Progressive Motivation
Traktat: 5 Hal Penuh Arti
Pelajaran Penting-1:
Pengorbanan dan bukti Kasih...
Pada bulan ke-2 di awal kuliah saya, seorang Profesor
memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan
cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup
cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal
yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah :
Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih
sekolah? Saya yakin soal ini cuma "bercanda". Saya sering
melihat perempuan ini.
Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi
bagaimana saya tahu nama depannya...? Saya kumpulkan
saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban
soal terakhir kosong.
Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada
Profesor itu, mengenai soal terakhir akan "dihitung" atau
tidak. "Tentu Saja Dihitung !!" kata si Profesor. "Pada
perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang.
Semuanya penting ! Semua harus kamu perhatikan dan
pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman,
atau sekilas 'hallo' !"
Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu,
bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah "Dorothy".
Pelajaran Penting-2:
Penumpang yang Kehujanan..
Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang
wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di
tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam
hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai.
Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini
sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup,
ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat.Mobil
berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia
berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule
ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu
pada saat itu.
Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga
suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan
si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa,
si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya,
lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.
7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule
ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang
ternyata kiriman sebuah televisi set besar (1960-an !)
khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di
televisi, yang isinya adalah : " Terima kasih Nak, karena
membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi
bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan
menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat
untuk hadir di sisi suamiku yang sedang sekarat... hingga
wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan
tidak mementingkan dirimu pada saat itu"
Tertanda
Ny. Nat King Cole
Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi Afrika-Amerika tenar
thn. 60-an di USA
3. Pelajaran penting ke-3
Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani.
Di zaman es-krim khusus (ice cream sundae) masih murah,
seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop
Hotel, dan duduk di meja.
Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih
dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya " Berapa ya,... harga
satu ice cream sundae ?" katanya. "50 sen..." balas si pelayan.
Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan
mempelajari koin-koin di kantongnya.... "Wah... Kalau ice cream
yang biasa saja berapa ?" katanya lagi.
Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah
mulai banyak... dan pelayan ini mulai tidak sabar. "35 sen"
kata si pelayan sambil uring-uringan. Anak ini mulai menghitungi
dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya.
"Bu... saya pesen yang ice cream biasa saja ya..." ujarnya.
Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan
kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan.
Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi.
Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja
si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun
disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen
dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat... anak kecil ini tidak
bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk
memberi sang pelayan uang tip yang "layak" ......
4. Pelajaran penting ke-4:
Penghalang di Jalan Kita
Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan
sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut
kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau
menyingkirkan batu itu dari jalan.
Beberapa pedagang ter-kaya yang menjadi rekanan raja tiba
ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut.
Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja,
karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.
Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan
menyingkirkan batu itu.
Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak
sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian
meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu
kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya
ia berhasil menyingkirkan batu besar itu.
Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata
ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas
dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk
orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.
Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak
pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan,
tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki
hidup kita.
5. Pelajaran penting ke-5:
Memberi..
Ketika dibutuhkan Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan
yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang
gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit
serius yang sangat jarang.
Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil
yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit
yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk
melawan penyakit itu.
Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal
tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap
memberikan darahnya kepada kakak perempuannya.
Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil
nafas panjang dan berkata "Baiklah... Saya akan melakukan hal
tersebut.... asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku".
Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat
tidur, disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah,
tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang.
Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang
bergetar...katanya "Apakah saya akan langsung mati dokter... ?"
Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia
harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya.
Lihatlah... bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya.... ?
Jalan Tuhan Selalu Indah
Hidup kadang sulit untuk bersyukur karena melihat diri selalu yang paling
menderita dan paling tidak beruntung.
Banyak orang tidak menyadari kalau hidup sebenarnya adalah nikmat dan
menggembirakan karena ternyata masih banyak orang yang hidup dibawah garis
keberadaan kita hanya masalahnya kita tidak mau melongok ke bawah dan sibuk
dengan mendongak melihat ke atas.
Hari selasa kemarin adalah hari yang bersejarah sekaligus hari yang
menyedihkan.
Saya diajak oleh beberapa ibu untuk mengunjungi para narapidana di penjara
yang ada di Kalideres.
Penjara ini memang bukan tempat para kriminal namun menampung para imigran
"gelap" yang tidak memiliki surat dokumen resmi dan mereka yang terdampar di
Indonesia ini.
Pertama masuk penjara hati saya deg-degan karena belum pernah menginjakkan
kaki ke yang namanya penjara dan setelah didalam penjara, disamping hati
yang masih deg-degan perut juga mulai mual dan kepala pusing karena bau yang
tidak enak dan menyengat.
Saya bersama ibu-ibu itu mengikuti kebaktian yang dipimpin oleh salah satu
narapidana yang berasal dari Afrika dan sewaktu mengikuti kebaktian itu mata
saya tertuju pada kamar disamping tempat kebaktian.
Kamar itu kelihatan paling bagus karena lebar dan bersih, memang lumayan
baik dibanding kamar di penduduk yang saya layani di pinggir sungai dan
ternyata kamar itu milik seorang misionaris yang berdiri di samping saya
yang bernama "Jisrael". Menurut cerita orang ini mendapatkan kamar yang
demikian karena bisa membayar kepada oknum.
Yang menarik dari kamar itu adalah adanya dua potong roti tawar yang dijemur
dan karena pemilik kamar ada disamping saya maka saya tanyakan kok rotinya
dijemur dan orang itu menjawab kalau roti itu untuk persediaan besok kalau
lapar dan tidak punya ayng dimakan. Setelah saya berbincang dengan
"misionaris" itu, saya berpindah tempat di sisi lain dari tempat saya
berdiri dan ternyata keadaan kamar yang pertama saya lihat berbeda jauh
dengan kamar yang lainnya.
Kamar yang pertama saya lihat berukuran 3 x 3 M tetapi kamar yang lain
menyedihkan hati yaitu berukuran 1 X 5/4 M dengan kamar mandi terbuka di
ujung kamar.
Keadaan kamar yang terbuka dengan teralis besi dan gelap menambah suasana
menjadi lebih parah.
Orang yang di penjara tinggal didalam kamar yang sempit, pengap dengan
keadaan yang serba minim bahkan airpun begitu susah dan makan yang dimakan
sangat sangat sederhana.
Dalam penjara itu ada yang sudah tiggal lebih dari 25 tahun dan adan yang
baru satu minggu.
Di penjara itu ada seorang yang berasal dari Kroasia yang sudah delapan
tahun menghuni dan anak itu masuk sejak usia 15 tahun.
Mereka hidup dengan ketidakpastian dan hidup dalam keadaan yang serba minim
dan tidak terjamin.
Keadaan inilah yang semakin memperparah kehidupan mereka.
Memang pemerintah juga tidak bisa berbuat banyak karena ditempat ini hanya
menghabiskan uang tanpa penhasilan.
Saya dapat memahami keadaan yang demikina apalagi ini dalam situasi negara
yang sukit, memelihara warga sendiri saja keteteran apalagi memelihara
"orang" lain yang nota bene adalah bukan tanggungan negara.
Semua terasa sulit dan mencekam bahkan keadaan menjadi lebih mencekam ketika
para narapidana mulai tinggal dalam selnya masing masing, ada yang berteriak
dan marah-marah serta membuat suasana menjadi mengerikan.
Mungkin ini seperti suasana dalam neraka yang sering digamabrkan oleh orang
orang di dunia ini.
Dalam keseharian para narapidana ini hanya hidup dalam sel dengan "jatah"
yang tidak mencukup terutama jatah air untuk kebutuhan hidup, Saya melihat
dalam kamar mandi itu hanya ada satu ember kecil air yang tidak penuh dan
ini harus diirit-irit untuk kebutuhan, mandi, kakus dan cuci baju. Sungguh
memprihatinkan, diluar penjara hujan air berlimpah sedangkan aygn dipenjara
air menjadi barang langka dan mahal harganya.
Keadaan demikian yang tidak mengenakkan ini terjadi dan dialami terus
menerus tentu menimbulkan tekanan yang dalam serta lama kelamaan menjadikan
mereka "gila".
Orang tinggal dalam keadaan yang mencekam dengan penerangan kurang dan
"penderitaan" badan serta jiwa terus menerus sepanjang hari, bulan dan tahun
tantu semakin melumpuhkan semua daya kehidupan dan ini semakin menurunkan
"kemanusaan" mereka, lama-lama merek ini akan seperti "binatang" piaraan
yang hidup tergantung pemberian majikannya.
Tragis memang kehidupan ini.
Disatu sisi ada kebebasan dilain pihah ada pasungan yang menekan kehidupan.
Dalam penjara inilah yang membuat nilai kebebasan menjadi sangat luar biasa
sulit didapatkan.
Kita hidup diberikan kebebasan untuk dapat mengembangkan dan mengekpresikan
diri secara penuh namun dibalik jeruji penjara itu ada sekian banyak orang
yang hanya meringkuk menikmati hari-harinya dibalik besi dan tembok yang
sangat membatasi dirinya.
Jangankan untuk mengembangkan diri dan mengekpresikan hidup lah untuk
bernafas saja sulit.
Maka sebenarnya orang yang paling menderita dn memerlukan pertolongan adalah
mereka yang tinggal dan hidup dalam penjara ini terutama penjara karena
bukan "kriminal" biasa namun karena kejahatan poitik dan kejahatan karena
ketidakpuanyaan dokumen resmi.
Orang dalam penjara adalah orang yang hanya tinggal menungu mati namun sang
penguasa kematian engan memanggil sehingga mereka ini hidup segan mati sulit
sekali.
Penjara memang merupakan tempat yang sangat "angker" dan menakutkan lebih
menakutkan dibanding setan.
Setan masih bisa ditawar dan diri bisa berkelit namun jika dipenjara maka
yang bisa dilakukan hanya menerima yang terjadi.
Mereka yang dipenjara ini jelas tidak bisa menuntut secara adil karena
disamping bukan warga negara negeri ini juga kedutaan yang negaranya
mengurusi kewarganegaraan mereka juga ada yang tidak mengubris sehinga
keadaan mereka sunguh sangat menyedikan dan terkatung-katung tanpa jaminan
kapan bisa menghirup udara bebas.
Melihat keadaan yang demikian maka pantaslah bagi kita untuk selalu
menyukuri kebebasan yang diberikan Tuhan.
Kita masih boleh menghirup udara dengan bebas tanpa dibatasi oleh jeruji
besi dan tembok, Mata kita masih boleh melihat ciptaan Tuhan secara bebas
dan kaki kita masih boleh melangkah kemana kita mau.
Yang pasti kita masih memiliki banyak hal yang tidak dibatasi.
Kebebasan menjadi sebuah hal yang sangat berharga dan bernilai tinggi dan
ini yang diharapkan oleh banyak orang.
Kita bukan hanya terbebas dari tembok dan besi tapi kita adalah anak anak
terang yang memiliki kebebasan.
Allah yang penuh kasih telah menganugerahkan kebebasan kepada kita tanpa
ikatan yang mengikat kita, Allah hanya mengharapkan kita mempertahankan
kebebasan itu dengan selalu mensyukuri hidup yang telah diberikanNya.
Namun sayang kita sering meninggalkan Allah dan berjalan sendiri dan masuk
dalam jurang kegelapan.
Kita sering dengan mudah berkompromi dan menghampakan diri pada kuasa
"kegelapan" dan malah lebih senang memasung diri dengan membuang kebebasan
sebagi anak Allah dengan menjadi "budak" dari setan.
Menjadi budak tentulah tidak akan berkembang karena hanya mengikuti kehendak
dari majikan dan tantu orang yang demikian tidak akan mengalami kegembiraan.
Seperti mereka yang tinggal dalam sel sempit dan pengap demikian pula jika
kita menghambakan diri pada kuasa kegelapan, kita akan menjadi kerdil dan
lama-kelaman menjadi gila tanpa pernah mengerti arti hidup sesungguhnya
Maka mari kita berani bertobat dan kembali kepada Allah sang empunya
kehidupan dan dunia ini, karena hanya dengan pertobatan kita bisa melihat
diri kita kosong dan diisi oleh Allah dengan hal-hal yang baru.
Semoga kita hidup dalam kebebasan dan boleh bersykur dengan kebebasan itu.
Kebebasan menghantar orang kepada kepenuhan dan keterikatan menghantar orang
kepada perbudakan.
Jangan sia-siakan hidup demi hal yang menjerat namun gunakan hidup untuk
menyapa orang lain karena dengan berani memberikan sapaan berarti kita
menjadi orang orang yang bebas.
Salam dalam kebebasan.
Bila Anda Memiliki Alasan yang Cukup Kuat, Anda akan Menemukan Jalannya
Pasar malam dibuka di sebuah kota. Seluruh penduduk menyambutnya dengan gembira. Ada berbagai macam permainan, stand makanan dan sirkus. Tetapi kali ini yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat.
Setiap malam ratusan orang menonton pertunjukkan manusia kuat. Ia bisa melengkungkan baja hanya dengan tangan telanjang. Ia bisa menghancurkan batu bata tebal dengan tinjunya. Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco.
Untuk menutup pertunjukkannya, ia memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras terus hingga tetes terakhir air jeruk itu terperas.
Kemudian ia menantang para penonton, "Barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini, akan kuberikan dia uang satu juta."
Kemudian naiklah seorang lelaki, atlit binaraga, ke atas panggung.
Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan memeras... tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal.
Beberapa pria kuat dari penjuru kota mencoba, tapi tak ada yang berhasil.
Manusia kuat itu tersenyum-senyum. Kemudian ia berkata, "Aku berikan satu kesempatan terakhir. Siapa yang mau mencoba?"
Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba.
"Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung."
Manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu.
Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya.
Lalu wanita itu mencoba memeras dengan penuh konsentrasi. Ia memeras... memeras... memeras dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh membasahi lantai panggung. Para penonton terdiam terperangah.
Lalu cemoohan mereka segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.
Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, ribuan orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya kau satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu, bagaimana kau bisa melakukan hal itu?"
"Begini," jawab wanita itu, "Jika suamimu sedang jatuh sakit keras dan tak bisa bekerja mencari nafkah, sedangkan kau memiliki delapan anak yang harus kau beri makan setiap harinya, lalu kau harus kuat mencari uang meski hanya serupiah-dua rupiah, maka hanya memeras jeruk untuk mendapatkan satu juta rupiah bukanlah hal yang sulit."
"Bila anda memiliki alasan yang cukup kuat, anda akan menemukan jalannya", demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat.
Pelajaran Penting-1:
Pengorbanan dan bukti Kasih...
Pada bulan ke-2 di awal kuliah saya, seorang Profesor
memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan
cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup
cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal
yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah :
Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih
sekolah? Saya yakin soal ini cuma "bercanda". Saya sering
melihat perempuan ini.
Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi
bagaimana saya tahu nama depannya...? Saya kumpulkan
saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban
soal terakhir kosong.
Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada
Profesor itu, mengenai soal terakhir akan "dihitung" atau
tidak. "Tentu Saja Dihitung !!" kata si Profesor. "Pada
perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang.
Semuanya penting ! Semua harus kamu perhatikan dan
pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman,
atau sekilas 'hallo' !"
Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu,
bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah "Dorothy".
Pelajaran Penting-2:
Penumpang yang Kehujanan..
Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang
wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di
tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam
hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai.
Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini
sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup,
ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat.Mobil
berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia
berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule
ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu
pada saat itu.
Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga
suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan
si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa,
si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya,
lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.
7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule
ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang
ternyata kiriman sebuah televisi set besar (1960-an !)
khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di
televisi, yang isinya adalah : " Terima kasih Nak, karena
membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi
bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan
menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat
untuk hadir di sisi suamiku yang sedang sekarat... hingga
wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan
tidak mementingkan dirimu pada saat itu"
Tertanda
Ny. Nat King Cole
Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi Afrika-Amerika tenar
thn. 60-an di USA
3. Pelajaran penting ke-3
Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani.
Di zaman es-krim khusus (ice cream sundae) masih murah,
seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop
Hotel, dan duduk di meja.
Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih
dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya " Berapa ya,... harga
satu ice cream sundae ?" katanya. "50 sen..." balas si pelayan.
Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan
mempelajari koin-koin di kantongnya.... "Wah... Kalau ice cream
yang biasa saja berapa ?" katanya lagi.
Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah
mulai banyak... dan pelayan ini mulai tidak sabar. "35 sen"
kata si pelayan sambil uring-uringan. Anak ini mulai menghitungi
dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya.
"Bu... saya pesen yang ice cream biasa saja ya..." ujarnya.
Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan
kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan.
Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi.
Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja
si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun
disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen
dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat... anak kecil ini tidak
bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk
memberi sang pelayan uang tip yang "layak" ......
4. Pelajaran penting ke-4:
Penghalang di Jalan Kita
Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan
sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut
kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau
menyingkirkan batu itu dari jalan.
Beberapa pedagang ter-kaya yang menjadi rekanan raja tiba
ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut.
Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja,
karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.
Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan
menyingkirkan batu itu.
Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak
sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian
meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu
kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya
ia berhasil menyingkirkan batu besar itu.
Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata
ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas
dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk
orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.
Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak
pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan,
tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki
hidup kita.
5. Pelajaran penting ke-5:
Memberi..
Ketika dibutuhkan Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan
yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang
gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit
serius yang sangat jarang.
Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil
yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit
yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk
melawan penyakit itu.
Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal
tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap
memberikan darahnya kepada kakak perempuannya.
Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil
nafas panjang dan berkata "Baiklah... Saya akan melakukan hal
tersebut.... asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku".
Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat
tidur, disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah,
tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang.
Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang
bergetar...katanya "Apakah saya akan langsung mati dokter... ?"
Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia
harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya.
Lihatlah... bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya.... ?
Jalan Tuhan Selalu Indah
Hidup kadang sulit untuk bersyukur karena melihat diri selalu yang paling
menderita dan paling tidak beruntung.
Banyak orang tidak menyadari kalau hidup sebenarnya adalah nikmat dan
menggembirakan karena ternyata masih banyak orang yang hidup dibawah garis
keberadaan kita hanya masalahnya kita tidak mau melongok ke bawah dan sibuk
dengan mendongak melihat ke atas.
Hari selasa kemarin adalah hari yang bersejarah sekaligus hari yang
menyedihkan.
Saya diajak oleh beberapa ibu untuk mengunjungi para narapidana di penjara
yang ada di Kalideres.
Penjara ini memang bukan tempat para kriminal namun menampung para imigran
"gelap" yang tidak memiliki surat dokumen resmi dan mereka yang terdampar di
Indonesia ini.
Pertama masuk penjara hati saya deg-degan karena belum pernah menginjakkan
kaki ke yang namanya penjara dan setelah didalam penjara, disamping hati
yang masih deg-degan perut juga mulai mual dan kepala pusing karena bau yang
tidak enak dan menyengat.
Saya bersama ibu-ibu itu mengikuti kebaktian yang dipimpin oleh salah satu
narapidana yang berasal dari Afrika dan sewaktu mengikuti kebaktian itu mata
saya tertuju pada kamar disamping tempat kebaktian.
Kamar itu kelihatan paling bagus karena lebar dan bersih, memang lumayan
baik dibanding kamar di penduduk yang saya layani di pinggir sungai dan
ternyata kamar itu milik seorang misionaris yang berdiri di samping saya
yang bernama "Jisrael". Menurut cerita orang ini mendapatkan kamar yang
demikian karena bisa membayar kepada oknum.
Yang menarik dari kamar itu adalah adanya dua potong roti tawar yang dijemur
dan karena pemilik kamar ada disamping saya maka saya tanyakan kok rotinya
dijemur dan orang itu menjawab kalau roti itu untuk persediaan besok kalau
lapar dan tidak punya ayng dimakan. Setelah saya berbincang dengan
"misionaris" itu, saya berpindah tempat di sisi lain dari tempat saya
berdiri dan ternyata keadaan kamar yang pertama saya lihat berbeda jauh
dengan kamar yang lainnya.
Kamar yang pertama saya lihat berukuran 3 x 3 M tetapi kamar yang lain
menyedihkan hati yaitu berukuran 1 X 5/4 M dengan kamar mandi terbuka di
ujung kamar.
Keadaan kamar yang terbuka dengan teralis besi dan gelap menambah suasana
menjadi lebih parah.
Orang yang di penjara tinggal didalam kamar yang sempit, pengap dengan
keadaan yang serba minim bahkan airpun begitu susah dan makan yang dimakan
sangat sangat sederhana.
Dalam penjara itu ada yang sudah tiggal lebih dari 25 tahun dan adan yang
baru satu minggu.
Di penjara itu ada seorang yang berasal dari Kroasia yang sudah delapan
tahun menghuni dan anak itu masuk sejak usia 15 tahun.
Mereka hidup dengan ketidakpastian dan hidup dalam keadaan yang serba minim
dan tidak terjamin.
Keadaan inilah yang semakin memperparah kehidupan mereka.
Memang pemerintah juga tidak bisa berbuat banyak karena ditempat ini hanya
menghabiskan uang tanpa penhasilan.
Saya dapat memahami keadaan yang demikina apalagi ini dalam situasi negara
yang sukit, memelihara warga sendiri saja keteteran apalagi memelihara
"orang" lain yang nota bene adalah bukan tanggungan negara.
Semua terasa sulit dan mencekam bahkan keadaan menjadi lebih mencekam ketika
para narapidana mulai tinggal dalam selnya masing masing, ada yang berteriak
dan marah-marah serta membuat suasana menjadi mengerikan.
Mungkin ini seperti suasana dalam neraka yang sering digamabrkan oleh orang
orang di dunia ini.
Dalam keseharian para narapidana ini hanya hidup dalam sel dengan "jatah"
yang tidak mencukup terutama jatah air untuk kebutuhan hidup, Saya melihat
dalam kamar mandi itu hanya ada satu ember kecil air yang tidak penuh dan
ini harus diirit-irit untuk kebutuhan, mandi, kakus dan cuci baju. Sungguh
memprihatinkan, diluar penjara hujan air berlimpah sedangkan aygn dipenjara
air menjadi barang langka dan mahal harganya.
Keadaan demikian yang tidak mengenakkan ini terjadi dan dialami terus
menerus tentu menimbulkan tekanan yang dalam serta lama kelamaan menjadikan
mereka "gila".
Orang tinggal dalam keadaan yang mencekam dengan penerangan kurang dan
"penderitaan" badan serta jiwa terus menerus sepanjang hari, bulan dan tahun
tantu semakin melumpuhkan semua daya kehidupan dan ini semakin menurunkan
"kemanusaan" mereka, lama-lama merek ini akan seperti "binatang" piaraan
yang hidup tergantung pemberian majikannya.
Tragis memang kehidupan ini.
Disatu sisi ada kebebasan dilain pihah ada pasungan yang menekan kehidupan.
Dalam penjara inilah yang membuat nilai kebebasan menjadi sangat luar biasa
sulit didapatkan.
Kita hidup diberikan kebebasan untuk dapat mengembangkan dan mengekpresikan
diri secara penuh namun dibalik jeruji penjara itu ada sekian banyak orang
yang hanya meringkuk menikmati hari-harinya dibalik besi dan tembok yang
sangat membatasi dirinya.
Jangankan untuk mengembangkan diri dan mengekpresikan hidup lah untuk
bernafas saja sulit.
Maka sebenarnya orang yang paling menderita dn memerlukan pertolongan adalah
mereka yang tinggal dan hidup dalam penjara ini terutama penjara karena
bukan "kriminal" biasa namun karena kejahatan poitik dan kejahatan karena
ketidakpuanyaan dokumen resmi.
Orang dalam penjara adalah orang yang hanya tinggal menungu mati namun sang
penguasa kematian engan memanggil sehingga mereka ini hidup segan mati sulit
sekali.
Penjara memang merupakan tempat yang sangat "angker" dan menakutkan lebih
menakutkan dibanding setan.
Setan masih bisa ditawar dan diri bisa berkelit namun jika dipenjara maka
yang bisa dilakukan hanya menerima yang terjadi.
Mereka yang dipenjara ini jelas tidak bisa menuntut secara adil karena
disamping bukan warga negara negeri ini juga kedutaan yang negaranya
mengurusi kewarganegaraan mereka juga ada yang tidak mengubris sehinga
keadaan mereka sunguh sangat menyedikan dan terkatung-katung tanpa jaminan
kapan bisa menghirup udara bebas.
Melihat keadaan yang demikian maka pantaslah bagi kita untuk selalu
menyukuri kebebasan yang diberikan Tuhan.
Kita masih boleh menghirup udara dengan bebas tanpa dibatasi oleh jeruji
besi dan tembok, Mata kita masih boleh melihat ciptaan Tuhan secara bebas
dan kaki kita masih boleh melangkah kemana kita mau.
Yang pasti kita masih memiliki banyak hal yang tidak dibatasi.
Kebebasan menjadi sebuah hal yang sangat berharga dan bernilai tinggi dan
ini yang diharapkan oleh banyak orang.
Kita bukan hanya terbebas dari tembok dan besi tapi kita adalah anak anak
terang yang memiliki kebebasan.
Allah yang penuh kasih telah menganugerahkan kebebasan kepada kita tanpa
ikatan yang mengikat kita, Allah hanya mengharapkan kita mempertahankan
kebebasan itu dengan selalu mensyukuri hidup yang telah diberikanNya.
Namun sayang kita sering meninggalkan Allah dan berjalan sendiri dan masuk
dalam jurang kegelapan.
Kita sering dengan mudah berkompromi dan menghampakan diri pada kuasa
"kegelapan" dan malah lebih senang memasung diri dengan membuang kebebasan
sebagi anak Allah dengan menjadi "budak" dari setan.
Menjadi budak tentulah tidak akan berkembang karena hanya mengikuti kehendak
dari majikan dan tantu orang yang demikian tidak akan mengalami kegembiraan.
Seperti mereka yang tinggal dalam sel sempit dan pengap demikian pula jika
kita menghambakan diri pada kuasa kegelapan, kita akan menjadi kerdil dan
lama-kelaman menjadi gila tanpa pernah mengerti arti hidup sesungguhnya
Maka mari kita berani bertobat dan kembali kepada Allah sang empunya
kehidupan dan dunia ini, karena hanya dengan pertobatan kita bisa melihat
diri kita kosong dan diisi oleh Allah dengan hal-hal yang baru.
Semoga kita hidup dalam kebebasan dan boleh bersykur dengan kebebasan itu.
Kebebasan menghantar orang kepada kepenuhan dan keterikatan menghantar orang
kepada perbudakan.
Jangan sia-siakan hidup demi hal yang menjerat namun gunakan hidup untuk
menyapa orang lain karena dengan berani memberikan sapaan berarti kita
menjadi orang orang yang bebas.
Salam dalam kebebasan.
Bila Anda Memiliki Alasan yang Cukup Kuat, Anda akan Menemukan Jalannya
Pasar malam dibuka di sebuah kota. Seluruh penduduk menyambutnya dengan gembira. Ada berbagai macam permainan, stand makanan dan sirkus. Tetapi kali ini yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat.
Setiap malam ratusan orang menonton pertunjukkan manusia kuat. Ia bisa melengkungkan baja hanya dengan tangan telanjang. Ia bisa menghancurkan batu bata tebal dengan tinjunya. Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco.
Untuk menutup pertunjukkannya, ia memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras terus hingga tetes terakhir air jeruk itu terperas.
Kemudian ia menantang para penonton, "Barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini, akan kuberikan dia uang satu juta."
Kemudian naiklah seorang lelaki, atlit binaraga, ke atas panggung.
Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan memeras... tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal.
Beberapa pria kuat dari penjuru kota mencoba, tapi tak ada yang berhasil.
Manusia kuat itu tersenyum-senyum. Kemudian ia berkata, "Aku berikan satu kesempatan terakhir. Siapa yang mau mencoba?"
Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba.
"Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung."
Manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu.
Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya.
Lalu wanita itu mencoba memeras dengan penuh konsentrasi. Ia memeras... memeras... memeras dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh membasahi lantai panggung. Para penonton terdiam terperangah.
Lalu cemoohan mereka segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.
Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, ribuan orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya kau satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu, bagaimana kau bisa melakukan hal itu?"
"Begini," jawab wanita itu, "Jika suamimu sedang jatuh sakit keras dan tak bisa bekerja mencari nafkah, sedangkan kau memiliki delapan anak yang harus kau beri makan setiap harinya, lalu kau harus kuat mencari uang meski hanya serupiah-dua rupiah, maka hanya memeras jeruk untuk mendapatkan satu juta rupiah bukanlah hal yang sulit."
"Bila anda memiliki alasan yang cukup kuat, anda akan menemukan jalannya", demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home