Good Idea!!
Doa: Bukan Sekedar Kata-Kata Indah!
Dalam setiap ibadah hari Minggu kita menaikkan doa syafaat bagi jemaat-jemaat yang lain. Biasanya doa syafaat itu berbunyi demikian, "Ya Allah, saat ini kami teringat saudara-saudara yang tidak bisa hadir dalam kebaktian malam ini. Kami berdoa untuk mereka yang sudah lanjut usia, yang karena keterbatasan tubuh, tidak bisa lagi datang ke gereja. Mohon Tuhan lawat mereka dan berikan mereka penghiburan. Kami juga berdoa bagi saudara-saudara yang sakit, kiranya Tuhan bersama-sama mereka dan menyembuhkan mereka. Bagi teman-teman yang menghadapi kemunduran iman dan masalah mohon Tuhan hadir di sana dan memberikan mereka kekuatan." Terdengar pula doa yang biasa dipanjatkan ketika orang kristen ketika hendak makan, "Terima kasih Tuhan Yesus, untuk makanan yang Engkau berikan kepada kami malam hari ini. Saat ini kami teringat orang-orang miskin, para gelandangan yang kekurangan makanan. Mereka tidak bisa menikmati makanan seperti kami ya Tuhan. Mohon Tuhan memberkati, sehingga mereka bisa makan seperti kami."
Doa-doa di atas adalah doa-doa yang indah. Tapi, doa bukan sekedar kata-kata meskipun kata-kata itu indah. Tapi doa seharusnya adalah sesuatu yang menggerakkan kita yang berdoa untuk melakukan suatu tindakan yang nyata. Bagaimana doa yang menggerakkan kita untuk beraksi? Seharusnya kita berdoa syafaat demikian, "Ya Tuhan kami berdoa untuk saudara-saudara yang sudah lanjut usia, utuslah kami kepada mereka untuk memberikan penghiburan kepada mereka. Pakailah kami sebagai alat Tuhan untuk mengunjungi jemaat-jemaat yang sakit supaya mereka mendapat kekuatan. Dan biarlah kami boleh menghibur saudara-saudara kami yang lemah iman dan mendapatkan masalah yang berat supaya mereka dapat merasakan kasih dan penghiburan." Sedang doa makan yang tidak sekedar kata-kata, misalnya, "Ya Tuhan Yesus, kami berterima kasih untuk makanan ini. Saat ini kami teringat orang-orang yang kelaparan, doronglah kami untuk membagi kepada mereka apa yang kami punya." Apakah Anda sekedar berkata-kata indah dalam berdoa?
Terkadang kita merasa tak berdaya dan terbuang.bahkan tampaknya Allah pun tak mendengar atau menjawab seruan minta tolong kita.saat berada di tengah masalah,pemazmur Daud pun berkata,"Aku telah terbuang dari hadapan-Mu".Namun Daud mendapati Tuhan tidak melupakannya dan ia bersukacita karenanya,"Engkau mendengarkan suara permohonanku,ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong".
Saat ini,kondisi apakah yang membuat Anda merasa tak berdaya atau tak berpengharapan? kesehatan yang buruk,atau hubungan yang retak,atau anggota keluarga yang sangat membutuhkan? Dalam Yesus Kristus,Allah telah menembus musim dingin yang gelap dalam dunia kita dengan melakukan usaha penyelamatan yang berani melalui kasih penebusan-Nya.Oleh karena itu,Dia dapat menjangkau kita dan meredakan ketakutan kita di tengah keadaan yang paling tak berpengharapan sekalipun.kita tidak pernah terbuang dari kuasa yang kuat dan damai sejahtera Allah yang abadi.
di salin dari:Renungan harian bulan oktober 2003.
Artikel kiriman dari: Jeanny Frisillita Kaligis. 30 Oktober 2003
JEMAAT YANG PANTAS DITELADANI
1 Tesalonika 1
Kebanggaan Paulus terhadap jemaat di Tesalonika terlihat jelas. Di jemaat ini ada iman, kasih, dan pengharapan (ayat 3). Inilah jemaat yang terbuka menerima Injil dengan penuh sukacita, justru di saat-saat penindasan (ayat 6). Sukacita dan nilai-nilai Injil yang luhur tidak dinikmati sendiri, tetapi tumpah dan memancar keluar sehingga dikenal dan dinikmati banyak orang. Inilah jemaat yang misioner, kota yang di atas bukit sehingga banyak orang mengenal dan memuliakan Tuhan karena mereka. Injil memancar di seluruh wilayah Makedonia dan Akhaya (ayat 8-9).
Paulus memuji jemaat Tesalonika. Namun, pujian Paulus ini tidak mutlak ditujukan kepada jemaat, untuk kemuliaan jemaat, karena tujuan pujian itu untuk kemuliaan nama Tuhan. Segala ucapan syukur hanya tertuju kepada Allah (ayat 1). Sikap Paulus ini memberikan pelajaran penting bagi kita: [1] Paulus menunjukkan sikap seorang hamba Tuhan yang begitu memperhatikan perkembangan jemaat Tuhan; [2] Kita diajak untuk mengakui bahwa sedikit sekali pemimpin jemaat yang memberikan pujian kepada jemaat yang diasuhnya. Kita lebih sering mendengar kritikan tajam dan kecaman pedas, analisis semua kekurangan dan kelemahan secara gamblang.
Tidak dapat disangkal bahwa tidak ada jemaat sempurna. Tetapi masih banyak potensi positif yang dimiliki oleh gereja sebagai tubuh Kristus. Tuhan telah mempergunakan gereja sebagai alat-Nya dan begitu banyak orang yang telah menikmati hasil karya gereja. Begitu banyak orang yang telah menikmati ketenangan dan kedamaian hati; menemukan oase di tengah-tengah padang pasir yang kering. Dengan tidak menutup mata terhadap semua kekurangan, adalah berdosa terhadap Roh Kudus kalau kita mengatakan sampai hari ini gereja tidak pernah berbuat apa-apa.
Renungkan: Kelebihan gereja bukan terletak pada orang yang ada di dalamnya tetapi terletak pada Kristus kepala gereja. Oleh sebab itu sebagai pujian jemaat akhirnya harus bermuara kepada Tuhan.
Musik rock selalu identik dengan penghujatan kepada Allah, identik dengan kesesatan, dan sebagainya. Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa musik rock banyak dipakai oleh para pemusik tersebut bukan untuk Kemuliaan Tuhan tetapi sebaliknya. Jika memang musik rock ini identik demikian menurut pemikiran beberapa anak-anak Tuhan, tidak dapat dipersalahkan dan ada benarnya juga. Namun pemikiran di atas kelihatannya terlalu dangkal karena hanya dilihat dari satu sisi saja.
Pengertian musik adalah sesuatu yang luas, mencakup banyak aspek, bukan hanya satu saja. Dalam musik terdiri dari irama, keindahan, dan lirik. Jadi jika kita mengatakan bahwa musik rock adalah sesuatu yang tidak baik di mata Tuhan, kuranglah tepat dilihat dari aspek-aspek di atas. Kebanyakan dan tidak dapat kita pungkiri juga bahwa pemusik-pemusik rock banyak yang menghujat Allah lewat lagu-lagunya. Namun bukan berarti musik rock selalu tidak berkenan di mata Tuhan. Jika kita mengatakan bahwa lirik-lirik yang dibawakan para pemusik kebanyakan adalah penghujatan kepada Tuhan adalah benar. Namun bukan berarti irama, keindahan, dsb dari rock tersebut juga termasuk penghujatan.
Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang musisi, musik layaknya seperti pisau. Jika pisau tersebut dipakai oleh para ibu rumah tangga untuk memotong sayuran, mengupas bumbu-bumbu, dsb, tentulah kita sepakat bahwa pisau ini sangat bermafaat baginya untuk membantu mempermudah pekerjaannya. Namun jika pisau ini dipakai untuk kejahatan, bagaimana? Jadi, pisau ini bergantung kepada yang mempergunakannya. Apakah untuk kebaikan atau kejahatan.
Sama halnya dengan musik. Bukan tidak mungkin jika irama dangdut bahkan irama keroncong diberi lirik-lirik penghujatan kepada Allah, jadilah juga musik dangdut atau keroncong yang sesat. Inilah kesulitannya bahwa karena kebanyakan musik rock dipakai iblis untuk kemuliaannya, maka jadilah seperti sekarang ini; musik rock adalah sesat. Namun sulitnya juga, anak-anak Tuhan bertoleransi kepada musik pop. Jika sebagian musik pop juga dipakai iblis baginya, banyak lagu-lagu pujian dan penyembahan berirama pop. Mengapa musik pop ini dapat ditoleransi? Saya tidak mendapat jawaban yang diinginkan dari mereka.
Allah menciptakan musik / pujian untuk KemuliaanNya. Semua yang Allah berikan adalah baik adanya. Iblis melihat ini dan ia pun ingin dipermuliakan. Dengan segala upaya dan kelicikannya, dia berhasil mencuri musik / pujian ini untuk dipergunakan bagi kemuliaannya. Jangan biarkan iblis terus mencuri media pujian kita bagi Allah. Ambil kembali yang telah iblis curi. Biarlah segala musik / pujian hanya bagi-Nya semata. Seorang bapak yang sangat mencintai irama keroncong, adalah sangat tidak bijaksana jika ia tidak dapat menikmati iramanya untuk dipakai memuji Tuhan. Demikian juga seseorang yang mencintai irama dangdut, jazz, rock, bahkan heavy metal sekalipun.
Ada seorang bapak yang mencintai garpu talanya. Setiap hari bahkan setiap saat, ia selalu membunyikan garpu talanya. Tiap-tiap saat orang disekitarnya hanya mendengar bunyi ting... ting... ting. Akhirnya ada seorang pemuda memberanikan diri bertanya kepada bapak ini, "Kenapa Bapak menyenangi hanya satu nada saja? Apakah nada itu-itu saja yang dibunyikan tidak membuat Bapak bosan?" Bapak ini menjawab, "Jika setiap saat saya membunyikan garpu tala ini, saya melihat Allah tersenyum kepada saya. Saya melihat Allah menerima dupa harum yang saya naikkan." Itulah Allah kita. Allah yang selalu menerima apapun bahkan apa yang menurut manusia adalah sesuatu yang membosankan dan monoton, bagi Kemuliaan-Nya.
Saya pribadi tahu bahwa lagu yang saya bawakan di rumah meskipun dengan gitar tua yang mungkin sedikit fals dengan beriramakan rock bahkan heavy metal selalu menjadi dupa yang harum bagi Allah. Saya pribadi tahu, Allah selalu tersenyum pada saya sewaktu musik kegemaran saya dinaikkan bagi Kemuliaan-Nya. Dan saya pribadi tahu, puji-pujian yang saya naikkan bagi Allah dengan irama rock bahkan heavy metal adalah lebih berkenan diterima-Nya daripada saya menyanyi dengan irama pop atau slow, dimana saya merasa lebih dekat, lebih dapat menyembah, lebih memuji dengan irama kesayangan saya ini.
Jika Saudara menyenangi musik rock / heavy metal. Saya tahu bahwa sesuatu yang telah melekat pada pikiran kita sulit dibuang. Jangan buat dosa dengan mentolerir lagu-lagu kesesatan dalam hidup Saudara. Rubah, gubah, bahkan ciptakan pujian bagi Allah dengan irama yang cintai. Lihatlah, Tuhan tersenyum dan menerima dupa yang Saudara naikkan lewat irama rock yang berlirik pujian bagi Kemuliaan-Nya. Mari, kita rebut kembali apa yang telah dicuri iblis. Biarlah semua pujian yang dinaikkan hanya bagi Dia. Jangan biarkan iblis tetap dimuliakan lewat irama yang telah dicurinya. Lihatlah, iblis gigit jari dan termenung; tidak ada lagi pujian bagi dia. Terpujilah nama Tuhan. Tuhan memberkati.
Poor In The Front Of The Lord
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
By Sunanto Choa
Trasnlataed by Friska Krismariani
Matthew 5:3
“Blessed are the poor in spirit, for theirs is the Kingdom of heaven”
When the missionaries were news the Bible for the first time unto the civilians inside of Papua, they founded that the peoples there were still lived primitively. They even still used a wood axe to axe the tree. To attract their attention, the missionaries brought an iron axe which becomes more liked, because it gave a better function than the wood axe. Due to the number of the iron axe weren’t equal with the amount of the civilians, so there were not many peoples can have it. After that, many peoples lived inside of Papua became unhappy, because they didn’t have the iron axe. They were hoping so much to have the iron axe so that their life can be happier. Whereas, before the missionaries came with the iron axe nobody felt unhappy because it.
When I was in the college, almost no one of the students used cellular phone, so there was no one felt unhappy if they didn’t have it. But today, almost all the students have a cellular phone; so if they do not use it then they feel unhappy. There even some peoples that feel unhappy if they only use a simple cellular phone which can only used for talk and send a message, because right now many peoples used a better cellular phone than it. This is no different with the civilian inside of Papua that feel unhappy if they didn’t have an iron axe because they see that the others have it.
One of the wrong perception's we had is we believe that we will happy only if we have something just like the others people have. But we still unhappy when we succeed to have what we believe it will make us happy. Unhappy people before married will still unhappy after married, unhappy people when being an ordinary employee will still unhappy when become a director, unhappy people when have a motor cycle will still unhappy when having car, Priest wouldn’t be happy when he tend 50 apostles and still unhappy when tend 5000 apostles. After having cycle, we want motor cycle, after motor cycle we want car, after car we want ship and so on because our heart wouldn’t be satisfied. The main cause of why we feel unhappy is because we center our attention to the things we don’t have not to the things that we have. Whereas to get the happiness we don’t need to have something but we have to let something and it is our wrong minded. Actually, right now, you have everything that you need to be happy.
We are not talking about to be happy means we can’t have properties, families, friends and positions in this world. Not that, being poor in front of the Lord doesn’t mean to be poor in materially, but it’s about our heart attitude that put not our happiness into the proper of this world. Poor people in a materially manner can be not poor in front of the Lord if their heart attitude still put their happiness unto the proper of the world. Abraham is a poor person in front of the Lord; even he had an abundant treasure, because he didn’t put his happiness to the proper that he had and even to his only child that he willed to scarified unto the Lord.
To get the truth happiness in our live, we must have an emptiness process first. The way to the live must pass some dark and narrow valleys that along with suffering and loneliness. Every kind of emotions can be appear when we pass that darkness such like confused, nervous, afraid, frustration, desperate and every kind of other negative feelings. These processes are the same with the process that appears by peoples that try to let them selves free from the drug. We’re all are hallucinogenic of confess, support and respect from other people. We apt to do something because we want to feel needed prodded and exalted by other people. We live in the worried of what another people said about us.
The way to the live is the same with the way to the death because to get the live then we must die first. To get the freedom life, we must die first from our ego and depend on other people. After the death process of our ego is finish then we will be a personal that really free and freedom. We wouldn’t put our happiness to the proper of the world and relationship with other people again. Nobody can influence us and nobody can disappointed or hurt our heart. We will free from afraidness of human because we would not care anymore to what people talk about us. Finally, we will get a truth happiness because we becoming a poor person in front of the Lord which not put or depend the happiness to this world again.
This Is My Story
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
By Dave Broos
Translated by Yohana Bulan
Hello.
My name is Dave Broos.I was born in Bandung, West Java on September 24th, 1969.My name may sound foreign in the ear of Indonesians.You may wonder if I am actually a “white” person.It is not entirely true, but I am of a mixed descendant.My mother is of Dutch-Ambonese descendant.When I was in my mother’s womb, the man who is my mother’s lover, who is supposed to be a father to me, ran away with another woman.Therefore I was born out of wedlock.Some people call children such as I am as “bastard children.”Like it or not, it is a part of my life that I cannot avoid nor deny.That is why for my family name, I took on my mother’s maiden name.At home, my family calls me Dave.
Although I was raised only by my mother, my life is not all bad.At home, we live with grandpa, grandma, and my mom’s younger brother—a really cool uncle to me.But all of that changed when grandpa passed away.My grandma then moved back to the Netherlands and my mom got married.I was ten years old when she got married, and I was quite shocked at the way my stepfather tried to raise me.The values in which he views life are very different with the patterns that I had seen in my grandma.I had been a lot closer to my grandma because my mom had had to work.She worked in a pharmaceutical company—Tempo corporation.
As an example, my grandma never used negative words or negative ways when she wanted to discipline me.My stepfather did all those things.He called me a “bastard child” or “a rascal” or other mean names.I was so confused and mad that I became a rebellious young man.I was also disappointed and angry at my mother, but I did not know how to express my feelings.
Before my grandma left us, I had been a good kid, I did not even like violence and I was always obedient to the rules both at home and at school.The time right after my mother’s marriage was the turning point in my life.Since then, I came to the dark world all because of my disappointment toward my parents.
At that time, I started to accept my friend’s persuasions to smoke, see pornographic pictures, picking fights with kids from neighboring schools, even drinking alcohol.I did all of when I was only in 5th grade (PardomuanElementary School).
Into my teenage years, I made friends with the wrong crowd—they were also kids who have been hurt by their parents.Religious things were the most boring things in my life at the time.I went to school in BahureksaMiddle School and DagoHigh School, these were Christian schools.During middle school, there was daily morning devotional time and in high school, there was also weekly devotional time in school.But Godly things never crossed my mind at all.Why?Because I thought: why would I care about God when He only cares about nice families, I was an accident.
Teenage delinquency soon turned into serious crimes when I joined the gang Moonraker.All my life, I never thought I was able to do such violent acts or commit crime, but that’s what happened when I fell deeper into this dark world.Over and over again, I had brushes with the law, I was locked into suffocating jail cells, I got admitted into the hospital for overdoses of illegal drugs, also because of injuries sustained while in school and gang-related fights.There are many other vicious acts that I did at the time, all making me and my parents drift farther and farther apart.
My stepfather even repeatedly threw me out of the house.He once gave me an ultimatum: he did not want to hear any police reports about me or of any incident that caused me to be admitted into the hospital.Every time I did one of those things, he became extremely furious and threw me out of the house.My mother would usually go and look for me in the streets, but there was a time when even she became very angry that she threw me out as well.So I was taken in by my grandmother’s sister, and I stayed there until I graduated from high school in 1988.College did not make me change.I was even going at it with more intensity with my gang who was having heated rivalry with another gang in our city, the XTC gang.
In 1990, someone—I do not remember who—enrolled me in a Bible study course about the gospel according to John.At the time, I started to understand what God wants.Even though my comprehension was still hazy, I was too proud to ask anyone about matters related to spirituality.But God has His own ways.There were friends who gave me tracts, there were strange dreams that I dreamt, or even a touching sensation when I listened to a secular rock song.All leading to one day in the beginning of March 1991, I started to think and consider regarding the ways of my life.I wondered why I had fallen so deep into the pit of darkness.One thing that I realized was the big question: why am I like this?I needed someone to LOVE me, willing to ACCEPT me the way I am, TRUST in me, and ENCOURAGE me by walking WITH ME and give me an EXAMPLE.
On March 28, 1991, I went to a revival meeting.The late Pastor Yeremia Riem was ministering at the time, and it was at that moment that I truly felt God’s touch.I realized my need for a Savior and Lord, and more than that, I saw all the criteria fulfilled in Jesus.On that day, I became a new creation in Christ.
When I came to repentance, no one believed it, including my own parents.There had been too many lies in my life that no one was sure if my repentance would last.In October 1991, because of all the doubts surrounding me, I decided to move to another city and start a new life.In the city of Surabaya, I surrendered my life to serve Lord Jesus full time.In the beginning, the congregation had their reservations, so I started my ministry as the church keeper.Later on, they began to trust me and made me the youth pastor up until 1994.In 1995, I joined the DiscipleshipTraining School from Youth with A Mission in Jakarta.In 1996, I went to the Gamaliel Institute of Theology, Tasikmalaya, West Java.In that same year, I also went to BasicLeadershipSchool from Youth with A mission in the city of Lawang, East Java.And so I became a staff member of the DiscipleshipTraining School in Lawang’s Youth with A Mission.
In 1998, I started a congregation and a social foundation in Surabaya.I was a pastor to the congregation and I headed the foundation up until February 2005.Presently, I am part of the OikosChurch congregation in Surabaya, one of the leadership team in the church.I also started and minister to the subculture community (the punk, gothic, and underworld community).I was appointed as an Overseer Shadow of the Cross in Indonesia and also one of the coordinators of church pioneering in this country within the foundation of Outreach Fellowship International.
I was married to Novie Durant in 1999 and we are blessed with two children: Pilip Broos and the late Regina Broos.
The incredible thing that happened after my repentance was how my family—my parents—experienced being born again.Our relationship was also restored in 1995.My stepfather still goes to a Catholic church with my little sister (my mother’s child from her second marriage with my stepfather).And my mother went to GISI Eben Haezer in Bandung up until the time of her death in 1997.
This is my story: God can change this “garbage” that was my life.He made me to be His instrument, and even more than that, He adopted me to be His child.And He is able and willing to love all, including you.
God bless you all
Mengelola Hati
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
MENELUSURI ALKITAB - Bebas Dari Belenggu Dosa
"Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari" (Mazmur 19:13).
"Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yohanes 8:32).
"Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka"
(Yohanes 8:36).
"Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran." (Roma 6:18)
"Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut" (Roma 8:2).
"Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.
Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk
perhambaan" (Galatia 5:1).
"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi
janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk
kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh
kasih" (Galatia 5:13).
"Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang
menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan
mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah" (I Petrus 2:16).
Mengelola Hati
Demikian jugalah
kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di
sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman (Matius 23:28)
Bacaan: Matius 23:23-31
Setahun: Amsal 8-9; 2 Korintus 3
Ketika masih menjadi ibu rumah tangga muda, saya sangat senang
membersihkan rumah dari atas sampai bawah. Masalahnya adalah,
kebersihan rumah itu ternyata tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya,
saya mengerti bahwa jika saya menjaga agar rumah cukup rapi, maka rumah
itu akan tampak bersih, walaupun sebenarnya tidak demikian adanya.
Secara bertahap saya mengutamakan penampilan rumah yang rapi, tetapi
saya tidak membersihkannya secara saksama. Kompromi ini tidak hanya
menguntungkan, tetapi juga meyakinkan. Terkadang saya pun terkecoh.
Namun pada hari yang cerah, rumah yang tampaknya bersih itu menjadi
tampak apa adanya-berdebu dan kotor.
Pada zaman Yesus, para ahli Taurat dan orang Farisi berbuat munafik
dengan menekankan agar tampil suci, namun mereka mengabaikan kesucian
hati (Matius 23:25). Ketika cahaya Yesus menerangi mereka, Dia
mengungkapkan kebenaran mengenai kehidupan religius jasmaniah mereka.
Dia tidak menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan jasmaniah mereka salah,
namun mereka sangat keliru karena menggunakan berbagai kegiatan
tersebut untuk menutupi kejahatan. Bagi mereka, pembersihan bagian
dalam sudah sangat terlambat.
Menjaga penampilan dalam pekerjaan rumah tangga tidaklah salah, tetapi
berpura-pura bahwa kita memiliki hati yang bersih adalah keliru. Hanya
orang-orang yang suci hatinya yang akan menyambut Yesus dengan percaya
diri ketika Dia datang. Apakah hati Anda siap? Ataukah hati Anda perlu
dibersihkan? Sekaranglah saatnya Anda memerhatikan hal itu! -JEY
SETIA DAN BERTANGGUNG JAWAB
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
SETIA DAN BERTANGGUNG JAWAB
Bacaan : Matius 25:14-30
". Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau
telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung
jawab dalam perkara yang besar. ..." (Matius 25:21)
Bacaan Alkitab ini menunjukkan kepada kita bahwa betapa perlunya kita
menggunakan dan mengembangkan apa yang telah diberikan kepada kita
dengan bertanggung jawab. Dalam cerita ini dikisahkan bahwa hamba yang
diberi 5 talenta dan mengembangkan talenta tersebut menjadi 10 talenta.
Hamba yang seorang lagi mendapat 2 talenta dan dikembangkan menjadi 4
talenta (ayat 20,22). Kedua hamba tersebut dapat menggunakan kesempatan
sebaik-baiknya untuk kepentingan tuannya sehingga keduanya itu mendapat
penghargaan dari tuannya, sebab mereka telah melakukan apa yang
menyenangkan hati tuannya.
Mereka dianggap setia meskipun tuannya tidak ada, mereka tetap bekerja
dengan tanggung jawab sehingga kepada mereka dipercaya lagi tanggung
jawab yang lebih besar. Lain halnya dengan hamba yang diberi 1 talenta
itu, dia tidak dapat menggunakan dan mengembangkan talenta yang
diberikan itu. Talenta yang diberikan kepadanya itu ditanam di dalam
tanah. Hamba itu berpendapat, bahwa tidak ada gunanya mengusahakan laba
yang hanya akan menguntungkan tuannya. Ia dikuhum sebagai hamba yang
jahat dan malas.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari perumpamaan ini adalah bahwa
manusia diberi kesempatan rohani yang berbeda-beda menurut
kemampuannya. Dan orang yang menggunakan kesempatan rohani itu dengan
baik akan diberikan kesempatan yang lain yang sangat bermanfaat bagi
kehidupan mendatang. Sebab apa yang diterima orang percaya itu di dalam
Kerajaan Allah di masa akan datang tergantung dari bagaimana mereka
mengelola karunia Allah tersebut disaat sekarang ini. Talenta
menggambarkan semua kemampuan, dan kesempatan untuk melayani Allah
ketika kita masih di bumi.
Sekarang bagaimana dengan kita, apakah kerinduan yang ada pada kita
adalah menjadi hamba yang baik, setia dan bertanggung jawab? Ataukah
kita ingin menjadi hamba yang jahat dan malas? Jadilah hamba yang baik
, setia dan bertanggung jawab, yang dapat mengembangkan setiap talenta
yang diberikanNya. Setialah dalam banyak perkara, karena perkara yang
besar yang akan diberikan kepada kita dimulai dengan perkara yang
kecil. (Ariel)
TANTANGAN KEHIDUPAN ORANG PERCAYA
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
(Matius 14 : 22 -33)
Selama kita hidup di dunia ini, tantangan kehidupan itu bermuculan terus-menerus. Saya yakin Anda merasakannya. “Tantangan” kehidupan adalah bahasa positip dari “Hambatan” kehidupan. Nah , jika tantangan ini selalu ada, bagaimana kita sebagai orang percaya menerobos nya. Apakah kita hanya membiarkan tantangan ini menyerang dan berlalu begitu saja?
Sebulan terakhir ini dunia digemparkan dengan berlangsungnya kompetisi Piala Dunia Sepak Bola 2006 di Berlin. Hal ini merupakan tantangan dari banyak orang. Para pecandu Sepak Bola di luar negeri tidak segan-segan begadang setiap malam demi melihat pertandingan tim favoritnya. Termasuk teman-teman yang berada di Indonesia. Saya yakin juga meja pertaruhan juga sangat ramai. Seorang penulis dari Holand - Belanda yang bernama Mang Ucup rela membotakkan kepalanya gara-gara tim kesayangannya Jerman kalah. Nah, dalam kondisi apapun, termasuk Sepak Bola ini, selalu saja ada tantangan dari pihak lawan. Menang atau kalah demikian pilihannya. Demikian juga peristiwa yang dialami oleh murid-murid Yesus saat ini.
Tidak seperti biasa, setelah Yesus melakukan mujizat memberi makan 5000 orang, Yesus tidak langsung pergi bersama murid-muriud-Nya. Ayat 22 mencatat Ia menyuruh murid-murid-Nya naik perahu mendahului-Nya. Sementara Yesus pergi menyendiri untuk berdoa, para murid ini menghadapi tantangan karena perahu mereka yang baru berjalan beberapa mil (Dalam bahasa Yunaninya dijelaskan jarak yang mereka tempuh 25 stadi,1 stadi 190 meter, jadi kurang lebih 5 Km) dihembus oleh angin sakal. sehingga perahu yang mereka tumpangi terombang-ambing. Dalam kondisi ketidaksanggupan dan bahaya ini, apa yang harus dilakukan? Mari kita coba pelajari dari konsep Alkitab ini. Ingat, bahwa kehidupan kita seperti “bola” yang bulat dan bergulir, menang dan kalah senantiasa menanti. Tetapi orang percaya memiliki taktik khusus menghadap tantangan ini. Mari kita lihat satu persatu
1. Believe
Secara fisik manusia, Yesus tidak bersama-sama mereka, karena terbatas ruang dan waktu. Namun murid-murid Yesus bukan orang asing terhadap masalah kelautan. Perahu, gelombang pasang, angin kencang dan badai merupakan “makanan” sehari-hari mereka, karena profesi awal meraka dahulu adalah nelayan. Sebagai nelayan tentu mereka sudah berpengalaman mengatasi kesulitan ini. Namun dalam kondisi capek , lelah ditambah angin sakal yang nampaknya sangat luar biasa ini, para nelayan ini tetap saja tidak berdaya.
Sebulan yang lalu saya diberitahukan oleh pihak percetakan bahwa salah satu buku yang saya tulis telah selesai dicetak. Kali ini memang saya mencoba mengajak beberapa teman-teman lama saya terlibat mendukung dalam hal dana. Namun setelah dikalkulasikan dananya, rupanya terdapat kekurangan yang cukup banyak, dan ini diluar perkiraan saya. Hal ini disebabkan karena harga bensin yang melonjak tinggi beberapa waktu lalu, sehingga mempengaruhi harga-harga lain, misalnya kertas, tinta cetak, apalagi biaya pengiriman.
Teman saya yang bagian mengurus kas lagi ke luar kota mengikuti konprensi. Hal yang membuat agak panik adalah, bagian percetakan mengatakan beliau butuh dana secepatnya, sementara teman saya yang lagi di luar kota itu belum membalas berita. Beberapa jam kemudian saya terima sms yang berbunyi bahwa, dana “di kas masih belum cukup”. Malam itu saya susah tidur, gelisah sekali. Saya berdoa Tuhan, jika Engkau berkenan, tolong bantu nich, toh ini bukan untuk kepentingan saya sendiri”
Hari itu Sabtu, saya harus menunggu hingga Senin baru teman saya itu pulang ke Jakarta. Sorenya beliau chek ulang lagi ke Bank, di sana terlihat ada sumbangan masuk dari salah seorang bekas anak remaja saya di Luar Negeri minggu lalu. Akhirnya jumlahnya bukan hanya mencukupi, malah masih ada lebih sedikit untuk persiapan penerbitan yang akan datang. Terus terang pada saat itu saya malu sekali pada Tuhan, saya juga malu pada Anda. Di mana iman saya? Ini pengalaman saya, artinya saya yang mengerti dan tahu, serta dalam kotbah sering mengajarkan mari kita percaya , beriman, Tuhan akan mencukupi, namun baru dalam kondisi ini saya panik. Apa bedanya saya dengan murid-murid Tuhan Yesus yang panik di perahu itu? Malam itu juga saya harus bertobat dan minta ampun pada Tuhan.
2. Attention
Para murid menyadari bahwa bahaya sedang menanti, sebab kalau yang mereka hadapi angin dan ombak biasa, maka mereka pasti dapat mengatasinya. Apalagi sekarang mereka rombongan di dalam satu perahu itu. Dalam kondisi demikian tentu hati menjadi kalut dan panik, tidak konsentrasi dan tidak fokus. Perrhatiannya bukan lagi bagaimana mengatasi masalah ini, namun muncul pemikiran dan khayalan baru. Apa yang bakal terjadi nanti. Padahal kejadian-kejadian itu belum ada sama sekali. Pada waktu itu kita secara tidak sadar menghadapi masalah bertubi-tubi, bahkan frustrasi.
Ay 26 mencatat, ketika murid-murid-Nya melihat Dia di atas air, mereka terkejut dna berseru “ Itu hantu, lalu mereka berteriak karena takut” Kita juga sering demikian, tatkala tantangan serasa berat datang, kita mulai terpikir masalah yang bukan-bukan. Itu sebabnya jikalau kita tidak berfokus memperhatikan Tuhan Yesus saja, maka kita bisa stress dan depresi. Sering kali mungkin karena kita sudah lama mengikut Tuhan, lalu kondisi kita masih biasa-biasa saja. Bahkan doa yang sudah lama dipanjatkan, namun tidak kunjung ada jawaban. Hati kita mulai pasrah, hati kita mulai suam –suam kukuh. Semangat kita mulai dingin. Biasanya membaca firman Tuhan setiap hari, sekarang tidak lagi. Biasanya berdoa sekarang tidak. Pada saat kita mengurangi kebiasasn baik ini, maka akan muncul kebiassan buruk. Itu sebab perlu hati-hati. Rasul Paulus mengatakan 1 Korintus 15:33 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”.
3. Learn
Bertahun-tahun murid-murid Yesus mengikuti-Nya, namun rupanya hal ini tidak menjamin mereka memahami dan mengenal siapa Yesus itu sebenarnya. Padahal mereka baru saja menyaksikan peristiwa mujizat 5 roti dan 2 ikan yang telah mengenyangkan banyak orang. Orang banyak percaya bahwa Yesus itu Juruselamat. Tetapi kalau untuk menerimanya tunggu dulu. Mereka hanya Believe , belum menmuju ke taraf trust,. Mereka hanya percaya, namun belum dalam taraf mempercayakaan.
Kembali kepada Sepak bola tadi. Sautu hari seorang pemain sepak Bola Jerman yang Atheis sedang berbincang-bincang dengan seoarng pemain Italia yang sebelum bertanding selalu berdoa; bahkan pernah satu kali mengabarkan Injil ke pemain Atheis itu.
Pemain Atheis itu bertanya : “ Apakah di Sorga nanti ada pertan dingan Sepak Bola atau tidak ?”
Pemain Italia berpikir sejenak, kemudian dia memberi komentar “ Oh , ngak tahu ya, tetapi ngak apa-apa , nanti kalau saya sudah meninggal dan menuju ke Sorga, saya akan tanya pada maliakat”
Pemain Atheis : “Kalau Malaikatnya bilang di Surga tidak ada gimana?” Pemain Italia “ Oh, kalau begitu kamu yang tanya saja” Ini hanya cerita, tetapi poin saya bukan di Surga atau di Neraka itu ada Sepak bolanya atau tidak , namun percayakah kita bahwa kalau kita yang percaya Tuhan Yesus pasti masuk Sorga?
Murid-murid Yesus memperoleh pelajaran bahwa sesungguhnya Yesus itu bukan manusia biasa. Sekali lagi bukan karena Ia bisa berjalan di atas air. Sebab di Internet saya pernah baca bahwa di Las Vegas juga ada orang yang bisa berjalan di atas air; kemudian di India juga pernah ada. Murid-murid harus tahu bahwa Yesus tidak terbatas pada ruang dan waktu. Dia ada di segala tempat, dan Yesus sanggup mengalahkan segala-galanya termasuk di dalmnya bencana alam.
Manusia terbatas. Secanggih-canggihnya teknologi, manusia tetap kalah pada yang namanya bencana alam. Buktinya terjangan air Tsunami, Gempa, bahkan letusan Gunung Merapi tetap saja membuat manusia tidak berdaya. Sudah hampir sebulan lebih terjadi bencana banjir Lumpur di Jawa Timur. Tepatnya di kota Porong dan sekitar dan juga kota Tanggul Angin yang terkenal menjual tas-tas bermerek aspal (Asli tapi Palsu). Mengapa terjadi demikian? Menurut berita, sebuah perusahaan mengadakan pemboran minyak di sana, namun mereka salah perkiraan yang sehingga yang keluar bukan minyak tetapi Lumpur. Lumpurnya saat ini melebar menimbun rumah-rumah penduduk, bahkan menutup jalan tol Surabaya - Malang. Akibtanya jalan Tol harus ditutup. Kejadian ini telah berlangsung sebulan lebih. Manusia tidak berdaya bukan?
Oleh sebab itu tatkala murid-murid-Nya panik dan kalut, Yesus datang dan berkata pada mereka “ Tenanglah, Aku ini, Jangan takut” (Ayat 27) Kata yang dipakai di sini adalah “Ego Eimi”, yang berarti Akulah Dia (Yesaya 41 :4). Kata ini sering dipakai Yohanes sebagai tuntutan keilahian Tuhan. Namun dalam bagian ini Matius ingin menunjukkan bahwa Yesus itu seperti seorang Bapa yang memberikan penghiburan dan kekuatan kepada anak-anaknya. “Jangan takut nak, papa ada di sini lo”
4. Liability
Di dalam menghadapi tantangan hidup, sudah pasti ada resiko yang harus dihadapi. Itu sebabnya jangan lari dari resiko - kita harus bertanggung jawab. Tatkala Petrus melihat Yesus dari jauh, sesuai karakternya yang spontanitas itu maka ia meminta agar boleh datang kepada Yesus dengan berjalan di atas air. Matius 14 : 29 “ Yesus berkata “ Datanglah, Maka Petrus turun dari perhau dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus”
Sewaktu di perahu mereka merasa takut, herannya saat ini Petrus turun dari perahu, malah tidak ada perasaan takut. Semua ini menunjukkan bahwa Petrus percaya bahwa Yesus sungguh Allah , dan Dia adalah Allah yang perkasa yang dapat menyelesaikan segala perkaranya. 1 Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Cara yang dilakukan Petrus adalah mempercayakan masalahnya kepada Yesus, karena Dia pasti akan membantu dan memberi kekuatan kepada kita menyelesaikan masalah itu. Orang percaya yang bertanggung jawab adalah orang percaya yang berani masuk dan menghadapi tantangan seperti ini.
“Berjalan di atas air bukan berarti lari dari persoalan” Sebab tatkala Petrus berjalan di atas air anginnya masih ada. Resikonya adalah, kalau di tengah perjalanan itu ia lengah, maka ia akan kalah. “ Matius 14 : 30 mencatat bahwa Petrrus tenggelam justru bukan pada saat berada di perahu dengan angin sakal itu, tetapi karena tiupan angin setelah keluar dari perahu. Ia tidak memusatkan perhatiannya pada Tuhan Yesus, maka ia harus bertanggung jawab terhap apa yang dilakukannya. Ia tenggelam.
Sama seperti para pemain Sepak Bola, tatkala mereka lengah, maka walaupun lawan di depan di atas kertas tidak termasuk perhitungan, tetap saja dapat mengalami kekalahan. Jadi tidak ada istilah mengganggap remeh.
Aya 31- dan seterusnya , menunjukkan bahwa Yesus, memanggil murid-muruid-Nya sebagai “mereka yang kurang percaya”, dan Ia berrtanya mengapa mereka bimbang? Melalui peristiwa ini, muncullah pengakuan dari murid-murid yang menyatakan bahwa “ Sesungguhnya Engkau Anak Allah”
Benar, sesunguhnya Yesus Anak Allah yang sanggup memberikan kepada kita kekuatan untuk menyelesaikan atau masalah yang ada dan menang. Asala saja fokus kepercayaan kita tetap tertuju kepada-Nya.
Melalui Tantangan Kehidupan Orang Percaya hari ini, kita belajar 4 hal yang penting,
Believe
Orang yang mempercayakan Hidupnya pada Tuhan Yesus, tidak pernah merasa ragu, walau besok akan ada ujian , ada tugas dan deadline kerja dan paper, hari ini dia masih sanggup melayani Tuhan
Attention
Fokus utama perhatiannya tertuju pada Yesus. Imannya tidak goyah, walaupun jam segini ada final antara Italia vs Prancis, ia tetap hadir ke gereja
Learn
Pelajaran bagi kita, bahwa kita bukan menyembah pada Yesus yang mati, tetapi kita menyembah Yesus yang berkuasa, dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Oleh sebab itu pengharapan kita kepada-Nya merupakan pengharapan yang pasti.
Liability
Ketika tantangan hadir did lam hikup kita, maka orang percaya bukan berusaha menghindari dan lari. Tetapi kita harus coba menghadapi. Resikonya sudah pasti ada, namun hasilnya melampaui resiko tersebut.
B. A. L . L …… Demam Sepak Bola membuat seseorang lupa bahwa besok mereka harus bekerja. Ada yang lupa besok harus ujian. Ini Merupakan tantangan bukan. Selama bola masih bulat , maka terbuka kemungkinan bagi siapa saja memenangkan pertandingan itu. Namun Bola bukan pengharapan kita yang sejati. Pengharapan yang sejati terletak pada Tuhan Yesus, ay 31 merupakan janji bagi mereka yang merasa bimbang dalam hidup ini. Mari kita bergerak maju menghadapi tantangan hidup ini. Segala kesulitan, kepahitan dan kekusutan akan hidup ini akan menjadi manis kalau Tuhan Yesus menyertai kita. Bahkan gelombang sakalpun akhirnya berhenti. Sekali lagi, orang Kristen yang berkualitas pasti dapat mengalahkan segala tantangan yang ada.
--------------------------------------
SAUMIMAN SAUD
Rom 8:28 "And we know that to them that love God all things work together for good, even to them that are called according to his purpose".
Dalam setiap ibadah hari Minggu kita menaikkan doa syafaat bagi jemaat-jemaat yang lain. Biasanya doa syafaat itu berbunyi demikian, "Ya Allah, saat ini kami teringat saudara-saudara yang tidak bisa hadir dalam kebaktian malam ini. Kami berdoa untuk mereka yang sudah lanjut usia, yang karena keterbatasan tubuh, tidak bisa lagi datang ke gereja. Mohon Tuhan lawat mereka dan berikan mereka penghiburan. Kami juga berdoa bagi saudara-saudara yang sakit, kiranya Tuhan bersama-sama mereka dan menyembuhkan mereka. Bagi teman-teman yang menghadapi kemunduran iman dan masalah mohon Tuhan hadir di sana dan memberikan mereka kekuatan." Terdengar pula doa yang biasa dipanjatkan ketika orang kristen ketika hendak makan, "Terima kasih Tuhan Yesus, untuk makanan yang Engkau berikan kepada kami malam hari ini. Saat ini kami teringat orang-orang miskin, para gelandangan yang kekurangan makanan. Mereka tidak bisa menikmati makanan seperti kami ya Tuhan. Mohon Tuhan memberkati, sehingga mereka bisa makan seperti kami."
Doa-doa di atas adalah doa-doa yang indah. Tapi, doa bukan sekedar kata-kata meskipun kata-kata itu indah. Tapi doa seharusnya adalah sesuatu yang menggerakkan kita yang berdoa untuk melakukan suatu tindakan yang nyata. Bagaimana doa yang menggerakkan kita untuk beraksi? Seharusnya kita berdoa syafaat demikian, "Ya Tuhan kami berdoa untuk saudara-saudara yang sudah lanjut usia, utuslah kami kepada mereka untuk memberikan penghiburan kepada mereka. Pakailah kami sebagai alat Tuhan untuk mengunjungi jemaat-jemaat yang sakit supaya mereka mendapat kekuatan. Dan biarlah kami boleh menghibur saudara-saudara kami yang lemah iman dan mendapatkan masalah yang berat supaya mereka dapat merasakan kasih dan penghiburan." Sedang doa makan yang tidak sekedar kata-kata, misalnya, "Ya Tuhan Yesus, kami berterima kasih untuk makanan ini. Saat ini kami teringat orang-orang yang kelaparan, doronglah kami untuk membagi kepada mereka apa yang kami punya." Apakah Anda sekedar berkata-kata indah dalam berdoa?
Terkadang kita merasa tak berdaya dan terbuang.bahkan tampaknya Allah pun tak mendengar atau menjawab seruan minta tolong kita.saat berada di tengah masalah,pemazmur Daud pun berkata,"Aku telah terbuang dari hadapan-Mu".Namun Daud mendapati Tuhan tidak melupakannya dan ia bersukacita karenanya,"Engkau mendengarkan suara permohonanku,ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong".
Saat ini,kondisi apakah yang membuat Anda merasa tak berdaya atau tak berpengharapan? kesehatan yang buruk,atau hubungan yang retak,atau anggota keluarga yang sangat membutuhkan? Dalam Yesus Kristus,Allah telah menembus musim dingin yang gelap dalam dunia kita dengan melakukan usaha penyelamatan yang berani melalui kasih penebusan-Nya.Oleh karena itu,Dia dapat menjangkau kita dan meredakan ketakutan kita di tengah keadaan yang paling tak berpengharapan sekalipun.kita tidak pernah terbuang dari kuasa yang kuat dan damai sejahtera Allah yang abadi.
di salin dari:Renungan harian bulan oktober 2003.
Artikel kiriman dari: Jeanny Frisillita Kaligis. 30 Oktober 2003
JEMAAT YANG PANTAS DITELADANI
1 Tesalonika 1
Kebanggaan Paulus terhadap jemaat di Tesalonika terlihat jelas. Di jemaat ini ada iman, kasih, dan pengharapan (ayat 3). Inilah jemaat yang terbuka menerima Injil dengan penuh sukacita, justru di saat-saat penindasan (ayat 6). Sukacita dan nilai-nilai Injil yang luhur tidak dinikmati sendiri, tetapi tumpah dan memancar keluar sehingga dikenal dan dinikmati banyak orang. Inilah jemaat yang misioner, kota yang di atas bukit sehingga banyak orang mengenal dan memuliakan Tuhan karena mereka. Injil memancar di seluruh wilayah Makedonia dan Akhaya (ayat 8-9).
Paulus memuji jemaat Tesalonika. Namun, pujian Paulus ini tidak mutlak ditujukan kepada jemaat, untuk kemuliaan jemaat, karena tujuan pujian itu untuk kemuliaan nama Tuhan. Segala ucapan syukur hanya tertuju kepada Allah (ayat 1). Sikap Paulus ini memberikan pelajaran penting bagi kita: [1] Paulus menunjukkan sikap seorang hamba Tuhan yang begitu memperhatikan perkembangan jemaat Tuhan; [2] Kita diajak untuk mengakui bahwa sedikit sekali pemimpin jemaat yang memberikan pujian kepada jemaat yang diasuhnya. Kita lebih sering mendengar kritikan tajam dan kecaman pedas, analisis semua kekurangan dan kelemahan secara gamblang.
Tidak dapat disangkal bahwa tidak ada jemaat sempurna. Tetapi masih banyak potensi positif yang dimiliki oleh gereja sebagai tubuh Kristus. Tuhan telah mempergunakan gereja sebagai alat-Nya dan begitu banyak orang yang telah menikmati hasil karya gereja. Begitu banyak orang yang telah menikmati ketenangan dan kedamaian hati; menemukan oase di tengah-tengah padang pasir yang kering. Dengan tidak menutup mata terhadap semua kekurangan, adalah berdosa terhadap Roh Kudus kalau kita mengatakan sampai hari ini gereja tidak pernah berbuat apa-apa.
Renungkan: Kelebihan gereja bukan terletak pada orang yang ada di dalamnya tetapi terletak pada Kristus kepala gereja. Oleh sebab itu sebagai pujian jemaat akhirnya harus bermuara kepada Tuhan.
Musik rock selalu identik dengan penghujatan kepada Allah, identik dengan kesesatan, dan sebagainya. Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa musik rock banyak dipakai oleh para pemusik tersebut bukan untuk Kemuliaan Tuhan tetapi sebaliknya. Jika memang musik rock ini identik demikian menurut pemikiran beberapa anak-anak Tuhan, tidak dapat dipersalahkan dan ada benarnya juga. Namun pemikiran di atas kelihatannya terlalu dangkal karena hanya dilihat dari satu sisi saja.
Pengertian musik adalah sesuatu yang luas, mencakup banyak aspek, bukan hanya satu saja. Dalam musik terdiri dari irama, keindahan, dan lirik. Jadi jika kita mengatakan bahwa musik rock adalah sesuatu yang tidak baik di mata Tuhan, kuranglah tepat dilihat dari aspek-aspek di atas. Kebanyakan dan tidak dapat kita pungkiri juga bahwa pemusik-pemusik rock banyak yang menghujat Allah lewat lagu-lagunya. Namun bukan berarti musik rock selalu tidak berkenan di mata Tuhan. Jika kita mengatakan bahwa lirik-lirik yang dibawakan para pemusik kebanyakan adalah penghujatan kepada Tuhan adalah benar. Namun bukan berarti irama, keindahan, dsb dari rock tersebut juga termasuk penghujatan.
Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang musisi, musik layaknya seperti pisau. Jika pisau tersebut dipakai oleh para ibu rumah tangga untuk memotong sayuran, mengupas bumbu-bumbu, dsb, tentulah kita sepakat bahwa pisau ini sangat bermafaat baginya untuk membantu mempermudah pekerjaannya. Namun jika pisau ini dipakai untuk kejahatan, bagaimana? Jadi, pisau ini bergantung kepada yang mempergunakannya. Apakah untuk kebaikan atau kejahatan.
Sama halnya dengan musik. Bukan tidak mungkin jika irama dangdut bahkan irama keroncong diberi lirik-lirik penghujatan kepada Allah, jadilah juga musik dangdut atau keroncong yang sesat. Inilah kesulitannya bahwa karena kebanyakan musik rock dipakai iblis untuk kemuliaannya, maka jadilah seperti sekarang ini; musik rock adalah sesat. Namun sulitnya juga, anak-anak Tuhan bertoleransi kepada musik pop. Jika sebagian musik pop juga dipakai iblis baginya, banyak lagu-lagu pujian dan penyembahan berirama pop. Mengapa musik pop ini dapat ditoleransi? Saya tidak mendapat jawaban yang diinginkan dari mereka.
Allah menciptakan musik / pujian untuk KemuliaanNya. Semua yang Allah berikan adalah baik adanya. Iblis melihat ini dan ia pun ingin dipermuliakan. Dengan segala upaya dan kelicikannya, dia berhasil mencuri musik / pujian ini untuk dipergunakan bagi kemuliaannya. Jangan biarkan iblis terus mencuri media pujian kita bagi Allah. Ambil kembali yang telah iblis curi. Biarlah segala musik / pujian hanya bagi-Nya semata. Seorang bapak yang sangat mencintai irama keroncong, adalah sangat tidak bijaksana jika ia tidak dapat menikmati iramanya untuk dipakai memuji Tuhan. Demikian juga seseorang yang mencintai irama dangdut, jazz, rock, bahkan heavy metal sekalipun.
Ada seorang bapak yang mencintai garpu talanya. Setiap hari bahkan setiap saat, ia selalu membunyikan garpu talanya. Tiap-tiap saat orang disekitarnya hanya mendengar bunyi ting... ting... ting. Akhirnya ada seorang pemuda memberanikan diri bertanya kepada bapak ini, "Kenapa Bapak menyenangi hanya satu nada saja? Apakah nada itu-itu saja yang dibunyikan tidak membuat Bapak bosan?" Bapak ini menjawab, "Jika setiap saat saya membunyikan garpu tala ini, saya melihat Allah tersenyum kepada saya. Saya melihat Allah menerima dupa harum yang saya naikkan." Itulah Allah kita. Allah yang selalu menerima apapun bahkan apa yang menurut manusia adalah sesuatu yang membosankan dan monoton, bagi Kemuliaan-Nya.
Saya pribadi tahu bahwa lagu yang saya bawakan di rumah meskipun dengan gitar tua yang mungkin sedikit fals dengan beriramakan rock bahkan heavy metal selalu menjadi dupa yang harum bagi Allah. Saya pribadi tahu, Allah selalu tersenyum pada saya sewaktu musik kegemaran saya dinaikkan bagi Kemuliaan-Nya. Dan saya pribadi tahu, puji-pujian yang saya naikkan bagi Allah dengan irama rock bahkan heavy metal adalah lebih berkenan diterima-Nya daripada saya menyanyi dengan irama pop atau slow, dimana saya merasa lebih dekat, lebih dapat menyembah, lebih memuji dengan irama kesayangan saya ini.
Jika Saudara menyenangi musik rock / heavy metal. Saya tahu bahwa sesuatu yang telah melekat pada pikiran kita sulit dibuang. Jangan buat dosa dengan mentolerir lagu-lagu kesesatan dalam hidup Saudara. Rubah, gubah, bahkan ciptakan pujian bagi Allah dengan irama yang cintai. Lihatlah, Tuhan tersenyum dan menerima dupa yang Saudara naikkan lewat irama rock yang berlirik pujian bagi Kemuliaan-Nya. Mari, kita rebut kembali apa yang telah dicuri iblis. Biarlah semua pujian yang dinaikkan hanya bagi Dia. Jangan biarkan iblis tetap dimuliakan lewat irama yang telah dicurinya. Lihatlah, iblis gigit jari dan termenung; tidak ada lagi pujian bagi dia. Terpujilah nama Tuhan. Tuhan memberkati.
Poor In The Front Of The Lord
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
By Sunanto Choa
Trasnlataed by Friska Krismariani
Matthew 5:3
“Blessed are the poor in spirit, for theirs is the Kingdom of heaven”
When the missionaries were news the Bible for the first time unto the civilians inside of Papua, they founded that the peoples there were still lived primitively. They even still used a wood axe to axe the tree. To attract their attention, the missionaries brought an iron axe which becomes more liked, because it gave a better function than the wood axe. Due to the number of the iron axe weren’t equal with the amount of the civilians, so there were not many peoples can have it. After that, many peoples lived inside of Papua became unhappy, because they didn’t have the iron axe. They were hoping so much to have the iron axe so that their life can be happier. Whereas, before the missionaries came with the iron axe nobody felt unhappy because it.
When I was in the college, almost no one of the students used cellular phone, so there was no one felt unhappy if they didn’t have it. But today, almost all the students have a cellular phone; so if they do not use it then they feel unhappy. There even some peoples that feel unhappy if they only use a simple cellular phone which can only used for talk and send a message, because right now many peoples used a better cellular phone than it. This is no different with the civilian inside of Papua that feel unhappy if they didn’t have an iron axe because they see that the others have it.
One of the wrong perception's we had is we believe that we will happy only if we have something just like the others people have. But we still unhappy when we succeed to have what we believe it will make us happy. Unhappy people before married will still unhappy after married, unhappy people when being an ordinary employee will still unhappy when become a director, unhappy people when have a motor cycle will still unhappy when having car, Priest wouldn’t be happy when he tend 50 apostles and still unhappy when tend 5000 apostles. After having cycle, we want motor cycle, after motor cycle we want car, after car we want ship and so on because our heart wouldn’t be satisfied. The main cause of why we feel unhappy is because we center our attention to the things we don’t have not to the things that we have. Whereas to get the happiness we don’t need to have something but we have to let something and it is our wrong minded. Actually, right now, you have everything that you need to be happy.
We are not talking about to be happy means we can’t have properties, families, friends and positions in this world. Not that, being poor in front of the Lord doesn’t mean to be poor in materially, but it’s about our heart attitude that put not our happiness into the proper of this world. Poor people in a materially manner can be not poor in front of the Lord if their heart attitude still put their happiness unto the proper of the world. Abraham is a poor person in front of the Lord; even he had an abundant treasure, because he didn’t put his happiness to the proper that he had and even to his only child that he willed to scarified unto the Lord.
To get the truth happiness in our live, we must have an emptiness process first. The way to the live must pass some dark and narrow valleys that along with suffering and loneliness. Every kind of emotions can be appear when we pass that darkness such like confused, nervous, afraid, frustration, desperate and every kind of other negative feelings. These processes are the same with the process that appears by peoples that try to let them selves free from the drug. We’re all are hallucinogenic of confess, support and respect from other people. We apt to do something because we want to feel needed prodded and exalted by other people. We live in the worried of what another people said about us.
The way to the live is the same with the way to the death because to get the live then we must die first. To get the freedom life, we must die first from our ego and depend on other people. After the death process of our ego is finish then we will be a personal that really free and freedom. We wouldn’t put our happiness to the proper of the world and relationship with other people again. Nobody can influence us and nobody can disappointed or hurt our heart. We will free from afraidness of human because we would not care anymore to what people talk about us. Finally, we will get a truth happiness because we becoming a poor person in front of the Lord which not put or depend the happiness to this world again.
This Is My Story
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
By Dave Broos
Translated by Yohana Bulan
Hello.
My name is Dave Broos.I was born in Bandung, West Java on September 24th, 1969.My name may sound foreign in the ear of Indonesians.You may wonder if I am actually a “white” person.It is not entirely true, but I am of a mixed descendant.My mother is of Dutch-Ambonese descendant.When I was in my mother’s womb, the man who is my mother’s lover, who is supposed to be a father to me, ran away with another woman.Therefore I was born out of wedlock.Some people call children such as I am as “bastard children.”Like it or not, it is a part of my life that I cannot avoid nor deny.That is why for my family name, I took on my mother’s maiden name.At home, my family calls me Dave.
Although I was raised only by my mother, my life is not all bad.At home, we live with grandpa, grandma, and my mom’s younger brother—a really cool uncle to me.But all of that changed when grandpa passed away.My grandma then moved back to the Netherlands and my mom got married.I was ten years old when she got married, and I was quite shocked at the way my stepfather tried to raise me.The values in which he views life are very different with the patterns that I had seen in my grandma.I had been a lot closer to my grandma because my mom had had to work.She worked in a pharmaceutical company—Tempo corporation.
As an example, my grandma never used negative words or negative ways when she wanted to discipline me.My stepfather did all those things.He called me a “bastard child” or “a rascal” or other mean names.I was so confused and mad that I became a rebellious young man.I was also disappointed and angry at my mother, but I did not know how to express my feelings.
Before my grandma left us, I had been a good kid, I did not even like violence and I was always obedient to the rules both at home and at school.The time right after my mother’s marriage was the turning point in my life.Since then, I came to the dark world all because of my disappointment toward my parents.
At that time, I started to accept my friend’s persuasions to smoke, see pornographic pictures, picking fights with kids from neighboring schools, even drinking alcohol.I did all of when I was only in 5th grade (PardomuanElementary School).
Into my teenage years, I made friends with the wrong crowd—they were also kids who have been hurt by their parents.Religious things were the most boring things in my life at the time.I went to school in BahureksaMiddle School and DagoHigh School, these were Christian schools.During middle school, there was daily morning devotional time and in high school, there was also weekly devotional time in school.But Godly things never crossed my mind at all.Why?Because I thought: why would I care about God when He only cares about nice families, I was an accident.
Teenage delinquency soon turned into serious crimes when I joined the gang Moonraker.All my life, I never thought I was able to do such violent acts or commit crime, but that’s what happened when I fell deeper into this dark world.Over and over again, I had brushes with the law, I was locked into suffocating jail cells, I got admitted into the hospital for overdoses of illegal drugs, also because of injuries sustained while in school and gang-related fights.There are many other vicious acts that I did at the time, all making me and my parents drift farther and farther apart.
My stepfather even repeatedly threw me out of the house.He once gave me an ultimatum: he did not want to hear any police reports about me or of any incident that caused me to be admitted into the hospital.Every time I did one of those things, he became extremely furious and threw me out of the house.My mother would usually go and look for me in the streets, but there was a time when even she became very angry that she threw me out as well.So I was taken in by my grandmother’s sister, and I stayed there until I graduated from high school in 1988.College did not make me change.I was even going at it with more intensity with my gang who was having heated rivalry with another gang in our city, the XTC gang.
In 1990, someone—I do not remember who—enrolled me in a Bible study course about the gospel according to John.At the time, I started to understand what God wants.Even though my comprehension was still hazy, I was too proud to ask anyone about matters related to spirituality.But God has His own ways.There were friends who gave me tracts, there were strange dreams that I dreamt, or even a touching sensation when I listened to a secular rock song.All leading to one day in the beginning of March 1991, I started to think and consider regarding the ways of my life.I wondered why I had fallen so deep into the pit of darkness.One thing that I realized was the big question: why am I like this?I needed someone to LOVE me, willing to ACCEPT me the way I am, TRUST in me, and ENCOURAGE me by walking WITH ME and give me an EXAMPLE.
On March 28, 1991, I went to a revival meeting.The late Pastor Yeremia Riem was ministering at the time, and it was at that moment that I truly felt God’s touch.I realized my need for a Savior and Lord, and more than that, I saw all the criteria fulfilled in Jesus.On that day, I became a new creation in Christ.
When I came to repentance, no one believed it, including my own parents.There had been too many lies in my life that no one was sure if my repentance would last.In October 1991, because of all the doubts surrounding me, I decided to move to another city and start a new life.In the city of Surabaya, I surrendered my life to serve Lord Jesus full time.In the beginning, the congregation had their reservations, so I started my ministry as the church keeper.Later on, they began to trust me and made me the youth pastor up until 1994.In 1995, I joined the DiscipleshipTraining School from Youth with A Mission in Jakarta.In 1996, I went to the Gamaliel Institute of Theology, Tasikmalaya, West Java.In that same year, I also went to BasicLeadershipSchool from Youth with A mission in the city of Lawang, East Java.And so I became a staff member of the DiscipleshipTraining School in Lawang’s Youth with A Mission.
In 1998, I started a congregation and a social foundation in Surabaya.I was a pastor to the congregation and I headed the foundation up until February 2005.Presently, I am part of the OikosChurch congregation in Surabaya, one of the leadership team in the church.I also started and minister to the subculture community (the punk, gothic, and underworld community).I was appointed as an Overseer Shadow of the Cross in Indonesia and also one of the coordinators of church pioneering in this country within the foundation of Outreach Fellowship International.
I was married to Novie Durant in 1999 and we are blessed with two children: Pilip Broos and the late Regina Broos.
The incredible thing that happened after my repentance was how my family—my parents—experienced being born again.Our relationship was also restored in 1995.My stepfather still goes to a Catholic church with my little sister (my mother’s child from her second marriage with my stepfather).And my mother went to GISI Eben Haezer in Bandung up until the time of her death in 1997.
This is my story: God can change this “garbage” that was my life.He made me to be His instrument, and even more than that, He adopted me to be His child.And He is able and willing to love all, including you.
God bless you all
Mengelola Hati
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
MENELUSURI ALKITAB - Bebas Dari Belenggu Dosa
"Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari" (Mazmur 19:13).
"Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yohanes 8:32).
"Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka"
(Yohanes 8:36).
"Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran." (Roma 6:18)
"Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut" (Roma 8:2).
"Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.
Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk
perhambaan" (Galatia 5:1).
"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi
janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk
kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh
kasih" (Galatia 5:13).
"Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang
menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan
mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah" (I Petrus 2:16).
Mengelola Hati
Demikian jugalah
kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di
sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman (Matius 23:28)
Bacaan: Matius 23:23-31
Setahun: Amsal 8-9; 2 Korintus 3
Ketika masih menjadi ibu rumah tangga muda, saya sangat senang
membersihkan rumah dari atas sampai bawah. Masalahnya adalah,
kebersihan rumah itu ternyata tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya,
saya mengerti bahwa jika saya menjaga agar rumah cukup rapi, maka rumah
itu akan tampak bersih, walaupun sebenarnya tidak demikian adanya.
Secara bertahap saya mengutamakan penampilan rumah yang rapi, tetapi
saya tidak membersihkannya secara saksama. Kompromi ini tidak hanya
menguntungkan, tetapi juga meyakinkan. Terkadang saya pun terkecoh.
Namun pada hari yang cerah, rumah yang tampaknya bersih itu menjadi
tampak apa adanya-berdebu dan kotor.
Pada zaman Yesus, para ahli Taurat dan orang Farisi berbuat munafik
dengan menekankan agar tampil suci, namun mereka mengabaikan kesucian
hati (Matius 23:25). Ketika cahaya Yesus menerangi mereka, Dia
mengungkapkan kebenaran mengenai kehidupan religius jasmaniah mereka.
Dia tidak menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan jasmaniah mereka salah,
namun mereka sangat keliru karena menggunakan berbagai kegiatan
tersebut untuk menutupi kejahatan. Bagi mereka, pembersihan bagian
dalam sudah sangat terlambat.
Menjaga penampilan dalam pekerjaan rumah tangga tidaklah salah, tetapi
berpura-pura bahwa kita memiliki hati yang bersih adalah keliru. Hanya
orang-orang yang suci hatinya yang akan menyambut Yesus dengan percaya
diri ketika Dia datang. Apakah hati Anda siap? Ataukah hati Anda perlu
dibersihkan? Sekaranglah saatnya Anda memerhatikan hal itu! -JEY
SETIA DAN BERTANGGUNG JAWAB
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
SETIA DAN BERTANGGUNG JAWAB
Bacaan : Matius 25:14-30
". Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau
telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung
jawab dalam perkara yang besar. ..." (Matius 25:21)
Bacaan Alkitab ini menunjukkan kepada kita bahwa betapa perlunya kita
menggunakan dan mengembangkan apa yang telah diberikan kepada kita
dengan bertanggung jawab. Dalam cerita ini dikisahkan bahwa hamba yang
diberi 5 talenta dan mengembangkan talenta tersebut menjadi 10 talenta.
Hamba yang seorang lagi mendapat 2 talenta dan dikembangkan menjadi 4
talenta (ayat 20,22). Kedua hamba tersebut dapat menggunakan kesempatan
sebaik-baiknya untuk kepentingan tuannya sehingga keduanya itu mendapat
penghargaan dari tuannya, sebab mereka telah melakukan apa yang
menyenangkan hati tuannya.
Mereka dianggap setia meskipun tuannya tidak ada, mereka tetap bekerja
dengan tanggung jawab sehingga kepada mereka dipercaya lagi tanggung
jawab yang lebih besar. Lain halnya dengan hamba yang diberi 1 talenta
itu, dia tidak dapat menggunakan dan mengembangkan talenta yang
diberikan itu. Talenta yang diberikan kepadanya itu ditanam di dalam
tanah. Hamba itu berpendapat, bahwa tidak ada gunanya mengusahakan laba
yang hanya akan menguntungkan tuannya. Ia dikuhum sebagai hamba yang
jahat dan malas.
Pelajaran yang dapat kita ambil dari perumpamaan ini adalah bahwa
manusia diberi kesempatan rohani yang berbeda-beda menurut
kemampuannya. Dan orang yang menggunakan kesempatan rohani itu dengan
baik akan diberikan kesempatan yang lain yang sangat bermanfaat bagi
kehidupan mendatang. Sebab apa yang diterima orang percaya itu di dalam
Kerajaan Allah di masa akan datang tergantung dari bagaimana mereka
mengelola karunia Allah tersebut disaat sekarang ini. Talenta
menggambarkan semua kemampuan, dan kesempatan untuk melayani Allah
ketika kita masih di bumi.
Sekarang bagaimana dengan kita, apakah kerinduan yang ada pada kita
adalah menjadi hamba yang baik, setia dan bertanggung jawab? Ataukah
kita ingin menjadi hamba yang jahat dan malas? Jadilah hamba yang baik
, setia dan bertanggung jawab, yang dapat mengembangkan setiap talenta
yang diberikanNya. Setialah dalam banyak perkara, karena perkara yang
besar yang akan diberikan kepada kita dimulai dengan perkara yang
kecil. (Ariel)
TANTANGAN KEHIDUPAN ORANG PERCAYA
.
Cetak Artikel Ini
Kirim ke teman
(Matius 14 : 22 -33)
Selama kita hidup di dunia ini, tantangan kehidupan itu bermuculan terus-menerus. Saya yakin Anda merasakannya. “Tantangan” kehidupan adalah bahasa positip dari “Hambatan” kehidupan. Nah , jika tantangan ini selalu ada, bagaimana kita sebagai orang percaya menerobos nya. Apakah kita hanya membiarkan tantangan ini menyerang dan berlalu begitu saja?
Sebulan terakhir ini dunia digemparkan dengan berlangsungnya kompetisi Piala Dunia Sepak Bola 2006 di Berlin. Hal ini merupakan tantangan dari banyak orang. Para pecandu Sepak Bola di luar negeri tidak segan-segan begadang setiap malam demi melihat pertandingan tim favoritnya. Termasuk teman-teman yang berada di Indonesia. Saya yakin juga meja pertaruhan juga sangat ramai. Seorang penulis dari Holand - Belanda yang bernama Mang Ucup rela membotakkan kepalanya gara-gara tim kesayangannya Jerman kalah. Nah, dalam kondisi apapun, termasuk Sepak Bola ini, selalu saja ada tantangan dari pihak lawan. Menang atau kalah demikian pilihannya. Demikian juga peristiwa yang dialami oleh murid-murid Yesus saat ini.
Tidak seperti biasa, setelah Yesus melakukan mujizat memberi makan 5000 orang, Yesus tidak langsung pergi bersama murid-muriud-Nya. Ayat 22 mencatat Ia menyuruh murid-murid-Nya naik perahu mendahului-Nya. Sementara Yesus pergi menyendiri untuk berdoa, para murid ini menghadapi tantangan karena perahu mereka yang baru berjalan beberapa mil (Dalam bahasa Yunaninya dijelaskan jarak yang mereka tempuh 25 stadi,1 stadi 190 meter, jadi kurang lebih 5 Km) dihembus oleh angin sakal. sehingga perahu yang mereka tumpangi terombang-ambing. Dalam kondisi ketidaksanggupan dan bahaya ini, apa yang harus dilakukan? Mari kita coba pelajari dari konsep Alkitab ini. Ingat, bahwa kehidupan kita seperti “bola” yang bulat dan bergulir, menang dan kalah senantiasa menanti. Tetapi orang percaya memiliki taktik khusus menghadap tantangan ini. Mari kita lihat satu persatu
1. Believe
Secara fisik manusia, Yesus tidak bersama-sama mereka, karena terbatas ruang dan waktu. Namun murid-murid Yesus bukan orang asing terhadap masalah kelautan. Perahu, gelombang pasang, angin kencang dan badai merupakan “makanan” sehari-hari mereka, karena profesi awal meraka dahulu adalah nelayan. Sebagai nelayan tentu mereka sudah berpengalaman mengatasi kesulitan ini. Namun dalam kondisi capek , lelah ditambah angin sakal yang nampaknya sangat luar biasa ini, para nelayan ini tetap saja tidak berdaya.
Sebulan yang lalu saya diberitahukan oleh pihak percetakan bahwa salah satu buku yang saya tulis telah selesai dicetak. Kali ini memang saya mencoba mengajak beberapa teman-teman lama saya terlibat mendukung dalam hal dana. Namun setelah dikalkulasikan dananya, rupanya terdapat kekurangan yang cukup banyak, dan ini diluar perkiraan saya. Hal ini disebabkan karena harga bensin yang melonjak tinggi beberapa waktu lalu, sehingga mempengaruhi harga-harga lain, misalnya kertas, tinta cetak, apalagi biaya pengiriman.
Teman saya yang bagian mengurus kas lagi ke luar kota mengikuti konprensi. Hal yang membuat agak panik adalah, bagian percetakan mengatakan beliau butuh dana secepatnya, sementara teman saya yang lagi di luar kota itu belum membalas berita. Beberapa jam kemudian saya terima sms yang berbunyi bahwa, dana “di kas masih belum cukup”. Malam itu saya susah tidur, gelisah sekali. Saya berdoa Tuhan, jika Engkau berkenan, tolong bantu nich, toh ini bukan untuk kepentingan saya sendiri”
Hari itu Sabtu, saya harus menunggu hingga Senin baru teman saya itu pulang ke Jakarta. Sorenya beliau chek ulang lagi ke Bank, di sana terlihat ada sumbangan masuk dari salah seorang bekas anak remaja saya di Luar Negeri minggu lalu. Akhirnya jumlahnya bukan hanya mencukupi, malah masih ada lebih sedikit untuk persiapan penerbitan yang akan datang. Terus terang pada saat itu saya malu sekali pada Tuhan, saya juga malu pada Anda. Di mana iman saya? Ini pengalaman saya, artinya saya yang mengerti dan tahu, serta dalam kotbah sering mengajarkan mari kita percaya , beriman, Tuhan akan mencukupi, namun baru dalam kondisi ini saya panik. Apa bedanya saya dengan murid-murid Tuhan Yesus yang panik di perahu itu? Malam itu juga saya harus bertobat dan minta ampun pada Tuhan.
2. Attention
Para murid menyadari bahwa bahaya sedang menanti, sebab kalau yang mereka hadapi angin dan ombak biasa, maka mereka pasti dapat mengatasinya. Apalagi sekarang mereka rombongan di dalam satu perahu itu. Dalam kondisi demikian tentu hati menjadi kalut dan panik, tidak konsentrasi dan tidak fokus. Perrhatiannya bukan lagi bagaimana mengatasi masalah ini, namun muncul pemikiran dan khayalan baru. Apa yang bakal terjadi nanti. Padahal kejadian-kejadian itu belum ada sama sekali. Pada waktu itu kita secara tidak sadar menghadapi masalah bertubi-tubi, bahkan frustrasi.
Ay 26 mencatat, ketika murid-murid-Nya melihat Dia di atas air, mereka terkejut dna berseru “ Itu hantu, lalu mereka berteriak karena takut” Kita juga sering demikian, tatkala tantangan serasa berat datang, kita mulai terpikir masalah yang bukan-bukan. Itu sebabnya jikalau kita tidak berfokus memperhatikan Tuhan Yesus saja, maka kita bisa stress dan depresi. Sering kali mungkin karena kita sudah lama mengikut Tuhan, lalu kondisi kita masih biasa-biasa saja. Bahkan doa yang sudah lama dipanjatkan, namun tidak kunjung ada jawaban. Hati kita mulai pasrah, hati kita mulai suam –suam kukuh. Semangat kita mulai dingin. Biasanya membaca firman Tuhan setiap hari, sekarang tidak lagi. Biasanya berdoa sekarang tidak. Pada saat kita mengurangi kebiasasn baik ini, maka akan muncul kebiassan buruk. Itu sebab perlu hati-hati. Rasul Paulus mengatakan 1 Korintus 15:33 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”.
3. Learn
Bertahun-tahun murid-murid Yesus mengikuti-Nya, namun rupanya hal ini tidak menjamin mereka memahami dan mengenal siapa Yesus itu sebenarnya. Padahal mereka baru saja menyaksikan peristiwa mujizat 5 roti dan 2 ikan yang telah mengenyangkan banyak orang. Orang banyak percaya bahwa Yesus itu Juruselamat. Tetapi kalau untuk menerimanya tunggu dulu. Mereka hanya Believe , belum menmuju ke taraf trust,. Mereka hanya percaya, namun belum dalam taraf mempercayakaan.
Kembali kepada Sepak bola tadi. Sautu hari seorang pemain sepak Bola Jerman yang Atheis sedang berbincang-bincang dengan seoarng pemain Italia yang sebelum bertanding selalu berdoa; bahkan pernah satu kali mengabarkan Injil ke pemain Atheis itu.
Pemain Atheis itu bertanya : “ Apakah di Sorga nanti ada pertan dingan Sepak Bola atau tidak ?”
Pemain Italia berpikir sejenak, kemudian dia memberi komentar “ Oh , ngak tahu ya, tetapi ngak apa-apa , nanti kalau saya sudah meninggal dan menuju ke Sorga, saya akan tanya pada maliakat”
Pemain Atheis : “Kalau Malaikatnya bilang di Surga tidak ada gimana?” Pemain Italia “ Oh, kalau begitu kamu yang tanya saja” Ini hanya cerita, tetapi poin saya bukan di Surga atau di Neraka itu ada Sepak bolanya atau tidak , namun percayakah kita bahwa kalau kita yang percaya Tuhan Yesus pasti masuk Sorga?
Murid-murid Yesus memperoleh pelajaran bahwa sesungguhnya Yesus itu bukan manusia biasa. Sekali lagi bukan karena Ia bisa berjalan di atas air. Sebab di Internet saya pernah baca bahwa di Las Vegas juga ada orang yang bisa berjalan di atas air; kemudian di India juga pernah ada. Murid-murid harus tahu bahwa Yesus tidak terbatas pada ruang dan waktu. Dia ada di segala tempat, dan Yesus sanggup mengalahkan segala-galanya termasuk di dalmnya bencana alam.
Manusia terbatas. Secanggih-canggihnya teknologi, manusia tetap kalah pada yang namanya bencana alam. Buktinya terjangan air Tsunami, Gempa, bahkan letusan Gunung Merapi tetap saja membuat manusia tidak berdaya. Sudah hampir sebulan lebih terjadi bencana banjir Lumpur di Jawa Timur. Tepatnya di kota Porong dan sekitar dan juga kota Tanggul Angin yang terkenal menjual tas-tas bermerek aspal (Asli tapi Palsu). Mengapa terjadi demikian? Menurut berita, sebuah perusahaan mengadakan pemboran minyak di sana, namun mereka salah perkiraan yang sehingga yang keluar bukan minyak tetapi Lumpur. Lumpurnya saat ini melebar menimbun rumah-rumah penduduk, bahkan menutup jalan tol Surabaya - Malang. Akibtanya jalan Tol harus ditutup. Kejadian ini telah berlangsung sebulan lebih. Manusia tidak berdaya bukan?
Oleh sebab itu tatkala murid-murid-Nya panik dan kalut, Yesus datang dan berkata pada mereka “ Tenanglah, Aku ini, Jangan takut” (Ayat 27) Kata yang dipakai di sini adalah “Ego Eimi”, yang berarti Akulah Dia (Yesaya 41 :4). Kata ini sering dipakai Yohanes sebagai tuntutan keilahian Tuhan. Namun dalam bagian ini Matius ingin menunjukkan bahwa Yesus itu seperti seorang Bapa yang memberikan penghiburan dan kekuatan kepada anak-anaknya. “Jangan takut nak, papa ada di sini lo”
4. Liability
Di dalam menghadapi tantangan hidup, sudah pasti ada resiko yang harus dihadapi. Itu sebabnya jangan lari dari resiko - kita harus bertanggung jawab. Tatkala Petrus melihat Yesus dari jauh, sesuai karakternya yang spontanitas itu maka ia meminta agar boleh datang kepada Yesus dengan berjalan di atas air. Matius 14 : 29 “ Yesus berkata “ Datanglah, Maka Petrus turun dari perhau dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus”
Sewaktu di perahu mereka merasa takut, herannya saat ini Petrus turun dari perahu, malah tidak ada perasaan takut. Semua ini menunjukkan bahwa Petrus percaya bahwa Yesus sungguh Allah , dan Dia adalah Allah yang perkasa yang dapat menyelesaikan segala perkaranya. 1 Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Cara yang dilakukan Petrus adalah mempercayakan masalahnya kepada Yesus, karena Dia pasti akan membantu dan memberi kekuatan kepada kita menyelesaikan masalah itu. Orang percaya yang bertanggung jawab adalah orang percaya yang berani masuk dan menghadapi tantangan seperti ini.
“Berjalan di atas air bukan berarti lari dari persoalan” Sebab tatkala Petrus berjalan di atas air anginnya masih ada. Resikonya adalah, kalau di tengah perjalanan itu ia lengah, maka ia akan kalah. “ Matius 14 : 30 mencatat bahwa Petrrus tenggelam justru bukan pada saat berada di perahu dengan angin sakal itu, tetapi karena tiupan angin setelah keluar dari perahu. Ia tidak memusatkan perhatiannya pada Tuhan Yesus, maka ia harus bertanggung jawab terhap apa yang dilakukannya. Ia tenggelam.
Sama seperti para pemain Sepak Bola, tatkala mereka lengah, maka walaupun lawan di depan di atas kertas tidak termasuk perhitungan, tetap saja dapat mengalami kekalahan. Jadi tidak ada istilah mengganggap remeh.
Aya 31- dan seterusnya , menunjukkan bahwa Yesus, memanggil murid-muruid-Nya sebagai “mereka yang kurang percaya”, dan Ia berrtanya mengapa mereka bimbang? Melalui peristiwa ini, muncullah pengakuan dari murid-murid yang menyatakan bahwa “ Sesungguhnya Engkau Anak Allah”
Benar, sesunguhnya Yesus Anak Allah yang sanggup memberikan kepada kita kekuatan untuk menyelesaikan atau masalah yang ada dan menang. Asala saja fokus kepercayaan kita tetap tertuju kepada-Nya.
Melalui Tantangan Kehidupan Orang Percaya hari ini, kita belajar 4 hal yang penting,
Believe
Orang yang mempercayakan Hidupnya pada Tuhan Yesus, tidak pernah merasa ragu, walau besok akan ada ujian , ada tugas dan deadline kerja dan paper, hari ini dia masih sanggup melayani Tuhan
Attention
Fokus utama perhatiannya tertuju pada Yesus. Imannya tidak goyah, walaupun jam segini ada final antara Italia vs Prancis, ia tetap hadir ke gereja
Learn
Pelajaran bagi kita, bahwa kita bukan menyembah pada Yesus yang mati, tetapi kita menyembah Yesus yang berkuasa, dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Oleh sebab itu pengharapan kita kepada-Nya merupakan pengharapan yang pasti.
Liability
Ketika tantangan hadir did lam hikup kita, maka orang percaya bukan berusaha menghindari dan lari. Tetapi kita harus coba menghadapi. Resikonya sudah pasti ada, namun hasilnya melampaui resiko tersebut.
B. A. L . L …… Demam Sepak Bola membuat seseorang lupa bahwa besok mereka harus bekerja. Ada yang lupa besok harus ujian. Ini Merupakan tantangan bukan. Selama bola masih bulat , maka terbuka kemungkinan bagi siapa saja memenangkan pertandingan itu. Namun Bola bukan pengharapan kita yang sejati. Pengharapan yang sejati terletak pada Tuhan Yesus, ay 31 merupakan janji bagi mereka yang merasa bimbang dalam hidup ini. Mari kita bergerak maju menghadapi tantangan hidup ini. Segala kesulitan, kepahitan dan kekusutan akan hidup ini akan menjadi manis kalau Tuhan Yesus menyertai kita. Bahkan gelombang sakalpun akhirnya berhenti. Sekali lagi, orang Kristen yang berkualitas pasti dapat mengalahkan segala tantangan yang ada.
--------------------------------------
SAUMIMAN SAUD
Rom 8:28 "And we know that to them that love God all things work together for good, even to them that are called according to his purpose".

0 Comments:
Post a Comment
<< Home