, televisi kita biasanya menampilkan bentuk-bentuk dan wajah-wajah dari sebuah benua yang jauh ke ruang keluarga kita. Fungsi Roh Kudus sama seperti satelit kecil Allah, membawa kehadiran Kristus dari surga ke bumi, membuat Ia dekat ketika kita sangat memerlukan Dia (Yohanes 14:15-20).

4. Menolong kehidupan doa kita. "...sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; TETAPI ROH SENDIRI BERDOA UNTUK KITA kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan... sesuai dengan kehendak Allah..." (Roma 8:26, 27). Ketika kita bergumul untuk mencari kata-kata, Roh sedang berdoa mewakili kita. Ketika kita berkecil hati, kita hanya bisa merintih kepada Allah, Roh Kudus menguatkan seruan kita yang teredam itu menjadi sebuah doa yang berkuasa di hadapan takhta Allah, di mana Yesus sekarang melayani.

5. Mengembangkan kualitas dan karakter orang-orang Kristen. Roh Kudus membuat kerohanian yang tandus menjadi subur seperti pohon yang memiliki segala jenis buah: "TETAPI BUAH ROH ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Galatia 5:22-23). Memiliki buah-buah Roh menunjukkan bahwa kita adalah cabang dari pohon anggur, yaitu Yesus (Yohanes 15:5). Yesus sebenarnya dapat menyatakan kehidupan yang melimpah melalui kita dengan kuasa Roh Kudus.

6. Menyiapkan kita sebagai saksi-saksi. Yesus berjanji: "TETAPI KAMU AKAN MENERIMA KUASA, kalau ROH KUDUS turun keatas kamu, dan kamu akan menjadi SAKSIKU... sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8). Semua yang bersedia dapat menjadi saksi melalui Roh Kudus. Kita mungkin tidak dapat memiliki semua jawabannya, tetapi Roh Kudus dapat memberikan kepada kita cerita untuk diceritakan yang dapat menggerakkan hati dan pikiran. Rasul-rasul memiliki kesulitan berkomunikasi sebelum Pantekosta, tetapi setelah Roh Kudus datang, mereka mengumandangkan Kristus dengan kuasa yang "mengacaukan seluruh dunia" (Kisah Para Rasul 17:6).

4. KARUNIA ROH KUDUS

Alkitab membuat suatu perbedaan yang jelas antara karunia Allah melalui Roh Kudus kepada setiap orang percaya demi mencapai kehidupan Kristen yang menang, dan banyak karunia-karunia disediakan Roh Kudus bagi orang-orang percaya untuk pelayanan yang efektif dalam berbagai cara. "...Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan PEMBERIAN-PEMBERIAN kepada manusia."... Dan Ialah yang memberikan baik RASUL-RASUL maupun NABI-NABI, baik PEMBERITA-PEMBERITA INJIL maupun GEMBALA-GEMBALA dan PENGAJAR-PENGAJAR, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan ..." (Efesus 4:8, 11-12).

Tidak setiap orang Kristen menerima semua karunia, beberapa mungkin hanya menerima beberapa karunia lebih dari orang lain; Roh Kudus "memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya." (1 Korintus 12:11). Roh Kudus memperlengkapi setiap orang percaya sesuai perannya masing-masing secara khusus dalam rencana Tuhan Allah. Tuhan Allah tahu kapan dan di mana harus memberikan karunia-karunia yang lebih akan memberkati umat Allah dan gerejaNya.

Daftar lain dari karunia roh yang terdapat di 1 Korintus 12:8-10 termasuk hikmat, pengetahuan, iman, karunia menyembuhkan, karunia bernubuat, karunia untuk berkata-kata dalam bermacam-macam bahasa dan menafsirkan bahasa roh (ayat 8-10).

Paulus mendorong kita untuk "memperoleh karunia-karunia yang paling utama" kemudian ditambahkan "Dan aku menunjukkankepadamu jalan yang lebih utama lagi." (1 Korintus 12:31). Pasal Kasih (1 Korintus 13) yang mengikuti ayat ini menegaskan bahwa "yang terutama" adalah Kasih. Dan kasih adalah buah dari Roh (Galatia 5:22).

Perhatian kita haruslah untuk mencari buah Roh itu dan biarkan Roh Kudus menyebarkan karunia-karuniaNya kepada kita sebagai "seperti yang dikehendakiNya" (1 Korintus 12:11).

5. KEPENUHAN ROH PADA HARI PENTAKOSTA

Pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan dalam ukuran yang tidak terbatas, memenuhi janji Yesus: "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku... sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8).

Pada hari Pentakosta, Roh Kudus membuat mampu para rasul untuk mengabarkan Injil secara jelas dalam bermacam bahasa manusia "dari setiap bangsa di bumi" (Kisah Para Rasul 2:3-6). Beberapa pelajar Alkitab membandingkan kedatangan Roh Kudus dengan jatuhnya musim gugur yang mula-mula dan hujan akhir musim semi di Palestina (Yoel 2:23).


Roh Kudus dicurahkan pada Pantekosta sama seperti "hujan awal" dari musim gugur yang menyebabkan benih bertunas dan menyiapkan zat makanan yang bergizi yang penting bagi gereja Kristen dalam masa pertumbuhannya.

6. HUJAN AKHIR DARI ROH KUDUS

Nubuatan Alkitab memberitahukan satu hari akan datang ketika Roh Kudus dari Allah akan dicurahkan seperti air curahan atas gereja, memberi kekuatan kepada anggota gereja sebagai saksi-saksi (Yoel 2:28-29). Berabad-abad sekarang sudah berlalu dan cerita keselamatan itu sudah disebarluaskan kepada sebagian besar dunia ini. Sekaranglah waktunya "hujan akhir" untuk mematangkan butir padi, membuatnya siap untuk dipanen.

Sebagaimana sejarah bergerak menuju puncaknya hanya sesaat sebelum kedatangan Kristus kedua kali, Allah akan mempersiapkan setiap orang percaya yang tulus hatinya kepada surga melalui kecurahan Roh Kudus yang besar itu. Apakan anda sekarang mengalami "hujan awal" yang menyiapkan gereja untuk "hujan akhir" dari Roh Kudus? Apakan anda menjalankan kehidupan yang dipenuh Roh Kudus? Seperti anda dikuatkan oleh Roh Kudus, apakah anda akan membiarkan Allah menggunakan anda untuk mengabarkan berita kasihNya yang mengagumkan dan Ia akan datang segera?

7. SYARAT UNTUK MENERIMA ROH KUDUS

Pada hari Pentakosta, Roh Kudus menggerakkan semua yang mendengarkan kabar injil untuk berseru, "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" (Kisah Para Rasul 2:37).

Petrus menjawab, "BERTOBATLAH DAN HENDAKLAH KAMU MASING-MASING MEMBERI DIRIMU DIBAPTIS dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu. MAKA KAMU AKAN MENERIMA KARUNIA ROH KUDUS" (Kisah Para Rasul 2:38).

Pertobatan "berbalik dari jalan hidup yang berdosa kepada Kristus" adalah salah satu syarat untuk menerima karunia dari Roh Kudus. Untuk dapat mengalami Roh Kudus dicurahkan atas kita, kita harus bertobat dahulu dan seluruh hidup kita bekerja untuk Kristus. Yesus juga menegaskan kemauan untuk mengikuti dia dan menuruti Dia sebagai satu syarat untuk menerima karunia Roh Kudus (Yohanes 14:15-17).

8. KEHIDUPAN YANG DIPENUHI ROH KUDUS

Sebelum meninggalkan dunia ini, Yesus memerintahkan pengikutnya: "Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan JANJI Bapa,... Sebab Yohanes MEMBAPTIS DENGAN AIR, tetapi tidak lama lagi kamu akan DIBAPTIS DENGAN ROH KUDUS." (Kisah Para Rasul 1:4, 5). Berkali-kali Alkitab menunjukkan bahwa orang Kristen "dipenuhi oleh Roh Kudus" (Kisah Para Rasul 2:4; 4:8; 4:31; 6:3; 6:5; 7:55; 9:17; 13:9; 13:52; 19:6).

Roh Kudus membuat kehidupan orang Kristus terpenuhi dan indah, karena suatu hidup yang penuh akan Roh Kudus mencapai ideal Kristus pada kita. Ketika menggambarkan hidup Kristen yang penuh Roh Kudus, Paulus menawarkan doa ini kepada setiap orang percaya: "Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, MENGUATKAN DAN MENEGUHKAN KAMU OLEH ROH-NYA DI DALAM BATINMU, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu... Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang TERNYATA DARI KUASA YANG BEKERJA DI DALAM KITA" (Efesus 3:16, 17, 20).

Seperti Frank Morris dengan anjing penuntunnya yang setia, Buddy, kitapun dapat, dengan tuntunan Roh Kudus di dalam kita, melakukan lebih banyak daripada yang kita bisa lakukan sebelumnya. Dengan keinginan dan kemampuan yang baru, kita dibuat mampu untuk bergerak ke depan dengan percaya diri sebagai gantinya dari hanya mencoba mengatasi dengan masalah kehidupan.

Pengalaman dipenuhi oleh Roh Kudus ini dibaharui setiap hari melalui doa dan belajar Alkitab. Doa menjaga kita tetap berhubungan erat dengan Kristus, dan belajar dari Firman Tuhan menjaga kita agar tetap terfokus dari sumberNya. Itu semua menghancurkan segala rintangan antara kita dan Kristus yang mungkin menghalangi Dia dalam mencurahkan karunia Roh KudusNya yang tidak ternilai. Beginilah kita harus bertumbuh dan mengganti kebiasaan-kebiasaan dan sifat buruk kita dengan kualitas yang lebih sehat.

Roma 8 memberi gambaran yang menarik mengenai hidup dipenuhi Roh Kudus. Bacalah bila anda sempat, dan catat berapa banyak Paulus mengacu kepada "Roh Kudus" sebagai kuasa di balik kehidupan Kekristenan.

Sudahkan anda membuat penemuan yang indah tentang hidup yang dipenuhi Roh Kudus? Apakah anda sadar akan hadirnya Roh Kudus di dalam kehidupan saudara? Apakah anda mengalami kuasa kehidupan dariNya? Bukalah hidup anda kepada kekuatan yang terbesar di jagat raya itu.


APAKAH KARUNIA-KARUNIA ROH ITU?

Kedua puluh tujuh karunia Roh:

1. Nubuat:
Karunia nubuat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menerima dan menyampaikan suatu pesan langsung dari Allah kepada umat-Nya melalui ucapan yang diurapi oleh Allah.

2. Pelayanan:
Karunia pelayanan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk mengenali kebutuhan-kebutuhan yang belum dipenuhi yang termasuk suatu tugas yang berhubungan dengan pekerjaan Tuhan serta menggunakan sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan itu dan membantu mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.

3. Mengajar:
Karunia mengajar adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menyampaikan informasi yang berkaitan dengan kesehatan dan pelayanan Tubuh itu dan anggota-anggotanya dengan cara sedemikian rupa sehingga orang lain akan belajar.

4. Memberi nasihat:
Karunia memberi nasihat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk memberikan kata-kata penghiburan, simpati, dorongan, dan nasihat dengan cara sedemikian rupa kepada anggota- anggota lain dalam Tubuh itu sehingga mereka merasa tertolong dan dipulihkan.

5. Membagi-bagikan:
Karunia membagi-bagikan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menyumbangkan dari sumber penghasilan mereka kepada pekerjaan Tuhan dengan kemurahan hati dan dengan sukacita.

6. Kepemimpinan:
Karunia kepemimpinan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menetapkan sasaran-sasaran sesuai dengan maksud tujuan Allah untuk masa yang, akan datang serta mengkomunikasikan sasaran-sasaran ini kepada orang lain dengan cara sedemikian rupa sehingga mereka dengan sukarela dan rukun bekerja bersama-sama untuk mencapai sasaran-sasaran itu demi kemuliaan Allah.

7. Kemurahan:
Karunia kemurahan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk merasa empati dan belas kasihan yang sungguh-sungguh terhadap orang-orang, baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen, yang menderita masalah fisik, mental, atau emosional, serta mewujudkan belas kasihan itu dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan senang hati yang mencerminkan kasih Kristus dan meringankan penderitaan itu.

8. Hikmat:
Karunia hikmat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk mengetahui pikiran Roh Kudus dengan cara sedemikian rupa sehingga menerima wawasan tentang bagaimana caranya pengetahuan tertentu dapat diterapkan dengan sebaik-sebaiknya untuk keperluan-keperluan khusus yang timbul dalam Tubuh Kristus.

9. Pengetahuan:
Karunia pengetahuan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menemukan, mengumpulkan, menganalisis, dan menjelaskan informasi dan gagasan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan kesejahteraan Tubuh itu.

10. Iman:
Karunia iman adalah kemampuan istimewa yang diberikan Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk dapat mengerti dengan kepercayaan yang luar biasa kehendak dan maksud tujuan Allah bagi masa depan pekerjaan-Nya.

11. Penyembuhan:
Karunia penyembuhan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk bertindak sebagai perantara manusiawi. Melalui mereka Allah berkenan menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan terlepas dari penggunaan cara-cara alami.

12. Mukjizat:
Karunia mukjizat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk bertindak sebagai perantara manusia. Melalui mereka Allah berkenan melakukan perbuatan-perbuatan yang berkuasa yang menurut pengamatan orang-orang yang menyaksikannya telah mengubah prosedur yang biasa terjadi dalam alam.

13. Membedakan bermacam-macam roh:
Karunia membedakan bermacam- macam roh adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus yang memungkinkan mereka mengetahui dengan pasti apakah perilaku tertentu yang mengaku berasal dari Tuhan itu sungguh-sungguh dari Tuhan, dari manusia, atau dari Iblis.

14. Bahasa roh:
Karunia bahasa roh adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus (A) untuk berbicara kepada Allah dalam suatu bahasa yang tidak pernah mereka pelajari dan/atau (B) untuk menerima dan menyampaikan suatu pesan langsung dari Allah kepada umat-Nya melalui suatu ucapan yang diurapi Allah dalam bahasa yang tidak pernah mereka pelajari.

15. Menafsirkan bahasa roh:
Karunia menafsirkan bahasa roh adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk memberitahukan dalam bahasa sehari-hari pesan yang telah disampaikan dalam bahasa roh.

16. Rasul:
Karunia rasul adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menerima dan menjalankan kepemimpinan umum atas sejumlah gereja dengan kekuasaan luar biasa dalam soal-soal rohani yang secara spontan diakui dan dihargai oleh gereja-gereja itu.

17. Pertolongan:
Karunia pertolongan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menginvestasikan bakat-bakat yang mereka miliki dalam kehidupan dan pelayanan anggota-anggota lain dari Tubuh Kristus, sehingga memungkinkan orang yang ditolong untuk meningkatkan keefektifan karunia-karunia Roh yang dimilikinya.

18. Kepengurusan:
Karunia kepengurusan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk mengerti dengan jelas tujuan-tujuan yang dekat dan tujuan-tujuan jangka panjang dari satu kesatuan tertentu dalam Tubuh Kristus sehingga dapat merencanakan dan melaksanakan rencana-rencana yang berhasil guna untuk mencapai tujuan-tujuan itu.

19. Penrberita Injil:
Karunia pemberita Injil adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menyampaikan Injil kepada oran-orang yang tidak percaya dengan cara sedemikian rupa hingga pria dan wanita menjadi murid Tuhan Yesus dan anggota Tubuh Kristus yang bertanggung jawab.

20. Gembala:
Karunia gembala adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menerima tanggung jawab pribadi jangka panjang demi kesejahteraan rohani sekelompok orang percaya.

21. Hidup lajang:
Karunia hidup lajang adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk tetap membujang dan menyenanginya, untuk tidak menikah dan tidak menderita godaan-godaan seksual yang berlebihan.

22. Hidup miskin secara sukarela:
Karunia hidup miskin secara sukarela adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk meninggalkan kesenangan materiil dan kemewahan serta menerima gaya hidup pribadi yang sama dengan mereka yang hidup pada taraf kemiskinan dalam suatu masyarakat tertentu agar dapat melayani Tuhan dengan lebih efektif.

23. Mati sebagai martir:
Karunia mati sebagai martir adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk mengalami penderitaan karena iman bahkan sampai mati sekalipun sambil terus-menerus memperlihatkan sikap bersukacita dan berkemenangan yang mendatangkan kemuliaan kepada Allah.

24. Memberi tumpangan:
Karunia memberi tumpangan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk membuka rumah mereka dan menyambut dengan hangat orang-orang yang membutuhkan makanan dan penginapan.

25. Misionaris:
Karunia misionaris adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk melayani dalam suatu kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaannya sendiri dengan karunia-karunia Roh lain apa saja yang mereka miliki.

26. Doa syafaat:
Karunia doa syafaat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk berdoa secara teratur selama waktu-waktu yang agak lama dam sering melihat jawaban-jawaban khusus untuk doa mereka, dalam kadar lebih besar daripada yang diharapkan dari orang Kristen yang biasa.

27. Pelepasan (mengarsir setan):
Karunia pelepasan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menghalau setan-setan dan roh- roh jahat.

Good Source : http://www.gotquestions.org/Indonesia/index.html




APAKAH DAN DI MANAKAH NERAKA ITU?

Penembakan tanpa belas kasihan terjadi saat seorang pelajar berjalan masuk ke sekolahnya dan membunuh beberapa orang teman sekelasnya. Seorang karyawan yang tidak puas karena baru saja dipecat dari pekerjaan, memasuki ruang bekas atasannya dan menembaknya. Seorang ibu mendorong mobilnya ke dalam danau dengan kedua putrinya yang berada di dalam mobil dan menenggelamkan mereka.

Setidaknya di dua benua ada ribuan orang telah dibantai dalam pembersihan etnis. Pertikaian berabad-abad antara dua atau lebih kelompok etnis menjadi penyebabnya. Laki-laki, wanita, anak-anak maupun bayi-bayi ditembak, dibantai, dibunuh dan diperkosa.

Menghukum kejahatan-kejahatan biadab ini dengan hukuman mati, sekalipun untuk pembunuh berdarah dingin, dikutuk oleh banyak orang. Banyak kelompok anti hukuman mati memprotes keras, dan menyebut hukuman ini sebagai tatacara kafir yang tidak berperikemanusiaan. Mereka bertanya, apakah para pembunuh ini tidak berhak memperoleh pengampunan?

Jadi, apakah cara paling manusiawi untuk menghukum para pelaku kejahatan ini? Kursi listrik? Beberapa orang berpendapat bahwa suntikan dengan obat mematikan adalah cara yang paling tidak menyakitkan. Yang lain berpendapat nyawa akan berakhir lebih cepat dengan cara digantung.

Tetapi dalam suatu debat yang hebat tentang hukuman mati, ada satu pilihan yang tidak dipikirkan semuanya. Tidak ada yang menyarankan bahwa para pembunuh berdarah dingin itu, yang telah membunuh orang lain dengan kejam, membayar dengan penyiksaan fisik dengan cara disiksa sampai mati. Tidak ada seorangpun yang misalnya menyarankan bahwa para pembunuh ini harus dibakar perlahan sampai meninggal.

Tetapi banyak orang Kristen menganggap bahwa Bapa surgawi akan melakukan lebih buruk dari itu. Para pemberontak, dan orang-orang jahat akan dianiaya untuk membayar dosa-dosa mereka. Dan mereka menggambarkan tempat pelaksanaan hukuman itu sebagai tempat penganiayaan yang tak berakhir.

Tetapi apa sesungguhnya yang terjadi kepada orang-orang jahat? Bagaimana nasib mereka menurut kasih dan keadilan Allah? Mari kita melihat jawabannya di dalam Alkitab.

1. KEPEDIHAN HATI YESUS

Selama 6000 tahun Tuhan telah memohon kepada setiap orang.

"Demi aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya Ia hidup." - Yehezkiel 33:11.

Salib menyatakan betapa besar Allah ingin menyelamatkan mereka dari kejatuhan dosa. Pada saat Yesus menangis di salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dia menanggung beban hati yang sangat berat (Lukas 23:34). Segera setelah itu nyawa Yesus terputus, dan beberapa orang percaya bahwa Ia mati karena kepedihan hatiNya (Yohanes 19:30, 34).

Tetapi walaupun dengan pernyataan kasih yang tak terkira ini, sebagian orang tetap tidak mau berpaling kembali kepada Yesus. Dan selama dosa menguasai dunia, hal itu akan terus menambah kesengsaraan manusia. Maka, dosa harus dimusnahkan. Bagaimana Allah akan mengakhiri dosa?

"Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap." - 2 Petrus 3:10.

Tuhan pada akhirnya harus membersihkan dunia ini dari kejahatan dan mengakhiri dosa. Barangsiapa bertahan dalam dosa pada akhirnya akan dibinasakan oleh api yang telah disiapkan untuk menghanguskan Setan, para malaikatnya, dan orang-orang jahat dari dunia. Betapa sedih hati Yesus saat Ia melihat api menghanguskan orang-orang yang bagi mereka Ia telah menyerahkan diriNya.

2. DI MANA DAN KAPAN NERAKA ITU MULAI MENYALA?

Bertentangan dengan pandangan umum, Allah tidak memiliki tempat menyala yang dinamakan neraka itu sekarang, di mana para orang berdosa akan mati. Neraka dimulai ketika bumi ini diubah menjadi lautan api. Allah menunggu untuk mengeluarkan perintah bagi orang-orang jahat itu sampai akhir penghakiman di akhir masa 1000 tahun itu (Wahyu 20:9-15).

"Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada HARI PENGHAKIMAN." - 2 Petrus 2:9.

Ia juga membersihkan dunia ini dengan api yang menyucikan itu

"Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik." - 2 Petrus 3:7.

Allah tidak pernah merencanakan untuk mengakhiri makhluk hidup dengan api neraka. Tetapi ketika manusia menolak untuk melepaskan dirinya dari Setan dan berpegang pada dosanya, mereka pada akhirnya harus menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan yang mereka ambil. "Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya,

"Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya." - Matius 25:41.

Menurut Yesus, kapankah neraka itu dimulai?

"Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar ke dalam api, demikian juga pada akhir jaman, Anak manusia akan menyuruh malaikat-malaikatNya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam kerajaanNya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api: di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi." - Matius13:40-42.

Lalang itu, dan pembuat kejahatan, tidak akan dibakar sampai akhir dunia tiba. Dan sebelum hal ini dijalankan, seluruh dunia terlebih dahulu diyakinkan bahwa Tuhan adil dalam segala hal. Seperti dijelaskan dalam Panduan 22, pada pertarungan besar antara Kristus dan Setan, Setan mencoba untuk membuktikan kepada dunia bahwa jalan dosa adalah jalan yang lebih baik; Yesus menunjukkan bahwa ketaatan adalah kunci kepada kehidupan yang lebih memuaskan.

Pada akhir masa 1000 tahun, pertunjukan ini akan berakhir dengan hukuman bagi Setan, malaikat-malaikatnya, dan para pengikutnya. Setelah Buku Besar catatan kehidupan dibuka yang menyatakan hal-hal yang telah dilakukan setiap manusia dalam drama besar kehidupan, Tuhan akan melemparkan Setan, kematian, bersama dengan semua orang yang namanya" tidak ditemukan dalam buku kehidupan... ke dalam dapur api" (Wahyu 20:14-15). Menurut ayat selanjutnya, Wahyu 21:1, setelah Tuhan membersihkan bumi dari dosa dengan api, Ia akan menciptakan "surga dan bumi yang baru".

3. BERAPA LAMA NERAKA ITU TERBAKAR?

Sebagian orang percaya bahwa api kekal itu akan bertahan untuk selama-lamanya, yang berakibat pada penyiksaan kekal. Mari kita melihat ayat di mana Tuhan Allah menggambarkan tindakanNya terhadap dosa itu sendiri dan terhadap orang berdosa.

"Ia akan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya." - 2 Tesalonika 1:8, 9.

Perhatikanlah bahwa "kebinasaan selama-lamanya" tidaklah sama dengan "penyiksaan selama-lamanya" Secara sederhana, artinya adalah, kebinasaan selamanya. Dan akibatnya adalah kematian kekal. Petrus membicarakan hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik (2 Petrus 3:7).

Yesus mengatakan, baik "jiwa maupun tubuh mereka" akan dihanguskan di neraka (Matius 10:28). Dalam khotbahNya di atas bukit, Yesus membicarakan tentang pintu yang sempit yang menuntun kepada kehidupan, dan jalan lebar yang menuntun pada kebinasaan (Matius 7:13, 14). Dalam Yohanes 3:16 Yesus menerangkan bahwa Tuhan Allah "memberikan anakNya yang kekasih agar setiap manusia yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal" Yesus mempertentangkan dua hal: kehidupan yang kekal dan kematian yang kekal, bukan pembakaran yang kekal. Kita dapat menyimpulkan bahwa neraka pasti akan berakhir, yang berakibat kematian dan kehancuran orang-orang jahat.

Pernyatan-pernyataan jelas melalui ayat-ayat mengatakan kepada kita bahwa orang-orang jahat dibinasakan: "tetapi orang fasik akan dilenyapkan" (Mazmur 37:28), mereka "akan binasa" (2 Petrus 2:12), "mereka habis lenyap bagai asap" (Mazmur 37:20). Api akan menghanguskan mereka menjadi abu (Maleakhi 4:1-3). " Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Roma 6:23).

Tujuan dari hukuman akhir api neraka adalah untuk membersihkan dunia dari dosa, tidak untuk memelihara dosa selamanya. Sangatlah sulit membayangkan Kristus yang meratapi kekeraskepalaan Yerusalem dan memafkan mereka yang membawaNya kepada kematian, akan dapat menghabiskan waktu selama-lamanya untuk menyaksikan penderitaan dari orang-orang yang terhukum.

Neraka pasti akan berakhir. Pada penutupan masa 1000 tahun, Allah akan menurunkan api dari langit untuk membinasakan Iblis, malaikat-malaikatnya, dan orang jahat yang tetap bertahan dalam dosanya "tetapi dari langit, turunlah api menghanguskan mereka" (Wahyu 20:9).

Menurut Yesus, api itu "tak terpadamkan" (Matthew 3:12). Tidak ada pemadam kebakaran apapun yang dapat memadamkannya sampai pekerjaan api itu selesai.

Tuhan Allah berjanji bahwa, setelah api yang menyucikan itu, Ia akan menciptakan "suatu bumi baru" dan "langit yang baru" di mana "hal-hal yang dahulu tidak diingat lagi" dan "suara ratapan dan air mata tak akan terdengar lagi di sana" (Yesaya 65:16-19).

Betapa suatu hari yang kita tunggu! Semua penyebab kepedihan hati akan dimusnahkan. Tuhan Allah akan menghapus dosa dunia dari setiap hari, dan kebahagiaan kita akan sempurna.

4. PENGERTIAN "KEKAL" DI DALAM ALKITAB

Dalam Matius 25:41 Yesus membicarakan "api kekal" yang telah disediakan untuk "Iblis dan malaikat-malaikatnya". Apakah "kekal" di sini berarti selamanya? Yudas 1:7 menggambarkan Sodom dan Gomora "sebagai contoh dari mereka yang akan menderita akibat menanggung siksaan api kekal". Jelas bahwa kota-kota itu sudah tidak lagi terbakar saat ini. Tetapi api yang KEKAL pada saat itu adalah dalam arti bahwa api itu telah menyebabkan kerusakan tetap.

Di dalam 2 Petrus 2:6 sekali lagi kita membaca tentang api kekal. Tetapi ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa Tuhan "membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian". Orang-orang fasik di Sodom dan Gomora tidak lagi dalam penderitaan, mereka telah menjadi abu sejak lama. Tetapi api yang membakar mereka itu "kekal" dalam arti bahwa api itu telah menyebabkan kerusakan tetap. Kekal berarti hukuman yang tetap, bukan proses menghukum yang terus menerus.

Karena buku Wahyu menggunakan banyak bahasa-bahasa simbolik dan lambang-lambang yang nyata, beberapa bagiannya banyak disalah mengertikan. Sebagai contoh, Wahyu 14:11 mengatakan "asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya". Hal ini kedengarannya seperti penderitaan yang tidak berkesudahan. Tetapi, mari kita membiarkan Alkitab yang menjawab hal ini Keluaran 21:6 mengatakan bagaimana seorang budak akan ditindik telinganya oleh tuannya, dan budak itu akan bekerja pada tuannya untuk seumur hidupnya". Dalam hal ini, "selamanya" berarti selama budak itu hidup. Yunus, yang menghabiskan hanya tiga hari dan tiga malam di perut ikan (Matius 12:40), dikatakan berada di sana "selamanya" (Yunus 2:6). Tidak diragukan lagi tiga hari dalam kegelapan akan terasa seperti selamanya.

Maka kita harus berhati-hati mengartikan bagaimana ayat-ayat dalam Alkitab menggunakan bahasa-bahasa simbolik. Asap yang naik dari lautan api yang menyala-nyala adalah contoh nyata yang menggambarkan kerusakan kekal. Wahyu 21:8 mengatakan kepada kita bahwa lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang itu adalah "kematian yang kedua". Neraka itu akan berakhir. Orang-orang jahat dimusnahkan; mereka akan dihancurkan.

5. MENGAPA HARUS ADA NERAKA?

Pada mulanya, Tuhan Allah menciptakan dunia yang sempurna. Tetapi dosa datang dan membawa kerusakan, kebusukan, dan kematian. Jika saudara pulang pada suatu petang dan menemukan rumah anda telah kotor dan berantakan, apakan anda akan berdiam diri dan meninggalkannya begitu saja? Tentu saja tidak!. Anda akan menyapu kotoran dan sampah-sampah, membersihkan tempat itu dari atas sampai ke bawah, membuang semua perabot yang tidak dapat dipakai lagi. Dia akan berusaha membuang sampah dan polusi dari dosa di dunia sekali dan untuk semuanya, menciptakan bumi baru di tempat itu. Tujuan Tuhan membuat dunia ini dimurnikan oleh api itu adalah untuk menyiapkan suatu dunia sempurna tempat mereka yang diselamatkan dapat hidup.

Tetapi Tuhan Allah menghadapi masalah serius karena dosa tidak hanya merusakkan dunia, tetapi juga menginfeksi manusia di dalamnya. Dosa telah merusakkan hubungan kita dengan Dia dan hubungan kita dengan sesama. Umat manusia terus menerus dinodai oleh penganiayaan terhadap anak, terorisme, pornografi, dan ribuan kanker jiwa yang lain. Tuhan Allah, suatu hari nanti, harus menghancurkan dosa, karena dosa merusakkan manusia. Dilema Allah adalah: bagaimana melenyapkan virus dosa yang mematikan dari dunia tanpa merusak manusia yang telah terinfeksi yang di dalamnya? Solusinya adalah dengan mengambil virus itu ke dalam dirinya sendiri, mengijinkan kanker dosa itu menghancurkan diriNya di atas kayu salib. Dan sebagai hasilnya

"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita and menyucikan kita dari segala kejahatan." - 1 Yohanes 1:9.

Tuhan menawarkan pemecahan untuk semua masalah dosa secara cuma-cuma kepada setiap orang. Tetapi fakta yang menyedihkan adalah, beberapa orang tetap memilih untuk tinggal dalam kerusakan akibat dosa itu. Dan Allah tidak dapat memaksa manusia untuk mengikuti jalan kehidupan kekalNya. Barangsiapa menolak solusiNya pada akhirnya akan dihancurkan oleh penyakit itu. Alasan sesungguhnya tentang neraka adalah:

"Oleh karena ketika Aku memanggil, kamu tidak menjawab. Ketika Aku berbicara, kamu tidak mendengar, tetapi kamu melakukan apa yang jahat di mataKu dan lebih menyukai apa yang tidak berkenan kepadaKu." - Yesaya 65:12.

Dengan memisahkan diri dari Yesus dalam membuat pilihan mereka sendiri, orang-orang jahat akan mendapatkan satu-satunya pilihan, yaitu kematian kekal.

6. BERAPA HARGA UNTUK MENJADI TERSESAT?

Sekalipun tidak mengatakan bahwa api neraka akan menyebabkan penderitaan yang tidak berkesudahan, Alkitab memberikan pemandangan tentang pengalaman mengerikan dengan menjadi berdosa. Orang berdosa akan kehilangan kesempatan hidup yang kekal. Betapa mengerikan menyadari kebahagiaan hidup yang kekal bersama Tuhan berlalu dari tangan mereka, dan mereka tidak akan pernah dapat merasakan indahnya hubungan yang penuh kasih dan sempurna sepanjang masa. Saat Kristus digantung di atas kayu salib dengan dosa seluruh dunia yang memisahkanNya dengan BapaNya, Ia merasakan kesedihan yang amat sangat dari perasaan kehilangan yang abadi.

Sebagaimana orang-orang jahat melihat kehampaan di depan mereka, mereka juga hanya dapat melihat kebinasaan kekal. Mereka harus mati tanpa harapan akan kebangkitan yang kedua kali. Pada saat yang sama mereka melihat bagaimana mereka telah menolak Kristus dari waktu ke waktu saat Ia datang dengan kasih yang tak berkeputusan. Pada akhirnya mereka bersujud dan mengakui keadilan Allah dan kasihNya (Filipi 2:10, 11). Tidak mengherankan jikalau para penulis Alkitab menekankan kepada kita tentang hak pilih kita dan ajakan dari Kristus. Kami mengajak saudara untuk tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah ini. Sebagaimana Ia katakan

"Pada waktu aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau. Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan itu." - 2 Korintus 6:1-2.

Saya tidak dapat memikirkan suatu tragedi yang lebih besar daripada seseorang yang menyia-nyiakan pengorbanan tak terkira dari Yesus ini dengan memilih untuk menjadi tersesat. Alternatif-alternatif yang ada di hadapan kita telah sangat jelas: kehancuran abadi, pemisahan abadi dari Allah, atau persahabatan abadi dengan Kristus yang memenuhi semua kebutuhan terdalam kita. Apakah yang anda pilih? Mengapa anda tidak meletakkan nasib anda di dalam Kristus hari ini?


Hak Cipta © 2002 oleh The Voice of Prophecy



Gereja Perjanjian Baru-Pertemuannya

By:
Bob Deffinbaugh , Th.M.

Acts 2:42, 46 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. … 46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

Acts 20:7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.

1 Corinthians 11:18 Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.

1 Corinthians 14:26-40 Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. 27 Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. 28 Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. 29 Tentang nabi-nabi--baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. 30 Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. 31 Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. 32 Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. 33 Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. 34 Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. 35 Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. 36 Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? 37 Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. 38 Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. 39 Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. 40 Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur
Pendahuluan

Saat kita memulai seri mengenai gereja Perjanjian Baru, kita menekankan pentingnya gereja dalam program Tuhan. Jika saya bisa menyatakan prinsip ini secara visual, saya pikira itu bisa menolong menekankan fakta bahwa gereja Perjanjian Baru merupakan titik pusat dari program Tuhan, karena dalam gerejalah maksud Tuhan bertemu. Kita bisa menggambarkan hal ini dengan ilustrasi demikian:

Jika kita mengerti gereja seperti ini, maka seharusnya jelas bahwa doktrin gereja sangat penting, karena tujuan Tuhan dalam dunia sekarang ini tidak bisa dipisahkan dengan prinsip dan praktek gereja. Ini dasar yang sudah dibahas tapi baik untuk ditekankan kembali, karena gereja masa sekarang dianggap tidak relevan dan tidak berdaya oleh sebagian besar orang Kristen.

Dalam cara yang mirip, bagi saya kelihatan bahwa kita mengatakan kalau pertemuan digereja sepenting dan tidak terpisahkan dari prinsip Tuhan terhadap gereja dengan program Tuhan bagi dunia. Biarlah saya menyatakannya dengan grafik seperti ini:

Disini kita melihat bahwa titik temu prinsip gereja PB sangat penting, yaitu pertemuan gereja. Karena ini merupakan pembahasan kita, “Gereja Perjanjian Baru—Pertemuannya.”
‘Pertemuan Gereja’ dan Pertemuan-pertemuan gereja

Saat kita memulai, kita harus hati-hati membedakan antara apa yang akan saya sebut sebagai ‘pertemuan gereja’ dan ‘pertemuan-pertemuan gereja’. Ekspresi ‘pertemuan gereja’ menunjuk pada pertemuan mingguan gereja untuk mengajar, bersekutu, memecahkan roti (atau mungkin anda biasa menyebutnya ‘perjamuan kudus’) dan doa. Setelah kelahiran gereja pada hari Pentakosta dalam Kisah Para Rasul pasal 2, Lukas menggambarkan aktifitas yang dilakukan gereja baru itu: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” (Acts 2:42).

Sekarang kita tahu bahwa dimasa permulaan gereja, hal itu dilakukan setiap hari (Acts 2:46), tapi kita juga menyadari bahwa ini tidak praktis untuk dilakukan seterusnya, seperti kita sekarang. Akibatnya, praktek permanent dari gereja adalah bertemu dihari pertama dalam satu minggu untuk meneruskan fungsi pengajaran, persekutuan, memcahkan roti dan berdoa. Hal seperti itu kesimpulan dari (baca Acts 20:1) Acts 20:7-12, 1 Corinthians 11:17ff., dan 14:26ff. Kita berasumsi, bahwa ‘pertemuan gereja’ merupakan pertemuan dihari pertama setiap minggu, dimana semua orang Kristen yang menjadi bagian dari gereja datang untuk diajar, mengingat Tuhan dalam perjamuan, untuk persekutuan dan doa.

Secara umum telah saya katakan bahwa pertemuan gereja bertujuan untuk pengajaran, persekutuan, memecahkan roti, dan berdoa. Saat kita melihat berbagai bagian Alkitab yang menggambarkan pertemuan gereja dalam detil yang lebih besar (cf. 1 Cor. 11:17ff; 14:26ff), kita menemukan bahwa ada variasi partisipasi dan aktifitas dimana orang kudus terlibat dalam pertemuan gereja. Kita mengetahui kalau mereka menyanyi (Eph. 5:19; Col. 3:16), berdoa (Acts 2:42; 1 Tim. 2:1-2, 8), mengajar (Acts 2:42; 20:7), discipline (Matt. 18:17), pembacaan Alkitab (1 Cor. 14:26; 1 Tim. 4:13), dan mungkin mengumpulkan persembahan (cf. Acts 2:42, 45; 1 Cor. 16:1-4). Di masa permulaan gereja ada juga pelaksanaan karunia lidah, interpretasi, dan nubuat (1 Cor. 14:26-28, 29).

Disamping pertemuan teratur ada beberapa pertemuan tambahan yang diadakan gereja. Sebagai contoh, dalam Acts 12:5, 12ff., gereja bertemu untuk berdoa bagi Petrus yang ditangkap oleh Herodes. Kita tahu bahwa Paulus mengajar setiap hari disekolah Tyrannus di Ephesus hampir 2 tahun (Acts 19:9-10). Pertemuan semacam ini jelas diadakan oleh gereja, tapi berbeda waktu, tempat dan keadaan, dan tidak secara regular, secara konsisten atau seragam dijalankan oleh semua gereja.

Anda akan mengerti jika saya bicara ‘pertemuan-pertemuan gereja’ saya tidak menunjuk hal ini sebagai satu-satunya pertemuan yang bisa dijalankan secara legitimate oleh gereja. Pertemuan doa khusus, penyelidikan Alkitab dirumah, pertemuan misionaris, dan pertemuan khusus lainnya ada didalam prinsip Alkitab. Pertemuan ini bisa dilakukan secara teratur dan tidak melanggar prinsip Alkitab. Tapi pertemuan ini bukan merupakan keharusan, itu semua tidak sepenting ‘pertemuan gereja.’
Kenapa Kita tidak bisa Memisahkan
Kegiatan Ini kedalam Beberapa Pertemuan Terpisah?

Sekarang saya yakin bahwa saya telah membuat suatu pertanyaan dalam pikiran anda. Itu bisa dinyatakan seperti ini: “Jika semua aktifitas berlangsung digereja, apa salahnya mengadakan beberapa pertemuan yang memasukan fungsi yang sama seperti ini?” Beberapa gereja memiliki pertemuan gereja, pertemuan pengajaran, bernyanyi, Alkitab, dll. Dan gereja mana yang tidak ada persembahannya? Kenapa semua ini harus dilakukan dipertemuan yang sama? Ini merupakan pertanyaan yang penting dan bernilai untuk diusahakan jawabannya.

Alasan Alkitab bagi Satu Pertemuan Gereja

Untuk memulainya, biarlah saya mengutip beberapa alasan Alkitab kenapa keragaman pertemuan gereja merupakan suatu kesalahan.

(1) Alkitab mengajar bahwa setiap manusia memiliki hak untuk ikut serta dalam pertemuan gereja dengan berbagai cara. Saat elemen pertemuan gereja dibagi kedalam berbagai pertemuan, hampir tidak ada kesempatan bagi setiap orang untuk partisipasi. Sebagai contoh, walau ada pelayanan kotbah dan pengajaran, apakah setiap orang bebas mengajar dan berkotbah disana? Jika tidak, maka dimana dia bisa menyampaikannya kepada seluruh tubuh untuk keuntungan mereka? Sekarang saya menyadari bahwa dipertemuan doa tradisional semua bisa berdoa, tapi tidak demikian dengan sharing lagu, sebagian Alkitab, atau kesaksian pribadi. Setiap orang seharusnya bebas disuatu waktu, dan saya ingin menuntut satu waktu, untuk menjalankan keimamannya dan karunia rohaninya secara verbal dan umum.

(2) Saat berbagai elemen dari pertemuan gereja dibagi kedalam beberapa pertemuan berbeda, ini penekanan yang tidak pada tempatnya atau nilai diletakan atas satu orang dibanding yang lain. Saya menemukan, bahwa ada beberapa orang yang merasa kalau eksposisi Alkitab dihari minggu merupakan sesuatu yang mereka inginkan, jadi mereka tidak merasa perlu datang ke perjamuan kudus minggu malam. Penekanan PB adalah keseimbangan, sejauh ini saya melihat, dalam hal pengajaran, persekutuan, dan doa. Pembagian fungsi ini hampir selalu menyebabkan ketidakseimbangan.

(3) Masalah serius lain yang diciptakan melalui pembagian dalam pertemuan gereja adalah menciptakan kebingungan terhadap kapan prinsip PB secara spesifik dihubungkan dengan pertemuan gereja yang harus diaplikasikan. Sebagai contoh, kita diberitahu dalam 1 Corinthians 14:34-35 bahwa wanita harus diam dipertemuan gereja, dan tidak boleh bertanya. Jika elemen pertemuan gereja dibagi kedalam beberapa pertemuan, apakah ini artinya wanita tidak bisa bertanya disetiap pertemuan ini? Jika bisa, dipertemuan mana dia bisa bertanya dan mana yang tidak? Apa dasar kesalahannya? Pertanyaan ini muncul dari keragaman pertemuan daripada satu pertemuan.

Alasan Praktis untuk Satu Pertemuan Gereja

Selain Alkitabiah, praktek dan pengajaran PB adalah praktis. Ada beberapa alasan praktis untuk mengadakan satu pertemuan gereja.

(1) Terlalu banyak pertemuan dan tidak cukup waktu. Bagi banyak gereja hal ini terlalu banyak pertemuan dan tidak memiliki cukup waktu. Seringkali agar dilihar rohani oleh orang gereja, kita harus memberikan perhatian yang cukup bagi keluarga kita. Lingkungan kita terlalu kompleks, tuntutan waktu terlalu besar, memiliki beberapa pertemuan disetiap minggu. Minggu tidak ada waktu istirahat; itu jadi hari pergulatan dan sibuk dengan anak ked an dari gereja. Kita memberi terlalu banyak pertemuan dengan orang percaya, kita tidak memiliki waktu untuk yang terhilang.

(2) Terlalu banyak perjalanan dan sediki bahan bakar. Untuk lebih jelasnya, terlalu banyak inefisiensi dari pertemuan terus menerus dalam gereja. Tidak hanya terlalu banyaknya waktu yang dihabiskan dalam perjalanan, tapi juga bahan bakar—dan seharusnya sudah jelas bagi kita kalau sumber itu suatu saat akan habis. Dan belum lagi tenaga yang dihabiskan dalam penghangant, pendingin, dan penerangan bangunan gereja.

(3) Sebagai hasil bentroknya waktu dan jadwal, setiap keluarga harus membuat pilihan dimana harus membuang beberapa aspek penting dari kegiatan gereja. Karena tidak mungkin bagi setiap keluarga mengikuti semua pertemuan gereja dalam seminggu, mereka harus memilih beberapa dan menghilangkan yang lain. Walau mereka tahu bahwa pertemuan yang tidak diikuti itu penting, apakah itu pertemuan doa, pelayanan perjamuan, atau sesi pengajaran, mereka tidak bisa mengikuti semuanya. Jadi apapun alasan tidak mengikuti setiap kegiatan itu, mereka kekurangan.

(4) Seperti anda tidak bisa membedah suatu mahluk hidup tanpa menghancurkan hidupnya, demikian juga anda tidak bisa membedah pertemuan gereja tanpa kehilangan vitalitasnya. Ada sesuatu mengenai kombinasi elemen dalam pertemuan gereja yang hilang saat setiap elemen diisolasi dalam beberapa pertemuan berbeda. Saat semua elemen pertemuan gereja dikombinasikan ada suatu keragaman, rasa expectasi, suatu vitalitas yang membuat seseorang ingin datang lagi. Seorang penulis mengungkapkan kekurangan kita dalam pertemuan yang beragam,

Seseorang tidak bisa tidak merasa ada sesuatu yang hilang dalam gereja sekarang ini dan untuk tingkatan tertentu Cullman patut diperhatikan saat dia berkata “pelayanan ibadah dalam gereja protestan di masa kita sangat miskin, tidak hanya dalam hal karya Roh Kudus, tapi juga dalam hal liturgy dan terutama dalam hal apa yang dituju dalam pertemuan komunitas.”11

Saya melihat sebuah artikel majalah yang berjudul, “Saat cetakan jadi berjamur” dan saya tertawa saat penulis meratapi kenyataan bahwa kita selalu bisa menetapkan jam kita melalui urutan pelayanan. Hal seperti itu bukan pertemuan yang mengobarkan orang percaya mula-mula dan membalikan dunia. Berbagai elemen gereja itu saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Ibadah tidak bisa terjadi dalam suatu ruang hampa, atau atas perintah. Itu suatu respon pada Tuhan, atributNya, kesetiaanNya, kebaikanNya, karyaNya dalam hidup kita. Sat kita mengajar Alkitab dan memuji diwaktu yang berbeda, kita melakukan aborsi Firman Tuhan, karena saat kita kagum dan diinspirasi oleh pengajaran Firman Tuhan, saat itulah kita diingatkan akan karakter, dan kebaikannya, maka kita disuruh berdiri untuk doa berkat. Inilah waktu untuk doa pujian, hymne pujian, mengambil bagian secara sukacita dalam elemen perjamuan yang melambangkan karyaNya dalam tindakan kita. Anda tidak bisa memisahkan elemen ini dalam pertemuan gereja.
Pertemuan Gereja:
Titik Inti dari Prinsip Gereja PB

Anda akan mengingat kembali pesan yang mulai saya katakan pada anda bahwa seperti gereja adalah pusat karya Tuhan bagi manusia, demikian juga pertemuan gereja merupakan pusat prinsip PB mengenai gereja. Mari saya ulangi pentingnya pertemuan gereja jika kita ingin menjalankan prinsip PB yang seharusnya.

(1) Prinsip Karunia Rohani. Prinsip bahwa setiap orang Kristen telah diberikan karunia rohani untuk keuntungan seluruh tubuh (1 Cor. 7). Pertemuan gereja memberikan suatu kesempatan bagi manusia untuk menemukan dan mengembangkan apa yang disebut karunia utama. Pasti ada jalan menemukan dan mengembangkan karunia rohani, tapi pertemuan gereja adalah yang terpenting. Jelas, sebagian besar gereja PB, itu mungkin satu-satunya cara untuk ekspresi secara umum, karena mungkin tidak ada lagi pertemuan gereja yang lain.

(2) Yesus Kristus sebagai Kepala. Kedua, mengambil prinsip Kristus sebagai Kepal atas gereja. Bagaimana itu secara praktek nyata melalui gereja? Cara apa yang lebih baik dan jelas daripada datang bersama sebagai gereja dan melihat Dia memimpin orang untuk mengajar, menasihati, membagikan pujian atau bagian Alkitab saat dipimpin ilahi. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mempersiapkan diri sepanjang minggu, tapi, tidak ada koordinasi yang detil dari berbagai peserta pertemuan. Karena tidak ada satu pemimpin yang mengarahkan detil pertemuan, menjadi nyata bahwa Tuhan sendiri memimpin pertemuan melalui RohNya.

Kepemimpinan Yesus Kristus atas gerejaNya nyata oleh fakta bahwa manusia memimpin dalam pertemuan gereja (1 Corinthians 11:3). Inilah alasan Paulus memberitahu seseorang untuk memimpin doa dan pengajaran saat gereja berkumpul beribadah, dan alasan wanita berdiam diri belajar (1 Timothy 2:8-15). Ini juga alasan pria yang melayani sebagai elder bukan wanita.12

(3) Kependetaan setiap orang percaya. Sekarang kesempatan apa yang lebih besar untuk menunjukan kependetaan pada setiap orang percaya daripada dalam pertemuan gereja. Manusia bisa menjalankan kependetaannya dengan secara verbal memuji Tuhan dan menyerukan FirmanNya, dan dalam permohonan bagi yang lain. Wanita, walau tidak dengan jelas, memberikan pujian, memohon bagi yang lain, dan berpartisipasi dalam mengingat akan kematian Tuhan. Disini, memang, menjalankan kependetaan setiap orang percaya secara umum.

Kependetaan setiap orang percaya ditunjukan dalam menyampaikan elemen selama komuni, dan dalam doa bagi persembahan. Karena kependetaan setiap orang percaya menghilangkan perbedaan PL antara orang awam dan pendeta, memimpin komuni dan persembahan adalah hak istimewa dan kewajiban setiap orang.

(4) Gereja sebagai tubuh Kristus. Pada pertemuan gereja, orang kudus berkumpul sebagai tubuh Kristus. Setiap anggota saling bergantung dengan anggota tubuh lainnya. Setiap anggota saling menguatkan dan menasihati. Setiap anggota diingatkan mengenai kesatuan tubuh saat mengambil bagian dalam perjamuan (1 Cor. 10:17). Setiap anggota diingatkan akan kebergantungannya dalam tubuh Kristus saat berkontribusi dalam pelayanan.

Demikian kamu melihat bahwa prinsip dari gereja PB secara indah meliputi dan mencapai puncaknya dalam pertemuan gereja. Didalam pertemuan mingguan dari gereja local ini orang kudus berkumpul untuk pengajaran, persekutuan, memecahkan roti dan berdoa. Dengan kata lain, mereka bertemu untuk beribadah; didalamnya, mereka bertemu untuk peneguhan iman; diluarnya, mereka berkumpul untuk menyatakan kemuliaan anugrahNya. Suatu hak istimewa telah diberikan pada kita untuk berkumpul dengan cara ini setiap minggu.

Biar saya sekali lagi menegaskan kebutuhan untuk keseimbangan dalam berbagai elemen dari pertemuan gereja. Ada beberapa gereja yang lebih baik disebut, “Apostles Doctrine Church,” yang lainnya, “Fellowship Church,” dan yang lain “Communion Church.” Setiap elemen ini harus ditemukan secara seimbang dalam setiap gereja. Itulah keinginan kita untuk gereja kita.
Pertemuan Gereja

Sekarang, setelah mengatakan semua itu, dan anda tahu ada banyak hal yang bisa dikatakan disini, biarlah secara singkat digambarkan apa yang kita inginkan dalam pertemuan gereja. Pertama, kita bermaksud menyediakan suatu pengajaran, persekutuan dan pengingat akan Tuhan , serta doa yang seimbang. Kita mempertimbangkan setiap hal ini sebagai hal yang penting. Kita berusaha menyediakan keseimbangan semua hal ini dalam setiap pertemuan gereja setiap minggu dari jam 9 a.m. sampai kira-kita11:30 or 11:45. Karena pengajaran sistematik penting bagi pertumbuhan dan kedewasaan gereja, porsi pertama dari pertemuan diberikan pada pengajaran. Saya akan mulai suatu seri dari Kitab Kisah Para Rasul. Walau saya (atau saudara yang lain) mengajar orang dewasa, anak-anak akan mempelajari dari teks yang sama (dalam kebanyakan kasus) pada tingkatan kemampuan dan ketertarikan mereka. Setelah sesi pengajaran akan ada saat untuk pertanyaan (oleh pria—1 Cor. 14:35) dam jawaban. Setelah ini saya menduga kita akan memperkenalkan pengunjung dan istirahat untuk kopi dan ngobrol sekitar 20 atau 25 minutes. Kemudian kita akan memulai segmen pujian dan sekolah minggu akan bergabung dengan kita saat bernyanyi (dimasukan beberapa lagu anak-anak). Kita akan memiliki waktu untuk setiap pria yang ingin berbagi Firman. Kita juga memberi waktu untuk pujian dan mengingat Tuhan kita dalam komuni. Terakhir kita memberi waktu untuk doa dan pujian. Selama pertemuan, lagu dan hymn yang tepat dibutuhkan. Keinginan kita dalam menjalankan pertemuan gereja adalah agar Tuhan dipuji, orang kudus diteguhkan imannya, dan yang belum bertobat disadarkan dan bertobat.

11 Robert L. Saucy, The Church in God’s Program (Chicago: Moody Press, 1972), p. 190, quoting Oscar Cullmann, Early Christian Worship, p. 26.

12 Hal ini sering diperdebatkan. Sebagian berpendapat bahwa hanya pria yang bisa melayani sebagai tetua, tapi wania bisa melayani sebagai deacons (or deaconesses). Pengertia pribadi saya bahwa hanya pria saja yang bisa memegang kedua jabatan diatas. Maksudnya disini, melalui pria memimpin gereja, mereka mencerminkan Kristus sebagai kepada atas gereja.



Good link : http://www.discoveronline.org/indonesian/index.html



0 Comments:

Post a Comment

<< Home