Renungan Sore
Utamakan Firman
.
Saya ingin menyampaikan satu-satunya rahasia untuk menjalani dunia ini. Sederhana. Utamakan Firman Tuhan dalam hidup sehari-harimu. "Baiklah," mungkin Anda berpikir demikan,"Saya pernah mendengarnya sebelumnya. Bukan rahasia lagi." Tapi jika Anda memahami yang saya maksudkan, hal ini bisa menjadi pewahyuan bagi Anda. Lihatlah, Alkitab bukanlah sekedar textbook, buku cerita atau buku sejarah. Itu adalah buku pegangan hidup. Ini merupakan hikmat dari Tuhan Yang Kuasa, dituliskan agar Anda dapat menerapkannya dalam keseharian Anda. Tuhan mengatakan bahwa hikmat adalah "hal prinsip" Prinsip maksudnya "yang pertama dari yang terpenting." Itu artinya Firman Tuhan perlu menempati tempat terpenting dalam segala aktivitas Anda. Saya mengetahuinya dari pengalaman akan pengaruh yang dapat kita rasakan dalam hidup kita. Duapuluh tahun lalu saya memutuskan untuk membaca injil dan kitab Kisah Para Rasul tiga kali dalam 30 hari. Rasanya seperti tugas yang tidak mungkin pada saat itu. Dengan dua anak kecil dan rumah yang berantakan, saya tidak lihat kemungkinan untuk menyediakan waktu membaca Firman tapi tetap dapat menuntaskan semuanya. Tapi saya menyiapkan diriku untuk menyingkirkan semuanya dan melakukan keputusan saya itu bagaimanapun juga. Cukup mengejutkan, di akhir hari pertama saya telah menghabiskan lebih dari yang dapat saya lakukan pada kondisi normal. Dan pada akhir ketigapuluh hari itu, Saya tidak hanya membaca injil dan Kisah para Rasul sebanyak tiga kali, saya juga menyelesaikan pekerjaan rumah tanggaku, merawat anak-anakku, dan menyelesaikan beberapa mebel yang perlu diperbaiki! Saya terkejut! Anda akan terkejut pada apa yang akan terjadi pada hidup Anda juga, jika Anda mendahulukan Firman Tuhan. Tapi ijinkan saya mengingatkan Anda, jangan tunggu sampai Anda punya waktu. Iblis akan menjadikan Anda tidak pernah punya waktu. Lakukan seperti yang telah saya lakukan dan singkirkan perkara lainnya. Investasikan waktu Anda pada Firman dan investasi Anda akan berkembang pada setiap segi kehidupan Anda.
Batu Kecil
.
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak,tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang- orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja. Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama. Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya. Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Tuhan melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tetapi tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Tuhan sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.
Bangau Emas
.
Sebagai guru Origami di sebuah sekolah, Nancy diminta sekolahnya untuk ikut pameran di sebuah mal besar. Ia memutuskan untuk membawa 200 buah bangau kertas lipat untuk dibagikan pada orang yang mampir di standnya. Tapi, sebelum hari itu tiba, suatu peristiwa yang aneh terjadi, sebuah suara memberi tahu dia untuk mencari selembar kertas timah warna emas dan membuat sebuah bangau origami emas. Suara aneh itu sangat kuat sehingga Nancy membongkar kumpulan kertas origaminya di rumah, sampai ia menemukan selembar kertas timah emas yang bersih mengkilat. "Untuk apa aku melakukan ini?" Ia bertanya pada diri sendiri. Nancy belum pernah melipat kertas emas yang mengkilat; kertas itu susah dilipat atau tidak bisa serapi kertas warna. Tapi suara aneh itu terus mendorongnya. Nancy mendengus dan mencoba tidak mendengarkan suara itu. "Kenapa harus kertas timah emas? Kertas biasa lebih mudah dilipat," pikirnya. Suara itu berbicara lagi. "Lakukan saja!" Dan kamu harus memberikannya besok kepada seseorang yang istimewa." Sekarang Nancy sudah mulai merasa agak jengkel. "Orang istimewa apa?" tanyanya pada suara itu. "Kamu nanti tahu yang mana," suara itu berkata. Sore itu Nancy melipat dan membentuk kertas timah emas yang susah itu dengan hati-hati sampai kertas itu menjadi secantik dan selembut seekor bangau asli yang akan terbang. Ia membungkus burung itu dalam kotak bersama 200 bangau kertas warna-warni yang dibuatnya selama beberapa minggu sebelumnya. Besok harinya di mal, berpuluh-puluh orang mampir di stand Nancy untuk ber! tanya-tanya tentang origami. Ia melipat, meluruskan, dan melipat lagi. Ia menjelaskan detail yang susah, dan perlunya lipatan yang tajam. Lalu, ada seorang wanita berdiri di depan Nancy. Orang istimewa itu. Nancy belum pernah bertemu dengannya sebelumnya, dan wanita itu belum berbicara apa-apa waktu ia menonton Nancy melipat selembar kertas merah muda cerah dengan hati-hati menjadi seekor bangau yang bersayap cantik dan tajam. Nancy melihat wajahnya, dan tiba-tiba tangan Nancy sudah masuk ke kotak besar yang berisi bangau-bangau kertas. Muncullah burung kertas timah emas lembut yang dibuatnya tadi malam. Ia mengambilnya dan meletakkannya di tangan wanita itu hati-hati. "Aku tidak tahu kenapa, tapi ada suara aneh dalam diri saya yang menyuruh saya memberikan bangau emas ini pada Ibu. Bangau adalah simbol kuno untuk kedamaian," kata Nancy. Wanita itu tidak menjawab waktu ia pelan-pelan menutupkan tangan kecilnya pada burung kecil itu sepertinya burung itu hidup. Waktu Nancy melihat wajahnya, ia melihat matanya basah, hampir menangis. Akhirnya, wanita itu menarik napas panjang dan berkata, "Suami saya meninggal tiga minggu yang lalu. Ini pertama kalinya saya keluar rumah. Hari ini..." Ia mengusap matanya dengan sebelah tangan, dan tangan lainnya masih membelai bangau emas itu dengan lembut. Ia berbicara sangat pelan. "Hari ini ulang tahun pernikahan emas kami." Kemudian wanita itu berbicara lagi, "Terima kasih untuk pemberian yang indah ini. Sekarang saya tahu bahwa suami saya sudah damai. Ibu mengerti, kan? Suara yang Anda dengar itu adalah suara Tuhan dan bangau indah ini adalah pemberian-Nya. Ini hadiah pernikahan ke-50 yang paling indah yang saya terima. Terima kasih karena Anda mau mendengarkan suara hati itu." Dan itulah cara Nancy belajar mendengarkan dengan hati-hati setiap ada sebuah suara kecil dalam dirinya menyuruhnya melakukan sesuatu yang mungkin tidak ia mengerti! waktu itu.
Masa Hidup Kita
.
Ketika mengunjungi Museum Henry Ford di Dearborn, Michigan, saya tertarik dengan sebuah pameran bertema "Masa Hidup Kita" yang memaparkan berbagai peristiwa bersejarah tingkat nasional dan dunia. Di dalamnya digambarkan hiburan populer dan kondisi nyata yang terjadi di Amerika Serikat pada masa perang, masa Eisenhower, masa generasi Baby Boomers [generasi setelah PD II], dan seterusnya. Saya meninggalkan pameran itu dengan kesimpulan bahwa walau Anda dan saya tidak dapat memilih periode sejarah di mana kita hidup, kita harus menentukan bagaimana kita akan hidup selama masa yang diberikan pada kita. Kebenaran ini tercermin dalam tindakan berani yang dilakukan oleh Ratu Ester muda dan sepupunya, Mordekhai. Ketika Haman yang mengalami kepahitan di hatinya berencana untuk memusnahkan kaumYahudi, Mordekhai mendesak Ester untuk mengambil risiko dengan menghadap raja sebagai wakil mereka. Ia berkata, "Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu" (Ester 4:14). Ini adalah pernyataan yang patut dipertimbangkan oleh setiap orang kristiani. Seperti Ester, setiap orang merupakan pribadi yang unik dalam sejarah. Kehadiran kita di dunia ini bukanlah kebetulan, karena Allah memanggil kita untuk menjadi utusan-Nya di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, atau sekolah kita. Sungguh merupakan hak istimewa bagi kita untuk menjadi milik Allah dan sungguh suatu panggilan yang mulia untuk menjadi saksi bagi-Nya selama masa kita hidup
Tidak Ada Ruginya
.
"Katakanlah berbahagia orang benar! Sebab mereka akan memakan hasil pekerjaannya. Celakalah orang fasik! Malapetaka akan menimpanya, sebab mereka akn diperlakukan menurut perbuatannya sendiri." (Yesaya 3:10-11) Pernahkah Anda merasa takut untuk menyerahkan hidupmu sepenuhnya pada Tuhan karena Anda pikir Anda akan dipisahkan dari kenikmatan hidup ini? Kemungkinannya adalah, Anda pernah mengalaminya. Itu karena Setan bekerja lembur untuk meyakinkanmu bahwa dia dapat menjadikan hidupmu lebih berarti. Tapi jangan sedetikpun mempercayainya. Kenyataannya, berserah sepenuhnya pada Tuhan tidak memerlukan biaya sedikit pun. Berserah padaNya hanya akan menjadikan hidupmu sampai pada kepenuhannya! Hidup Yesus di dunia merupakan contoh sempurna penyerahan diri. Dia adalah contoh hidup dari segala keuntungan hidup dalam Tuhan. Kemanapun Dia pergi, Yesus membuat yang tuli mendengar, buta melihat, lumpuh berjalan. Dia hidu dalam damai yang sempurna dan kemenangan mutlak. Semuanya itu terdengar sangat baik bagiku. Satu-satunya yang terlewati adalah saat iblis mengambil alih dominasi atasNya untuk membunuh, mencuri dan menghancurkan. Kenyataannya, iblis tidak dapat melakukan apapun atasNya sampai, oleh ijin Bapa, Dia menyerahkan hidupNya. Hingga saat itu Yesus terus berjalan dalam kemenangan mutlak atas para musuh. Apakah Anda berpikir akan kehilangan banyak hal jika hidup seperti itu? Tentu saja tidak! Anda dapat berjalan dalam urapan dan kuasa dan kemegahan Tuhan, sama seperti Yesus telah melakukannya selama di dunia. Apakah Anda harus menyerahkan seluruh hidupmu untuk melakukannya? Ya! Anda harus menukarkan hidupmu dengan hidup dari Tuhan. Anda harus menukarkan sakitmu untuk penyembuhanNya, kemiskinanmu untuk kekayaanNya, kegelisahanmu untuk kedamaianNya, dosamu untuk kebenaranNya. Jadi kenapa ragu? Saat Anda melakukannya, tidak ada ruginya untukmu ()
Kisah Pohon Apel
.
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua ahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." Kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
.
Saya ingin menyampaikan satu-satunya rahasia untuk menjalani dunia ini. Sederhana. Utamakan Firman Tuhan dalam hidup sehari-harimu. "Baiklah," mungkin Anda berpikir demikan,"Saya pernah mendengarnya sebelumnya. Bukan rahasia lagi." Tapi jika Anda memahami yang saya maksudkan, hal ini bisa menjadi pewahyuan bagi Anda. Lihatlah, Alkitab bukanlah sekedar textbook, buku cerita atau buku sejarah. Itu adalah buku pegangan hidup. Ini merupakan hikmat dari Tuhan Yang Kuasa, dituliskan agar Anda dapat menerapkannya dalam keseharian Anda. Tuhan mengatakan bahwa hikmat adalah "hal prinsip" Prinsip maksudnya "yang pertama dari yang terpenting." Itu artinya Firman Tuhan perlu menempati tempat terpenting dalam segala aktivitas Anda. Saya mengetahuinya dari pengalaman akan pengaruh yang dapat kita rasakan dalam hidup kita. Duapuluh tahun lalu saya memutuskan untuk membaca injil dan kitab Kisah Para Rasul tiga kali dalam 30 hari. Rasanya seperti tugas yang tidak mungkin pada saat itu. Dengan dua anak kecil dan rumah yang berantakan, saya tidak lihat kemungkinan untuk menyediakan waktu membaca Firman tapi tetap dapat menuntaskan semuanya. Tapi saya menyiapkan diriku untuk menyingkirkan semuanya dan melakukan keputusan saya itu bagaimanapun juga. Cukup mengejutkan, di akhir hari pertama saya telah menghabiskan lebih dari yang dapat saya lakukan pada kondisi normal. Dan pada akhir ketigapuluh hari itu, Saya tidak hanya membaca injil dan Kisah para Rasul sebanyak tiga kali, saya juga menyelesaikan pekerjaan rumah tanggaku, merawat anak-anakku, dan menyelesaikan beberapa mebel yang perlu diperbaiki! Saya terkejut! Anda akan terkejut pada apa yang akan terjadi pada hidup Anda juga, jika Anda mendahulukan Firman Tuhan. Tapi ijinkan saya mengingatkan Anda, jangan tunggu sampai Anda punya waktu. Iblis akan menjadikan Anda tidak pernah punya waktu. Lakukan seperti yang telah saya lakukan dan singkirkan perkara lainnya. Investasikan waktu Anda pada Firman dan investasi Anda akan berkembang pada setiap segi kehidupan Anda.
Batu Kecil
.
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak,tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang- orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja. Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama. Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya. Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Tuhan melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tetapi tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Tuhan sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.
Bangau Emas
.
Sebagai guru Origami di sebuah sekolah, Nancy diminta sekolahnya untuk ikut pameran di sebuah mal besar. Ia memutuskan untuk membawa 200 buah bangau kertas lipat untuk dibagikan pada orang yang mampir di standnya. Tapi, sebelum hari itu tiba, suatu peristiwa yang aneh terjadi, sebuah suara memberi tahu dia untuk mencari selembar kertas timah warna emas dan membuat sebuah bangau origami emas. Suara aneh itu sangat kuat sehingga Nancy membongkar kumpulan kertas origaminya di rumah, sampai ia menemukan selembar kertas timah emas yang bersih mengkilat. "Untuk apa aku melakukan ini?" Ia bertanya pada diri sendiri. Nancy belum pernah melipat kertas emas yang mengkilat; kertas itu susah dilipat atau tidak bisa serapi kertas warna. Tapi suara aneh itu terus mendorongnya. Nancy mendengus dan mencoba tidak mendengarkan suara itu. "Kenapa harus kertas timah emas? Kertas biasa lebih mudah dilipat," pikirnya. Suara itu berbicara lagi. "Lakukan saja!" Dan kamu harus memberikannya besok kepada seseorang yang istimewa." Sekarang Nancy sudah mulai merasa agak jengkel. "Orang istimewa apa?" tanyanya pada suara itu. "Kamu nanti tahu yang mana," suara itu berkata. Sore itu Nancy melipat dan membentuk kertas timah emas yang susah itu dengan hati-hati sampai kertas itu menjadi secantik dan selembut seekor bangau asli yang akan terbang. Ia membungkus burung itu dalam kotak bersama 200 bangau kertas warna-warni yang dibuatnya selama beberapa minggu sebelumnya. Besok harinya di mal, berpuluh-puluh orang mampir di stand Nancy untuk ber! tanya-tanya tentang origami. Ia melipat, meluruskan, dan melipat lagi. Ia menjelaskan detail yang susah, dan perlunya lipatan yang tajam. Lalu, ada seorang wanita berdiri di depan Nancy. Orang istimewa itu. Nancy belum pernah bertemu dengannya sebelumnya, dan wanita itu belum berbicara apa-apa waktu ia menonton Nancy melipat selembar kertas merah muda cerah dengan hati-hati menjadi seekor bangau yang bersayap cantik dan tajam. Nancy melihat wajahnya, dan tiba-tiba tangan Nancy sudah masuk ke kotak besar yang berisi bangau-bangau kertas. Muncullah burung kertas timah emas lembut yang dibuatnya tadi malam. Ia mengambilnya dan meletakkannya di tangan wanita itu hati-hati. "Aku tidak tahu kenapa, tapi ada suara aneh dalam diri saya yang menyuruh saya memberikan bangau emas ini pada Ibu. Bangau adalah simbol kuno untuk kedamaian," kata Nancy. Wanita itu tidak menjawab waktu ia pelan-pelan menutupkan tangan kecilnya pada burung kecil itu sepertinya burung itu hidup. Waktu Nancy melihat wajahnya, ia melihat matanya basah, hampir menangis. Akhirnya, wanita itu menarik napas panjang dan berkata, "Suami saya meninggal tiga minggu yang lalu. Ini pertama kalinya saya keluar rumah. Hari ini..." Ia mengusap matanya dengan sebelah tangan, dan tangan lainnya masih membelai bangau emas itu dengan lembut. Ia berbicara sangat pelan. "Hari ini ulang tahun pernikahan emas kami." Kemudian wanita itu berbicara lagi, "Terima kasih untuk pemberian yang indah ini. Sekarang saya tahu bahwa suami saya sudah damai. Ibu mengerti, kan? Suara yang Anda dengar itu adalah suara Tuhan dan bangau indah ini adalah pemberian-Nya. Ini hadiah pernikahan ke-50 yang paling indah yang saya terima. Terima kasih karena Anda mau mendengarkan suara hati itu." Dan itulah cara Nancy belajar mendengarkan dengan hati-hati setiap ada sebuah suara kecil dalam dirinya menyuruhnya melakukan sesuatu yang mungkin tidak ia mengerti! waktu itu.
Masa Hidup Kita
.
Ketika mengunjungi Museum Henry Ford di Dearborn, Michigan, saya tertarik dengan sebuah pameran bertema "Masa Hidup Kita" yang memaparkan berbagai peristiwa bersejarah tingkat nasional dan dunia. Di dalamnya digambarkan hiburan populer dan kondisi nyata yang terjadi di Amerika Serikat pada masa perang, masa Eisenhower, masa generasi Baby Boomers [generasi setelah PD II], dan seterusnya. Saya meninggalkan pameran itu dengan kesimpulan bahwa walau Anda dan saya tidak dapat memilih periode sejarah di mana kita hidup, kita harus menentukan bagaimana kita akan hidup selama masa yang diberikan pada kita. Kebenaran ini tercermin dalam tindakan berani yang dilakukan oleh Ratu Ester muda dan sepupunya, Mordekhai. Ketika Haman yang mengalami kepahitan di hatinya berencana untuk memusnahkan kaumYahudi, Mordekhai mendesak Ester untuk mengambil risiko dengan menghadap raja sebagai wakil mereka. Ia berkata, "Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu" (Ester 4:14). Ini adalah pernyataan yang patut dipertimbangkan oleh setiap orang kristiani. Seperti Ester, setiap orang merupakan pribadi yang unik dalam sejarah. Kehadiran kita di dunia ini bukanlah kebetulan, karena Allah memanggil kita untuk menjadi utusan-Nya di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, atau sekolah kita. Sungguh merupakan hak istimewa bagi kita untuk menjadi milik Allah dan sungguh suatu panggilan yang mulia untuk menjadi saksi bagi-Nya selama masa kita hidup
Tidak Ada Ruginya
.
"Katakanlah berbahagia orang benar! Sebab mereka akan memakan hasil pekerjaannya. Celakalah orang fasik! Malapetaka akan menimpanya, sebab mereka akn diperlakukan menurut perbuatannya sendiri." (Yesaya 3:10-11) Pernahkah Anda merasa takut untuk menyerahkan hidupmu sepenuhnya pada Tuhan karena Anda pikir Anda akan dipisahkan dari kenikmatan hidup ini? Kemungkinannya adalah, Anda pernah mengalaminya. Itu karena Setan bekerja lembur untuk meyakinkanmu bahwa dia dapat menjadikan hidupmu lebih berarti. Tapi jangan sedetikpun mempercayainya. Kenyataannya, berserah sepenuhnya pada Tuhan tidak memerlukan biaya sedikit pun. Berserah padaNya hanya akan menjadikan hidupmu sampai pada kepenuhannya! Hidup Yesus di dunia merupakan contoh sempurna penyerahan diri. Dia adalah contoh hidup dari segala keuntungan hidup dalam Tuhan. Kemanapun Dia pergi, Yesus membuat yang tuli mendengar, buta melihat, lumpuh berjalan. Dia hidu dalam damai yang sempurna dan kemenangan mutlak. Semuanya itu terdengar sangat baik bagiku. Satu-satunya yang terlewati adalah saat iblis mengambil alih dominasi atasNya untuk membunuh, mencuri dan menghancurkan. Kenyataannya, iblis tidak dapat melakukan apapun atasNya sampai, oleh ijin Bapa, Dia menyerahkan hidupNya. Hingga saat itu Yesus terus berjalan dalam kemenangan mutlak atas para musuh. Apakah Anda berpikir akan kehilangan banyak hal jika hidup seperti itu? Tentu saja tidak! Anda dapat berjalan dalam urapan dan kuasa dan kemegahan Tuhan, sama seperti Yesus telah melakukannya selama di dunia. Apakah Anda harus menyerahkan seluruh hidupmu untuk melakukannya? Ya! Anda harus menukarkan hidupmu dengan hidup dari Tuhan. Anda harus menukarkan sakitmu untuk penyembuhanNya, kemiskinanmu untuk kekayaanNya, kegelisahanmu untuk kedamaianNya, dosamu untuk kebenaranNya. Jadi kenapa ragu? Saat Anda melakukannya, tidak ada ruginya untukmu ()
Kisah Pohon Apel
.
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua ahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." Kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home